Artikel · Potret Online

Menulis Budaya, Menjaga Identitas

Penulis  Juni Ahyar
Juli 11, 2026
3 menit baca 7
2f5db6be-ef33-4fb6-905b-390c8576be56
Foto / IlustrasiMenulis Budaya, Menjaga Identitas
Disunting Oleh

Oleh: Juni Ahyar,

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, budaya lokal menghadapi tantangan yang tidak ringan. Generasi muda semakin akrab dengan budaya populer global, sementara berbagai tradisi, bahasa daerah, cerita rakyat, kuliner khas, kesenian, dan nilai-nilai kearifan lokal perlahan mulai terpinggirkan. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin sebagian warisan budaya hanya akan menjadi kenangan yang tersimpan dalam ingatan para orang tua.

Dalam konteks inilah, literasi memiliki peran yang sangat penting. 

Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan gagasan ke dalam rangkaian kata, melainkan juga menjadi upaya nyata untuk mendokumentasikan dan melestarikan identitas suatu daerah. 

Budaya yang ditulis memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibandingkan budaya yang hanya diwariskan secara lisan.

Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe pada 9–10 Juli 2026 menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat gerakan literasi budaya. 

Kegiatan ini mempertemukan lebih dari 60 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pustakawan, pengelola perpustakaan, guru, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang memiliki minat dalam dunia kepenulisan.

Yang menarik, antusiasme peserta tidak hanya terlihat dari kehadiran mereka selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dari semangat untuk bertanya, berdiskusi, dan menggali berbagai teknik menulis konten budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumentasi budaya melalui tulisan mulai tumbuh dan berkembang.

Sesungguhnya, Aceh memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dari tradisi peusijuek, hikayat, didong, rapa’i, bahasa Aceh, kuliner khas, hingga nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun. Semuanya merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis untuk ditulis. 

Sayangnya, banyak di antara kekayaan tersebut yang belum terdokumentasi secara memadai. Tidak sedikit cerita, tradisi, atau pengetahuan lokal yang hilang bersama wafatnya para pelaku dan saksi sejarah.

Karena itu, menulis budaya harus dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Ketika seseorang menulis tentang sejarah kampungnya, tradisi masyarakatnya, bahasa daerahnya, atau kisah-kisah lokal yang hidup di sekitarnya, sesungguhnya ia sedang menyelamatkan memori kolektif masyarakat. Tulisan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Lebih dari itu, penulisan konten budaya lokal juga memiliki nilai strategis dalam membangun karakter generasi muda. Melalui tulisan, mereka dapat mengenal akar budayanya sendiri, memahami identitas daerahnya, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan yang dimiliki. Identitas budaya yang kuat akan menjadi benteng penting dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif yang datang dari luar.

Salah satu hal yang patut diapresiasi dari kegiatan Bimtek ini adalah adanya target luaran berupa penerbitan buku bunga rampai yang memuat tulisan-tulisan terbaik peserta. Kehadiran buku tersebut tidak hanya menjadi bukti keberhasilan program, tetapi juga menjadi arsip budaya yang dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas. 

Buku itu nantinya akan menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan, pengalaman, dan pengetahuan lokal yang lahir dari tangan-tangan penulis daerah.

Namun demikian, upaya pelestarian budaya melalui literasi tidak boleh berhenti pada satu kegiatan semata. 

Dibutuhkan kesinambungan program, pendampingan penulis pemula, ruang publikasi yang memadai, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, komunitas literasi, dan masyarakat. Dengan demikian, gerakan menulis budaya dapat tumbuh menjadi sebuah ekosistem yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, budaya tidak akan tetap hidup hanya karena sering dibicarakan. Budaya akan tetap hidup ketika dipraktikkan, diajarkan, dan dituliskan. Oleh sebab itu, setiap orang memiliki peran untuk menjadi penjaga budaya melalui cara yang sederhana namun bermakna: menulis.

Sebab, ketika budaya ditulis, ia tidak hanya tersimpan dalam lembaran kertas atau layar digital. Ia sedang diwariskan kepada generasi yang akan datang sebagai identitas, kebanggaan, dan penanda jati diri sebuah bangsa.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...