Kami Bukan Musuh Negara, Kami Hanya Ingin Bertanya

Oleh Yani Andoko
“Siapa bilang kami musuh negara, kami patuh terhadap Pancasila.”
Kalimat ini bukan sekadar lirik. Ia adalah pernyataan tegas yang dinyanyikan berulang-ulang di tengah kerumunan massa, di depan Gedung DPR, di Bundaran HI, di terowongan Dukuh Bawah, dan di berbagai ruang publik lain.
Ia adalah semacam “kartu identitas” bagi mereka yang turun ke jalan sebuah upaya untuk meluruskan narasi sebelum narasi itu dipelintir oleh pihak lain.
Tapi mengapa lagu ini muncul? Dan mengapa ia begitu cepat menyatu dengan gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil?
Ketika Kritik Diberi Label “Musuh Negara”
Sepanjang tahun 2026, ruang demokrasi Indonesia diwarnai oleh ketegangan yang sulit dibendung. Pada bulan Juni, puluhan mahasiswa UI yang berdemo di Bundaran HI sempat diblokade aparat dan menyampaikan pernyataan yang menggugah: “Kami ini mahasiswa, bukan KKB. Tidak membawa senjata” . Mereka merasa diperlakukan seperti ancaman, bukan seperti warga negara yang menyampaikan aspirasi.
Situasi ini diperparah dengan pelibatan TNI dalam penanganan aksi mahasiswa. Koalisi masyarakat sipil mengecam langkah tersebut karena TNI yang seharusnya menjaga kedaulatan negara dari ancaman eksternal justru dihadapkan dengan mahasiswa sipil yang berdemo.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyatakan bahwa pengerahan aparat militer dalam jumlah masif di ruang publik kerap menciptakan efek intimidasi terhadap warga sipil.
“Keberadaan personel TNI dalam pengamanan demonstrasi tidaklah sesuai dengan tugas dan fungsi TNI, yaitu mengurusi pertahanan negara dari ancaman musuh. Sementara aksi bukanlah musuh, melainkan warga negara memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi mereka secara damai.”
Pernyataan ini menggambarkan sebuah ironi: mereka yang seharusnya dilindungi oleh negara justru diperlakukan seperti lawan. Dan di sinilah lagu-lagu perlawanan menemukan relevansinya.
Lagu yang Lahir Dari Sebuah Slogan
Lagu dengan lirik “Siapa bilang kami musuh negara, kami patuh terhadap Pancasila” pertama kali viral pada akhir 2020, ketika pakar hukum tata negara Refly Harun membagikannya di media sosial. Lagu ini merespons tudingan bahwa gerakan “Revolusi Akhlak” yang digaungkan oleh Habib Rizieq Shihab adalah gerakan makar atau anti-Pancasila.
Dalam liriknya, lagu ini menegaskan:
“Siapa bilang kami ini musuh negara, kami patuh terhadap Pancasila.
Siapa bilang kami ini penghancur bangsa, kami hormati perbedaan agama.
Musuh kami adalah kezaliman, musuh kami adalah kecurangan.”
Lirik ini menjadi semacam pernyataan pembelaan sebuah upaya untuk menegaskan bahwa kritik dan perlawanan terhadap ketidakadilan bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap negara, melainkan bentuk kecintaan terhadap nilai-nilai yang dianut oleh negara itu sendiri.
Darah Juang: Hymne Yang Tak Pernah Padam
Jika ada satu lagu yang paling identik dengan gerakan mahasiswa Indonesia, itu adalah “Darah Juang” dari band Marjinal. Lagu ini diciptakan pada 2015, namun liriknya terasa abadi:
“Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur, Tuhan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja”
Ada ironi yang ditelanjangi di sana. Negeri kaya, tetapi rakyatnya papa. Tanah subur, tetapi buruh dan petani tetap terpinggirkan. Anak buruh tak sekolah. Pemuda desa tak kerja.
Bagian reff-nya bahkan lebih menghunjam:
“Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat”
Kalimat ini menjadi sumpah tak tertulis bagi generasi yang turun ke jalan. Bukan ajakan kekerasan, melainkan kesiapan berkorban demi perubahan. “Darah” adalah metafora tekad. “Juang” adalah energi kolektif.
John Tobing: Pencipta yang Tak Pernah Mencari Panggung
Di balik “Darah Juang”, ada nama yang mungkin tak seterkenal lagunya: John Tobing. Johnsony Maharsak Lumban Tobing, alumni Filsafat UGM angkatan 1986, adalah salah satu pencipta lagu yang hingga kini masih menggema di setiap aksi mahasiswa.
Ia bukan politisi, bukan selebritas gerakan, dan tidak pernah mengkapitalisasi popularitas lagunya. Dalam banyak kesaksian sahabatnya, ia tetap pribadi bersahaja, tenang, dan konsisten berada di pinggir panggung, sementara lagunya berdiri di tengah lapangan.
Ketika John Tobing mengembuskan napas terakhirnya di RSA UGM pada Februari 2026, Indonesia kehilangan satu suara yang selama puluhan tahun justru lebih nyaring daripada gas air mata, lebih keras daripada tembakan peringatan, dan lebih tahan lama daripada rezim mana pun.
