Rintik Sunyi

Oleh Siti Khumairoh
29 Agustus 2026
3 menit baca
22e419df-9987-440f-9a31-a02f48f2bb60
Rintik Sunyi

Oleh: Siti Khumairoh 

Sore itu, langit melukis muram yang teramat pekat sebelum akhirnya gugur tanpa sempat berpamitan. Bulir-bulir air dihantam angin hingga menumbuk kaca jendela, meninggalkan jejak-jejak basah yang perlahan mengaburkan garis-garis samar dunia di luar sana. 

Bayang-bayang gedung dan pepohonan meliuk rapuh di balik tirai hujan, menjelma menjadi siluet asing yang tak lagi terjangkau. Di balik pembatas tipis yang memisahkan dinginnya lanskap kota dan hangatnya sudut kamar, ada seorang gadis melipat kedua kaki di atas peraduan. 

Dilipat jemari di depan dada, merengkuh keheningan dalam pelukan paling hangat dan jujur yang bisa diberi untuk dirinya sendiri. Headphone yang melingkar erat di telinga bukan lagi sekadar alat pemutar melodi, melainkan pelindung tak kasat mata dari bisingnya dunia. 

Nada-nada melankolis yang mengalun dari peranti kecil di sisinya mengalir tenang, pelan-pelan menenggelamkan riuh peradaban dan meredam riak gelisah yang sejak tadi berkecamuk di dalam kepala. Lagu demi lagu berputar bagaikan mantra, membungkus setiap sudut pikiran dengan kelembutan yang menyembuhkan.

Di tepi peraduan, uap tipis dari secangkir teh menari anggun, mengepul samar sebelum pasrah mengendap ditelan udara dingin yang kian menusuk. Setiap ketukan rintik di kaca seolah datang untuk membasahi dan meluruhkan sisa-sisa lelah dari hari yang teramat panjang, hari-hari ketika batin dipaksa berpacu dengan ekspektasi yang tak kunjung usai. 

Langkah ini kerap diminta untuk terus berlari tanpa ragu, meniti detik yang tergesa-gesa demi menuntaskan tanggung jawab yang seolah tak pernah ada habisnya. Namun di sudut mungil yang remang ini, gadis itu menemukan tempat bersembunyi yang aman. Di sini, ia tak lagi dituntut untuk menjadi sosok yang sempurna. Ia tak perlu berpura-pura tangguh di hadapan semua orang.

Dipejamkan mata lebih dalam, membiarkan bait-bait lagu dan simfoni hujan di luar sana melebur menjadi satu ramuan penawar jenuh. Keheningan ini tak lagi terasa dingin atau menakutkan, ia telah menjelma menjadi peraduan teduh tempat jiwa yang dahaga akan ketenangan akhirnya menemukan jalan pulang. 

Ada ketenangan ajaib saat menyadari bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat, tidak apa-apa untuk menjeda seluruh ambisi, dan membiarkan dunia berjalan tanpa campur tangan dirinya sejenak.

Dalam merayakan kesendirian ini, ia belajar sebuah rahasia sederhana, bahwa kedamaian tak pernah lahir dari keriuhan yang dipaksakan, melainkan dari keberanian untuk melapangkan dada dan merawat luka-luka kecil secara perlahan. 

Setiap helaan napas yang kuambil kini terasa lebih berharga, menyapu debu-debu kepenatan yang melekat di relung kalbu. Gadis itu meresapi kehangatan yang merambat perlahan dari dalam diri kehangatan yang membuktikan bahwa ia masih utuh, meski telah melewati badai demi badai yang tak terlihat oleh orang lain.

Ketika rasa hangat pada cangkir teh di samping mulai memudar dan alunan musik berganti alur ke nada yang lebih lembut, gadis itu membuka mata lalu menghembuskan napas panjang. Garis-garis air di jendela masih terus mengalir, namun pandangannya kini tak lagi buram oleh kelelahan. 

Hujan di balik jendela mungkin masih belum benar-benar mereda, tetapi di dalam relung dada, seluruh badai dan kecemasan telah menyerah pada damai yang meraja. Di sudut kecil ini, bersama alunan nada dan rintik yang setia, gadis itu telah menemukan kembalinya dirinya yang sejati.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Siti Khumairoh
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W