Puisi

Ketika Awal Bertemu Akhir

26 Agustus 2026
Oleh: Juni Ahyar

Catatan Maulid tentang Dunia, Kematian, dan KehidupanAbadi

Oleh Juni Ahyar

Di bulan ketika cinta kembali disebut,
ketika nama Muhammad 
mengalir dari bibir-bibir yang rindu,
aku bertanya kepada perjalanan manusia:

Di manakah awal,
dan di manakah akhir?

Bukankah kelahiran
adalah awal bagi kehidupan dunia,
namun sekaligus
akhir bagi kehidupan di rahim?

Kita membuka mata di dunia,
setelah menutup pintu
dari sebuah alam yang tak lagi kita ingat.

Maka awal dan akhir
ternyata bukan dua jalan yang selalu berjauhan;
kadang keduanya berdiri
di ambang pintu yang sama.

Dunia…
engkau bukan rumah terakhir.

Engkau hanyalah tempat
di mana manusia belajar datang,
belajar mencintai,
belajar kehilangan,
belajar bersujud,
dan belajar pulang.

Di sini manusia dilahirkan
untuk suatu ketika dimatikan.

Di sini ia memulai langkah,
namun setiap langkah
sesungguhnya sedang mendekatkannya
kepada sebuah akhir.

Dan anehnya,
akhir itu bukanlah ketiadaan.

Kematian bukan titik
yang menghapus cerita,
melainkan pintu
yang membuka halaman berikutnya.

Ketika manusia meninggalkan dunia,
ia tidak berhenti menjadi manusia.

Ia hanya berpindah dimensi.

Tanah menjadi tempat jasad berbaring,
kubur menjadi awal perjalanan baru,
sementara dunia
perlahan menjadi masa lalu.

Yang kita sebut akhir
ternyata menjadi awal
bagi kehidupan yang berbeda.

Maka benar:

awal dapat bertemu akhir,
akhir dapat melahirkan awal.

Seperti dua sungai
yang mengalir menuju muara,
namun tidak pernah kehilangan
arah pulangnya kepada laut.

Dalam kaidah para ulama disebut:

“Idzâ ijtama‘â iftaraqâ,
wa idzâ iftaraqâ ijtama‘â.”

Ketika keduanya bertemu,
keduanya dapat memiliki batas yang berbeda.

Ketika keduanya berpisah,
maknanya justru dapat bertemu
dalam satu hakikat.

Begitulah dunia dan akhirat.

Keduanya berbeda dimensi,
tetapi tidak terpisah
dalam perjalanan manusia.

Dunia adalah tempat persinggahan,
akhirat adalah tempat tinggal.

Dunia memiliki awal
dan memiliki akhir.

Sedangkan akhirat
memiliki awal,
tetapi tidak mengenal akhir.

Lalu untuk tinggal di akhirat,
bukankah manusia harus
meninggalkan dunia?

Dan untuk meninggalkan dunia,
bukankah manusia tidak perlu
lebih dahulu tinggal di akhirat?

Di situlah rahasia perjalanan:

kita meninggalkan sesuatu
untuk memasuki sesuatu yang lain.

Kita lahir
dengan meninggalkan rahim.

Kita mati
dengan meninggalkan dunia.

Dan kita berharap
kematian menjadi jalan
menuju kehidupan yang kekal.

Wahai Muhammad ,
engkau datang membawa cahaya
kepada manusia yang tersesat
di antara awal dan akhir.

Engkau mengajarkan
bahwa dunia bukan tujuan,
melainkan jalan.

Bahwa umur bukan sekadar angka,
melainkan amanah.

Bahwa kelahiran bukan hanya perayaan,
dan kematian bukan sekadar kehilangan.

Keduanya adalah tanda
bahwa manusia sedang berjalan
menuju Tuhannya.

Maka pada bulan Maulid ini,
kami tidak hanya mengenang kelahiranmu,
tetapi juga belajar
bagaimana seharusnya menjalani kehidupan
sebelum sampai kepada kematian.

Ya Rasulullah ,

jika dunia adalah awal
yang suatu hari menjadi akhir,
jadikanlah setiap awal kami
dipenuhi kebaikan.

Jika kematian adalah akhir
yang menjadi awal kehidupan baru,
jadikanlah akhir kami
sebagai awal menuju rahmat-Mu.

Jangan biarkan kami
terlalu mencintai tempat persinggahan
hingga melupakan rumah keabadian.

Jangan biarkan kami
sibuk menghitung panjang umur,
tetapi lupa menghitung
bekal yang akan dibawa pulang.

Sebab pada akhirnya,

yang lahir akan menuju mati,
yang datang akan pergi,
yang bertemu akan berpisah,
yang berpisah akan bertemu
pada hari yang telah dijanjikan.

Dunia berakhir,
akhirat bermula.

Jasad kembali ke tanah,
ruh menempuh perjalanan.

Awal menjadi akhir,
akhir menjadi awal.

Dan di antara keduanya,
ada kita

manusia yang sedang berjalan
perlahan,
pasti,
menuju Pulang.

Lhokseumawe, 25 Agustus 2026/12 Rabiul Awal

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir