Belajar Nafas Penderitaan

Oleh Dwi Scativana Isnaeni
29 Juli 2026
6 menit baca
29 Jul 2026, 16.52.13_11zon
Belajar Nafas Penderitaan

Jleb. Ujung pulpen di jemari Endah meleset, merobek kertas portofolio murid yang sedang ia nilai manual. Perempuan itu melengkungkan punggung, menekan ulu hatinya ke pinggiran meja kayu yang kasar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mendesah perih, menolak melepaskan suara yang bisa meruntuhkan kesunyian rumah. Di bawah daster batiknya yang mulai pudar, perutnya mengencang keras seperti batu kali.

Jangan sekarang, Nak. Dua bab lagi, bisiknya dalam hati, tangannya yang gemetar mengelus puncak rahim yang kian turun.

Tatapannya nanar menatap kalender dinding di dekat kompor. Angka tiga juta rupiah terkepret spidol merah di pojok bulan ini—biaya persalinan yang kemarin malam ditolak oleh sistem rumah sakit karena selembar kartu jaminan kesehatan daerahnya dinyatakan “Non-Aktif/Penyusutan Kuota”. Tiga juta. Angka yang setara dengan sepuluh bulan masa kerjanya, jika honor tiga ratus ribu itu keluar tepat waktu dan tidak mandek di saku dinas.

“Belum kelar juga, Ndah?”

Sebuah bayangan tinggi runtuh di ambang pintu dapur. Bowo berdiri di sana, membetulkan lilitan sarung kumal di pinggangnya. Matanya yang merah beralih dari layar laptop ke arah bercak peluh yang membasahi leher istrinya. “Kamu mau nekat berangkat?”

Endah tidak mendongak. Ia memaksakan jemarinya mengetik angka-angka nilai ke dalam sistem nasional yang tak peduli apakah pengisinya sedang bertaruh nyawa atau tidak. “Aplikasi ini tutup jam sepuluh pagi, Mas. Kalau belum hijau semua, kelasku dianggap kosong.”

“Persetan dengan aplikasi!” Suara Bowo meninggi, tapi buru-buru ia tahan di tenggorokan. Ia melangkah maju, mencengkeram sudut meja. “Kemarin Pak Kepala Sekolah bilang apa? Kamu sudah sembilan bulan lebih!”

Endah menegakkan punggungnya pelan-pelan, merasakan sensasi panas yang mulai merayap ke pinggang belakang. Senyumnya tipis, menyerupai sebuah seringai pasrah. “‘Silakan kalau mau melahirkan di rumah, Bu Endah. Tapi Senin depan bangku kelas delapan harus sudah ada yang isi. Kita tidak bisa nunggu.’ Kamu tahu artinya itu apa, Mas?”

Bowo terdiam. Kamar dapur itu mendadak terasa menyempit.

“Tujuh tahun, Wo,” bisik Endah, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh derit kipas laptop yang kepanasan. “Tujuh tahun aku beli kapur pakai uang sendiri, datang paling pagi. Dan harga posisiku di sekolah itu cuma sepanjang libur nifas.”

Bowo mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, menatap telapak tangannya sendiri yang kasar penuh kapalan akibat memanggul karung di gilingan padi. Di hadapan sistem yang sedang mengunyah istrinya hidup-hidup, ia merasa sekecil semut. Ia ingin membentak, melarang, membuang laptop itu ke sumur—tapi ia tahu, tabungan di bawah kasur mereka bahkan tidak cukup untuk membeli dua kaleng susu formula.

“Aku pinjam motor tetangga. Aku antar,” kata Bowo, suaranya pecah di ujung.

“Bensinnya pakai apa? Uang lima puluh ribu terakhir kita sudah buat nebus puyer kakaknya kemarin,” Endah menutup layar laptop dengan sekali tekan. Klik. “Aku ikut mobil bak sayur Pak Darto saja di depan gang. Lebih irit.”

Ia berdiri, memegangi pinggangnya yang berderit, lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan langkah terseret yang sengaja ia samarkan agar suaminya tidak melihat darah pertama yang mulai merembes di ujung kain jariknya.

“Kalau aku tidak masuk hari ini, Wo, SK-ku tidak akan diperpanjang tahun depan,” bisik Endah. Suaranya bergetar, menahan kombinasi rasa sakit fisik dan amarah struktural yang ia pendam bertahun-tahun.
“Uang tabungan kita sudah habis untuk menebus obat demam kakaknya kemarin. Kita butuh pekerjaan ini.”

Bowo mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai buruh serabutan di pabrik penggilingan padi, ia merasa lumpuh total. Ia tidak punya hak untuk melarang istrinya, karena ia sendiri tahu isi dompetnya tidak akan cukup untuk sekadar membeli sebotol minyak telon untuk calon anak mereka.

“Aku antar pakai motor,” kata Bowo akhirnya, suaranya parau oleh rasa bersalah yang mengendap.

“Jangan. Bensinmu tinggal seliter, simpan untuk ke puskesmas nanti malam kalau situasinya mendesak. Aku ikut mobil sayur Pak Darto saja,” sahut Endah sambil menyeka sudut matanya dengan ujung jilbab yang jahitannya sudah mulai terburai.

