Sudah tiga kali aku menginap di gubuk ini. Pertama aku menginap bersama putra keduaku yang masih berstatus mahasiswa. Dialah di antara tiga orang anak laki-lakiku yang sering menemaniku bekerja di kebun. Abangnya, putraku yang sulung tidak hobi berkebun, makanya aku tidak pernah sekalipun mengajaknya ke kebun.
Lagi pula dia sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai Kepala Sekolah di
tempat dia bertugas. Sedangkan putraku yang ketiga, si bungsu masih menempuh pendidikan dayah setingkat madrasah aliyah. Dia mondok di dayah, hanya saat libur bulan puasa saja dia boleh pulang
ke rumah.
Kedua kalinya aku bermalam ditemani seorang laki-laki dari kampungku. Seorang laki-laki paruh baya pekerja pembabat rumput yang biasa mengambil upah dari orang-orang yang membutuhkannya di sawah atau di kebun.
Waktu itu dia sangat butuh uang untuk membayar SPP anaknya yang kuliah di
kota. Dia minta kerja apa saja dariku asalkan aku dapat membantunya sejumlah uang untuk membayar biaya kuliah anaknya. Kebetulan kebun sawitku yang tiga hektar itu sudah lama tidak dibabat sehingga rumputnya sudah sangat panjang. Maka kuajaklah laki-laki paruh baya itu ke kebun.
Dua malam kami menginap di gubuk yang sering kusebut Jambo itu. Baru satu hektar dia membabat rumput, kami terpaksa pulang karena dia menderita sakit gigi yang parah. Dia berjanji, setelah sembuh dari sakit gigi akan melanjutkan kembali membabat rumput hingga selesai. Tapi beberapa
hari kemudian terjadi kebakaran di lahan bekas hutan gambut itu. Ratusan hektar kebun sawit masyarakat dilalap si jago merah hampir sebulan lamanya.
Termasuk lahan kebun sawitku yang tiga
hektar itu. Untung saja batang sawit di kebunku tidak begitu parah terbakar, masih ada yang tersisa, terutama yang belum sempat dibabat rumputnya sehingga masih ada harapan untuk hidup kembali.
Yang sangat kusyukuri, walaupun aku dalam keadaan musibah, bahwa Jambo yang selesai dibangun dua minggu sebelum kebakaran, tidak ikut terbakar. Padahal kalau dilihat kebun yang terbakar di sekelilingnya, tidak ada harapan sama sekali Jambo akan selamat.
Dan malam ini, setahun lebih setelah kejadian kebakaran, aku tidur ketiga kalinya di Jambo yang masih berdiri kokoh di antara pohon-pohon sawit yang mulai menghijau kembali. Tapi kali ini aku tidak ditemani oleh siapa pun.
Sebenarnya, semula aku tidak punya rencana untuk menginap. Apalagi anak-anakku sering melarang.
Jangankan menginap, ke kebun pun aku sering dilarang kalau sendirian. Mereka khawatir terjadi apa- apa denganku. Maklum, kebunku terletak jauh dari pemukiman penduduk. Kurang lebih empat kilometer dari jalan kampung. Mendekati hutan TNGL. Kalau dari rumah hampir dua jam perjalanan.
Menurut orang-orang yang juga punya kebun di sana, jarak lahan kebun kami dengan taman nasional yang dilindungi lembaga internasional itu sekitar delapan kilometer. Bahkan, dengan Laot Bangko, danau satu-satunya yang terkenal di Aceh Selatan itu hanya berjarak enam kilometer ke sebelah barat kebunku.
“Ayah jangan sendirian di kebun. Kalau terjadi apa-apa tak ada yang melihat. Apalagi sekarang Ayah sudah pensiun, sudah tua. Sudah saatnya istirahat di rumah. Lebih baik Ayah menjaga waktu untuk ibadah, shalat berjamaah setiap waktu di masjid”, kata anak perempuanku yang nomor dua.
