Oleh : Nura Hassan
Mahasiswi semester 3 Fakultas Tarbiyah, Jurusan PBI, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Sadarnya seseorang bahwa ia telah mulai masuk ke dalam kehidupan soasial bermasyarakat adalah saat ia menginjakkan kaki pada jenjang pendidikan pertamanya, yaituTaman Kanak-Kanak. Dari sana, dunia anak-anak yang sebelumnya hanya sebatas figur ibu dan ayah, seketika lebih meluas.
Seperti kebanyakan anak lainnya, Nuha sangat menanti-nanti hari pertamanya bersekolah. Di pagi yang hangat di rumah kecil mereka, Nuha membangunkan ibunya untuk bersiap-siap. Hari ini adalah hari penentuan itu. Nuha menyantap sarapan dan mandi jauh lebih cepat daripada biasanya, diiringi senyum cerah yang memancar dari wajah cantiknya.
Usia Nuha baru lima tahun. Pagi ini, ia mengenakan seragam mungil berwarna biru dan putih. “Lebih mirip gaun daripada seragam,” cetusnya riang. Ia begitu menyukai warna biru itu. Sebelum berangkat, Nuha mengecup kening ayahnya yang masih terlelap di kamar. Ayahnya baru pulang bekerja larut malam, sehingga masih membutuhkan istirahat ekstra.
“Papa… Kakak mau pergi sekolah!” bisik Nuha manis, berusaha menahan diri agar tidak berteriak kegirangan di samping telinga ayahnya. Meski dalam remang kamar, Nuha yakin melihat sudut bibir ayahnya terangkat.
“Iya, Sayang. Hati-hati, ya… Sini, cium Papa dulu,” sahut ayahnya dengan suara serak menahan kantuk. Nuha melakukannya dengan senang hati.
“Kakak, ayo, Sayang! Nanti kita terlambat!” panggil ibunya dari luar kamar. Nuha pun segera berlari-lari kecil menyambut hari barunya.
Tahun-tahun berlalu dari ruang kelas TK yang ceria itu. Namun, makin jauh Nuha melangkah di lorong pendidikan, makin ia menyadari sebuah realitas yang getir: sekolah yang seharusnya menjadi tempat memekarkan rasa ingin tahu, perlahan berubah menjadi lingkungan yang dibangun untuk menciptakan stres secara terstruktur. Sekolah yang diimpikan semua anak-anak kecil, ternyata menjadi momok yang kemudian membuat mereka menjadi benci belajar.
Kini, Nuha duduk di bangku SMA. Di hadapannya berdiri Pak Rani, seorang guru senior yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade. Wajah Pak Rani selalu menyiratkan keletihan yang mendalam. Di usianya yang makin senja dan belum menyentuh masa pensiun, energi emosional beliau telah terkuras habis. Akibatnya, kelas tidak lagi dihidupkan oleh kecerdasan emosional(Emotional Intelligence) seorang pendidik yang empati dan ramah, melainkan didominasi oleh kekakuan dan ancaman nilai.
Pak Rani mengajar hanya demi mengejar target kurikulum, membiarkan siswa berjuang sendirian memahami kerumitan materi. Saat Nuha mencoba mengangkat tangan untuk memberikan argumen yang berbeda dari buku teks menggunakan pendekatan logika yang ia pelajari dari luar textbook, Pak Rani justru membentaknya.
“Nuha! Kamu jangan sok pintar dan menyimpang dari materi! Kerjakan sesuai rumus di papan tulis atau nilai afektifmu saya kurangi!” tegur Pak Rani keras.
Satu kelas mendadak hening. Bahu anak-anak menegang, jemari mereka meremas penadengan panik. Di sekolah ini, penalaran kritis (critical thinking) tidak hanya gagal ditumbuhkan, tetapi juga dihukum secara sistematis. Ketakutan itu melumpuhkan kemampuan belajar yang sebenarnya.
Melihat fenomena demi fenomena selama ia bersekolah, Nuha merasakan keprihatinan yang mendalam. Dari sanalah Nuha membulatkan tekad saat kelak melangkah menjadi seorang pendidik. Indonesia tidak akan pernah mampu membentuk Future Generation for Sustainable Indonesia jika lingkungan pendidikannya dirancang untuk membungkam jiwa-jiwa muda.
