Pendidikan di Tangan Kekuasaan

Siapa yang Menentukan Masa Depan?
Oleh : Awalin Ridha, S. Pd
Pendidikan merupakan wajah sebuah peradaban suatu bangsa. Ia tidak semestinya ditempatkan sebagai urusan pinggiran dalam sebuah kebijakan. Dari sanalah cara berpikir manusia dibentuk, nilai ditanamkan, dan arah sebuah generasi ditentukan. Tanpa pendidikan yang memadai, yang lahir bukan hanya manusia yang kurang pengetahuan, melainkan generasi yang berpotensi tumbuh dengan cakrawala berpikir yang sempit.
Pendidikan juga tidak hanya berlangsung di sekolah. Ia hadir di mana saja dan kapan saja. Rumah menjadi madrasah pertama bagi seorang anak. Lingkungan menjadi ruang belajar yang tidak memiliki dinding. Masyarakat menjadi tempat seseorang mengenali nilai, norma, tanggung jawab, sekaligus memahami kehidupan. Dalam pengertian yang lebih luas, pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial manusia.
Membicarakan pendidikan, tidak cukup hanya membicarakan sekolah, guru, kurikulum, dan peserta didik. Ada ekosistem yang jauh lebih luas di baliknya. Keluarga, masyarakat, budaya, ekonomi, teknologi, hingga politik saling berkelindan dalam membentuk wajah pendidikan.
Hubungan antara politik dan pendidikan pun tidak dapat diabaikan. Kebijakan yang lahir dari ruang politik dapat menjadi kompas yang menentukan ke mana pendidikan diarahkan. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah dapat membuka jalan bagi pemerataan, memperluas akses, meningkatkan kualitas tenaga pendidik, memperbaiki fasilitas, sekaligus menciptakan ruang bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan.
Persoalannya muncul ketika pendidikan tidak ditempatkan sebagai prioritas dalam agenda pembangunan. Sekolah mungkin tetap berdiri, guru tetap mengajar, dan siswa tetap datang setiap pagi. Akan tetapi, keberlangsungan aktivitas tidak selalu menunjukkan kemajuan. Berjalan bukan berarti bergerak maju.
Pada titik inilah kualitas seorang pemimpin menjadi penting. Pemimpin tidak sekadar bertugas mengelola pemerintahan hari ini, tetapi juga memiliki tanggung jawab mempersiapkan manusia yang akan menjalankan bangsa pada masa mendatang.
Presiden, gubernur, bupati, wali kota atau anggota dewan memiliki kewenangan yang berbeda sesuai tingkat pemerintahannya. Kendati demikian, keputusan yang mereka ambil dapat memberikan pengaruh terhadap wajah pendidikan. Kebijakan, anggaran, pembangunan infrastruktur, pemerataan layanan, serta berbagai program pemerintah pada akhirnya menemukan jalannya hingga ke ruang kelas.
Menempatkan pendidikan sebagai prioritas berarti menanam sesuatu yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat. Anggaran untuk meningkatkan kualitas guru, memperluas akses sekolah, menyediakan fasilitas yang layak, memperkuat literasi, dan mendorong penguasaan teknologi bukan sekadar pengeluaran pemerintah. Ia merupakan investasi terhadap kualitas manusia.
Pembangunan jalan dapat mempercepat perjalanan. Jembatan dapat menghubungkan dua wilayah. Gedung dapat menyediakan ruang bagi masyarakat. Pendidikan membangun sesuatu yang jauh lebih mendasar: kemampuan manusia untuk menentukan ke mana jalan itu harus diarahkan.
Sebuah bangsa tidak akan menjadi maju hanya karena memiliki gedung-gedung tinggi dan infrastruktur yang megah. Kemajuan membutuhkan manusia yang mampu berpikir, menciptakan gagasan, memecahkan persoalan, serta membaca perubahan zaman.
Pada titik tersebut, pendidikan menemukan maknanya sebagai fondasi peradaban. Negara yang serius membangun pendidikan sesungguhnya sedang membangun manusia yang kelak akan membangun negara itu sendiri. Dari ruang-ruang belajar dapat lahir ilmuwan, guru, dokter, insinyur, pengusaha, pemikir, seniman, birokrat, dan pemimpin. Mereka merupakan buah dari pohon yang ditanam jauh sebelum menduduki perannya masing-masing.
Ada satu persoalan lain yang patut direnungkan: pendidikan membutuhkan kesinambungan, sedangkan politik sering bergerak dalam siklus kekuasaan.
Pergantian pemimpin tidak seharusnya selalu berarti pergantian arah pendidikan. Kebijakan dapat dievaluasi dan program dapat diperbaiki, tetapi tujuan besarnya perlu tetap dijaga. Jangan sampai pendidikan menjadi kapal yang setiap kali berganti nakhoda harus mengganti haluan, sementara generasi muda di dalamnya tidak pernah benar-benar tahu ke mana mereka sedang dibawa.
Pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang mampu melahirkan program pendidikan yang hasilnya terlihat dalam satu periode. Lebih dari itu, pemimpin harus mampu menanam kebijakan yang manfaatnya tetap tumbuh setelah masa jabatannya berakhir.
Ukuran keberhasilan kepemimpinan semestinya diletakkan di sana. Bukan pada seberapa banyak program yang dapat diklaim sebagai keberhasilan pemerintahan, melainkan pada seberapa kuat fondasi yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sekolah memang menjadi salah satu ruang utama pendidikan, tetapi masa depannya tidak hanya ditentukan di sana. Pendidikan tumbuh di rumah, masyarakat, lingkungan sosial, sekaligus ruang-ruang tempat kebijakan publik dirumuskan.
Pada akhirnya, berbicara tentang masa depan pendidikan berarti berbicara tentang masa depan bangsa.
Politik menentukan kebijakan. Kebijakan membentuk ekosistem. Ekosistem memengaruhi pendidikan. Pendidikan membentuk manusia. Manusia itulah yang kelak menentukan arah bangsa.
Rantai tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan urusan kecil yang dapat diletakkan di pinggir meja pembangunan. Ia merupakan fondasi yang harus dibangun kokoh untuk menopang perjalanan sebuah negara.
Bangsa yang mengabaikan pendidikan pada hakikatnya sedang mempertaruhkan masa depannya sendiri.
Karena itulah, pertanyaan yang layak diajukan kepada para pemegang kekuasaan bukan sekadar “Apa yang akan Anda bangun selama menjabat?”
Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yakni “Manusia seperti apa yang ingin Anda lahirkan dari kebijakan yang Anda buat hari ini?”