Di antara anak-anakku yang berjumlah enam orang, dialah yang paling perhatian terhadapku. Sejak kecil dia memang punya sikap yang tegas dan penuh perhatian. Saat ini dia sudah mandiri, menjadi seorang guru PNS Kemenag di salah satu sekolah di Abdya.
Hanya istriku saja yang tidak pernah melarang. Bahkan terhadap apa pun yang kulakukan demi menjaga kelangsungan hidup keluarga kami. Mungkin karena kami sudah lama hidup bersama dan dia
mengetahui detil bagaimana sikap dan perasaanku dalam kehidupan sehari-hari.
Walaupun demikian, selama aku pensiun, aku lebih mendengarkan nasihat anak-anakku. Aku berpikir juga, kalau terjadi
apa-apa di sini terhadapku tentu anak-anakku merasa malu. Orang-orang mungkin akan berpikir, tega betul anak-anaku membiarkan orang tuanya jeulanang sendirian di tengah hutan.
Tapi rasanya sayang sekali kalau aku meninggalkan begitu saja buah sawit yang sudah kupenen tadi siang. Beberapa tandan sudah luruh bijinya dari batang, berhamburan di tanah. Kalau tidak diambil, nanti lama-lama akan tumbuh di sekitar batang dan susah dicabut membersihkannya.
Lagi pula kalau dikumpulkan lumayan juga. Bukankah sekarang harga berondolan sawit sudah mulai meningkat? Beberapa hari yang lalu, ketika kubawa beberapa puluh kilogram berondolan sawit ke Ram tempat pengumpulan sawit, harganya tiga ribu lima ratus rupiah sekilo.
“Jika aku tidur di sini, pagi-pagi sehabis shalat subuh aku dapat langsung bekerja memungut biji-biji sawit yang berserakan di bawah batangnya,
” bisik hatiku. Kalau aku pulang, besok pagi belum tentu aku dapat datang pagi-pagi ke mari. Jangan-jangan ada pula orang yang musibah atau kenduri di kampung, aku pasti tidak akan mungkin pergi ke kebun ini. Bagiku kepentingan sosial juga harus diutamakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Akhirnya aku menunggu sore menjelang senja di sini sendirian, hanya ditemani angin hutan dan suara-suara rimba yang asing. Agar orang-orang di rumah tidak merasa susah karena aku tidak pulang, kutelepon anak sulungku. Dia agak lama terdiam sebelum menjawab ‘ya’, ketika kuberitahu bahwa aku tidak pulang malam ini.
Jambo ini terbagi atas dua bagian. Bagian bawah terdiri atas tempat istirahat sekaligus tempat shalat dan teras yang bersambungan dengan dapur tempat memasak. Di para-para agak ke sudut sengaja kugantung selembar sajadah sebagai alas tempat shalat. Niatku, untuk memudahkan orang-orang yang ingin menunaikan kewajiban lima waktu.
Sedangkan di bagian atas khusus tempat tidur dan tempat menyimpan alat-alat keperluan kebun seperti parang, cangkul, sodok, alat-alat pertukangan, alat-alat masak, dan lain-lain. Jika siang hari, biasanya di bagian teras sering kami gunakan tempat duduk-duduk santai atau tiduran. Di bagian atap samping kanan teras kupasang sebuah lampu listrik tenaga surya.
Jika malam, lampu itu menyala dengan terang menyinari bagian halaman jambo. Lampu tenaga surya itu kubeli via online dan kupasang seminggu sebelum terjadi kebakaran besar itu. Meskipun begitu sampai hari ini lampu itu masih tetap menyala terang di malam hari.
Menjelang waktu magrib aku naik ke bagian atas. Dari sini aku menyaksikan alam rimba yang mulai remang-remang menjemput senja. Jendela yang terbuat dari selembar papan itu aku biarkan terbuka lebar-lebar untuk mempermudah aku menatap senja yang mulai turun.
Dari kejauhan kedengaran suara burung hantu lantang membelah senja. Sementara dari arah sungai kecil, dekat jembatan yang tidak seberapa jauh dari Jambo, kudengar suara kepiting dan cacing rawa nyang nyaring, seakan berlomba menyambut magrib tiba.