Jalanan menuju SMP Negeri 3 yang berbatu dan penuh lubang membuat setiap guncangan di atas bak mobil sayur terasa seperti tusukan pisau di rahim Endah. Begitu melangkah di koridor sekolah, langkahnya terasa begitu berat.

Di dalam ruang guru, Bu Sri sedang sibuk merapikan tumpukan uang arisan di mejanya, sementara Pak Bambang—seorang guru berstatus PNS dengan potongan gaji yang tertutup oleh berbagai tunjangan—sedang asyik memiringkan ponselnya, fokus pada permainan gim daring.

“Lho, Bu Endah masih masuk? Kuat amat,” celetuk Pak Bambang tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Kalau saya jadi sampeyan, sudah rebahan di rumah. Gaji tidak seberapa kok ngoyo.”

Bu Sri ikut menimpali setelah menyesap teh hangatnya, “Iya, Bu Endah. Wajahmu pucat sekali seperti orang mau pingsan. Jangan terlalu dipaksakan, pulang saja.”

Endah hanya membalas dengan senyuman samar dan anggukan datar. Kalimat-kalimat itu tidak berniat jahat, namun justru karena diucapkan dengan begitu santai dan tanpa beban, rasanya jauh lebih menusuk hati. Mereka yang memiliki slip gaji tetap, tunjangan sertifikasi, dan jaminan hari tua, tidak akan pernah paham bahwa bagi Endah, satu hari tidak masuk tanpa surat dokter spesialis berarti potongan honor sebesar lima puluh ribu rupiah—setara dengan jatah makan keluarganya untuk dua hari.

Bel berbunyi nyaring. Endah menegakkan punggungnya dengan sisa-sisa harga diri yang ia miliki, mengabaikan denyut panas yang kini mulai menjalar hingga ke pinggang bawah. Ia melangkah keluar dari ruang guru menuju ruang kelas delapan.

Begitu ia melangkah masuk, keriuhan anak-anak mendadak senyap. Murid-murid menatap guru mereka dengan pandangan ganjil. Mereka terbiasa melihat Bu Endah yang ramah, bukan seorang perempuan dengan bibir pecah-pecah dan napas yang memburu pendek-pendek.

“Selamat pagi, anak-anak…” Endah memaksakan sebuah senyuman profesional.

Ia berbalik menghadap papan tulis hitam, mengambil sebatang kapur dengan jemari yang gemetar hebat. Ia menuliskan topik hari ini dengan huruf kapital yang agak miring: SISTEM PERNAPASAN MANUSIA.

Setiap kali ia menarik garis lurus, perutnya melilit hebat. Cairan ketuban pecah di dalam, merembes pelan membasahi kain jarik yang ia kenakan. Endah mencengkeram pinggiran papan tulis hingga kukunya memutih.

“Ibu… Ibu sakit?” Fikri, murid bertubuh kurus yang biasanya selalu menunduk karena sering dirundung, tiba-tiba berdiri. Matanya memancarkan ketakutan yang tulus.

“Tidak, Fikri. Ibu hanya… sedikit lelah,” ucap Endah, suaranya putus-putus. “Mari kita lanjutkan. Mengapa… mengapa kita harus bernapas dengan benar?”

Endah membalikkan badan menghadap murid-muridnya. Pandangannya mendadak berbayang. Wajah-wajah lugu di depannya berubah menjadi kepulan asap hitam yang berputar-putar. Ruangan kelas yang tadinya panas mendadak terasa sedingin es.

“Karena…” Endah tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Rasa sakit yang teramat sangat—seolah rahimnya sedang diremas oleh tangan raksasa—menghantam seluruh kesadarannya. Kapur di tangannya patah, jatuh dan hancur menjadi debu di lantai. Tubuh Endah limbung ke depan.

“Bu Endah!!!”

Fikri melompat melewati mejanya, menubruk tubuh gurunya sebelum dahi perempuan itu menghantam sudut meja kayu. Beberapa anak perempuan menjerit histeris. Kelas berubah menjadi ruang kepanikan massal. Fikri menopang kepala Endah di pangkuannya, tangannya gemetar saat melihat kain jarik gurunya sudah basah oleh cairan dan bercak darah.

“Pak Bambang! Pak Darto! Tolong Bu Endah!” teriak Fikri dengan suara serak, air matanya pecah melihat gurunya memejamkan mata sambil terus merintih pelan menyebut nama Tuhan.

“Bu… bertahan, Bu. Kami sudah paham materi hari ini. Ibu harus selamat,” bisik Fikri sesenggukan. Suaranya timbul tenggelam, kalah oleh deru angin siang yang kering.

Endah membuka matanya sedikit, menatap langit-langit. Di antara pandangannya yang mengabur dan kesadaran yang timbul tenggelam, Endah mencengkeram balik jemari kurus Fikri dengan sisa tenaga terakhirnya.

Banjarnegara, Juli 2026

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Dwi Scativana Isnaeni
Dwi Scativana Isnaeni adalah penulis aktif menulis di berbagai media digital, pernah menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul "Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik". Buku Novel Terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 dan dalam proses penerbitan. email: dwi.scativana23@gmail.com

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W