Oleh Anies Septivirawan
Pukul tiga sore selalu punya cara sendiri untuk melambat.
Angin dari sawah masuk ke warung kopi di pinggir jalan, menggiring sedikit debu di punggung meja dan kursi. Kursi kayu tempat baru saja aku menghempaskan pantat, dan menyapu pandanganku di bibir cangkir kopi yang kupesan.
Aku diam. Menatap jalan. Suara mesin kendaraan jurusan Surabaya – yang melintas kecamatan Besuki bising. Namun suara kebisingan itu terhempas oleh suara lirih seorang bocah yang memecahkan lamunanku. Ia bocah perempuan bersama adik perempuannya, memegang keranjang anyaman bambu berisi permen jahe.
Bajunya kebesaran, ujung celananya sudah lusuh kena debu. Di pangkuannya, permen jahe terbungkus kertas minyak, rapi seperti harapan – harapannya yang ditata satu-satu.
”Beli permen jahe, ya om. Buat beli buku sekolah, om,”
Suaranya tidak lantang. Tenggelam oleh suara motor, klakson mobil dan denting sendok di gelas.
Aku mengangguk.
”Berapa, Nak?”
”Sepuluh ribu, om. Kalau anget, diminum sama kopi enak.”
Dia tersenyum seraya memberikan dua bungkus kecil permen jahe kepadaku. Giginya tidak rata, tapi tulus.
Permen jahe itu ditaruh di atas meja. Wanginya langsung naik, bertabrakan dengan aroma kopi. Jahe dan pahit. Manis dan sepat. Dua rasa yang tidak saling mengalahkan.
”Kamu jualan dari jam berapa, nak?”
”Dari habis Dzuhur, om. Ini bikinan Ibu. Katanya, jahe ngusir dingin,”
Dia duduk di ujung bangku, tidak berani naik sepenuhnya. Kakinya menggantung, belum sampai ke tanah.
Secangkir kopi itu didorong sedikit ke tengah. “Mau nyicip?”
Bocah itu menggeleng cepat. “Gak, om. Nanti ketagihan. Uangnya buat beli buku”
Aku membuka bungkus permen jahe itu. Mengunyah pelan. Rasa pedasnya naik ke hidung, lalu turun jadi hangat di dada.
Di luar, matahari mulai turun. Warna langit jadi jingga, sama seperti warna gula merah di permen itu.
”Bawa pulang uang berapa hari ini?”
”Sedikit, om. Tapi cukup buat lauk malam.”
Dia berdiri. Merapikan keranjangnya. “Makasih ya, om, udah beli.”
Sebelum pergi, dia menoleh lagi.
”Besok saya kesini lagi. Kopinya jangan kemalaman, biar gak dingin.”
Langkah kecilnya menjauh, ditelan keramaian sore.
Tinggal secangkir kopi yang sudah setengah, dan sisa rasa jahe yang masih tinggal di lidah.
Pada sore-sore berikutnya, cangkir itu tidak pernah kosong.
Karena kopi paling enak ternyata bukan yang mahal.
Namun yang diminum sambil menunggu hangat datang dari sebutir permen jahe dan sepasang mata yang tidak pernah lelah berharap.
Harapan bocah perempuan penjaja permen yang ingin membeli buku sekolah. Harapan bocah perempuan penjaja permen jahe di sore hari.
Situbondo, 16/7/26.
Diskusi