Festival Tajin Sora dan Tosan Aji di Desa Olean, di Bawah Bulan Purnama, Tradisi yang Dijaga Para Leluhur, Disaksikan Langit

Oleh Anies Septivirawan
Malam itu bulan sedang purnama, tidak pelit cahaya. Purnama menggantung tepat di atas desa Olean, bulat dan bening seperti mangkuk perak milik langit. Cahayanya turun, menimpa genteng, menimpa bahu, menimpa pusaka. Membuat semua yang tua jadi terlihat abadi.
Di tanah desa itu, warga menyalakan obor. Namun obor kalah terang. Karena purnama sudah lebih dulu menyalakan kampung. Kampung Krajan di desa Olean yang sedang menggelar “Festival Tajin Sora dan Tosan Aji” , Minggu malam, 28 Juni 2026 atau bertepatan dengan tanggal 13 Muharam 1448 Hijrah.
Tajin mengepul pelan. Uapnya naik, bertemu cahaya bulan, lalu pecah jadi ribuan butir doa yang melayang. Aromanya tidak hanya gurih. Aromanya adalah ingatan: tentang ibu yang terjaga sampai subuh, tentang musim panen yang pulang tepat waktu, tentang rasa cukup yang diajarkan nenek sebelum dunia mengenal kata “kurang”.
Berhadapan dengan tungku, Tosan Aji terhampar di atas kain putih. Di bawah purnama, pamornya tidak berkilat. Ia bercahaya. Setiap lekuk besi itu seperti sungai kecil yang mengalir, membawa cerita leluhur yang ditempa dengan air mata dan sumpah. Dinginnya bilah berpadu dengan dinginnya malam, tapi wibawanya menghangatkan dada siapa pun yang berani menatapnya lama.
Langkah menjadi pelan. Suara menjadi rendah. Karena purnama mengajari manusia cara beradab.
Kepala Desa Olean, Anshori datang. Ia tidak menonjolkan diri. Ia hanya duduk paling dekat dengan tungku, sarungnya basah embun. Di tangannya mangkuk Tajin yang retak tapi setia. Ia menyuapkan sedikit untuk dirinya, lalu menyisakan untuk anak yang tertidur di pangkuan ibunya. Bulan menyorot uban di pelipisnya. Dan uban itu tiba-tiba tampak seperti mahkota: mahkota orang yang memilih mengabdi, bukan berkuasa.
Di sebelahnya, Anggota DPRD Kota Situbondo menanggalkan formalitasnya bersama jas. Ia duduk bersila di atas karpet menerima Tajin di daun pisang yang digurat cahaya bulan. Ketika arak-arakan Tosan Aji lewat, ia berdiri. Bukan karena protokoler. Karena ada sesuatu dalam dirinya yang ikut berdiri: rasa hormat. Cahaya purnama memantul di bilah pusaka, lalu memantul lagi di matanya. Dan di pantulan itu ia membaca: bahwa kebijakan tanpa akar tradisi hanyalah angka yang cepat pudar.
Gendang terbang dipukul pelan, mengikuti irama napas malam. Tetua melantunkan mantra. Anak-anak menatap bulan sambil menggenggam sendok kayu. Perempuan-perempuan menata Tajin, satu mangkuk untuk tamu, satu mangkuk untuk arwah leluhur yang diyakini ikut duduk melingkar.
Tengah malam. Bulan tepat di atas kepala. Warga Olean, kepala desa, anggota DPRD. Semua jadi satu lingkaran tanpa sekat. Tajin Sora mengikat mereka dalam rasa yang sama. Tosan Aji mengikat mereka dalam janji yang sama: menjaga.
Ketika purnama mulai miring ke barat, obor padam satu-satu. Tapi Olean tidak gelap. Karena Tajin sudah jadi hangat di perut. Tosan Aji sudah jadi cahaya di dada. Dan sumpah yang diucapkan di bawah bulan, kata orang tua, tidak akan pernah ingkar.
Karena tradisi yang dilestarikan di bawah purnama adalah tradisi yang disaksikan langsung oleh langit.











