Penulis di Kota Tak Bernama

25 Juli 2026
3 menit baca
970ed7f9-27cb-46e2-997d-d98e3a8164fc
Penulis di Kota Tak Bernama

‎Oleh Anies Septivirawan 

‎Sebuah kota, tempat Ia dilahirkan, tidak bernama.  Di selembar peta, kota itu hanya samar- samar terlihat, bahkan nyaris tidak ada. Di sejarah, pun nyaris tidak ada 

‎Alkisah, dahulu kala, kota tidak bernama, tempat Ia dilahirkan hanyalah berupa persimpangan. Seiring waktu berjalan meski terasa lambat,  menjadi sebuah kota, namun tanpa nama.  Mall bertumbuh, kafe – kafe bermunculan bak jamur di musim penghujan,  jalanan diperlebar, kendati sebagian jalan ada yang berlubang. 

‎Namun, yang tidak pernah tumbuh adalah cerita. Pun, tidak ada tembang yang lahir di kota itu. 

‎Tidak ada upacara yang ditunggu-tunggu setahun sekali. Tidak ada bahasa daerah yang anak-anaknya masih memakainya untuk bercanda.

‎Ia, adalah seorang pemuda sederhana sang penulis yang lahir dan besar di kota itu. Sejak SMP,  Ia sudah gemar menulis. Namun, setiap kali Ia mencari bahan dan referensi untuk menulis,  yang Ia temukan hanyalah sepotong papan reklame dan lahan parkir. 

‎”Di mana legenda kota ini?” tanya Ia  suatu ketika kepada guru sejarahnya.

‎Sang guru menjawab, “Kota ini tak bernama, Nak. Tidak punya legenda, juga tidak punya nama, tembang- tembang yang pernah dinyanyikan nenek-nenek kita dulu waktu menumbuk padi, juga tidak ada.”

‎Ia tidak betah tinggal di kota itu, bukanlah disebabkan karena benci. Ia tidak betah karena kosong. Kosong karena selalu gagal bertemu dengan inspirasi. 

‎Setiap kali Ia menulis, yang Ia rasakan seperti menulis kata – kata dan syair di atas air. Setiap bait yang Ia buat juga tidak punya tanah untuk berpijak. 

‎Di kota itu tdak ada aroma wangi dupa, tidak ada nama gunung yang dikeramatkan, tidak ada dialek yang bisa Ia selipkan di sela -sela dialog dalam karya fiksinya. 

‎Kota itu menolak diingat. Karena tahun ini bangunannya dibongkar, tahun depan mengganti nama jalan. Setiap tahun,  nama pendoponya juga selalu berganti. 

‎Teman-temannya bilang, “Ya sudah pindah saja kalau tidak suka.”

‎Ia mengangguk. Ia pindah ke kota  Adab.

‎Di kota Adab, trotoarnya retak.  Namun, pada tiap retakannya memiliki cerita panjang nan penuh makna.  Tukang becak saja bisa bercerita tentang istana selama dua jam tanpa berhenti. Anak-anak masih hafal mainan tradisional.  Bahkan nama-nama gang yang bertebaran di sudut kota itu punya arti.

‎Ia mulai menulis lagi. Kali ini lebih deras dan lancar. Ia menulis tentang seonggok rindu pada tempat yang tidak pernah memberinya apa-apa untuk dirindukan. 

‎Setiap kali orang bertanya kepadanya, “Kamu dari mana?” 

‎Ia menjawab, “Kota tak bernama.”

‎”Kota tak bernama? Ada apa di sana?”

‎Ia cuma terdiam. Syahdan, mengembangkan senyuman.  “Tidak ada apa-apa. Oleh karenanya aku jadi penulis.” 

‎Karena kadang, orang hanya jadi penulis ketika kampung halamannya tidak memberinya mitologi. Jadi Ia harus menciptakannya sendiri.

‎Sekarang Ia pulang setahun sekali. Lewat mall yang sama, jalan yang sama, spanduk yang sama. Dia tetap tidak betah. Namun Ia berterima kasih kepada kota tak bernama. 

‎Karena jika seandainya kota tak bernama itu punya jati diri budaya yang kuat, mungkin Ia tidak akan pernah belajar cara bagaimana merindukan. 

‎Merindukan kota yang telah bersaksi:  bahwa Ia telah dilahirkan dan dibesarkan di kota itu. Di kota tak bernama. 

‎ 

‎Malang, ujung 2025. 

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W