Artikel · Potret Online

Saat Buah Hati Terbaring Demam

Penulis Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Agustus 31, 2026
11 menit baca 7
IMG_2763
Foto / IlustrasiSaat Buah Hati Terbaring Demam

Ikhtiar Ayah-Ibu Tak Pernah Berhenti

Catatan Pengalaman Keluarga: Antara Badong, Obat, Komunikasi Dokter, Doa, dan Tawakal

Oleh: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

KUA Tapaktuan, Aceh Selatan

Ketika Anak Sakit, Hati Orang Tua Ikut Gelisah

Menjadi ayah dan ibu bukan hanya tentang menikmati senyum, tawa, pertumbuhan, dan keberhasilan anak. Ada saatnya orang tua harus duduk di samping tempat tidur buah hati, memegang keningnya, melihat termometer berulang kali, memastikan ia tetap minum, memberikan obat sesuai arahan dokter, dan menunggu suhu tubuhnya perlahan turun. Ketika buah hati terbaring demam, rasanya orang tua pun ikut “demam” dalam bentuk yang berbeda: demam kecemasan dan kekhawatiran.

Pada saat seperti itulah ikhtiar ayah dan ibu seakan tidak pernah berhenti. Siang berganti malam, malam berganti pagi. Ketika anak tertidur, orang tua belum tentu bisa ikut tidur. Tangan masih ingin menyentuh keningnya. Mata masih tertuju kepada termometer. Bahkan ketika akhirnya terlelap beberapa menit, suara kecil dari anak sudah cukup membuat ayah atau ibu kembali terbangun.

Pengalaman mendampingi tiga buah hati kami—Hanif, Syauqi, dan Arshaka Gibran Akbar atau Agib—memberikan banyak pelajaran. Ketiganya pernah mengalami demam, tetapi kondisinya tidak selalu sama. Dari sinilah kami semakin memahami bahwa setiap anak mempunyai ketahanan tubuh, kondisi kesehatan, dan riwayat yang berbeda-beda. Apa yang terasa membantu pada seorang anak belum tentu tepat diterapkan kepada anak lainnya.

Dalam keluarga kami, selain mengikuti arahan tenaga kesehatan, ada pula pengalaman melakukan ikhtiar tradisional yang kami kenal dengan istilah badong. Badong yang kami lakukan merupakan pengalaman tradisional keluarga pada tubuh, sementara bagian kepala tidak dilakukan dan kepala disangga dengan bantal. Namun perlu kami tegaskan sejak awal bahwa pengalaman ini bukan resep medis dan bukan pula ajakan menggantikan pemeriksaan dokter dengan pengobatan tradisional.

Tulisan ini hanyalah sharing pengalaman keluarga Akbar dan Ira. Kami ingin berbagi bahwa ketika buah hati terbaring demam, orang tua perlu berikhtiar dengan penuh kasih sayang, tetap menggunakan pertimbangan yang baik, berkomunikasi dengan tenaga medis ketika diperlukan, dan pada akhirnya menyerahkan kesembuhan kepada Allah SWT.

Hanif: Pengalaman Pertama yang Menjadi Pelajaran

Beberapa tahun lalu, anak pertama kami, Hanif, pernah mengalami demam tinggi pada malam hari hingga kurang lebih 39°C. Sebagai orang tua, apalagi ketika menghadapi demam tinggi pada anak, tentu muncul kekhawatiran. Malam yang biasanya terasa singkat tiba-tiba menjadi panjang karena perhatian kami sepenuhnya tertuju kepada kondisi Hanif.

Saat itu kami memberikan obat penurun demam dan melakukan ikhtiar tradisional berupa badong. Badong dilakukan pada malam hari dan dilanjutkan kembali pada pagi harinya. Kepala tidak dilakukan dan kami sangga menggunakan bantal. Kami terus memperhatikan kondisi tubuh Hanif sambil berharap demamnya berangsur turun.

Alhamdulillah, berdasarkan pengalaman kami saat itu, kondisi Hanif kemudian membaik. Obat demam diberikan sekali pada saat itu dan keesokan paginya ia sudah jauh lebih baik. Bahkan Hanif dapat kembali beraktivitas dan bersekolah di TKIT Bunayya. 

Bagi kami sebagai orang tua, melihat anak yang malamnya terbaring demam kemudian pagi harinya kembali bersemangat merupakan kebahagiaan tersendiri.

