Oleh Oleh yang Tak Pernah Masuk Koper

30 Juli 2026
6 menit baca
16412526-c332-47f6-8b2a-75137aa044dc
Oleh Oleh yang Tak Pernah Masuk Koper

Oleh Hanief Arsyad

Dua puluh tahun telah berlalu, tetapi saya masih mengingat dengan sangat jelas hari ketika burung besi yang saya tumpangi mendarat dengan mulus  di bandar udara Domine Eduard Osok. sorong, Papua.

Saat itu Raja Ampat belum menjadi nama yang bergaung di mana-mana. Alam yang begitu eksotis itu  belum dipenuhi foto-foto langit biru di media sosial. Belum menjadi daftar impian para pelancong dunia, maupun turis lokal, Ia masih terasa sepi di alam belantara hutan Papua, alami, seolah laut dan pulau-pulaunya sedang berbicara pelan kepada siapa saja yang datang tanpa prasangka.

Saya datang bukan sebagai peneliti. Bukan pula sebagai dosen.

Saya hanyalah seorang karyawan perusahaan penerbangan yang sedang menjalankan tugas saat itu, sekaligus menjadi turis dadakan yang kebetulan memiliki waktu untuk mengenal tempat yang baru saya pijak.

Saya mengira oleh-oleh yang akan saya bawa pulang adalah foto-foto laut yang jernih, pasir putih, atau cerita tentang ikan-ikan berwarna yang berenang bebas di antara terumbu karang.

Saya keliru.

Oleh-oleh paling berharga justru datang dari percakapan sederhana bersama seorang kepala suku yang tidak pernah duduk di bangku sekolah.

Di emperan rumahnya yang beralas tanah kuning dengan bangku kayu yang sudah lusuh. Semilir angin laut berhembus bebas keluar masuk Sepoi sepoi. Di kejauhan terdengar suara ombak memecah karang, sesekali diselingi tawa anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki di pantai.

Beliau menyambut saya dengan senyum yang tenang dan meneduhkan. Tidak ada kesan sedang berbicara dengan seorang pemimpin besar. Cara bicaranya pelan, bahkan cenderung hemat kata. Namun setiap kalimat yang keluar terasa seperti telah lama dipikirkan.

Obrolan kami mengalir ke banyak arah. Tentang laut. Tentang ikan. Tentang anak-anak muda di kampung. Tentang masa depan.

Lalu tiba-tiba beliau berkata,

“Kalau saya mau masyarakat di sini maju, saya harus jadi contoh duluan. Bukan cuma ngomong.”

Saya terdiam.

Bukan karena kalimat itu sulit dipahami.

Justru karena terlalu sederhana.

Kesederhanaannya menampar sesuatu yang selama ini saya anggap sebagai pengetahuan.

Saya pernah mendengar kalimat yang mirip dalam berbagai pelatihan kepemimpinan di perusahaan penerbangan tempat saya bekerja. Di ruang berpendingin udara, para instruktur andal menyebutnya servant leadership. Mereka menjelaskan teori, membuat bagan, menampilkan presentasi yang rapi.

Namun di hadapan saya kini duduk seseorang yang bahkan mungkin belum pernah mendengar istilah itu.

Ia tidak tahu namanya dan istilah buku.

Tetapi ia telah menjalaninya jauh sebelum saya mengenalnya.

Beliau kemudian bercerita tentang kampungnya.

Tentang bagaimana dulu masyarakat menjual ikan kepada tengkulak dengan harga yang mereka sendiri tidak pernah bisa tawar.

“Saya mulai dari ngobrol,” katanya.

“Bukan dari rapat di bale bale desa”

Ia mendatangi rumah demi rumah.

Mendengar keluhan nelayan.

Mengajak mereka berpikir bersama.

Tidak semua langsung percaya.

Sebagian menolak.

Sebagian lagi menertawakan.

Tetapi beliau tidak berhenti.

“Saya tidak bisa minta orang percaya kalau saya sendiri belum kasih contoh.”

Kalimat itu kembali menghujam ulu hati saya.

Beliau tidak sedang mengutip buku.

Beliau sedang menceritakan hidupnya.

Sedikit demi sedikit para nelayan mulai bersatu. Mereka belajar menentukan harga bersama. Belajar menjaga hasil tangkapan. Belajar bahwa kebersamaan sering kali lebih bernilai daripada keuntungan sesaat.

Hari ini, ketika saya mengajar di kampus, saya tahu semua itu memiliki nama.

Community development.

Community empowerment.

Participatory leadership.

Tetapi kepala suku itu tidak pernah membutuhkan istilah-istilah tersebut agar perubahan bisa dimulai.

Obrolan kami belum selesai.

Beliau lalu menunjuk ke arah laut yang membentang luas.

“Suatu hari nanti,” katanya pelan, “orang-orang akan datang ke sini.”

Saya mengikuti arah telunjuknya.

Laut itu tampak begitu tenang, indah dan benar indah bak surga duniawi.

Saat itu saya belum benar-benar memahami apa yang beliau maksud.