Wakil Rektor UGM Arie Sujito hadir langsung di rumah sakit untuk mengonfirmasi kepergiannya. Jenazahnya kemudian disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda.
Tapi seperti semua karya besar, “Darah Juang” melampaui konteks kelahirannya.
Ia tetap dinyanyikan setelah 1998, dalam demonstrasi yang bahkan tidak lagi memiliki musuh yang sama. Ini menandakan bahwa “Darah Juang” telah berubah dari lagu perlawanan terhadap rezim tertentu menjadi lagu tentang ketidakadilan sebagai kondisi permanen.
Buruh Tani Mahasiswa: Mars Perjuangan Lintas Generasi
Lagu “Buruh Tani” yang diciptakan oleh Safi’i Kemamang pada 1996 juga tak pernah kehilangan relevansinya. Lirik pembuka “Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota” adalah alarm perjuangan yang menyatukan berbagai elemen masyarakat.
Lagu ini lahir di tengah ketatnya rezim Orde Baru. Safi’i Kemamang, bersama John Tobing, tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan menggunakan musik sebagai senjata melawan ketidakadilan.
Dalam analisis Jurnal Kompetensi, lagu ini dianggap sebagai representasi perlawanan mahasiswa yang mewakili kelompok marjinal yang kerap tersisih dalam sistem kekuasaan. Jurnal Virtuoso mencatat, lagu “Buruh Tani” bukan hanya soal kritik, tapi juga ajakan kolektif.
Bagian lirik “Marilah kawan mari kita kabarkan, di tangan kita tergenggam arah bangsa” berisi ajakan persatuan. Safi’i ingin rakyat sadar bahwa masa depan ditentukan kebersamaan, bukan sekadar menunggu janji penguasa.
Bella Ciao: Solidaritas Global Di Jalanan Jakarta
Pada 18 Agustus 2026, saat massa BEM UI membubarkan diri dari kawasan Gedung UOB setelah aksi mereka di Bundaran HI terhalau aparat, mereka menyanyikan “Bella Ciao”.
Lagu berbahasa Italia ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tapi maknanya universal. Secara harfiah, Bella Ciao berarti “selamat tinggal, cantik”. Namun di baliknya, ada sejarah panjang perlawanan.
The Narrative Transformation Lab dari George Mason University menjelaskan bahwa lagu ini pernah dikaitkan dengan para pekerja perempuan di sawah Italia (mondine) yang menggambarkan kerasnya kondisi kerja mereka. Versi partisan bercerita tentang seseorang yang terbangun dan menemukan adanya penjajah, kemudian memilih bergabung dalam perjuangan melawan mereka kisah tentang keberanian menghadapi bahaya dan kesediaan berkorban demi kebebasan.
Pemilihan “Bella Ciao” dalam aksi mahasiswa Indonesia pada 2026 bukanlah kebetulan. Lagu ini adalah simbol solidaritas global, bahwa perlawanan terhadap penindasan adalah bahasa universal yang melampaui batas negara.
Iwa K dan “DOAMAT”: Ketika Hip-Hop Menjadi Bara
Pada Agustus 2026, legenda hip-hop Indonesia Iwa K merilis lagu berjudul “DOAMAT”. Lagu bernada kritis ini lahir dari akumulasi keresahan terhadap kondisi politik, hukum, dan sosial bangsa.
“Bahan bakarnya seniman itu kegelisahan. Bukan berarti kita suka dengan keadaan seperti ini. Kita bukan sekadar gelisah lagi, tapi sudah Jeronimo, kita enggak pernah tahu bakal mendarat di mana,” ujar Iwa K.
Ia menilai kondisi bernegara saat ini membingungkan rakyat kecil. Logika akal sehat seolah dibalik. “Akhirnya gua kayak melihat sirkus aja gitu loh. Sudah jelas-jelas salah, masih dibilang baik. Ada yang harusnya dilindungi, malah tidak dilindungi,” cetusnya.
Salah satu lirik yang paling disorot dalam “DOAMAT” adalah frasa “Anak Haram Konstitusi”. Bagi Iwa, istilah itu muncul dari kekecewaan terhadap tatanan hukum yang tergerus kepentingan kelompok tertentu.
“Lembaga penyelesai sengketa seperti MK yang seharusnya jadi benteng terakhir keadilan, kok bisa kayak gitu? Orang cari keadilan di sana, malah tidak adil,” ujarnya.
“Satu tembok terakhir kayak MK, kok bisa kayak gitu? Ketika badut masuk ke istana, badut itu enggak menjadi raja, tapi istananya yang jadi penuh sirkus,” selorohnya.
Alasan utama Iwa K “turun gunung” adalah kekhawatiran terhadap masa depan anak dan generasi muda. “Bila praktik manipulasi politik dan penyimpangan hukum dibiarkan, itu akan jadi budaya. Gimana nanti angkatannya anak saya? Kasihan orang yang sudah capek-capek sekolah dan mengasah skill, tapi akhirnya kalah kalau enggak masuk circle tertentu,” paparnya.
