Riang Gembira Maulid di Barsela, Merawat Silaturahmi dan Solidaritas Sosial.

*Oleh : Kaipal Wahyudi*
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Barat Selatan Aceh (Barsela) selalu menghadirkan suasana khas. Ketika bulan kelahiran Rasulullah tiba, rumah-rumah warga mulai sibuk. Kaum ibu menyiapkan hidangan, pemuda membantu berbagai keperluan, sementara masyarakat dari gampong lain berdatangan memenuhi undangan. Di masjid dan meunasah terdengar selawat, zikir, dikee maulod, ceramah dan doa. Jalan-jalan gampong menjadi lebih ramai, rumah terbuka bagi tamu, dan makanan disiapkan untuk dinikmati bersama.
Bagi masyarakat Barsela, Maulid bukan sekadar peringatan kelahiran Rasulullah SAW. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan keluarga, tetangga, antargampong dan berbagai generasi. Orang yang lama tidak bertemu dapat kembali duduk bersama, masyarakat saling membantu, sedangkan anak-anak dan pemuda belajar mengambil bagian dalam kegiatan. Kegembiraan tidak hanya hadir melalui hidangan yang tersaji, tetapi juga melalui hubungan sosial yang kembali terjalin.
Tradisi Maulid di Aceh memiliki perjalanan panjang seiring perkembangan Islam melalui perdagangan, ulama, kerajaan dan lembaga pendidikan Islam. Perlak pada abad ke-9 Masehi dan Samudera Pasai pada abad ke-13 Masehi menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Aceh. Seiring waktu, ajaran Islam berinteraksi dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat, melahirkan berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Maulid kemudian tumbuh menjadi salah satu tradisi keagamaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Dalam sejarah Kesultanan Aceh Darussalam terdapat catatan yang sering dikaitkan dengan Maulid, yaitu wasiat Sultan Ali Mughayat Syah bertanggal 12 Rabiul Awal 913 Hijriah atau 23 Juli 1507 Masehi. Dalam perkembangan berikutnya, tradisi ini semakin dikenal di tengah masyarakat. Pada masa Sultan Iskandar Muda yang memerintah pada 1607–1636 Masehi, Aceh mengalami perkembangan penting dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan. Dalam perjalanan tradisi masyarakat Aceh kemudian dikenal Maulod Awai, Maulod Teungoh dan Maulod Akhe, yang berlangsung mulai Rabiul Awal, Rabiul Akhir hingga Jumadil Awal, sekitar tiga bulan sepuluh hari.
Pelaksanaan secara bergiliran membuat Maulid mempunyai fungsi sosial yang kuat. Ketika sebuah gampong menjadi tuan rumah, masyarakat dari tempat lain datang sebagai tamu. Pada kesempatan berikutnya, pihak yang sebelumnya menerima undangan dapat menjadi pihak yang menyambut. Hubungan itu terus bergerak dari satu gampong ke gampong lainnya. Dengan cara demikian, Maulid menjadi ruang untuk menjaga hubungan kekeluargaan dan memperluas jaringan persaudaraan.
Di Barsela, pelaksanaannya berkembang dengan warna yang beragam. Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil hingga Subulussalam memiliki karakter masyarakat masing-masing. Kehidupan pesisir, pertanian, kekerabatan, adat, pendidikan dayah serta perjalanan ulama ikut memberikan warna. Perbedaan tersebut justru memperlihatkan kekayaan budaya Islam yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Kekhasan Maulid paling terasa di Sawang dan Meukek, Aceh Selatan. Khanduri Maulod melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Setiap keluarga mengambil bagian sesuai kemampuan. Salah satu kebiasaan yang dikenal adalah setiap rumah menyiapkan sekitar 15 wadah atau kantong makanan untuk kenduri. Isinya dapat berupa nasi, ayam, daging, ketupat, leumang, buah-buahan, makanan ringan dan minuman.
Keunikan lainnya terlihat pada penyajian hidangan buah yang dihias dalam berbagai bentuk, seperti kapal, pohon, mobil dan bentuk kreatif lainnya. Aneka makanan ringan juga disiapkan untuk menyambut tamu. Sejak pagi warga telah bekerja. Kaum ibu memasak dan menata hidangan, pemuda membantu berbagai kebutuhan, sementara orang tua dan anak-anak ikut mengambil bagian. Suasana yang demikian membuat Maulid di Sawang dan Meukek terlihat sangat meriah. Orang yang baru pertama kali menyaksikannya pun dapat merasa takjub melihat banyaknya hidangan dan besarnya keterlibatan masyarakat.