Beliau melanjutkan,

“Kalau mereka datang, jangan sampai laut ini rusak.”

Beliau berhenti sejenak.

“Kalau mereka datang, uangnya jangan habis dibawa orang luar.”

Beliau kembali diam.

“Kalau mereka datang, anak-anak di sini harus ikut hidup lebih baik.”

Saya menatap wajahnya.

Dalam hati saya bertanya-tanya.

Bagaimana mungkin seseorang yang tidak pernah menikmati pendidikan formal mampu memikirkan rantai ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan masa depan generasi muda sekaligus?

Hari ini dunia mengenalnya sebagai sustainable tourism.

Sebagian menyebutnya local economic development.

Sebagian lagi memasukkannya ke dalam teori pembangunan berkelanjutan.

Tetapi hari itu, semua istilah tersebut belum pernah keluar dari mulut beliau.

Beliau hanya sedang memikirkan desanya.

Dalam perjalanan pulang saya lebih banyak diam. Entah mengapa, semua teori yang pernah saya pelajari terasa sedang diuji.

Selama ini saya percaya pendidikan formal adalah tempat lahirnya pemikiran-pemikiran besar.

Namun mungkin saya salah memahami.

Bisa jadi pendidikan bukan pencipta kebijaksanaan.

Ia hanya memberi bahasa untuk menjelaskan kebijaksanaan yang telah lahir dari pengalaman.

Pendidikan memberi nama.

Kehidupan memberi makna.

Sebelum saya berpamitan, saya memberanikan diri bertanya,

“Bapak belajar semua ini dari mana?”

Beliau tersenyum.

Senyum yang tidak menunjukkan kebanggaan sedikit pun.

Dari salah.”

Saya menunggu, terpaku di hapannya

Saya banyak salah dulu.” Lanjutnya sambil, Beliau tertawa kecil.

Terus diperbaiki.”

Lalu beliau menambahkan satu kalimat yang kembali saya simpan sampai hari ini.

Kalau masih salah, ya coba lagi.”

Sesederhana itu.

Hari ini para akademisi menyebutnya iterative learningtrial and errorexperiential learning.

Tetapi saya sadar, mengetahui istilahnya ternyata jauh lebih mudah daripada benar-benar menjalaninya.

Sejak hari itu saya mulai mengubah cara memandang gelar.

Gelar memang membuka pola berpikir.

Tetapi setelah cara berpikir tercerahkan, yang membuat orang tetap menghormati kita bukanlah tulisan di belakang nama.

Melainkan jejak yang kita tinggalkan.

Kita terlalu sering mengukur kecerdasan dari kefasihan seseorang mengucapkan istilah-istilah yang rumit.

Padahal kecerdasan yang sesungguhnya mungkin jauh lebih sunyi, ia hidup dan menghidupkan orang lain dan lingkungan, itulah pengatahuan sejati.

Ia lahir ketika seseorang mampu melihat persoalan, menyusun jalan keluar, lalu berjalan lebih dulu sebelum mengajak orang lain mengikuti.

Saya pernah bertemu banyak orang yang pandai menjelaskan perubahan. Namun kepala suku itu memilih menjadi perubahan.

Hari ini, ketika nama Raja Ampat dikenal hampir di seluruh dunia, ingatan saya justru tidak kembali kepada lautnya yang biru.

Bukan pula pada gugusan pulaunya yang memesona.

Yang paling sering datang adalah suara seorang kepala suku yang mengucapkan kalimat sederhana di sebuah rumah kayu yang menghadap laut.

“Kalau mau orang bergerak, kamu harus bergerak duluan.”

Kalimat itu diam-diam terus mengikuti perjalanan hidup saya.

Ia hadir setiap kali saya berdiri di depan kelas.

Setiap kali saya menulis.

Setiap kali saya berbicara tentang pendidikan.

Sebab saya mulai bertanya kepada diri sendiri dengan pertanyaan yang semakin sulit dijawab.

Berapa banyak ilmu yang sudah saya kumpulkan, tetapi belum sempat saya hidupkan?

Berapa banyak teori yang hanya saya simpan rapi di dalam buku catatan, sementara langkah kaki saya tetap berhenti di tempat?

Mungkin, pada akhirnya, hidup bukan sedang menguji seberapa banyak istilah yang kita hafal. Hidup hanya ingin tahu satu hal.

Apakah ilmu yang kita miliki benar-benar telah menjelma menjadi tindakan.

Karena ilmu yang hanya tinggal di kepala akan perlahan menjadi arsip.

Tetapi ilmu yang menjelma menjadi teladan akan hidup jauh lebih lama daripada pemiliknya.

Dan dari seluruh keindahan Raja Ampat yang pernah saya lihat, ternyata bukan lautnya yang paling membekas dalam ingatan.

Melainkan seorang kepala suku yang tak pernah mengenal ruang kuliah, tetapi tanpa sadar telah mengajarkan saya arti pendidikan yang sesungguhnya.

Biografi singakat

Hanief, dosen Bahasa Inggris Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dengan pengalaman profesional di Penerbangan Batavia Air.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W