Kemerdekaan Meriah, Ibadah Pun Harus Bertambah

Dari Semarak Perayaan Menuju Semangat Ketaatan
Oleh: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
KUA Tapaktuan, Aceh Selatan
Alhamdulillah, Jumat, 28 Agustus 2026 bertepatan dengan 15 Rabiul Awal 1448 H, sekaligus Jumat terakhir di bulan Agustus, Forum Imam dan Khatib Kecamatan Tapaktuan memberikan amanah kepada penulis untuk menjadi khatib di Masjid At-Taqwa Gampong Panton Luas.
Gampong Panton Luas merupakan salah satu dari tiga gampong binaan penulis bersama Gampong Air Pinang dan Gampong Lhok Rukam. Amanah tersebut menjadi momentum untuk bermuhasabah setelah menyaksikan begitu semaraknya masyarakat memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-81.
Setiap memasuki bulan Agustus, suasana kemerdekaan terasa di mana-mana. Instansi pemerintah, lembaga swasta, sekolah, dan masyarakat ikut memeriahkannya. Ada zikir dan doa bersama, karnaval, gerak jalan, jalan sehat, serta berbagai perlombaan. Anak-anak PAUD, SD, SMP, SMA hingga orang tua turut bergembira. Merah putih berkibar, halaman kantor dihias, perlombaan dipersiapkan, dan masyarakat bersatu dalam suasana penuh kegembiraan. Semua itu merupakan ekspresi kecintaan terhadap tanah air dan rasa syukur atas nikmat kemerdekaan.
Namun, setelah perlombaan selesai dan kemeriahan Agustus perlahan berakhir, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: Jika perayaan kemerdekaan begitu meriah, sudahkah rasa syukur kita kepada Allah juga semakin meriah? Jika waktu, tenaga, pikiran, dan harta dapat kita berikan untuk menyemarakkan kegiatan duniawi, sudahkah sebagian darinya kita persembahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT? Kemerdekaan sejatinya bukan hanya dirayakan, tetapi juga disyukuri dengan ketaatan.
Kemerdekaan Adalah Nikmat yang Harus Disyukuri
Kemerdekaan merupakan nikmat besar. Kita dapat beribadah dengan aman, azan berkumandang, masjid berdiri, anak-anak belajar Al-Qur’an, majelis taklim berkembang, dan dakwah dapat dilaksanakan dengan terbuka. Karena itu, mensyukuri kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera dan menyelenggarakan perlombaan. Syukur harus terlihat dalam semakin baiknya hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7).
Rasulullah SAW pun memberikan teladan luar biasa dalam mensyukuri nikmat. Ketika beliau melakukan salat malam hingga kedua kakinya bengkak, lalu ditanya mengapa masih bersungguh-sungguh padahal Allah telah mengampuni beliau, Rasulullah SAW menjawab:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”(HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, syukur bukan hanya diucapkan dengan Alhamdulillah, tetapi diwujudkan melalui amal dan ketaatan.
Lomba Meriah, Jangan Sampai Masjid Sepi**
Kegiatan HUT RI memang menggembirakan. Ada lomba makan kerupuk, tarik tambang, balap karung, panjat pinang, gerak jalan hingga jalan sehat. Anak-anak bersemangat, orang tua ikut memberikan dukungan. Suasana menjadi hidup dan ukhuwah masyarakat semakin terasa.
Ada sedikit cerita jenaka. Seorang bapak mengikuti lomba jalan sehat. Pagi-pagi sekali beliau sudah bangun, memakai sepatu olahraga dan berkata kepada istrinya, “Cepat, Bu! Nanti kita terlambat, hadiahnya banyak!” Sang istri tersenyum lalu menjawab, “Pak, kalau ke masjid Subuh, kenapa tidak pernah takut terlambat?” Bapak itu terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kalau begitu, Bu, besok bangunkan saya sebelum azan. Rupanya hadiah akhirat lebih besar daripada hadiah jalan sehat!”
Kisah sederhana ini mengandung muhasabah. Kita mampu berangkat pagi demi sebuah kegiatan, maka semestinya kita lebih bersemangat ketika azan memanggil. Allah SWT berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua salat dan salat wustha. Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238).
Jangan sampai kita kuat berjalan berkilo-kilometer mengikuti jalan sehat, tetapi beberapa ratus meter menuju masjid terasa berat. Kemeriahan kegiatan sosial hendaknya menjadi penyemangat, bukan pengganti, bagi kemeriahan ibadah.
Merdeka Waktunya, Merdeka Hartanya untuk Kebaikan
Mensyukuri kemerdekaan juga berarti menggunakan waktu dan harta untuk sesuatu yang bermanfaat. Kita mungkin menyediakan waktu berjam-jam menyaksikan perlombaan. Itu tidak salah. Tetapi akan semakin indah apabila kita juga menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian, berjamaah di masjid, bersilaturahmi, dan membantu orang lain.