Suara azan mulai mengalun dari arah kampung, terdengar dengan jelas di telingaku. Suaranya bergelombang dan naik turun mengikuti irama hembusan angin senja yang dingin. Aku cepat-cepat menutup pintu di sudut ruangan. Daun pintunya mengarah ke bawah, sehingga sangat mudah menutup dan menguncinya.
Saat menutup daun jendela yang terbuka sejak tadi, aku sempat menyaksikan bulan yang mulai muncul di langit timur. Bentuknya yang bulat menebarkan cahaya kuning kemerah-merahan. Aku tak tahu berapa hari bulan saat ini. Melihat bentuk bulan yang bulat itu aku yakin berkisar antara empat belas atau lima belas hari bulan. Kuhidupkan panyot di sudut ruangan.
Kubiarkan saja minyaknya yang hanya tinggal separuh, karena aku berharap dengan minyak yang separuh itu nanti panyot akan mati dengan sendirinya setelah aku tertidur. Biasanya aku lebih nyaman tidur di dalam gelap ketimbang di tempat yang disinari lampu dengan terang.
Entah berapa lama sudah aku membalik-balikkan tubuhku di pembaringan. Aku masih belum tertidur juga. Sudah berulangkali mata kupejamkan, masih belum bisa terlena. Padahal tadi saat shalat isya selesai kutunaikan aku mengantuk sekali. Rasa-rasanya mata ini tidak bisa kompromi lagi. Tapi kenapa ketika aku mulai berbaring malah mata semakin sulit terpejam? Biasanya, aku tidak sesusah ini tidur di malam hari.
Apalagi di sini, suasana yang tenang dan dingin seharusnya membuat aku cepat pulas.
Malam ini terasa begitu beda dengan malam beberapa waktu lalu saat aku tidur di sini. Dulu, hanya butuh beberapa detik aku berbaring langsung pulas. Tahu-tahu terbangun saat suara azan mengalun
dari arah kampung. Atau saat burung enggang mengepakkan sayapnya menyambut cahaya pagi, baru aku terbangun.
Tapi kali ini terasa berat sekali memejamkan mata. Ada-ada saja yang muncul di pikiran. Tentang utang yang belum terbayarlah, tentang gajian yang masih lamalah, tentang anak yang minta dibelikan sepeda motor barulah, tentang mobil yang pajaknya belum terbayarlah, hingga tentang suasana politik negeri ini yang masih carut-marut. Apa hubungannya politik yang carut marut di negeri ini dengan hidupku? Ah, ada-ada saja.
Merasa pikiran-pikiranku semakin jauh berkelana, aku mulai membaca beberapa potong doa dan ayat kursi. Selesai membaca ayat kursi ketiga kalinya, perasaanku mulai nyaman. Pikiran-pikiran yang tidak menentu itu mulai hilang. Dan aku mulai terlena ketika dengan tiba-tiba aku mendengar suara riuh di luar sana.
Sayub-sayub aku mendengar orang-orang berbicara, suara tapak kaki yang sedang melangkah, dan suara gemericik air di sungai kecil di depan Jambo.
Aku terkejut, lalu bangkit dari pembaringan. Siapa pula malam-malam begini berseliweran di kebun di tengah hutan belantara ini? Ada apa gerangan sehingga banyak orang yang mengunjungi Jamboku di malam hari? Apakah mereka mencariku karena tak pulang?
Mungkinkah keluargaku tadi melaporkan
aku hilang? Tapi, bukankah aku telah memeberitahukan kepada anakku tadi bahwa aku tidak pulang? Bukankah aku baru saja sehari tidak pulang? Lalu, siapakah mereka? Apakah benar suara-suara itu berasal dari orang-orang yang sedang mencariku?
