Esai · Potret Online

Festival Tajin Sora dan Tosan Aji di Desa Olean, di Bawah Bulan Purnama, Tradisi yang Dijaga Para Leluhur, Disaksikan Langit‎

Penulis  Anies Septivirawan
Juni 29, 2026
3 menit baca 15
633f6a25-a1ff-4d34-8c43-a7a38c7dbd6f
Foto / IlustrasiFestival Tajin Sora dan Tosan Aji di Desa Olean, di Bawah Bulan Purnama, Tradisi yang Dijaga Para Leluhur, Disaksikan Langit‎



‎Oleh Anies Septivirawan

‎Malam itu bulan sedang purnama, tidak pelit cahaya. Purnama menggantung tepat di atas desa Olean, bulat dan bening seperti mangkuk perak milik langit. Cahayanya turun, menimpa genteng, menimpa bahu, menimpa pusaka. Membuat semua yang tua jadi terlihat abadi.

‎Di tanah desa itu, warga menyalakan obor. Namun obor kalah terang. Karena purnama sudah lebih dulu menyalakan kampung.  Kampung Krajan di desa Olean yang sedang menggelar “Festival Tajin Sora dan Tosan Aji” , Minggu malam, 28 Juni 2026 atau bertepatan dengan tanggal 13 Muharam 1448 Hijrah.

‎Tajin mengepul pelan. Uapnya naik, bertemu cahaya bulan, lalu pecah jadi ribuan butir doa yang melayang. Aromanya tidak hanya gurih. Aromanya adalah ingatan: tentang ibu yang terjaga sampai subuh, tentang musim panen yang pulang tepat waktu, tentang rasa cukup yang diajarkan nenek sebelum dunia mengenal kata “kurang”.

‎Berhadapan dengan tungku, Tosan Aji terhampar di atas kain putih. Di bawah purnama, pamornya tidak berkilat. Ia bercahaya. Setiap lekuk besi itu seperti sungai kecil yang mengalir, membawa cerita leluhur yang ditempa dengan air mata dan sumpah. Dinginnya bilah berpadu dengan dinginnya malam, tapi wibawanya menghangatkan dada siapa pun yang berani menatapnya lama.

‎Langkah menjadi pelan. Suara menjadi rendah. Karena purnama mengajari manusia cara beradab.

‎Kepala Desa Olean, Anshori datang. Ia tidak menonjolkan diri. Ia hanya duduk paling dekat dengan tungku, sarungnya basah embun. Di tangannya mangkuk Tajin yang retak tapi setia. Ia menyuapkan sedikit untuk dirinya, lalu menyisakan untuk anak yang tertidur di pangkuan ibunya. Bulan menyorot uban di pelipisnya. Dan uban itu tiba-tiba tampak seperti mahkota: mahkota orang yang memilih mengabdi, bukan berkuasa.

‎Di sebelahnya, Anggota DPRD Kota Situbondo menanggalkan formalitasnya bersama jas. Ia duduk bersila di atas karpet  menerima Tajin di daun pisang yang digurat cahaya bulan. Ketika arak-arakan Tosan Aji lewat, ia berdiri. Bukan karena protokoler. Karena ada sesuatu dalam dirinya yang ikut berdiri: rasa hormat. Cahaya purnama memantul di bilah pusaka, lalu memantul lagi di matanya. Dan di pantulan itu ia membaca: bahwa kebijakan tanpa akar tradisi hanyalah angka yang cepat pudar.

‎Gendang terbang dipukul pelan, mengikuti irama napas malam. Tetua melantunkan mantra. Anak-anak menatap bulan sambil menggenggam sendok kayu. Perempuan-perempuan menata Tajin, satu mangkuk untuk tamu, satu mangkuk untuk arwah leluhur yang diyakini ikut duduk melingkar.

‎Tengah malam. Bulan tepat di atas kepala. Warga Olean, kepala desa, anggota DPRD. Semua jadi satu lingkaran tanpa sekat. Tajin Sora mengikat mereka dalam rasa yang sama. Tosan Aji mengikat mereka dalam janji yang sama: menjaga.

‎Ketika purnama mulai miring ke barat, obor padam satu-satu. Tapi Olean tidak gelap. Karena Tajin sudah jadi hangat di perut. Tosan Aji sudah jadi cahaya di dada. Dan sumpah yang diucapkan di bawah bulan, kata orang tua, tidak akan pernah ingkar.

‎Karena tradisi yang dilestarikan di bawah purnama adalah tradisi yang disaksikan langsung oleh langit.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...