Artikel · Potret Online

Lelucon di Kedei Kopi Wak Regar : Kaya di Kertas, Miskin di Tabung Gas

Penulis  Aswan Nasution
September 5, 2026
3 menit baca 12
e4f0d92d-04bf-46ce-bed0-c55a51c6e149
Foto / IlustrasiLelucon di Kedei Kopi Wak Regar : Kaya di Kertas, Miskin di Tabung Gas

Oleh Aswan Nasution


Pagi-pagi kabut tipis masih menggantung di sekitar Terminal Baru Serbelawan ni Huta, tapi kedai kopi Wak Regar sudah riuh rendah. Suara dentingan sendok beradu dengan gelas, berpadu aroma kopi saring hitam kental yang menyengat hidung. Wak Regar sibuk menuang air panas dari ceret tembaga raksasa, sementara pak Butar butar sudah duduk bersila satu di atas bangku kayu panjang, memegang HP sambil matanya memicing-micing serius.

“Bah! Cepat kali muka kau tertekuk pagi ini, Pak Butar? Macam orang tertelan ampas kopi pahit aja!” celoteh Wak No yang baru mendarat di sebelahnya, langsung menyambar pisang goreng hangat.

Pak Butar butar menggebrak meja pelan, membuat cangkir Wak No bergoyang. “Gimana tak tertekuk mukaku, No! Aku baru baca ini berita soal data desil-desil DTSEN dari Sensus Ekonomi itu. Bikin pening kepala! Katanya rumah tangga di negara kita ini rata-rata sudah kaya semua, masuk desil 6 sampai desil 10!”

Wak Regar yang lagi mengelap meja langsung menyahut. “Lho, bukannya bagus itu, Pak Butar? Berarti rakyat kita ini sudah pada mampu, makin sejahtera!”

“Mampu dari mananya, Wak Regar!” sergah Pak Butarbutar geleng-geleng kepala. ” Abeh kali kurasa ! Tetanggaku si Usman, rumah masih ngontrak dinding papan berlubang-lubang, pas didata malah dimasukkan ke desil 7—dikira orang kaya! Eh, si Aritonang yang rumahnya gedung bertingkat, punya keramba ikan, malah masuk desil 4! Katanya rata-rata warga Indonesia ini kaya-raya. Ajaib kali kacamata petugas sensusnya itu, mangarang-arang!”

Wak No tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak pisang. “Oalah, Pak Butar! Jadi menurut data itu, kita-kita yang nongkrong di kedai kopi ini sebenarnya sudah sekelas sultan lah ya?”

“Nah! Itu dia anehnya!” balasan Pak Butarbutar makin berapi-api. “Status di kertas sensus kita dibuat kaya masuk desil tinggi, tapi giliran urusan dapur, negara malah mendoakan kita miskin berjamaah!”

“Lho, kok mendoakan miskin pulak?” tanya Wak Regar heran sambil menuangkan kopi susu pesanan pengunjung lain.

“Bah! Coba kelen tengok tabung gas elpiji warna hijau melon 3 kilo itu!” tunjuk Pak Butarbutar ke sudut kedai. “Di badannya jelas-jelas tertulis cetakan tebal: ‘HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN’. Nah, sekarang tengok di lapangan! Dari 10 rumah tangga di komplek kita, 9 rumah pakenya gas melon itu! Cuma 1 yang pakai tabung pink. Bahkan dari 100 keluarga, paling cuma 2 orang yang sanggup beli tabung 12 kilo!”

Pak Butarbutar mendengus lalu melanjutkan jurus humornya. “Artinya apa? Negara bikin data sensus kelen kaya, tapi negara juga yang ‘memaksa’ dan ‘mendoakan’ kelen tetap jadi warga miskin tiap kali mau masak air! Bikin aturan ajaib: kalau mau dibilang kaya, masuk desil 7, tapi kalau mau jualan bakso, harus pura-pura miskin dulu di hadapan tabung gas hijau!”

“BAAAAHHH!”

Wak No dan Wak Regar meledak tawanya. Seisi kedai kopi di Terminal Baru itu ikut terkekeh-kekeh mendengar sindiran telak Pak Butarbutar. Begitulah cara warga kelas menengah menyikapi lelucon birokrasi: ditertawakan saja biar tidak pusing.

Gelak tawa perlahan mereda seiring pekatnya adukan kopi hitam di cangkir kami. Seperti seduhan kopi Wak Regar pagi ini—meski pahitnya pasrah ditelan, kehangatannya selalu sanggup membuat rakyat kecil tetap tersenyum menghadapi dinamika negeri.

Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas.

Penulis :
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...