Karena penasaran, pelan-pelan aku merangsek ke dekat jendela. Melalui lubang kecil di antara bilah-bilah papan dinding Jambo aku mengintip keluar. Benar, di bawah cahaya bulan yang terang benderang, aku menyaksikan banyak orang di bawah sana. Sebagian mereka sedang berdiri di halaman, sebagian masih berada di jalan, dan sebagiannya sedang menimba air dari atas jembatan.
Kuperhatikan mereka semua secara lamat-lamat. Beberapa orang di atas jembatan kulihat sedang berwuduk dan dilanjutkan oleh orang yang di belakangnya. Sedangkan yang sudah berwuduk menunggu di halaman Jambo.
“Siapakah mereka?”, aku berbisik sendirian. “Mereka berwuduk, apakah mereka akan shalat di Jamboku ini?”, bisik hatiku lagi. Dengan cermat kuhitung mereka satu-satu. Mereka semua berjumlah dua belas orang, ya dua belas orang. Tapi yang mengherankanku, mereka semua memakai baju jubah
dan sorban putih. Persis pakaian para Wali yang sering kulihat dan kubaca di buku-buku cerita.
“Apakah semua sudah berwuduk?”
Kudengar suara seorang di antara mereka. Lewat celah dinding samar-samar kuperhatikan orang yang
berbicara. Tubuhnya tinggi besar. Wajahnya dipenuhi brewok dan jenggot yang bercampur warna
putih dan hitam. Wajah itu sangat berwibawa.
Kepalanya tertutup sorban putih, yang kelihatan hanya keningnya yang mengkilat dan lebar di bawah cahaya bulan.
“Sebagian naik ke atas Jambo, kita singgah sebentar!”
Orang yang tinggi besar itu berkata lagi. Sangat tegas dan berwibawa. Seperti memerintah.
Lalu orang itu naik ke Jambo diikuti beberapa orang saja. Aku tak dapat melihat lagi mereka yang naik,
karena mereka persis berada di bawahku. Sementara aku tidak bisa mengintip dari celah-celah lantai Jambo yang tertutup tikar tempat tidurku. Aku hanya terus memperhatikan orang-orang yang berada
di halaman. Kebanyakan mereka sudah paruh baya, hanya beberapa orang yang kelihatan agak tua.
Semua berjenggot, tapi tidak ada yang berkumis. Beberapa saat hening. Aku terkesima dengan apa yang kusaksikan. Tapi aneh, sedikit pun tidak ada
rasa takut di hatiku. Malah aku merasa seperti sudah terbiasa melihat orang-orang itu. Tak secuil pun terlintas di hatiku perasaan yang aneh-aneh.
“Kelihatannya, pemilik Jambo ada di sini.”
Kudengar orang tua tadi berkata kepada teman-temannya di atas Jambo.
“Bapak pemilik Jambo, bolehkah turun sebentar? Kami ingin bercakap-cakap dengan Bapak.”
Aku menyimak kata-kata itu dengan saksama. Hatiku mengatakan bahwa ucapan itu ditujukan kepadaku. Tapi aku diam saja.
“Bapak pemilik Jambo, kami yakin Bapak belum tidur. Bolehkah Bapak turun sebentar? Kami ingin
bersilaturrahmi.”
Ucapan itu semakin jelas dan tegas kudengar. Nada yang sungguh berwibawa. Seperti ucapan seorang
yang alim. Aku tidak bisa bergeming. Meskipun aku menganggap mereka orang-orang yang aneh, tapi
pirasatku mengatakan mereka orang-orang yang baik dan alim. Hati kecilku menyuruhku turun menjumpai mereka.
Bersilaturrahmi dengan mereka.
Pelan-pelan aku beringsut. Aku berdiri. Kuambil peci hitam yang kusangkut di dinding sehabis shalat isya tadi. Kukenakan erat-erat kain sarung di pinggangku. Kupakai baju koko coklat yang kubawa dari rumah. Aku melangkah ke pintu, kutarik daun pintu ke tas, lalu kusangkut tali penahan pintu ke diding
agar tak jatuh.
