Adzan adalah Panggilan Cinta, Maka Segeralah: Di Tengah Kesibukan Kota Banda Aceh.

Oleh: Kaipal Wahyudi
Menjelang waktu salat, Banda Aceh tidak pernah benar-benar diam. Kendaraan masih melintas di ruas-ruas jalan, lampu pertokoan menyala, mahasiswa bergerak dengan urusannya masing-masing, sementara warung kopi tetap dipenuhi orang yang berbincang ditemani secangkir kopi dan layar telepon genggam. Di tengah kesibukan itu, dari menara Masjid Raya Baiturrahman dan masjid-masjid gampong, terdengar suara adzan.
“Allah Akbar… Allah Akbar…”
Suara itu bukan sekadar penanda masuknya waktu salat. Adzan adalah panggilan cinta dari Allah SWT kepada hamba-Nya, sebuah undangan agar manusia berhenti sejenak dari gemerlap dunia dan kembali mengingat siapa dirinya serta kepada siapa ia akan kembali. Kota boleh terus bergerak, tetapi ketika suara adzan terdengar, ada panggilan yang semestinya mendapat perhatian lebih dari pekerjaan, perdagangan, percakapan, bahkan gawai yang sedang berada di tangan.
Maka, ketika adzan berkumandang, berhentilah sejenak. Tinggalkan aktivitas yang sedang dikerjakan, tata kembali niat, lalu jawab seruan adzan dengan khusyuk. Setelah itu berwudhulah dan melangkahlah menuju masjid. Pekerjaan masih bisa dilanjutkan setelah salat, perdagangan dapat kembali dibuka, dan percakapan dapat diteruskan. Namun waktu salat yang telah berlalu tidak akan kembali dalam bentuk yang sama.
Di masjid, manusia juga belajar bahwa kehidupan tidak selamanya tentang perbedaan kedudukan. Pejabat dan rakyat, pedagang dan pembeli, mahasiswa dan dosen dapat berdiri dalam satu saf, menghadap kiblat dan menyembah Tuhan yang sama. Karena itu, adzan bukan hanya panggilan ibadah, tetapi juga panggilan yang menyatukan hati dan mengingatkan manusia bahwa di hadapan Allah semua kembali sebagai hamba.
Seruan Hayya ‘alash-shalah mengajak manusia menuju salat. Sementara Hayya ‘alal-falah mengajak menuju kemenangan. Kemenangan yang dimaksud tidak berhenti pada keuntungan besar, jabatan tinggi, rumah mewah, kendaraan, popularitas, atau usaha yang berkembang. Kemenangan yang lebih hakiki adalah ketika hubungan dengan Allah tetap terjaga, harta tidak membuat manusia sombong, jabatan tidak membuatnya zalim, dan kesibukan tidak membuatnya lupa kepada salat.
Daya sentuh adzan juga tidak selalu berhenti pada mereka yang sejak awal telah menjadi Muslim. Media di Aceh pernah memberitakan kisah sepasang suami istri asal Sumatera Utara yang memeluk Islam di Aceh Barat. Pergulatan batin mereka salah satunya bermula dari panggilan hati ketika mendengar suara adzan. Kisah ini menunjukkan bahwa sesuatu yang bagi sebagian orang terdengar biasa ternyata dapat menyentuh hati orang lain dengan cara yang sangat dalam.
Adzan sendiri mempunyai sejarah panjang sejak masa Rasulullah SAW di Madinah. Ketika masyarakat Muslim membutuhkan cara untuk memanggil umat menuju salat, muncul beberapa usulan, antara lain menggunakan lonceng seperti tradisi Nasrani atau tanduk seperti tradisi Yahudi. Dalam riwayat yang masyhur, Abdullah bin Zaid bermimpi tentang lafaz panggilan salat dan Umar bin Khattab juga disebut mengalami hal serupa. Rasulullah SAW kemudian menyetujuinya dan menunjuk Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan karena suaranya yang kuat. Sejak masa itu, adzan menjadi salah satu identitas penting umat Islam yang terus terdengar dari berbagai penjuru dunia.
Di Aceh, suara adzan kemudian menyatu dengan sejarah Islam yang panjang. Jejak tersebut dapat ditarik hingga Kesultanan Perlak di Aceh Timur yang secara tradisional disebut berdiri sekitar 840 Masehi di bawah Sultan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang didatangi pedagang Arab, Persia, dan Gujarat. Perjalanan Islam kemudian berlanjut ke Samudera Pasai pada abad ke-13 di bawah Sultan Malik as-Saleh. Makamnya yang bertahun 1297 Masehi menjadi salah satu bukti fisik penting dalam sejarah perkembangan Islam di kawasan tersebut.
Marco Polo singgah di kawasan ini pada 1292, sedangkan Ibnu Battutah datang pada 1345. Catatan perjalanan Ibnu Battutah memberikan gambaran tentang Sultan Pasai sebagai penguasa yang taat dan memiliki perhatian terhadap kehidupan keislaman serta ilmu pengetahuan.
