Oleh Anies Septivirawan Alkisah pada tengah malam, suara tangis sang bayi laki – laki memecah hening dan sepi. Bayi laki – laki itu adalah Hosnatun. Ia lahir di...
Baca Selengkapnya
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"
Oleh Anies Septivirawan Alkisah pada tengah malam, suara tangis sang bayi laki – laki memecah hening dan sepi. Bayi laki – laki itu adalah Hosnatun. Ia lahir di...
Baca SelengkapnyaOleh Anies SeprtivirawanMembaca dan menulis adalah dua kata kerja, namun berbeda makna. Dan kesamaannya adalah sama memiliki awalan...
Baca SelengkapnyaOleh Anies SeptivirawanMalam itu bulan sedang purnama, tidak pelit cahaya. Purnama menggantung tepat di atas desa Olean, bulat...
Baca SelengkapnyaPuisi Anies SeptivirawanWaktu tlah mencetak kita tergeletakkembali di serambi yang sama Kemarin tawa kita pecahseperti kaca, kini mengendap seperti embun...
Baca SelengkapnyaOleh Anies SeptivirawanRupiah sedang sakit, terkapar, akibat tersungkur. Namun langit di kotaku tidak ikut bersedih. Langit tetap biru...
Baca SelengkapnyaOleh Anies Septivirawan Pagi yang datang setengah hati. Lampu jalan masih menyala, namun sinar matahari sudah merambat naik....
Baca SelengkapnyaOleh Anies Septivirawan Aku lahir pada tengah malam Sabtu Pahing di kota yang peta jalannya tidak pernah selesai....
Baca SelengkapnyaOleh: Anies Septivirawan Sinar matahari belum terlalu garang menyentuh kulit. Masih menyapa lembut bersama desir angin menjelang siang...
Baca SelengkapnyaOleh Anies SeptivirawanInginku seperti rintik gerimisMengetuk tanah berulang -ulangPada sore ituSeperti bayangmu puluhan ribuDetik yang laluMencetak bingkai kenangdi...
Baca Selengkapnya