Artikel · Potret Online

Eksistensi Manusia dalam Mencari Jati Diri di Zaman AI dalam Perspektif Agama

7 menit baca 87
4ef0010e-674f-4d8e-a722-d78490fe7813
Foto / IlustrasiEksistensi Manusia dalam Mencari Jati Diri di Zaman AI dalam Perspektif Agama

Oleh : Kaipal Wahyudi

Coba kita jujur sejenak. Hari ini mesin sudah bisa menulis, menerjemahkan, menghitung, membuat gambar, menganalisis data, bahkan menjawab pertanyaan tentang agama. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat selesai dalam hitungan detik melalui Artificial Intelligence (AI). Lalu, ketika kemampuan mesin semakin menyerupai kemampuan manusia, pertanyaannya menjadi lebih mendasar: apa yang sebenarnya masih menjadi milik manusia?

Ini bukan sekadar persoalan teknologi. Di balik perkembangan AI terdapat pertanyaan tentang manusia itu sendiri: siapa kita, untuk apa kita hidup, dan apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia ketika sebagian kemampuan berpikirnya dapat dilakukan oleh mesin.

AI memang sangat cepat mengolah informasi. Namun, kemampuan mengolah data tidak otomatis melahirkan kesadaran, iman, tanggung jawab moral, dan pengalaman spiritual. Karena itu, persoalan terbesar di zaman AI bukan semata-mata siapa yang lebih pintar, manusia atau mesin. Persoalan yang lebih penting adalah apakah manusia masih mampu mengenali dirinya sendiri.

Dalam Islam, manusia sejak awal ditempatkan sebagai makhluk yang memiliki pengetahuan sekaligus amanah. Surah Al-Baqarah ayat 31 menggambarkan bagaimana Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama benda. Sementara Surah Al-Hijr ayat 29 menyebut tentang ruh. Manusia dengan demikian bukan hanya tubuh dan otak yang berpikir. Ada akal, qalbu, ruh, kehendak, pengalaman, hubungan sosial, sejarah, serta kesadaran bahwa kehidupan memiliki akhir.

Di sinilah letak perbedaan mendasar manusia dengan mesin. Mesin dapat mengolah informasi, menemukan pola, dan menghasilkan jawaban. Manusia mampu bertanya tentang makna dari semua itu. Manusia juga memiliki hubungan dengan Tuhan dan tanggung jawab terhadap sesama.

Kehadiran Nabi Muhammad SAW semakin menegaskan bahwa kesempurnaan manusia tidak hanya terletak pada ilmu, tetapi juga akhlak. Dalam Islam, manusia adalah hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Sebagai hamba, manusia memiliki hubungan vertikal dengan Allah. Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab terhadap sesama, alam, dan kehidupan. Karena itu, teknologi tidak harus dipertentangkan dengan agama. Teknologi dapat menjadi sarana kemaslahatan apabila diarahkan oleh nilai moral dan spiritual.

Perkembangan AI sendiri berlangsung sangat cepat. Pada 1950, Alan Turing mengajukan pertanyaan tentang kemungkinan mesin berpikir. Konferensi Dartmouth pada 1956 menjadi salah satu tonggak penting perkembangan artificial intelligence. Setelah itu muncul machine learning, neural network, big data, deep learning hingga large language model. Kehadiran ChatGPT pada akhir 2022 membuat AI semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

AI tidak lagi hanya berada di laboratorium. Ia sudah masuk ke sekolah, kantor, media sosial, rumah, bahkan ruang keagamaan. Orang mulai menggunakan AI untuk mencari dalil, memahami hukum, membaca tafsir, bahkan bertanya tentang persoalan batin. Berbagai eksperimen chatbot keagamaan, seperti GitaGPT, menunjukkan bahwa teknologi juga mulai digunakan dalam pencarian pengetahuan agama.

Tentu ada manfaatnya. AI dapat membantu mencari literatur, menemukan informasi, membandingkan pendapat, dan mengolah data. Tetapi ada batas yang perlu dijaga. Dalam tradisi keilmuan Islam, pengetahuan agama tidak hanya berupa informasi. Ada guru, sanad, adab, pengalaman, pemahaman konteks, dan tanggung jawab moral. AI tidak memiliki semua itu. Karena itu, AI dapat menjadi wasilah untuk membantu belajar agama, tetapi tidak semestinya menggantikan ulama, guru, mufti, atau pembimbing spiritual.

Persoalan yang lebih mengkhawatirkan justru ketika manusia mulai hidup dengan logika mesin. Kita semakin mudah mendapatkan jawaban, tetapi semakin kurang sabar mencari pemahaman. Kita semakin terhubung secara digital, tetapi belum tentu semakin dekat secara manusiawi. Kita bisa meminta mesin menulis dalam hitungan detik, tetapi proses membaca, berpikir, merenung, dan bergulat dengan gagasan dapat semakin ditinggalkan.

Fenomena AI companion juga memperlihatkan perubahan hubungan manusia dengan teknologi. AI dalam kondisi tertentu dapat membantu seseorang merasa ditemani dan mengurangi kesepian. Namun, hubungan dengan mesin tidak sama dengan hubungan antarmanusia. Hubungan manusia memiliki timbal balik, tanggung jawab, konflik, pengampunan, pengorbanan, dan proses pertumbuhan moral. Respons AI yang terdengar empatik tidak berarti mesin benar-benar mengalami empati seperti manusia.

