Artikel · Potret Online

Wajah Pelaksanaan Maulid Nabi di Aceh

8 menit baca 8
d7099754-034c-4453-a4d5-18171d1e1204
Foto / IlustrasiWajah Pelaksanaan Maulid Nabi di Aceh

*Oleh: Kaipal Wahyudi*

Memasuki bulan Rabiul Awal, suasana Maulid Nabi mulai terasa di berbagai penjuru Aceh. Masjid dan meunasah kembali ramai, dapur-dapur warga mulai sibuk, para pemuda menyiapkan tempat, sementara kaum ibu mempersiapkan hidangan untuk para tamu. 

Di sejumlah tempat terdengar selawat, zikir, meudikee dan ceramah tentang Rasulullah SAW. Di Aceh, Maulid bukan sekadar peringatan yang berlangsung pada satu hari. Ia hidup dalam rangkaian kegiatan keagamaan, sosial dan kebudayaan yang berlangsung dari satu gampong ke gampong lainnya.

Bagi masyarakat Aceh, Maulid Nabi atau Molod dan Khanduri Maulod telah menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama. Peringatan kelahiran Rasulullah SAW menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Nabi sekaligus mempertemukan masyarakat dalam suasana silaturahmi. 

Karena itu, ketika Maulid berlangsung, yang terlibat bukan hanya masjid dan meunasah, tetapi juga keluarga, gampong, dayah, santri, alumni, pemuda, kelompok masyarakat, lembaga pendidikan hingga berbagai institusi pemerintahan.

Salah satu kekhasan Maulid di Aceh adalah panjangnya rangkaian pelaksanaan. Dalam tradisi masyarakat dikenal Meulod Awai pada Rabiul Awal, Meulod Teungoh pada Rabiul Akhir dan Meulod Akhe atau Keuneulheuh pada Jumadil Awal. Karena pelaksanaannya berlangsung secara bergiliran, suasana Maulid dapat terasa hingga sekitar tiga bulan. Ketika satu gampong menjadi tuan rumah, masyarakat dari gampong lain datang memenuhi undangan. Pada kesempatan berikutnya, mereka yang sebelumnya menjadi tamu kembali menerima masyarakat dari kampung lain.

Pola tersebut menjadikan Maulid seperti kalender sosial masyarakat Aceh. Orang-orang yang sehari-hari sibuk bekerja mendapatkan ruang untuk kembali bertemu. Keluarga yang berada di luar daerah pun memiliki kesempatan untuk woe u gampong, pulang ke kampung halaman, bertemu orang tua, saudara dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, Maulid tidak hanya memperingati sebuah peristiwa keagamaan, tetapi juga menciptakan ruang perjumpaan antarmanusia.

Jika melihat perjalanan sejarahnya, Maulid Aceh memiliki hubungan yang panjang dengan perkembangan Islam dan perjalanan Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam proses perkembangannya, tradisi ini menyatu dengan kehidupan masyarakat. 

Ajaran Islam hadir bersama adat, bahasa, makanan, kesenian, kehidupan gampong dan berbagai bentuk kebersamaan. Dari proses panjang tersebut lahirlah karakter Maulid Aceh yang dikenal hingga sekarang melalui berbagai bentuk Khanduri Maulod.

Dalam sejumlah catatan sejarah Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah dikaitkan dengan surat atau wasiat bertanggal 12 Rabiul Awal 913 Hijriah yang bertepatan dengan 23 Juli 1507. Catatan tersebut memperlihatkan hubungan Maulid dengan semangat mempererat hubungan antarkampung. 

Nilai kebersamaan itu kemudian terus hidup dalam masyarakat Aceh dan berkembang menjadi bagian dari tradisi yang mempertemukan agama, adat, silaturahmi, gotong royong serta penghormatan kepada tamu.

Salah satu tempat yang memperlihatkan kuatnya tradisi Maulid dalam lingkungan pendidikan Islam adalah Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Dayah yang didirikan oleh Abuya Syeikh Haji Muhammad Waly Al-Khalidy atau Abuya Muda Waly tersebut memiliki kedudukan penting dalam perkembangan pendidikan Islam tradisional di Aceh. 

Dalam suasana Maulid, hubungan antara ulama, santri, alumni dan masyarakat terasa sangat kuat. Zikir, selawat, pembacaan kitab, tausiyah dan kenduri menjadi bagian dari peringatan yang sarat dengan nuansa keislaman tradisional.