Sejarah kemudian bergerak menuju Bandar Aceh Darussalam yang dalam historiografi resmi dikaitkan dengan 1 Ramadhan 601 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi di bawah Sultan Johan Syah. Penyatuan kerajaan-kerajaan kecil berlangsung pada masa Sultan Ali Mughayat Syah sekitar 1514, atau menurut sebagian catatan 1507. Aceh kemudian mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda, 1607 sampai 1636. Pada masa tersebut, kekuatan politik, ekonomi, dan intelektual Aceh diperhitungkan hingga berhubungan dengan Turki Utsmani, Inggris, dan Belanda.
Nama Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri melalui karya Bustanussalatin, serta Abdurrauf as-Singkili menjadi bagian dari sejarah intelektual tersebut. Aceh tumbuh sebagai salah satu pusat keilmuan Islam di Nusantara. Hubungan agama dan kehidupan masyarakat juga tercermin dalam ungkapan, “Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala.”
Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu saksi perjalanan panjang itu. Masjid ini hancur dalam peperangan pada 1873, kemudian dibangun kembali oleh pemerintah kolonial Belanda mulai 9 Oktober 1879 dan selesai pada 27 Desember 1881. Kota ini juga pernah diberi nama Kutaraja oleh Belanda sebelum dikembalikan menjadi Banda Aceh pada 28 Desember 1962. Ketika tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, masjid ini kembali menjadi simbol ketahanan masyarakat dan tempat berlindung bagi warga yang selamat.
Hari ini, kehidupan syariat Islam di Aceh memiliki payung hukum, antara lain Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2000, Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang kewajiban memakmurkan masjid dan meunasah, serta Qanun Nomor 7 Tahun 2025 tentang Rencana Induk Pelaksanaan Syariat Islam. Penghormatan terhadap waktu salat juga masih menjadi perhatian di ruang publik.
Pada 21 Agustus 2026, Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh melakukan dakwah keliling dari Stadion Harapan Bangsa hingga warung-warung kopi di sekitarnya. Para dai dan muhtasib gampong berdialog secara ramah dengan pengelola usaha agar bersama-sama menghormati waktu salat. Sebelumnya, pada 18 Juni 2026, di kawasan Pantai Ulee Lheue, sejumlah anak muda yang masih menikmati suasana senja ketika adzan Magrib berkumandang sekitar pukul 18.55 WIB diingatkan petugas Satpol PP dan Wilayatul Hisbah yang melakukan patroli untuk segera pulang dan menunaikan salat.
Kajian akademik juga memperlihatkan bahwa adzan memiliki dimensi sosial dan budaya. Penelitian Deina Rabie yang diterbitkan dalam Journal of Linguistic Anthropology pada 2024 menggambarkan adzan di Abu Dhabi sebagai soundmark, yakni penanda suara yang membantu membentuk pengalaman masyarakat terhadap ruang, waktu, dan identitas. Sementara penelitian terhadap 335 tenaga keperawatan Muslim di University of Malaya Medical Centre dan penelitian lain terhadap 300 tenaga keperawatan Muslim menemukan hubungan antara praktik salat dengan kepuasan hidup dan pengelolaan stres kerja. Temuan tersebut tentu tidak berarti adzan secara otomatis membuat setiap orang tenang, tetapi menunjukkan pentingnya praktik ibadah dalam kehidupan manusia.
Di tengah kesibukan Banda Aceh, hubungan antara aktivitas dunia dan panggilan ibadah sebenarnya dapat dibangun secara lebih kreatif. Warung kopi, misalnya, dapat menjadi bagian dari gerakan “warkop berkah” dengan memberikan jeda ketika adzan berkumandang, menyediakan ruang salat yang layak, dan menghentikan sejenak layar hiburan sebagai bentuk penghormatan. Teknologi kota pintar juga dapat dimanfaatkan dengan memberikan notifikasi sekitar sepuluh menit sebelum waktu salat agar masyarakat memiliki kesempatan menata aktivitasnya.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah warga Banda Aceh masih mendengar adzan. Suara itu tetap berkumandang lima kali sehari. Persoalan yang lebih penting adalah apakah hati kita masih benar-benar menjawabnya.
Sering kali kita berkata, “Sebentar lagi.” Padahal pekerjaan bisa ditunda, kopi bisa diminum kemudian, percakapan bisa dilanjutkan, tetapi waktu salat yang telah berlalu tidak dapat diputar kembali.
Maka, ketika suara adzan terdengar dari menara masjid di antara deru kendaraan, riuh warung kopi, dan denyut ekonomi kota, jangan hanya mendengarnya dengan telinga. Dengarkan dengan hati. Sebab adzan adalah panggilan cinta tertinggi dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya.
Dan panggilan cinta sepatutnya tidak dijawab dengan penundaan.
Maka bersegeralah untuk menunaikannya, karena dunia ini sementara. Hidup ini berada di antara azan dan iqamah, waktu terus berjalan. Tak terasa usia semakin bertambah dan langkah kita semakin dekat dengan kematian. Jangan lalai mengejar dunia, karena akhirat adalah sesuatu yang pasti.