Namun, kemegahan tersebut bukan sekadar persoalan tampilan. Di baliknya terdapat semangat memberikan yang terbaik kepada tamu, bersedekah dan berbagi kebahagiaan pada bulan kelahiran Rasulullah SAW. Ketika malam tiba, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Masyarakat mengikuti ceramah, tausiah, selawat dan dikee maulod. Para teungku dan ustaz menyampaikan kisah kehidupan Rasulullah, keteladanan akhlak serta pesan moral untuk kehidupan sehari-hari.
Bagi penulis, tradisi dikee di Sawang juga memiliki kenangan tersendiri. Likee Maulod Tunas Muda Dayah Sawang, Aceh Selatan, merupakan salah satu kelompok likee yang pernah berada dalam lingkungan tempat penulis mengaji pada 2014 hingga 2017. Kelompok tersebut tidak hanya tampil di kampung sendiri, tetapi juga pernah mendapat undangan ke Banda Aceh dan berbagai daerah lain di Aceh. Dikee dengan syair, zikir dan tradisi lisannya menjadi bagian dari pewarisan kebudayaan Islam kepada generasi muda. Keunikannya juga terlihat dari formasi kelompok saat tampil. Ada yang membentuk lingkaran seperti karangan bunga yang sedang mengembang, dan ada pula kelompok zikir yang duduk dalam formasi petak. Bentuk tersebut menjadi ciri khas dalam pelaksanaan dikee sekaligus memperlihatkan kekompakan para peserta ketika melantunkan zikir dan syair Maulod.
Keunikan lain dapat ditemukan di Bakongan, Aceh Selatan. Zikir Maulid berlangsung di kawasan pesisir yang menghadap Pulau Dua Bakongan. Laut, suara ombak dan lantunan zikir berpadu menjadi suasana yang sulit ditemukan di tempat lain. Sementara di Aceh Barat, kreativitas masyarakat tampak melalui berbagai bentuk balai dan penyajian makanan, seperti kapal, masjid, mobil, gedung hingga ikan. Bentuk tersebut dekat dengan kehidupan masyarakat setempat sekaligus menjadi ekspresi budaya.
Semua itu memperlihatkan eratnya hubungan agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat Aceh. Kecintaan kepada Rasulullah diwujudkan melalui selawat dan zikir, tetapi juga melalui penghormatan kepada tamu, membantu tetangga dan berbagi makanan. Dalam perspektif sosiologi, pertemuan yang berlangsung secara berulang dapat membangun kepercayaan, kerja sama dan rasa memiliki terhadap komunitas. Ritual bersama, sebagaimana dijelaskan Émile Durkheim, dapat memperkuat solidaritas sosial karena masyarakat berkumpul dalam pengalaman dan nilai yang sama.
Perubahan zaman membawa tantangan baru. TikTok, Instagram Reels dan YouTube dapat menjadi sarana memperkenalkan tradisi Maulid Aceh kepada masyarakat luas. Dokumentasi digital memungkinkan dikee, kenduri, balai dan berbagai bentuk perayaan dikenal hingga ke luar daerah. Namun, media sosial juga dapat membuat kemewahan hidangan dan dekorasi seolah menjadi ukuran keberhasilan. Jangan sampai keluarga yang memiliki kemampuan terbatas merasa harus mengeluarkan biaya di luar kemampuan hanya karena gengsi.
Khanduri Maulod seharusnya lahir dari keikhlasan dan semangat berbagi. Hidangan sederhana tetap bernilai apabila diberikan dengan tulus dan dinikmati bersama. Karena itu, yang perlu dijaga bukan mahalnya sajian, melainkan ketulusan menerima tamu serta kebahagiaan yang tercipta di antara masyarakat.
Regenerasi juga penting. Dikee, peugah haba, syair, Barzanji dan tradisi lisan membutuhkan generasi penerus. Sekolah, dayah, keluarga, pemerintah gampong, Tuha Peut, ulama dan tokoh adat dapat memberi ruang kepada anak-anak muda untuk belajar dan terlibat. Teknologi dapat digunakan untuk mendokumentasikan sejarah, proses dan makna Maulid agar tradisi tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi tetap dipahami oleh generasi berikutnya.