Pakar hukum tata negara Feri Amsari yang memandu diskusi mengamini: jika pembusukan tatanan hukum dan politik dibiarkan, generasi muda sedang digiring ke kehancuran peradaban.
Ketika Lagu Galau Juga Jadi Simbol Kekecewaan
Menariknya, dalam aksi-aksi belakangan ini, lagu-lagu yang tidak lazim sebagai “lagu protes” juga ikut menggema. Lagu ballad mellow seperti “Bodohnya Aku” milik Lyodra kerap terdengar di sela-sela aksi.
Meski bukan lagu protes, liriknya yang penuh kekecewaan dianggap relate dengan perasaan rakyat terhadap pemerintah. Massa muda sering memutar atau menyanyikan potongan lagu ini sebagai bentuk sindiran emosional seperti bilang, “kami terlalu percaya, dan akhirnya dikecewakan.”
Ini menunjukkan bahwa perlawanan tak selalu harus dalam bentuk teriakan dan amarah. Kadang ia hadir dalam bentuk keluhan lirih yang justru lebih menusuk.
Musik Sebagai Kontrol Sosial
Seni dan musik memiliki fungsi penting dalam gerakan sosial: kontrol sosial. Sosiolog menyebutnya sebagai cultural resistance perlawanan yang dimediasi budaya. Lagu-lagu protes membantu membangun identitas kolektif mahasiswa sebagai agen perubahan. Dalam situasi represif, musik menjadi ruang aman untuk menyampaikan kritik. Ketika spanduk dirampas, suara tetap bisa menggema.
Seperti yang ditegaskan Iwa K: “Saya ini warga, saya gelisah. Di tempat nongkrong manapun obrolannya ke sini. Berarti I’m not the only one. Saya punya jalan pedang lewat budaya dan seni ini. Ayo kita jalan bareng, mau posisi lo di atas atau di mana saja, please ayo bareng-bareng perbaiki.”
Reformasi 1998 memang menggulingkan tirani Orde Baru. Namun lagu-lagu perlawanan seperti “Darah Juang” dan “Buruh Tani” tak ikut runtuh bersama rezim. Ia tetap dinyanyikan dalam aksi-aksi mahasiswa generasi berikutnya. Setiap kali ketidakadilan terasa, lagu itu kembali hidup.
Refleksi: Antara Negara Dan Rakyat
Ketika negara mengerahkan aparat militer untuk menghadapi mahasiswa yang berdemo, dan ketika para demonstran merasa perlu menyanyikan “kami bukan musuh negara”, sebenarnya ada satu pertanyaan besar yang mengemuka:
Di mana letak kepercayaan?
Apakah negara masih mempercayai rakyatnya untuk menyampaikan kritik secara damai? Apakah rakyat masih mempercayai negara untuk mendengarkan dan merespons dengan baik?
Direktur LBH Jakarta, Fadhil Alfathan, mengingatkan bahwa Komcad yang seharusnya menjadi komponen pertahanan negara dari ancaman eksternal tidak boleh dijadikan instrumen yang dapat digerakkan sewaktu-waktu untuk kepentingan keamanan dalam negeri.
Ini menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa negara mulai menggunakan instrumen pertahanan untuk menghadapi rakyatnya sendiri.
Lagu Yang Tak Pernah Berhenti
Lagu-lagu perlawanan entah itu “kami bukan musuh negara”, “Darah Juang”, “Buruh Tani”, “Bella Ciao”, atau “DOAMAT” akan terus dinyanyikan selama masih ada rakyat yang merasa suaranya tidak didengar. Ia akan terus menggema di ruang-ruang publik selama negara masih lebih memilih mengerahkan aparat daripada membuka telinga.
Tapi lebih dari itu, lagu-lagu ini adalah harapan yang dinyanyikan. Harapan bahwa suatu hari, negara akan mendengarkan tanpa perlu ada lagu pembelaan. Harapan bahwa kritik akan diterima sebagai bagian dari demokrasi yang sehat. Harapan bahwa “kami hanya ingin bertanya” akan dijawab bukan dengan barisan tameng, melainkan dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Sebagaimana dikatakan dalam lirik “Revolusi Akhlak”: “Marilah kawan satukan perbedaan, marilah kawan suarakan kebenaran, bergerak maju tegakan keadilan, rapatkan barisan.”
Itulah esensi dari setiap lagu protes, dari setiap demonstrasi yang damai: bukan permusuhan, melainkan keinginan untuk mewujudkan keadilan bersama.
Dan ketika John Tobing berpulang pada Februari 2026, sebuah kalimat mungkin menjadi penutup yang paling tepat: “Kepergian John menyisakan duka, tetapi juga pengingat. Bahwa perubahan tak selalu lahir dari mimbar pidato. Kadang ia lahir dari gitar sederhana dan lirik yang jujur.”
Setiap kali mahasiswa menyanyikan “Padamu kami berjanji”, di situlah John Tobing tetap hidup. Dalam suara yang tak mau tunduk. Dalam nyanyian yang tak selesai oleh kematian.
Batu, 16 Mei 2026
Yani Andoko