Aku menuruni anak tangga satu persatu. Sampai di bawah kusaksikan lima orang
berjubah putih tadi duduk bersila membentuk setengah lingkaran. Orang yang sangat berwibawa itu duduk paling ujung di sebalah kanan. Tanpa berkata sepatahpun aku duduk di depan mereka, persis di tengah agak jauh dari setengah lingkaran itu.
“Alhamdulillah, akhirnya kita bertemu dengan pemilik Jambo ini,” ucap orang yang memintaku turun tadi. Jelas ucapan itu diarahkan kepadaku. Mungkin dia pimpinan rombongan.
Aku ingin bersalaman dengan mereka satu persatu untuk membuktikan ikatan silaturrahmi yang diucapkan oleh orang itu. Tapi hati kecilku melarang aku menyentuh tangan mereka. Bahkan sejak
turun dari tangga tadi hati kecilku tak jeda mengingatkan agar aku jangan bicara sepatah pun dengan mereka. Entah kenapa.
Sambil tersenyum aku memperhatikan mereka satu persatu. Aku seperti mengenal mereka. Wajah-wajah mereka seperti pernah kulihat sebelumnya. Tapi kapan dan di mana, ya?
“Nama Bapak Subtolhaya, kan?” tiba-tiba pimpinan rombongan bertanya seperti dapat menebak jalan pikiranku. Dari ucapannya jelas dia mengenalku.
Aku memeras pikiran. Aku mengingat-ingat, di mana aku pernah bertemu dengan orang ini. Tiba-tiba ingatanku melayang ke masa lalu, kira-kira empat puluh empat tahun lalu. Saat itu aku masih SMP di kampung halaman. Suatu hari kami sekampung dikejutkan oleh peristiwa yang menggegerkan.
Seorang anak muda yang terkenal alim dan pendiam, menghilang dari kampung kami. Dia adalah abang dari sahabatku satu kelas di SMP. Menurut pengakuan seseorang di kampungku yang pernah
melihatnya waktu itu, dia pergi ke arah gunung pada suatu malam dengan hanya membawa sebuah Al-Qur’an.
Berhari-hari bahkan berminggu-minggu orang kampung kami mencarinya, tapi tidak pernah ketemu. Akhirnya orang-orang melupakannya.
“Ya, saya Bahar, abangnya si Misak. Masih ingat kan? Dulu Pak Sub saat sekolah SMP tinggal dekat rumah kami,” tiba-tiba orang itu memangkas ingatanku. Seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Aku mengangguk-angguk, sambil mengenang semua peristiwa yang sudah puluhan tahun terjadi itu.
“Dan mereka ini ada yang Pak Sub kenal?” tanya orang itu lagi sambil menunjuk ke arah empat orang
yang duduk melingkar itu.
Aku menatap orang-orang itu. Kini pikiranku terang benderang, seperti cahaya bulan tanpa awan yang
sedang bersinar di langit biru malam ini.
Cahaya bulan yang memantul dari daun-daun sawit di sekeliling Jambo memperjelas wajah mereka, sehingga memudahkanku mengingat wajah mereka.
Walaupun wajah-wajah itu telah dibalut oleh jambang dan jenggot, dan kepala mereka tertutup sorban, aku dapat mengingat siapa mereka.
“Saya Habsim, Lot. Yang hilang di masa konflik,” ucap orang berikutnya. Dia menyebut aku Lot singkatan dari Ayahlot.
Hanya orang-orang tertentu saja yang menyebut aku dengan sebutan Lot atau
Ayahlot.
Ya, aku masih ingat. Habsim dinyatakan hilang dalam sebuah razia saat berlangsungnya konflik bersenjata di kampungku. Saksi mata mengatakan saat itu bahwa dia dibawa oleh orang-orang
berbaju loreng setelah terjaring dalam razia itu. Orang-orang tidak tahu dia dibawa ke mana. Hingga
bertahun-tahun kemudian dia tidak pernah kembali. Dia adalah menantu abangku yang nomor dua.
Waktu Habsim menghilang istrinya baru saja melahirkan anak kedua, laki-laki. Kini anak itu sudah dewasa, sudah menyesaikan kuliahnya.
