Ketika Demokrasi Lupa Dasa Darma

Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan dalam Fisika Demokrasi
Oleh Istiqomah, S.Si
(Fisikawan-Demokrasi/Alumnus Fisika Universitas Airlangga)
Ada sesuatu yang sederhana, tetapi mungkin mulai kita lupakan: Dasa Darma Pramuka. Salah satu darma berbunyi, “Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.” Kalimat itu dahulu akrab di telinga anak-anak Indonesia. Namun semakin dewasa bangsa ini, justru semakin jarang kita dengarkan.
Pertanyaan pentingnya: apakah nilai sederhana itu masih hidup dalam cara kita berdemokrasi?
Demokrasi tidak hanya membutuhkan suara. Ia membutuhkan pikiran yang jernih, perkataan yang bertanggung jawab, dan perbuatan yang konsisten.
Dalam fisika, sebuah benda tidak bergerak tanpa gaya. Begitu pula demokrasi. Ia bergerak karena ada energi dari pikiran, perkataan, dan tindakan manusia.
Masalahnya, energi yang sama dapat menghasilkan gerak yang berbeda. Energi yang terarah menghasilkan perubahan. Energi yang liar menghasilkan tumbukan. Begitulah demokrasi kita hari ini.
Kita sering melihat pikiran yang belum selesai tetapi sudah menjadi pernyataan.
Perkataan yang belum dipertimbangkan dampaknya, tetapi sudah dilempar ke ruang publik. Bahkan ada perbuatan yang bertentangan dengan apa yang sebelumnya telah dikatakan.
Di sinilah Fisika Demokrasi menemukan persoalannya: demokrasi memiliki hukum sebab-akibat.
Setiap kata pemimpin memiliki massa sosial. Ia tidak seringan udara. Ketika keluar dari mulut seorang pemimpin, kata-kata dapat menjadi energi yang menggerakkan masyarakat. Sebaliknya, kata-kata yang kasar, merendahkan, menyesatkan, atau penuh kebencian dapat berubah menjadi energi destruktif.
Kita kemudian bertanya, mengapa masyarakat mudah terbelah?
Mungkin bukan karena masyarakat tiba-tiba kehilangan persaudaraan. Bisa jadi karena terlalu banyak energi politik yang dilepaskan tanpa pengendalian.
Dalam fisika, energi yang tidak terkendali dapat menghasilkan tumbukan. Dalam demokrasi, energi politik yang tidak dikendalikan oleh etika dapat menghasilkan benturan sosial.
Media sosial mempercepat semuanya.
Sebuah kalimat yang dahulu hanya terdengar di ruang kecil, kini dapat menjangkau jutaan manusia dalam hitungan detik. Algoritma memperbesar gema. Emosi dipercepat. Kemarahan menjadi viral. Potongan informasi lebih cepat beredar daripada kebenaran yang membutuhkan waktu untuk diperiksa.
Pada titik ini, kita membutuhkan kembali Dasa Darma yang sangat sederhana itu. ’’Suci dalam pikiran’’, artinya demokrasi dimulai dari kemampuan berpikir sebelum menilai. Tidak semua perbedaan adalah ancaman. Tidak semua kritik adalah kebencian. Tidak semua orang yang berbeda pilihan politik adalah musuh.
Kemudian ’’Suci dalam perkataan’’ artinya, kebebasan berbicara bukan kebebasan untuk melukai. Demokrasi memang memberi ruang bagi perbedaan pendapat, tetapi kebebasan tanpa tanggung jawab hanya akan melahirkan kebisingan.
Dan ‘’Suci dalam perbuatan’’ inilah bagian yang paling sulit.Sebab demokrasi tidak dinilai dari apa yang kita janjikan, tetapi dari apa yang benar-benar kita kerjakan. Di sinilah konsistensi menjadi penting. Jangan sampai pikiran berbicara tentang keadilan, mulut berbicara tentang rakyat, tetapi tindakan justru menjauh dari keduanya.
Dalam fisika, kita mengenal konsep keseimbangan. Sebuah sistem akan relatif stabil ketika gaya-gaya yang bekerja berada dalam kondisi seimbang. Demokrasi juga demikian. Kekuasaan membutuhkan kontrol. Pemerintah membutuhkan kritik. Mayoritas membutuhkan penghormatan terhadap minoritas. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab. Hak membutuhkan kewajiban.
Ketika keseimbangan itu hilang, sistem mulai mengalami gangguan. Demokrasi kemudian bukan lagi ruang untuk mencari kebenaran bersama, melainkan arena untuk membuktikan siapa yang paling keras. Padahal bangsa ini dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu sepakat. Indonesia lahir dari perbedaan yang memilih untuk hidup bersama.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya hanya tentang siapa yang menang dalam demokrasi, lalu mulai bertanya demokrasi macam apa yang sedang kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Anak-anak Pramuka dahulu diajarkan untuk menghafal Dasa Darma. Barangkali hari ini bangsa dewasa perlu belajar kembali mempraktikkannya.
Sebab demokrasi yang sehat tidak membutuhkan manusia yang selalu benar. Demokrasi membutuhkan manusia yang bersedia memeriksa pikirannya, menjaga perkataannya, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Jika pikiran adalah sumber energi, perkataan adalah gelombangnya, dan perbuatan adalah manifestasinya, maka kualitas demokrasi sesungguhnya merupakan cermin dari kualitas manusia yang menjalankannya.
Kita boleh berbeda pilihan, pendapat dan mengkritik kekuasaan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan kemanusiaan.
Barangkali bangsa ini tidak sedang kekurangan aturan. Kita hanya perlu kembali mengingat nilai-nilai sederhana yang pernah diajarkan sejak kecil. Suci dalam pikiran, suci dalam perkataan, suci dalam perbuatan.
Sebab pada akhirnya, demokrasi bukan hanya tentang bagaimana kita memilih pemimpin, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk menjadi manusia ketika memegang kekuasaan, ketika berbeda pendapat, dan ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu kepada sesama.
Dan mungkin di sanalah Fisika Demokrasi menemukan hukum paling sederhananya:
ketika energi kebaikan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan bergerak dalam arah yang sama, demokrasi tidak hanya bergerak—ia tumbuh, berdampak dan berkelanjutan











