Lisbon Pukul Tujuh Lewat Sembilan

Oleh Dikdik Sadikin
02 September 2026
5 menit baca
d20a83c2-f65c-4f92-b5a7-17378754842b
Lisbon Pukul Tujuh Lewat Sembilan

Cerpen

Oleh Dikdik Sadikin

LISBON pada akhir Oktober berbau kopi, batu basah, dan laut yang tak terlihat.

  Hujan baru saja berhenti ketika Arman keluar dari Livraria Bertrand di Rua Garrett. Di bawah lampu-lampu kuning Chiado, trotoar batu kapur mengilat seperti sisik ikan. Orang-orang berjalan cepat dengan mantel setengah basah. Dari sebuah kafe terdengar denting sendok membentur cangkir, disusul tawa dua perempuan tua yang duduk menghadap jalan.

  Arman berdiri di bawah awning toko buku.

  Lalu ia melihat perempuan itu.

  Di seberang jalan, di halte trem nomor 28, Laras berdiri dengan payung merah tua.

  Dua puluh tiga tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang lupa pada wajah. Tetapi rupanya tidak cukup panjang untuk membuat tubuh lupa pada cara seseorang berdiri.

  Laras masih sedikit memiringkan kepala ketika membaca sesuatu.

  Dulu, kebiasaan itu membuat rambutnya jatuh menutupi pipi kiri. Sekarang rambutnya pendek dan sebagian telah memutih.

  Arman menyeberang.

  Sebuah trem kuning melintas sambil berderit pada rel. Bel kecilnya berbunyi nyaring.

  _Ting-ting._

  Laras mengangkat wajah.

  Mereka saling memandang.

  Tak ada musik. Tak ada hujan yang tiba-tiba turun lebih deras seperti dalam film.

  Hanya seorang pelayan dari Café A Brasileira yang sedang menyusun kursi, seorang lelaki berjaket hijau menyeret koper, dan burung-burung merpati yang mematuki remah pastel de nata di dekat patung Fernando Pessoa.

  “Arman?”

  Suara itu ternyata tidak banyak berubah.

  Arman tersenyum.

  “Masih suka menunggu kendaraan yang belum tentu datang?”

  Laras tertawa kecil.

  Dan dua puluh tiga tahun runtuh begitu saja.



  ***

MEREKA masuk ke sebuah kafe kecil di Rua do Loreto.

  Kafe itu sempit. Enam meja kayu, rak berisi botol anggur, dan mesin espresso tua yang mendesis setiap beberapa menit. Dari dapur tercium kayu manis dan mentega panas. Seorang lelaki tua membaca Diário de Notícias di dekat jendela.

  Mereka memilih meja paling belakang.

  “Sendiri?” tanya Laras.

  “Konferensi. Besok pulang.”

  “Maksudku hidupmu.”

  Arman terdiam.

  Di luar, ban mobil menggilas genangan.

  “Sendiri,” katanya.

  Laras mengaduk kopi.

  Cincin tipis melingkar di jari manisnya.

  Arman melihatnya, kemudian buru-buru memandang ke jendela.

  “Suamimu?”

  “Meninggal tiga tahun lalu.”

  “Maaf.”

  “Jangan.”

  Laras tersenyum. “Dia orang baik.”

  Ada kalimat-kalimat yang terdengar sederhana tetapi menutup begitu banyak pintu.

  Arman mengangguk.

DUA PULUH TIGA tahun lalu, justru Laras yang menunggunya.

  Di Stasiun Gambir.

  Arman seharusnya datang pukul tujuh malam sebelum Laras berangkat ke Yogyakarta. Mereka bertengkar sehari sebelumnya. Persoalannya sepele: Arman mendapat beasiswa ke Melbourne dan baru memberitahukannya setelah semuanya hampir pasti.

  “Aku bukan marah karena kamu pergi,” kata Laras waktu itu.

  “Lalu?”

  “Aku marah karena dalam semua rencanamu, aku selalu menjadi orang terakhir yang diberi tahu.”

  Arman berjanji datang ke Gambir.

  Ia tidak datang.

  Bukan karena tak ingin.

  Ayahnya terkena serangan jantung sore itu. Dalam kekacauan rumah sakit, telepon genggamnya kehabisan baterai. Ketika akhirnya ia tiba di Gambir, kereta telah pergi dua jam sebelumnya.

  Sesudah itu ada surat.

  Ada telepon yang tak terjawab.

  Ada harga diri.

  Lalu waktu mengambil alih pekerjaan manusia: menjauhkan.

  “Aku datang malam itu,” kata Arman.

  Laras berhenti mengaduk kopi.

  “Aku tahu.”