Aku juga ingat orang yang di sebelah Habsim. Tak salah dia adalah Mulyadi. Orang-orang sering menyebutnya Tgk. Mul. Orangnya sebenarnya periang. Tapi suatu ketika, setelah tiga tahun
melanjutkan pendidikan di salah satu pesantren di Jawa Timur, dia pulang kampung. Tiba-tiba jadi
pendiam dan sering menyendiri. Dan sayangnya dia tidak pernah kembali melanjutkan pendidikannya.
Beberapa lama kemudian Tgk. Mul dinyatakan hilang. Ada yang mengatakan saat itu, Tgk. Mul hanyut di Sungai Kluet saat menyeberang sungai. Tapi mayatnya tidak pernah ditemukan.
Selanjutnya di samping Tgk. Mulyadi adalah Sufyan. Sufyan dulunya seorang sopir yang sering mengangkut penumpang dari Kotafajar – Menggamat. Sufyan dinyatakan hilang saat terakhir
menyopiri mobilnya menuju Menggamat. Malam-malam saat dia berangkat dari Kotafajar, orang- orang yang melihatnya di Kotafajar mengatakan dia tidak membawa penumpang. Besoknya mobil
yang disopirinya itu ditemukan di jurang Gunung Pudung. Dan Sufyan kemudian dinyatakan hilang.
Yang duduk paling ujung lingkaran, di sebelah kananku adalah Muhammad Rasyid Ridha. Dia sering dikenal dengan Bilal Rasyid. Disebut bilal karena dia adalah tukang azan di masjid kecamatan
kampungku. Suaranya sangat merdu, sehingga dia diangkat menjadi bilal. Setiap Jumat Rasyid selalu
mengumandangkan azan. Semua orang di ibukota kecamatan mengenal siapa Rasyid.
Bilal Rasyid sangat gemar membaca. Tapi sayang, buku-buku yang dibaca Rasyid menanamkan ajaran yang
menyimpang. Akibat pengaruh buku-buku yang dibacanya, pemikiran Rasyid berubah total. Dia menjadi pendiam dan sering mengasingkan diri. Dia tenggelam dengan buku-buku yang dibacanya.
Akhirnya, karena sering menyendiri dan kurang bergaul dia diberhentikan dari bilal. Celakanya, sejaksaat itu Rasyid berubah pikiran dan menjadi ‘hilang ingatan’
. Suatu hari Rasyid menghilang dari
kampung dan tidak pernah kembali lagi hingga keluarga dan orang-orang sekampung melupakannya.
Semua cerita tentang Rasyid kudengar dari istriku. Kata istriku, ibu Rasyid yang bercerita padanya karena istriku dan ibu si Rasyid itu berteman dan pernah satu kamar saat mereka mengaji dulu di
sebuah pesantren.
Sejak kehilangan Rasyid, ibunya sering curhat pada istriku.
“Pak Sub sudah ingat kan?” tiba-tiba Tgk. Bahar memutus dawai-dawai ingatanku.
Aku tersipu. Sambil tersenyum agak hambar aku mengangguk. Aku ingin berkata-kata untuk menyampaikan terima kasih karena mereka telah singgah di Jamboku.
Tapi lidahku terasa kelu dan
bibirku tak mampu kugerakkan. Hati kecilku tetap melarangku untuk berbicara.
“Pak Sub, kami serombongan sengaja singgah di Jambo Pak Sub ini untuk menyampaikan terima kasih. Kami sering singgah di sini untuk istirahat dan kadang-kadang untuk shalat.
Kebetulan Jambo Pak Sub ini terletak persis di tengah-tengah lintasan perjalanan kami antara Laot Bangko dan
Seuneubok Lara. Selama Jambo ini ada kami dapat istirahat melepaskan lelah di sini karena terkadang rombongan kami diikuti anak-anak dan perempuan.”