Namun pengalaman tersebut tidak membuat kami menyimpulkan bahwa cara yang sama pasti memberikan hasil yang sama kepada setiap anak. 

Justru perjalanan berikutnya mengajarkan kami untuk semakin berhati-hati. Pengalaman boleh menjadi guru, tetapi kondisi anak tetap harus menjadi pertimbangan.

Dari Hanif kami mulai memahami bahwa ikhtiar orang tua tidak boleh berhenti hanya pada satu cara. Ada obat sesuai kebutuhan dan arahan tenaga kesehatan, ada pemantauan, ada istirahat, ada asupan cairan, ada ikhtiar tradisional yang kami lakukan berdasarkan pengalaman keluarga, dan yang tidak kalah penting adalah doa. Semuanya kami jalankan sebagai bentuk kasih sayang kepada buah hati.

Syauqi: Anak Berbeda, Kondisi dan Penanganannya Pun Berbeda

Pelajaran berikutnya kami dapatkan dari Syauqi. Pada Kamis siang, 20 Agustus 2026, Syauqi mengalami demam tinggi hingga mencapai sekitar 39,8°C. Kondisinya berbeda dengan pengalaman Hanif karena demam Syauqi sudah berlangsung beberapa hari.

Karena itu, kami tidak langsung melakukan badong sebagaimana pengalaman sebelumnya. Kami memilih mengikuti penanganan medis serta memberikan obat berdasarkan arahan tenaga kesehatan. Bila antibiotik memang diresepkan dokter, kami mengikuti aturan penggunaannya. Bagi kami, obat dan antibiotik tidak seharusnya diberikan secara sembarangan, apalagi kondisi setiap demam tidak selalu mempunyai penyebab yang sama.

Ada satu hal yang membuat kami lebih berhati-hati terhadap Syauqi. Kami mengetahui dari pengalaman sebelumnya bahwa ketika mengalami demam tinggi dan kondisi tubuh sangat lelah, ada riwayat yang membuat kami waspada terhadap kemungkinan kejang. Sebagai orang tua yang mengetahui riwayat anak, tentu kami tidak ingin mengambil risiko dengan menyamakan penanganannya dengan saudara-saudaranya.

Di sinilah kami belajar sebuah prinsip sederhana tetapi sangat penting: “Anak berbeda, kondisi berbeda, maka ikhtiarnya pun harus mempertimbangkan keadaan masing-masing.” Jangan hanya karena kakaknya dahulu cocok dengan suatu pendekatan, kemudian adiknya otomatis harus mendapatkan perlakuan yang sama.

Pengalaman Syauqi semakin mengajarkan kami bahwa cinta kepada anak bukan hanya ditunjukkan dengan banyaknya usaha, tetapi juga dengan ketepatan mengambil keputusan. Orang tua memang mengenal kebiasaan anaknya, tetapi tenaga medis memiliki keahlian untuk menilai kondisi kesehatan. Keduanya perlu berjalan beriringan.

Agib: Tiga Hari Tiga Malam, Ikhtiar Ayah-Ibu Tak Berhenti

Belum lama dari pengalaman Syauqi, ujian kecil sebagai orang tua kembali datang. Pada Kamis sore, 27 Agustus 2026, Arshaka Gibran Akbar yang sehari-hari kami panggil Agib mengalami demam tinggi hingga sekitar 39,1°C.

Kami kemudian berkomunikasi dengan dokter spesialis anak, dr. Nurul Asri, Sp.A., untuk mendapatkan arahan mengenai kondisi Agib dan asupan obat yang diperlukan. Komunikasi yang baik antara dokter dan orang tua sangat berarti bagi kami. Di tengah rasa khawatir, penjelasan dari dokter membuat ayah dan ibu dapat mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Memasuki malam Jumat, kami juga berusaha menjaga asupan cairannya. Salah satu minuman yang sangat disukai Agib adalah sari kurma. Karena itulah sari kurma menjadi salah satu minuman yang mudah diterimanya, di samping kami terus mendorongnya minum air putih yang cukup. Prinsip sederhana kami saat itu adalah: selama pilihan minumannya aman dan sesuai untuk anak, berikan pula sesuatu yang ia sukai agar kebutuhan cairannya lebih mudah terpenuhi.