Tradisi serupa juga terlihat di LPI Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen. Ribuan santri, dewan guru, alumni dan masyarakat dapat terlibat dalam rangkaian peringatan. Lantunan zikir dan selawat, pembacaan Dala’il Khairat, tausiyah serta kenduri menjadi bagian dari suasana tersebut. Tim hadrah dan kelompok zikir memperlihatkan bagaimana seni dan tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan dalam memperkuat syiar Islam.

Di lingkungan dayah, santri tidak hanya hadir sebagai peserta. Mereka ikut menjadi bagian dari proses pelaksanaan, mulai dari mempersiapkan kegiatan, mengikuti zikir dan selawat, menerima tamu hingga membangun kebersamaan. Para alumni yang datang dari berbagai daerah juga menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk kembali ke almamater, bertemu guru dan mempererat hubungan sesama alumni.

Nuansa berbeda dapat dilihat di Masjid Tgk. Di Anjong, Gampong Peulanggahan, Banda Aceh. Penulis sendiri setiap malam Jumat hadir di masjid tersebut dan menyaksikan bagaimana tradisi keagamaan terus hidup di tengah masyarakat. Bahkan jauh sebelum memasuki 1 Rabiul Awal, kegiatan keagamaan telah berlangsung melalui ratib dan selawat yang dibimbing Majelis An-Anur bersama Al-Habib Abdul Haris Bin Sholeh Alaydrus 

Memasuki bulan Maulid, suasananya semakin terasa. Pada sore dan malam hari, rangkaian kegiatan mulai berlangsung dan kemudian berlanjut selama puluhan hari. Di tempat ini dikenal pula Maulid Arba’in, yakni rangkaian Maulid selama 40 hari, yang dapat berkembang hingga sekitar 100 hari secara berturut-turut sesuai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan. Kehadiran Al-Habib Abdul Haris Bin Sholeh Alaydrus menjadi bagian penting dalam membimbing kegiatan tersebut. Dalam beberapa kesempatan, hadir pula para habib dari Yaman, Malaysia dan berbagai daerah di Indonesia.

Kehadiran ulama dan habib memberikan warna tersendiri bagi kegiatan di Masjid Tgk. Di Anjong. Selawat, ratib, zikir, tausiyah dan pembacaan Maulid berlangsung dalam suasana khidmat. Masjid yang memiliki sejarah panjang itu menjadi ruang pertemuan antara tradisi keislaman, sejarah ulama dan kehidupan masyarakat Banda Aceh.

Di tingkat gampong, meunasah menjadi salah satu pusat pelaksanaan. Masyarakat berkumpul untuk berdoa, membaca selawat, mengikuti meudikee atau dikee Molod, mendengarkan ceramah dan menikmati hidangan bersama. Di sejumlah daerah, zikir dilakukan dengan gerakan tubuh secara serempak. Untuk menjaga kekompakan tersebut dibutuhkan hafalan, latihan, penguasaan irama dan kebersamaan. Karena itu, meudikee sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan meneruskan warisan keagamaan serta budaya masyarakat.

Masjid memiliki jangkauan yang lebih luas. Beberapa gampong dapat berkumpul dalam satu peringatan dengan menghadirkan ulama, penceramah, kelompok zikir dan masyarakat dari berbagai kalangan. Di rumah, kegiatan dapat berlangsung lebih sederhana melalui doa bersama, selawat, kenduri dan jamuan keluarga. Sementara di lingkungan pemerintahan dan lembaga pendidikan, peringatan dapat diisi dengan ceramah, doa bersama, selawat, santunan dan kegiatan sosial.

Wajah Maulid juga sangat terlihat dari dapur masyarakat. Idang meulapeh, bue kulah dan kuah beulangong bukan sekadar makanan yang disajikan kepada tamu. Di baliknya terdapat kerja bersama. Ada yang membeli bahan, memotong daging, menyiapkan rempah, memasak, menata hidangan, membawa makanan ke tempat acara dan membersihkan kembali lokasi setelah kegiatan selesai. Semua pekerjaan tersebut memperlihatkan kuatnya gotong royong.

Kuah beulangong dengan kuali besar menjadi salah satu simbol kebersamaan masyarakat Aceh. Demikian pula idang meulapeh yang memperlihatkan semangat pemulia jamee, yaitu memuliakan tamu. Hidangan yang disiapkan dengan penuh perhatian menjadi bentuk penghormatan sekaligus wujud berbagi kepada sesama.

