• Latest
Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025 - 1001080822_11zon | Haba Mangat | Potret Online

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025 - 1001377472_11zon 1 | Haba Mangat | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025 - IMG_9514 | Haba Mangat | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

MembacaĀ Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya LiterasiĀ Ā di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Di Antara Bencana dan Tragedi

Redaksi by Redaksi
Desember 5, 2025
in Haba Mangat
Reading Time: 2 mins read
0
Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025 - 1001080822_11zon | Haba Mangat | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Akhir November 2025, Sumatera kembali diuji. Di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, hujan ekstrem berhari-hari mengubah sungai menjadi amuk, meluluhlantakkan kampung, merendam ribuan rumah, dan menutup jalan-jalan vital oleh longsor. Pemerintah daerah melaporkan puluhan titik banjir besar dan serangkaian longsor yang memutus akses, menghentikan aktivitas ekonomi, bahkan menahan ambulan yang berjuang mencapai desa-desa terisolir.

Di atas kertas, peristiwa ini disebut bencana—fenomena hidrometeorologis akibat curah hujan tinggi, lereng jenuh air, dan tata ruang yang rapuh. Namun bagi warga, bencana itu menjelma tragedi: rumah yang hanyut, lahan mata pencaharian hilang dalam sekejap, dan nyawa orang terdekat yang tak sempat diselamatkan ketika air gelap datang tanpa suara.

Data nasional mencatat dampak yang mengejutkan: lebih dari 800 korban meninggal, ratusan masih hilang, dan ribuan luka-luka. Jalan nasional terputus, jembatan tergerus, listrik padam, dan ratusan desa harus hidup dalam isolasi sementara. Di tenda pengungsian, ratusan keluarga berbagi selimut tipis, nasi dingin, dan cerita duka yang sulit dituturkan tanpa air mata.

Namun di tengah kehancuran, ada sesuatu yang tetap tegak: kemanusiaan.

Warga saling memanggul karung berisi pasir untuk menahan arus, ibu-ibu memasak di dapur darurat, para pemuda membersihkan lumpur setinggi lutut agar akses evakuasi terbuka. Ada yang berjaga sepanjang malam memantau ketinggian air; ada yang menenangkan anak-anak agar tidak menangis melihat rumah mereka tinggal fondasi.

Inilah yang ingin kami rekam melalui Lomba Menulis Edisi Desember 2025: ā€œDi Antara Bencana dan Tragedi.ā€Kami mengajak para penulis tidak hanya menuliskan besarnya kerusakan, tetapi juga denyut batin warga, keberanian kecil yang sering tak terlihat kamera, dan bagaimana masyarakat bergerak sendirinya ketika alam mengamuk.

Sebab banjir dan longsor ini tidak muncul tiba-tiba. Para ahli lingkungan telah bertahun-tahun memperingatkan bahwa tutupan hutan di hulu DAS menyusut, tanah kehilangan daya serap, aliran air permukaan meningkat drastis, dan tata ruang banyak mengabaikan zona rawan.

Ketika perubahan iklim memperberat curah hujan ekstrem, kondisi ekologis yang rapuh membuat bencana berkembang cepat menjadi tragedi. Pertemuan antara alam yang tercekik dan ruang hidup yang dikelola tanpa kehati-hatian melahirkan kehancuran yang kita lihat hari ini.

Menulis tentangnya berarti mengingatkan:bahwa tragedi bukan sekadar air bah dan reruntuhan, tetapi cermin kegagalan kita menjaga lingkungan. Dan di saat yang sama, ia juga menyimpan cerita keteguhan manusia yang menolak menyerah.

Melalui tulisan—ringkas, jujur, dan empatik—mari kita suarakan apa yang terjadi di Sumatera: rasa kehilangan yang sunyi, gotong royong yang tak pernah padam, dan harapan agar bencana tak terus berubah menjadi tragedi yang berulang.

Karena di antara bencana dan tragedi, ada manusia.Dan suara merekalah yang harus kita jaga. Periode lomba 06 Desember 2025 hingga 05 Januari 2026.

Tags: AcehBanjirLomba MenulisLongsorSumateraSumbarSumut
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025 - 0c987723 19b5 4c91 9583 00f6eaeee962 1 | Haba Mangat | Potret Online

Mengenal Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah di Saat 173 Jiwa Tewas

POTRET Online

Ā© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

Ā© 2026 potretonline.com