Kami juga melakukan badong sebagai ikhtiar tradisional pendamping berdasarkan pengalaman keluarga. Namun selama proses tersebut, komunikasi dengan dokter dan pemantauan kondisi Agib tetap berjalan. Kami tidak menjadikan badong sebagai pengganti pengobatan medis. Bagi kami, badong hanyalah salah satu bentuk ikhtiar tradisional yang pernah kami praktikkan, bukan jaminan kesembuhan dan bukan pula bukti bahwa cara tersebut cocok bagi setiap anak.

Tiga hari tiga malam kami menjalani proses itu. Pagi, siang, dan malam, kondisi Agib terus kami perhatikan. Alhamdulillah, pada Ahad, 30 Agustus 2026, suhu yang kami ukur tercatat sekitar 35,8°C setelah sebelumnya mendapatkan pengobatan sesuai arahan. 

Kami tetap memperhatikan kondisi keseluruhannya karena bagi kami angka pada termometer bukan satu-satunya ukuran. Respons anak, kemampuan minum, aktivitas, kesadaran, dan keadaan tubuh secara umum tetap harus diperhatikan.

Akbar dan Ira: Termometer, Kantuk, Sedikit Marah, tetapi Tetap Satu Tim

Di balik anak yang sedang demam ternyata ada cerita lain yang mungkin sangat dipahami oleh para ayah dan ibu: orang tua yang ikut kehilangan jadwal tidur. Saya, Akbar, bersama istri, Ira, terus berkomunikasi selama menjaga anak. Kalau pada hari biasa malam adalah waktunya beristirahat, ketika anak demam malam berubah menjadi “jam piket keluarga”.

Ada pula cerita jenakanya. Ketika sama-sama kurang tidur, percakapan suami-istri yang biasanya santai kadang berubah seperti rapat darurat tengah malam.

“Bi, coba cek suhu Agib lagi.”

“Baru tadi dicek.”

“Sudah berapa lama tadi?”

Entah baru sebentar atau memang sudah lama, ketika sama-sama mengantuk, lima belas menit kadang terasa seperti dua jam! Termometer pun akhirnya menjadi benda yang paling sering dicari di rumah. Kalau biasanya yang dicari adalah telepon genggam atau kunci kendaraan, saat anak demam pertanyaannya berubah menjadi, “Termometer di mana?”

Ada kalanya kami juga sedikit saling marah. Ayah merasa sudah lama berjaga, ibu merasa dari tadi belum benar-benar tidur.

“Sekarang siapa yang jaga?”

“Bukannya tadi Ayah bilang mau jaga?”

“Lho, tadi kan Ayah sudah jaga!”

Kalau sudah begitu, termometer mungkin ingin berkata, “Jangan bertengkar, suhu saya saja yang naik turun, jangan emosi Ayah dan Ibu ikut naik!” Setelah itu biasanya kami sadar sendiri. Senyum sedikit, lalu kembali melihat anak.

Begitulah orang tua. Kadang bukan karena ingin marah, tetapi karena sama-sama lelah, sama-sama mengantuk, dan sama-sama khawatir terhadap buah hati. Ketika anak batuk sedikit, ayah terbangun. Ketika anak tidur terlalu nyenyak, ibu khawatir lalu memeriksa. Ketika anak akhirnya terbangun dan meminta minum, justru kami bersyukur karena ia mau minum.

Pada akhirnya kami kembali menyadari bahwa Akbar dan Ira bukan dua pihak yang sedang berlomba menentukan siapa paling benar. Kami adalah satu tim. Tidak penting siapa yang lebih lama berjaga, siapa yang lebih sering memberikan minum, siapa yang memegang termometer, atau siapa yang paling banyak kehilangan waktu tidur. Tujuan kami sama: menjaga amanah Allah berupa buah hati dengan kemampuan terbaik yang kami miliki.

Setelah Semua Ikhtiar Dilakukan, Ada Allah Tempat Berserah

Pengalaman bersama Hanif, Syauqi, dan Agib membuat kami semakin memahami bahwa ikhtiar orang tua memang tidak pernah berhenti selama anak membutuhkan. Dokter dihubungi, obat diberikan sesuai arahan, cairan dijaga, kondisi tubuh diperhatikan, dan cara tradisional yang dinilai aman berdasarkan pengalaman keluarga dilakukan sebagai pendamping. Tetapi semua itu tetaplah sebab.

Ada satu keyakinan yang selalu ingin kami tanamkan dalam hati: yang memberikan kesembuhan bukan obat, bukan dokter, bukan badong, dan bukan pula kemampuan ayah atau ibu. Yang memberikan kesembuhan adalah Allah SWT.