Pelaksanaan Maulid memiliki warna berbeda di setiap wilayah. Pidie dan Pidie Jaya dikenal dengan tradisi idang meulapeh, bue kulah dan dikee. Aceh Besar memiliki tradisi kuah beulangong yang di masak secara bersama-sama. Aceh Utara dan Lhokseumawe memperlihatkan perpaduan kenduri, selawat, dakwah dan kegiatan sosial, sementara Aceh Timur dan Langsa memiliki warna masyarakat pesisir timur.

Di Aceh Barat dan Nagan Raya, kreativitas masyarakat dapat terlihat dalam berbagai bentuk hiasan balai maupun hidangan yang mengambil bentuk perahu, pesawat, masjid, ikan dan berbagai simbol kehidupan. Aceh Selatan memiliki karakter pesisir yang kuat, dengan tradisi zikir dalam formasi melingkar serta hidangan buah dan nasi yang ditata indah, menawan, unik dan menarik. Sementara itu, Simeulue menghadirkan warna masyarakat kepulauan. Di dataran tinggi, Aceh Tengah dan Bener Meriah membawa kekayaan budaya Gayo melalui bahasa, makanan dan kebiasaan masyarakat. Masam jing atau masam gengeng serta gutel dapat hadir dalam kegiatan sosial masyarakat.

Gayo Lues memiliki karakter hubungan antarkampung yang kuat. Aceh Tenggara memperlihatkan perjumpaan tradisi Islam dengan budaya Alas. Sementara Aceh Tamiang menghadirkan warna Melayu melalui bahasa, makanan, tata pergaulan dan cara menerima tamu. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Maulid Aceh tidak memiliki satu bentuk tunggal. Cara masyarakat mengekspresikannya dapat berbeda sesuai dengan lingkungan dan budaya setempat, tetapi semuanya bertemu dalam kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Di balik keragaman tersebut terdapat nilai yang sama: silaturahmi, sedekah, gotong royong, kepedulian dan penghormatan kepada sesama. Pelaksanaan Maulid juga ikut menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat. Beras, daging, rempah-rempah, sayuran dan berbagai kebutuhan kenduri dibeli dari pedagang. Petani, peternak, pedagang kecil, pelaku kuliner dan usaha rumah tangga ikut merasakan perputaran ekonomi dari kegiatan masyarakat tersebut.

Karena itu, kemeriahan Maulid tidak harus diukur dari besar kecilnya kenduri atau banyaknya hidangan. Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat menjaga semangat berbagi sesuai kemampuan. Tradisi akan terasa lebih bermakna ketika tidak hanya menghadirkan makanan, tetapi juga kepedulian kepada anak yatim, masyarakat kurang mampu dan mereka yang membutuhkan.

Pada akhirnya, wajah Maulid Nabi di Aceh adalah wajah masyarakat yang menjaga agama sekaligus merawat kebudayaan. Ia hadir di dayah melalui zikir dan pengajian, di masjid melalui selawat dan tausiyah, di meunasah melalui meudikee dan kenduri, serta di rumah melalui doa dan kebersamaan keluarga. Ia hidup dalam perjumpaan ulama, santri, alumni, habaib, pemuda dan masyarakat dari berbagai daerah.

Maulid bukan hanya tentang ramainya masjid, besarnya kuali atau banyaknya tamu. Nilai terpentingnya terlihat ketika kecintaan kepada Rasulullah SAW mampu diterjemahkan menjadi akhlak, persaudaraan, kepedulian dan kebiasaan berbagi. Selawat yang dilantunkan hendaknya semakin mendekatkan manusia kepada keteladanan Nabi. Kebersamaan yang tumbuh di dapur kenduri hendaknya terus hidup setelah acara selesai.

Itulah wajah pelaksanaan Maulid Nabi di Aceh. Sebuah tradisi keagamaan yang berkembang dalam perjalanan sejarah, hidup bersama adat dan kebudayaan, serta terus menemukan bentuknya di tengah masyarakat. Dari Labuhan Haji, Samalanga, Peulanggahan hingga berbagai pelosok Aceh, Maulid memperlihatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat hadir bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui ilmu, selawat, silaturahmi, gotong royong, sedekah dan pemuliaan terhadap sesama.

Selama nilai-nilai tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya, Khanduri Maulod akan tetap menjadi salah satu wajah penting kehidupan keislaman dan kebudayaan masyarakat Aceh.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...