  Arman menatapnya.

  “Tahu?”

  “Ibumu meneleponku dua hari kemudian.”

  Suara mesin espresso mendesis panjang.

  Arman merasa sesuatu bergerak di dadanya, seperti pintu tua yang dibuka setelah puluhan tahun.

  “Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

  Laras tersenyum tipis.

  “Karena waktu itu aku sudah memutuskan sesuatu.”

  “Apa?”

  “Bahwa cinta yang harus selalu dijelaskan mungkin sudah terlalu lelah.”

MEREKA berjalan setelah matahari turun.

  Dari Chiado mereka menuruni Rua do Alecrim menuju Cais do Sodré. Udara semakin dingin. Bau Sungai Tagus datang bersama angin asin.

  Lisbon menyala perlahan.

  Jendela toko memantulkan cahaya trem. Dari sebuah tasca terdengar suara fado, perempuan menyanyi dengan suara serak, ditemani petikan guitarra portuguesa.

  Mereka berhenti di Praça do Comércio.

  Lapangan itu terbuka menghadap sungai. Patung Raja José I berdiri gelap di tengah cahaya senja. Di kejauhan, Ponte 25 de Abril tampak seperti garis merah yang menggantung di udara.

  Laras merapatkan syalnya.

  “Besok jam berapa?”

  “Pesawatku jam sebelas.”

  “Sayang sekali.”

  Dua kata itu membuat Arman menoleh.

  Laras sedang melihat sungai.

  “Kalau aku tidak pulang besok?”

  Laras tertawa.

  “Kamu selalu begini.”

  “Bagaimana?”

  “Mengira hidup bisa diperbaiki dengan mengubah jadwal.”

  Arman ikut tertawa, tetapi kemudian mereka sama-sama diam.

  Seorang pemain akordeon memainkan lagu yang tidak mereka kenal. Anak kecil berlari mengejar gelembung sabun. Sebuah kapal feri bergerak perlahan menuju Almada, meninggalkan garis putih di permukaan air.

  “Laras.”

  “Ya?”

  “Aku dulu mencintaimu.”

  “Aku tahu.”

  “Barangkali masih.”

  Laras tidak menjawab.

  Angin meniup rambut putih di pelipisnya.

  Lalu ia berkata, “Aku juga pernah berpikir begitu.”

  “Pernah?”

  “Kadang kita tidak merindukan seseorang, Man.”

  Ia menatap Arman.

  “Kita merindukan diri kita sendiri ketika masih bersama orang itu.”

  Kalimat itu jatuh pelan.

  Tetapi Arman merasa seluruh Lisbon mendadak sunyi.

MEREKA berpisah di halte trem dekat Rua da Conceição.

  Trem nomor 28 datang dari tikungan dengan bunyi gemeretak besi.

  _Ting-ting._

  Pintunya terbuka.

  Laras naik, lalu berdiri di dekat jendela.

  Arman tetap di trotoar.

  “Kita akan bertemu lagi?” tanyanya.

  Laras tersenyum dari balik kaca.

  “Mungkin.”

  Pintu menutup.

  Trem bergerak perlahan menaiki jalan.

  Arman melihat payung merah Laras tergantung di lengannya, kemudian wajahnya lenyap di antara penumpang.

  Baru ketika trem menjadi titik kuning di ujung tikungan, Arman menyadari sesuatu.

  Ia tidak meminta nomor telepon Laras.

  Dan Laras tidak juga memberikannya walau tanpa diminta.

  Anehnya, kali ini ia tidak berlari mengejar.

  Ia berjalan menuju hotel melewati toko-toko yang mulai menutup. Bau roti hangat keluar dari sebuah pastelaria. Seorang pemuda menyemprot trotoar di depan restoran. Dari jendela lantai tiga seseorang memainkan piano dengan nada-nada yang salah.

  Di persimpangan Rua Augusta, hujan turun lagi.

  Arman tidak membuka payung.

  Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tiga tahun, ia mengerti bahwa beberapa cinta tidak kembali untuk meminta kehidupan kedua.

  Mereka kembali hanya untuk mengetuk sebuah pintu yang lama terkunci, masuk sebentar, membuka jendela, lalu pergi.

  Supaya udara bisa berganti.

  Di kejauhan, dari jalan yang menanjak menuju Alfama, terdengar bel trem nomor 28.

  _Ting-ting._

  Arman berhenti.

  Ia menoleh, meskipun tahu Laras sudah tidak ada di sana.

  Kemudian ia tersenyum.

  Dan melanjutkan perjalanan.


                                           *Bogor, 30 Agustus 2026*
Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Dikdik Sadikin
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Baca juga

F X W