Perjuangan Nuha tidaklah mudah. Ia menempuh pendidikan perguruan tinggi ilmu keguruan dengan penuh ketekunan. Ia membedah teori-teori pedagogi modern, mempelajari psikologi perkembangan anak, hingga mendalami pentingnya kestabilan emosi bagi seorang guru. Nuha paham betul bahwa seorang guru tidak boleh menuntut siswa memiliki pemikiran kritis jika guru itu sendiri belum selesai dengan ego dan kestabilan emosinya.
Beberapa tahun kemudian, mimpi dan perjuangan panjang itu terwujud. Nuha berdiri di depan kelas sebagai seorang guru muda. Nuha berada di rentang usia yang matang dan berenergi, tidak lagi labil seperti remaja kebanyakan, namun belum terkuras oleh kelelahan fisik usia lanjut. Kestabilan ini memberikannya kecerdasan emosional yang cukup untuk mendengarkan, merangkul, dan memahami kebutuhan peserta didik secara holistik.
Langkah pertama Nuha dalam merestrukturisasi lingkungan belajar adalah membuang metode lama. Meja-meja kelas tidak lagi diatur kaku dan dingin menghadap papan tulis, melainkan dibentuk melingkar untuk mendorong keterbukaan dan diskusi. Nuha menerapkan pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa (Student-Centered Learning).
“Di kelas ini, tidak ada jawaban kritis yang akan dihukum,” katanya mengawali pembelajaran. Nuha membagikan studi kasus nyata tentang tantangan pembangunan berkelanjutan dan krisis energi di Indonesia. “Tugas kalian bukan sekadar menghafal isi buku, melainkan mengkritik, menganalisis, dan menawarkan solusi. Berbedalah pendapat dengan saya, dan berdebatlah secara sehat.”
Nuri, salah satu siswanya yang terkenal pendiam dan trauma akibat sering dibentak di kelas-kelas sebelumnya, tampak tertegun. Matanya yang pernah redup, perlahan kembali memancarkan binar riang, binar yang sangat mirip dengan binar mata Nuha saat ia berusia lima tahun dengan seragam birunya.
“Bu Nuha,” panggil Nuri dengan ragu, namun ada keberanian yang mulai tumbuh di matanya. “Bagaimana kalau solusi krisis energi di daerah kita tidak dimulai dari teknologi mahal, tetapi dari reformasi regulasi berbasis komunitas lokal?”
“Sebuah gagasan yang sangat tajam dan berani, Nuri. Jelaskan argumenmu dan mari kitauji bersama data-datanya,” jawab Bu Nuha sambil menyunggingkan senyum paling hangat yang ia miliki.
Ruang kelas yang dahulu sunyi dan diliputi ketakutan, kini mendadak hidup. Anak-anak berargumen dengan data, belajar menghargai perbedaan pendapat, dan mengasah pemikiran kritis mereka tanpa rasa takut akan ditindas atau dipangkas nilainya. Nuha tidak menempatkan dirinya sebagai penguasa kelas, melainkan sebagai fasilitator yang memandu rasa ingin tahu mereka.
Usaha Nuha tidak berhenti di dalam dinding kelasnya saja. Ia aktif menulis esai dan memperjuangkan reformasi sistem pendidikan di tingkat daerah. Nuha secara konsisten menyuarakan pentingnya mengevaluasi kebijakan batas usia dan beban kerja pendidik, agar profesi guru selalu diisi oleh individu yang siap secara fisik dan emosional, sehingga pendidik senior tidak dipaksa bertugas hingga kehilangan kemampuan beradaptasi dengan zaman. Ia juga mendesak sistem agar lebih berfokus pada kebutuhan dan potensi unik setiap siswa ketimbang sekadar kejar tayang halaman buku teks.
Nuha menyadari sepenuhnya bahwa memperjuangkan pendidikan yang berkelanjutan butuh pembenahan sistemik dan keberanian untuk memutus rantai takut. Anak-anak yang ia ajar hari ini tidak boleh bernasib sama seperti dirinya di masa lalu. Mereka tidak boleh dibuat merasa salah hanya karena mereka berani berpikir berbeda.
Sebab, keberlanjutan dan kemajuan bangsa Indonesia tidak diukur dari seberapa patuh murid-murid duduk menghafal materi, melainkan dari seberapa berani mereka berpikir kritis, berempati, dan membawa perubahan nyata bagi dunianya. Dan semua perjuangan itu bermula ketika seorang guru memiliki kedewasaan emosional untuk berhenti menghukum keberanian muridnya dalam bertanya.
Sebuah catatan di Hari Pendidikan Daerah.
Diskusi