Beberapa saat Tgk. Bahar terdiam, sementara yang lain menundukkan kepala mereka. Seakan-akan mereka turut mengiyakan ucapan Tgk. Bahar.
“Saat terjadi kebakaran hebat dulu, malamnya kami singgah di sini. Kebetulan kami sedang melakukan perjalanan pulang dari Seuneubok Lara. Kami terjebak api di Jambo ini. Tapi alhamdulillah,
Allah menyelamatkan kami. Setelah api padam, baru kami melanjutkan perjalanan pulang ke Laot Bangko sana.” Tgk. Bahar menunjuk ke arah barat dengan ibu jarinya. Aku agak terheran-heran,
karena aku belum pernah melihat orang menunjuk dengan ibu jari, biasanya aku melihat orang menunjuk dengan jari telunjuk.
Dalam hati aku bersyukur karena secara tidak langsung aku sudah memberikan kemudahan terhadap sesama. Dari awal aku memang sudah berniat bahwa Jambo ini tidak hanya kumanfaatkan untuk
diriku sendiri dan keluarga, tetapi juga untuk siapa saja yang mau singgah di sini.
Apalagi bagi mereka yang ingin istirahat, shalat, makan, dan berlindung dari terik matahari dan hujan.
Aku jadi ingat kembali peristiwa kebakaran hebat setahun lalu itu. Aku berpikir, Allah menyelamatkan
Jamboku ini dari keganasan api mungkin karena berkat doa orang-orang baik dan shaleh yang pernah singgah di sini.
Termasuk rombongan Tgk. Bahar ini.
“Setiap musibah ada hikmahnya, Pak Sub,” lanjut Tgk. Bahar seakan-akan dia tahu jalan pikiranku.
“Allah memberikan cobaan ini buat Pak Sub melalui api yang membakar batang-batang sawit, mungkin Allah ingin membersihkan rezeki Pak Sub dari bagian-bagian yang haram atau syubhat.
Apa yang tinggal, itulah yang bersih dan berhak Pak Sub nafkahkan untuk keluarga. Mudah-mudahan
pohon-pohon sawit yang telah terbakar itu akan segera pulih dan berbuah kembali seperti semula.”
Tgk. Bahar menatapku dalam-dalam disertai kata aamiin dari yang lainnya. Aku mengalihkan pandangan ke halaman Jambo. Aku melihat di luar cahaya bulan sudah mulai memudar. Mungkin
sebentar lagi bulan purnama itu akan tenggelam.
“Baiklah, Pak Subtolhaya, kami sudah lama mengganggu Bapak. Kami mohon maaf dan sekali lagi mohon izin. Sebelum pamit, kami ingin mengajak Pak Sub untuk bersilaturrahmi ke tempat kami.
Kalau bisa, kita bersama-sama berangkat sekarang. Di tempat kami nanti, in sya Allah Pak Sub merasa
senang. Di sana semua ada, tidak kekurangan apa-apa. Daripada Pak Sub tiap saat berada di tengah-
tengah manusia munafik. Pak Sub bayangkan dan lihat saja, banyak orang mengaku berilmu, alim,
kaya raya, dan kadang-kadang dua kali setahun berangkat umrah, naik haji sudah berkali-kali… tapi
orang-orang fakir, miskin, anak yatim, dan para janda tua papa berserakan di sekitar mereka.
Ada orang yang sudah berhari-hari tidak makan, tapi mereka seakan tak tahu, malah ada yang pura-pura tidak tahu. Sebagian mereka ada yang menjadi panutan, mengaku ulama, mengurus orang-orang beratus-ratus berangkat umrah, pengurus pembangunan mesjid, dan lain-lain. Tetapi saudara-
saudara dekat mereka sendiri tidak dipedulikan. Dibiarkan hidup sengsara, bergelut dengan kemiskinan, berkubangan dalam utang. Bahkan ada dari mereka, adik-kakak, ibu dan anak,
bertengkar karena memperebutkan harta warisan.