Demikian pula dengan harta. Di tengah kegembiraan memperingati kemerdekaan, jangan kita lupakan anak yatim, fakir miskin, kaum dhuafa, tetangga yang kesulitan, pendidikan anak-anak kurang mampu, serta kepentingan sosial-keagamaan lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini.” Kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah. (HR. Bukhari).
Bayangkan betapa indahnya apabila kemeriahan kemerdekaan juga melahirkan gerakan sosial: satu kegiatan kemerdekaan, satu kegiatan berbagi. Ada lomba untuk kegembiraan masyarakat, ada pula santunan untuk menggembirakan anak yatim. Ada jalan sehat untuk kesehatan badan, ada pula sedekah untuk kesehatan jiwa.
Merdeka yang Sebenarnya: Mampu Mengendalikan Diri
Kemerdekaan bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja. Dalam perspektif iman, seseorang justru menjadi benar-benar merdeka ketika ia mampu melepaskan dirinya dari penjajahan hawa nafsu, kemalasan, kesombongan, iri hati, kebencian, dan berbagai perbuatan maksiat.
Allah SWT mengingatkan:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ada pula gambaran sederhana. Ketika perlombaan dimulai, panitia berteriak, “Siap!” Semua peserta langsung mengambil posisi. “Satu… dua… tiga!” Mereka berlari sekuat tenaga. Tetapi ketika muazin mengatakan “Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah”, kadang kita masih berkata, “Sebentar lagi…!”
Padahal panggilan pertama memperebutkan hadiah dunia, sementara panggilan kedua mengajak menuju al-falah—kemenangan dan keberuntungan. Kalau mengejar garis finis kita berlari, mengapa menuju kemenangan akhirat justru berjalan begitu lambat?
Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”(HR. Tirmidzi).
Karena itu, penghujung Agustus adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah:
apa yang bertambah dalam diri kita setelah merayakan kemerdekaan?
Agustus Berakhir, Semangat Beribadah Jangan Ikut Berakhir
Jumat terakhir bulan Agustus hendaknya menjadi titik refleksi. Bendera dan umbul-umbul suatu saat akan diturunkan. Panggung perlombaan akan dibongkar. Hadiah akan habis digunakan. Foto dan video kegiatan perlahan menjadi kenangan. Tetapi nilai syukur dan amal kebaikan seharusnya tetap tinggal dalam kehidupan kita.
Terlebih momentum ini berada pada bulan Rabiul Awal, bulan yang mengingatkan umat Islam kepada kelahiran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup dengan memperingati kelahirannya, tetapi harus diteruskan dengan mengikuti tuntunan dan memperbaiki akhlak.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”(QS. Al-Ahzab: 21).
Maka, semangat kemerdekaan dan semangat Rabiul Awal dapat dipertemukan dalam satu pesan: jadilah manusia yang semakin bersyukur dan semakin baik.Jika kegiatan kemerdekaan semakin meriah, salat berjamaah hendaknya semakin ramai. Jika perlombaan semakin banyak, sedekah juga semakin meningkat. Jika jalan sehat dipenuhi masyarakat, jalan menuju masjid pun hendaknya dipenuhi jamaah. Jika kita mampu menyediakan waktu untuk kemeriahan dunia, sediakan pula waktu terbaik untuk Allah SWT.
Merdeka Negerinya, Taat Hamba-Nya
Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-81 adalah nikmat yang patut dirayakan sekaligus direnungkan. Silakan bergembira, mengikuti karnaval, jalan sehat, perlombaan, dan berbagai kegiatan positif lainnya. Namun, jangan sampai kemeriahan itu berhenti pada urusan dunia. **Kemeriahan kemerdekaan harus melahirkan kemeriahan dalam beribadah dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Mari kita isi kemerdekaan dengan salat yang semakin terjaga, masjid yang semakin makmur, Al-Qur’an yang semakin sering dibaca, sedekah yang semakin luas, anak yatim dan fakir miskin yang semakin diperhatikan, serta akhlak yang semakin baik. Inilah salah satu wujud nyata syukur atas nikmat kemerdekaan.
“Agustus boleh berlalu, bendera boleh kembali disimpan, perlombaan boleh selesai, tetapi rasa syukur dan semangat beribadah jangan pernah ikut selesai. Merdeka negerinya, meningkat ibadahnya, kuat persaudaraannya, dan mulia akhlaknya.”
Semoga Allah SWT menjaga bangsa dan negeri kita, memberikan keberkahan kepada masyarakat, serta menjadikan kemerdekaan ini sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.












