Artikel · Potret Online

Menghidupkan Ruh Literasi dari Sudut Komunitas: Refleksi dari Rakor PNFI Kemendikdasmen 2026

Penulis Nita Juniarti
Juli 31, 2026
3 menit baca 3
7b9f6909-91a7-495f-acc3-bd10f36c62ca
Foto / IlustrasiMenghidupkan Ruh Literasi dari Sudut Komunitas: Refleksi dari Rakor PNFI Kemendikdasmen 2026
Disunting Oleh

Oleh: Nita Juniarti

(Pendiri TBM Sigupai Mambaco, Aceh Barat Daya)

Ketika berbicara mengenai masa depan pendidikan di Indonesia, sering kali kita hanya tertuju pada dinding-dinding kelas formal, kurikulum nasional, atau megahnya gedung sekolah. Padahal, di luar benteng sekolah formal, ada pendidikan yang tidak kalah vital: Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI).

Di sinilah Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) mengambil peran—bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama yang merawat  belajar masyarakat di akar rumput.

Kesempatan untuk tampil sebagai pemakalah praktik baik dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Tata Kelola Satuan Pendidikan Nonformal Tahun 2026 di Banda Aceh (30 Juli–1 Agustus 2026) menjadi momen refleksi yang mendalam bagi saya. Dari 145 karya yang masuk hingga tersaring menjadi 16 gagasan terpilih secara nasional, ada satu pesan yang ingin saya sampaikan bagaimana sigupai mambaco hadir sebagai wadah belajar sepanjang hayat, menjadi pusat kegiatan literasi dan kecakapan hidup yang saling mendukung dengan sekolah formal.

Tiga Pilar Transformasi: Tata Kelola, Partisipasi, dan Kinerja

Mengusung tema utama “Tata Kelola, Partisipasi, dan Kinerja”, Rakor PNFI 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat PNFI Kemendikdasmen ini secara tepat menyasar tiga akar tantangan pendidikan nonformal hari ini:

Sinergi Kebijakan dan Persepsi: Pendidikan nonformal tidak boleh lagi dipandang sebagai “pendidikan kelas dua”. Harus ada keselarasan langkah antara pemerintah pusat, daerah, dan penggerak di lapangan agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar mendarat di tengah masyarakat.

Transformasi Mutu Layanan: Penguatan akuntabilitas—termasuk melalui pengoptimalan instrumen BOP Kesetaraan Kinerja—merupakan kunci agar satuan pendidikan nonformal seperti PKBM dan SKB dapat memberikan layanan berkelanjutan yang bermutu tinggi dan tepercaya.

Perluasan Akses Edukasi: Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), pemberantasan buta aksara, hingga pemberdayaan ekonomi komunitas rawan membutuhkan pendekatan yang fleksibel, humanis, dan relevan dengan konteks lokal.

Pengalaman Sigupai Mambaco: 

Membumikan Literasi Melalui Semesta Komunitas

Sejak mendirikan TBM Sigupai Mambaco pada tahun 2018, kami menyadari bahwa menyodorkan buku saja tidak pernah cukup untuk menumbuhkan minat baca. Anak-anak dan keluarga membutuhkan pengalaman membaca yang menyenangkan dan bermakna. 

Pengalaman Inilah yang kami tuangkan dalam konsep partisipasi semesta dan penguatan keluarga:

Menjemput Bola lewat Lapak Buku Keliling: Membawa buku ke ruang-ruang publik, taman, gampong, dan menjadikan akses terhadap buku tidak lagi menjadi barang mewah.

Membangun Ikatan lewat Read Aloud & Bookish Play: Menggunakan teknik membaca nyaring yang dipadukan dengan aktivitas bermain berbasis buku untuk merangsang imajinasi, memperkuat bahasa, dan merekatkan hubungan emosional anak dengan orang tua.

Merawat Akar Budaya & Lingkungan: Menyisipkan nilai-nilai cerita serta bahasa lokal agar anak tidak asing dengan identitasnya, serta memadukannya dengan literasi ekologi—seperti edukasi pemanfaatan limbah dan ecobrick—untuk membentuk kecakapan hidup (life skills) sejak dini. 

Selain itu, penguatan untuk perempuan seperti kelas karya merajut, mengukir sabun, membuat buket, membuat sabun cuci piring dan hal lainnya sebagai salah satu upaya mengisi pendidikan non formal.

Menatap Masa Depan Literasi Aceh

Pendidikan nonformal adalah ruang di mana inklusivitas dan kreativitas menemukan bentuk terbaiknya. Melalui konsolidasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PKBM, SKB, dan komunitas TBM, kita sedang merajut jalan baru untuk menyelesaikan persoalan literasi dan pendidikan secara fundamental.

Sinergi yang terbangun dalam Rakor PNFI 2026 ini harus menjadi momentum awal, bukan titik akhir. Ketika tata kelola yang akuntabel bertaut erat dengan partisipasi aktif masyarakat, kita tidak hanya sedang menurunkan angka Anak Tidak Sekolah atau menuntaskan buta aksara. 

Lebih dari itu, kita sedang membangun sebuah ekosistem belajar yang berdampak, berkarakter, dan berkelanjutan bagi seluruh anak bangsa—khususnya di bumi Aceh.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Nita Juniarti
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...