Padahal sebagian mereka berasal dari keluarga ulama, punya harta warisan yang banyak. Tapi tetap saja merasa belum cukup. Bukankah hal-hal
seperti itu sangat dibenci Allah? Kalau Pak Sub ikut kami, kelak Pak Sub tidak akan memikirkan lagi semua itu. Pak Sub akan terbebas dari jeratan dunia yang kejam dan nista,” ucap Tgk. Bahar dengan
serius. Namun nadanya tetap lemah-lembut.
Aku termenung sejenak. Bukan mempertimbangkan untuk ikut mereka, bukan sama sekali. Aku
terkenang cucuku yang baru lahir beberapa minggu lalu. Cucuku yang kedua. Anak dari Putra
sulungku. Wajahnya tampan, setampan cucuku yang pertama, yang sudah berusia dua tahun. Anak
dari Putri pertamaku. Aku sangat rindu kedua cucuku itu, padahal baru sehari aku tinggalkan. Aku juga ingat anak-anakku yang masih sekolah, mengaji, dan kuliah. Siapa yang akan mencari rezeki
untuk biaya pendidikan mereka kalau aku ikut orang-orang ini ke tengah hutan belantara sana?
Aku juga ingat istriku yang setia, yang sudah puluhan tahun hidup bersama. Mungkinkah aku tinggalkan
dia? Ah, tidak. Biarlah hidupku menderita di masa tua ini, asalkan aku tetap bersama mereka.
“Baiklah, Pak Sub. Pak Sub pasti teringat dengan keluarga di kampung dan belum siap berpisah dengan mereka. Kalau Pak Sub keberatan ikut bersama kami tidak apa-apa. Kami sudah cukup merasa
senang karena sudah berjumpa dan bersilaturrahmi dengan Pak Sub.
Mudah-mudahan Pak Sub dan
keluarga yang dicintai senantiasa dalam penjagaan Allah. Dan doakan kami semoga selamat sampai ke tujuan.”
Tgk. Bahar mulai melangkah menuruni tangga Jambo diikuti oleh anggotanya yang setia. Aku berdiri melepaskan mereka dengan pandangan tanpa mengangkat tangan apalagi untuk bersalaman. Hatiku tetap bersikeras melarang tanganku menyentuh mereka.
Akhirnya Tgk. Bahar terus berjalan diikuti
oleh anggota-anggotanya yang kebanyakan tidak kukenal. Saat mereka mulai meninggalkan halaman
Jambo, aku seperti menyaksikan hal yang aneh. Mereka semua berjalan cepat, tak selazim berjalannya orang-orang biasa.
Dan saat berjalan, aku jelas melihat, telapak kaki mereka tidak
menyentuh tanah.
Aku cepat-cepat naik lagi ke atas. Kututup pintu rapat-rapat. Aku langsung berbaring kembali dengan menyelimuti seluruh tubuhku dengan kain panjang. Aku sudah bertekad, besok pagi-pagi sekali aku harus pulang. Ya, aku harus segera pulang.
Dari jauh samar-samar aku mendengar suara orang mengaji. Mungkin dari menara masjid nun jauh di
kampung sana. Sebentar lagi subuh akan tiba, bisik hati kecilku sambil menarik selimut ke seluruh tubuhku. ***
Lamnyong, 27 Agustus 2026
Keterangan :
Berondolan : Biji-biji sawit yang telah copot dari tandannya
Jambo (Bahasa Aceh) : Gubuk di tengah kebun atau sawah.
Jeulanang (Bahasa Aceh) : Berkeliaran sendirian.
Laot Bangko : Danau yang terdapat di wilayah TNGL Aceh Selatan.
Panyot (Bahasa Aceh) : Pelita yang memiliki sumbu dan diisi minyak tanah.
Ram : Tempat timbangan/pengumpulan tandan atau biji-biji sawit.
Seuneubok Lara : Sebuah bukit yang terletak di Gampong Ujong Gunong Cut Kecamatan
Kota Bahagia Aceh Selatan. Zaman dulu di tempat ini diyakini pernah
bermukim seorang ulama.
TNGL
Diskusi