Oleh Juni Ahyar Tujuh belas Agustus kembali mengetuk langit negeri,merah putih berkibarmenyulam sejarah yang tak pernah letih dikenang.Anak-anak berlari membawa tawa,lagu “Indonesia Raya” menggemadi antara tiang-tiang harapan. Namun,di sudut-sudut kampung yang sunyiaku mendengar pertanyaanyang tak pernah selesai dijawab. Benarkah negaraku sudah merdeka? Bukankah merdekaadalah lepas dari belenggu,berdiri di atas kaki sendiri,bebas menentukan arahtanpa takut,tanpa dipaksa,tanpa bergantung pada siapa pun? Leluhur menyebutnyamaharddhika…hidup yang bermartabat,sejahtera,kuat,dan bebas. Tetapi hari ini… Mengapa negeri yang pernah dipujikarena kekayaan perut buminya,masih menyaksikan rakyatmengantre berjam-jamdemi setetes bahan bakar? Mengapa ibu-ibumenggenggam tabung gas kosonglebih lamadaripada menggenggam senyum anaknya? Mengapa sawah yang menghijautak selalu menghadirkanberas yang ramah di kantong rakyat? Mengapa semenlahir dari tanah sendiri,tetapi rumah sederhanamasih menjadi mimpikarena harganya terus meninggi? Dan mengapa… Jalan menuju sekolahmasih berlubangseakan cita-cita anak bangsaharus tersandungsebelum sampai ke gerbang masa depan? Jembatan-jembatan rapuhmenjadi saksibahwa langkah kecil menuju ilmumasih dipertaruhkandengan keberanian. Lalu terdengar keluhanyang menggema dari pasar,dari sawah,dari pelabuhan,dari gang-gang sempit kota,dari ruang makanyang semakin sunyi. Pajak datangbertubi-tubi.Harga naiksilih berganti.Sementara harapansering kali berjalan lebih lambatdaripada kebutuhan hidup. Aku tak sedang menyalahkan negeri. Aku hanya bertanya,sebab cintaselalu lahir dari keberanianuntuk mengingatkan....
Baca Selengkapnya