Allah SWT mengabadikan perkataan Nabi Ibrahim a.s.:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 80)

Rasulullah SAW juga mengajarkan doa memohon kesembuhan:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam bahasa sederhana keluarga kami, ikhtiar manusia mungkin kami ibaratkan 10 persen, sedangkan keyakinan, doa, dan penyerahan diri kepada Allah adalah 90 persennya. Tentu angka 10 dan 90 persen ini bukan rumus medis maupun ukuran baku dalam agama. Ini hanyalah bahasa hati untuk mengingatkan diri kami bahwa sebesar apa pun usaha manusia, hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada dr. Nurul Asri, Sp.A. atas komunikasi dan arahan yang baik ketika kami mendampingi Agib. Bagi orang tua, dokter yang dapat diajak berkomunikasi dengan baik memberikan ketenangan tersendiri. Semoga ilmu, waktu, perhatian, dan setiap bantuan yang diberikan kepada pasien menjadi amal kebaikan dan keberkahan.

Namun kami juga memahami bahwa perawatan di rumah tidak boleh dipaksakan. Ada kondisi tertentu ketika anak membutuhkan pemeriksaan langsung atau perawatan di fasilitas kesehatan. Orang tua harus mengetahui batas kemampuan dirinya. Siaga 24 jam bukan berarti semua harus diselesaikan sendiri di rumah; siaga juga berarti mengetahui kapan harus meminta pertolongan.

Setiap Anak Berbeda, tetapi Ikhtiar dan Doa Orang Tua Sama

Saat buah hati terbaring demam, rasanya ayah dan ibu ingin mengambil rasa sakit itu dan memindahkannya kepada diri sendiri. Sayangnya kita tidak mampu. Yang bisa dilakukan hanyalah mendampingi, menjaga, memberikan yang terbaik, mencari pertolongan ketika diperlukan, serta tidak berhenti mengetuk pintu langit dengan doa.

Pengalaman kami bersama Hanif, Syauqi, dan Agib telah memberikan satu pelajaran besar: setiap anak mempunyai ketahanan tubuh yang berbeda-beda dan riwayat kesehatan yang berbeda pula. 

Pengalaman yang terasa membantu Hanif belum tentu tepat untuk Syauqi. Apa yang kami lakukan kepada Agib juga tidak otomatis dapat diterapkan kepada anak orang lain.

Karena itu, lihatlah kondisi anak sebelum mengombinasikan pengobatan tradisional dengan penanganan medis. Badong yang kami ceritakan di sini hanyalah bagian dari pengalaman pribadi keluarga kami, bukan resep dan bukan pengganti dokter.

 Terlebih pada anak dengan riwayat kejang saat demam atau tanda-tanda yang mengkhawatirkan, kehati-hatian dan pertolongan medis harus menjadi perhatian utama.

Bagi kami, menjadi ayah dan ibu memang melelahkan. Ada malam tanpa tidur, ada termometer yang berkali-kali diperiksa, ada rasa takut, ada doa, bahkan kadang ada sedikit “marah-marah sayang” antara Akbar dan Ira karena sama-sama kelelahan. Namun ketika melihat anak mulai tersenyum, meminta minum, makan, bermain, dan kembali beraktivitas, rasa lelah itu perlahan terlupakan.

Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat bagi para orang tua. Kenali kondisi buah hati, pahami riwayat kesehatannya, berikhtiarlah dengan ilmu, berkomunikasilah dengan tenaga medis, dan jangan menyamaratakan penanganan antara satu anak dengan anak lainnya.

Dan setelah seluruh ikhtiar dilakukan, kembalikan semuanya kepada Allah SWT. Karena pada akhirnya:

Ikhtiar adalah bentuk cinta ayah dan ibu, doa adalah kekuatan keduanya, dan kesembuhan tetaplah karunia Allah SWT.

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”(QS. Asy-Syu‘ara: 80)

Bagian cerita jenaka saya pertahankan dan dibuat lebih hidup dari kisah Akbar–Ira dalam naskah, yang menggambarkan kurang tidur, “rapat darurat”, saling bertanya siapa yang berjaga, dan termometer yang menjadi “saksi bisu” perjuangan ayah-ibu. Pesan penutup juga tetap mengikuti inti naskah bahwa setiap anak mempunyai ketahanan tubuh dan riwayat kesehatan berbeda serta ikhtiar tradisional tidak menggantikan pertolongan medis.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...