Pada Oktober 2025, kemeriahan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah terlihat di Gampong Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan. Kegiatan yang berlangsung di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) dengan latar laut dan kapal-kapal nelayan tersebut juga diberitakan TV Serambi News melalui YouTube dengan tema “Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh Selatan Berlangsung Meriah dan Penuh Warna.” Suasana semakin semarak dengan karpet merah, dekorasi warna-warni, dua grup zikir dari Gampong Ujong Kareung, Kecamatan Sawang, dan Gampong Ladang Tuha, Kecamatan Pasie Raja, serta berbagai balai berisi makanan.
Salah satu yang menarik perhatian ialah balai berbentuk kapal yang dipenuhi buah-buahan dan makanan tradisional, disusul balai kain sarung serta sajian lainnya. Perayaan tersebut tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat pesisir.
Pada Agustus 2026, bertepatan dengan Rabiul Awal 1448 Hijriah, semangat Maulid kembali terlihat di berbagai daerah Aceh. Di Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan yang mempertemukan masyarakat, ulama dan unsur pemerintah, sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi Maulid tetap hidup dan mendapat tempat penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Di tengah persoalan yang dihadapi generasi muda, seperti judi daring, narkoba, kekerasan dan ujaran kebencian, keteladanan Rasulullah SAW tetap relevan. Maulid dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali akhlak, kasih sayang, persaudaraan, kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Ada petuah orang-orang zaman dahulu yang masih teringat: “Kenduri keu Syaidina, pajoh beu na puwoe beuna. Selamat dan bergembiralah dengan bulan kelahiran Rasulullah.” Petuah tersebut menggambarkan semangat menyambut bulan kelahiran Rasulullah dengan rasa senang, berbagi makanan dan membawa pulang kebahagiaan. Kecintaan kepada beliau diwujudkan melalui selawat, mengenang keteladanan, bertawasul dan memperbanyak amal kebaikan.
Pesan itu juga mengingatkan agar kegembiraan Maulid tidak berubah menjadi alasan untuk saling mencela dan menyalahkan. Perbedaan pandangan mengenai praktik keagamaan hendaknya tidak menghilangkan persaudaraan. Masing-masing dapat menjalankan keyakinannya dengan tetap menghormati sesama.
Pada akhirnya, kekuatan Maulid di Barsela terletak pada kemampuannya mempertemukan manusia. Masyarakat memasak bersama, menerima tamu, mengunjungi gampong lain, melantunkan selawat dan duduk dalam satu majelis. Hubungan yang terbentuk tidak berakhir ketika acara selesai, tetapi dapat terus hidup dalam keseharian.
Di tengah kehidupan yang semakin digital, perjumpaan langsung justru semakin berharga. Pesan melalui telepon tidak sama dengan berjabat tangan. Melihat hidangan melalui layar tidak sama dengan duduk dan makan bersama. Menonton dikee melalui media sosial tidak sama dengan hadir dan merasakan suasananya secara langsung.
Maulod boleh berkembang mengikuti zaman. Hidangan dapat semakin kreatif, dokumentasi semakin modern dan generasi muda dapat memperkenalkannya kepada dunia. Namun, ruhnya harus tetap dijaga: keikhlasan, sedekah, gotong royong, silaturahmi, penghormatan kepada tamu, kepedulian kepada sesama dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Jika nilai-nilai tersebut terus diwariskan, Maulid tidak hanya menjadi warisan masa lalu. Ia akan tetap menjadi ruang memperkuat persaudaraan, menjaga identitas budaya, mempertemukan generasi dan menghidupkan solidaritas sosial.
Itulah riang gembira Maulid di Barsela: bukan sekadar keramaian dan kenduri, tetapi perjumpaan yang menghidupkan persaudaraan, kegembiraan yang melahirkan kepedulian, serta tradisi yang terus merawat silaturahmi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
*Selamat melaksanakan Maulid. Mari bersenang, bergembira, menikmati suasana dan berbagi kebahagiaan di bulan kelahiran Rasulullah SAW. Jangan lupa, mari berkunjung ke Barat Selatan Aceh untuk melihat langsung keunikan dan kemeriahan pelaksanaan Maulid yang hidup di tengah masyarakat.*