Karena itu, manusia perlu berhati-hati agar tidak memberikan otoritas berlebihan kepada teknologi. AI bukan Tuhan, bukan sumber wahyu, dan bukan otoritas spiritual yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil kreativitas manusia. Tempatnya sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusia.

Pemikiran Imam Al-Ghazali relevan dalam persoalan ini. Hakikat manusia tidak berhenti pada tubuh dan kecerdasan, tetapi juga qalbu dan dimensi ruhani. Manusia membutuhkan tazkiyatun nafs, mujahadah, dan kedekatan kepada Allah. Mesin dapat menjelaskan tentang taubat dan sabar, tetapi tidak menjalani taubat dan kesabaran itu sendiri.

Muhammad Iqbal melalui gagasan khudi juga mengingatkan pentingnya kedirian manusia yang kuat, kreatif, dan bertanggung jawab. Manusia jangan sampai kehilangan dirinya karena terlalu bergantung kepada teknologi yang diciptakannya sendiri. Ibnu Khaldun pun mengingatkan bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh kecanggihan alat, tetapi juga oleh kekuatan hubungan sosial. Jika teknologi membuat manusia semakin pasif dan terpisah dari masyarakat, kemajuan teknis dapat berjalan bersamaan dengan kemunduran sosial.

Dalam kehidupan beragama, umat membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai tabayyun digital. Jawaban AI tidak boleh diterima hanya karena bahasanya rapi dan meyakinkan. Sumbernya perlu diperiksa, dalilnya dibandingkan, dan persoalan agama yang membutuhkan keputusan hukum harus dikonsultasikan kepada ulama yang kompeten. Prinsip maqashid asy-syariah juga dapat menjadi pijakan agar teknologi menjaga agama, jiwa, akal, dan martabat manusia.

Karena itu, manusia membutuhkan literasi digital sekaligus literasi spiritual. Literasi digital membuat kita memahami kemampuan dan keterbatasan AI. Literasi spiritual membuat kita mampu bertanya bukan hanya apakah sesuatu bisa dilakukan, tetapi apakah sesuatu itu baik, benar, dan membawa kemaslahatan. Prinsip serupa juga dapat ditemukan dalam berbagai tradisi agama yang sama-sama menempatkan martabat manusia dan tanggung jawab moral sebagai sesuatu yang tidak boleh hilang di tengah kemajuan teknologi.
Jika AI mampu menghemat waktu, jangan seluruh waktu itu dikembalikan kepada layar. Sebagian harus kembali kepada keluarga, masyarakat, ibadah, membaca, berdzikir, berdialog, membantu sesama, dan merenungkan kehidupan.

Pada akhirnya, pencarian jati diri manusia di zaman AI bukanlah perlombaan untuk membuktikan bahwa manusia harus selalu lebih pintar daripada mesin. Mesin memang unggul dalam menghitung, mengolah data, dan menemukan pola. Manusia memiliki wilayah yang lebih dalam: iman, kebijaksanaan, akhlak, cinta, tanggung jawab, pertobatan, pengorbanan, doa, harapan, dan kesadaran akan kematian.

AI dapat membantu menjawab banyak pertanyaan tentang dunia. Tetapi pertanyaan seperti siapa diri saya, mengapa saya hidup, untuk apa saya berbuat baik, dan kepada siapa saya akan kembali tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada algoritma. Jawabannya harus ditemukan melalui ilmu, pengalaman, hubungan dengan sesama, perjalanan hidup, dan kedekatan kepada Tuhan.

Manusia tidak kehilangan jati dirinya hanya karena AI semakin cerdas. Manusia kehilangan jati diri ketika mulai mengukur nilai dirinya hanya berdasarkan kecepatan, produktivitas, efisiensi, dan kemampuan bersaing. Pada saat itulah manusia mulai hidup dengan logika mesin.

Manusia harus kembali sadar bahwa dirinya adalah hamba sekaligus khalifah. Ia memiliki akal, tetapi juga qalbu. Ia mampu menciptakan teknologi, tetapi tetap bergantung kepada Sang Pencipta. AI boleh digunakan, tetapi tidak boleh mengambil alih seluruh keputusan hidup manusia.

Tantangan terbesar zaman AI bukan mempertahankan manusia agar selalu lebih pintar daripada mesin, melainkan mempertahankan kemanusiaannya. Ruhaniyyah harus tetap hidup, khudi harus tetap kuat, qalbu harus tetap terjaga, akal harus tetap kritis, dan moralitas harus tetap menjadi arah penggunaan teknologi.

AI boleh membantu manusia menemukan banyak jawaban. Tetapi manusia tetap harus menemukan jawaban yang paling penting: siapa dirinya, kepada siapa ia bertanggung jawab, dan untuk apa ia hidup. Di sanalah jati diri manusia tetap menemukan tempatnya, bukan pada seberapa cepat ia mampu berpikir seperti mesin, tetapi pada seberapa dalam ia mampu menjadi manusia yang sadar, beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Penulis aktif di media PotretOnline.com, Serambinews.com, Komparatif.com, AcehTrend.com, dan berbagai media lainnya, dengan rekam jejak akademik lebih dari 150 artikel opini dan lebih dari 10 artikel jurnal.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...