Artikel · Potret Online

Dari Bertahan Hidup Menjadi Jejak Keilmuan

Penulis  Dayan Abdurrahman
Agustus 9, 2026
12 menit baca 6
46dd8afe-74d8-45f4-9639-e99fc925ac4d
Foto / IlustrasiDari Bertahan Hidup Menjadi Jejak Keilmuan

Oleh Dayan Abdurrahman

Saya tidak menjadi akademisi melalui jalan yang biasa. Saya berasal dari keluarga yang secara ekonomi tidak mapan. Saya tumbuh dari lingkungan desa, kemudian bergerak ke kota, ke tingkat provinsi, hingga memperoleh kesempatan belajar sampai ke luar negeri. 

Perjalanan itu tidak pernah berlangsung dalam garis yang lurus. Ada masa belajar, ada masa bekerja, ada masa menghadapi keterbatasan, dan ada masa ketika saya harus menentukan sendiri apa yang dapat saya lakukan dengan kemampuan yang saya miliki. Karena itu, ketika hari ini saya berbicara tentang kehidupan akademik, saya tidak hanya melihatnya dari gelar, jabatan, ruang kuliah, atau gedung universitas. Saya melihatnya sebagai perjalanan seorang manusia yang berusaha tetap berguna ketika keadaan tidak selalu menyediakan tempat baginya.

Ketika menyelesaikan pendidikan master di Australia, saya mengikuti program coursework, bukan program berbasis riset atau by research. Saya pulang membawa gelar master, tetapi tidak membawa paket lengkap kehidupan akademik. Tidak ada posisi yang otomatis menunggu saya, tidak ada proyek penelitian yang telah disiapkan, dan tidak ada jalur karier yang langsung terbuka. 

Saya pulang dengan pendidikan, pengalaman, dan beberapa bekal penelitian, tetapi saya harus mencari sendiri bagaimana semua itu dapat digunakan dalam kehidupan nyata. Bekal yang kemudian ternyata sangat penting bagi perjalanan saya berasal dari beberapa mata kuliah yang berorientasi pada penelitian, terutama research skills, metodologi penelitian, dan beberapa framework. Pada saat itu saya belum mempunyai keterampilan menulis artikel jurnal seperti sekarang. Saya bahkan belum membayangkan bahwa bekal tersebut suatu hari akan menjadi bagian penting dari kehidupan saya.

Sebelum kembali mendekati dunia akademik, saya telah melewati sekitar tiga belas tahun kehidupan di luar lingkungan perguruan tinggi. Saya pernah bekerja dalam kegiatan kemanusiaan pascatsunami, melakukan berbagai pekerjaan nonakademik, berdagang, dan menjalani kehidupan yang membuat saya memahami bagaimana rasanya bekerja bukan karena gengsi, tetapi karena kebutuhan. 

Pengalaman tersebut membuat saya memandang pekerjaan dengan cara yang sederhana. Saya pernah berpikir, daripada saya bekerja serabutan tanpa menggunakan kemampuan berpikir yang saya miliki, lebih baik saya mencoba bekerja dengan pengetahuan. Mungkin uangnya tidak banyak. Mungkin pekerjaan tersebut tidak dianggap keren. 

Ketika orang bertanya, “Apa pekerjaan Anda?” dan saya menjawab “menulis” atau “membantu penelitian”, belum tentu orang langsung menganggapnya sebagai pekerjaan yang serius. Tetapi saya belajar bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh bagaimana pekerjaan itu terdengar di telinga orang lain.

Saya tidak ingin meromantisasi kesulitan. Uang tetap penting. Keluarga harus hidup, anak-anak harus sekolah, dan kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi. Namun saya menemukan bahwa manusia juga membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada pendapatan, yaitu rasa berguna. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. 

Saya ingin menggunakan kemampuan yang saya miliki. Jika kemampuan tersebut dapat membantu orang lain menyelesaikan masalah, saya merasa pekerjaan itu mempunyai makna. Bagi saya, bekerja dengan ilmu tidak berarti saya tidak membutuhkan uang. Saya hanya tidak ingin seluruh ukuran keberhasilan hidup ditentukan oleh uang, jabatan, dan pengakuan formal.

Kesempatan untuk menggunakan kemampuan intelektual itu datang melalui orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pada suatu masa, seorang teman mengalami kesulitan menyelesaikan studinya. Kondisinya tidak mudah, terutama karena persoalan biaya, tetapi studinya harus tetap diselesaikan. Saya sendiri belum merasa sebagai penulis akademik. Saya hanya memiliki pengalaman menulis tesis dan beberapa bekal penelitian dari pendidikan master saya. Namun teman tersebut percaya kepada saya. Saya mencoba membantu dengan apa yang saya miliki. Dari satu orang kemudian datang orang lain. Dari penulisan berkembang menjadi penerjemahan. Dari penerjemahan berkembang menjadi pendampingan. Dari pendampingan berkembang menjadi diskusi metodologi, penyusunan tulisan, pengembangan gagasan, hingga berbagai bentuk pekerjaan akademik lainnya.

Kemudian datang pandemi COVID-19. Banyak pekerjaan berhenti, banyak orang kehilangan pendapatan, dan aktivitas akademik berpindah ke ruang digital. Dalam situasi tersebut, kebutuhan akan dukungan akademik justru semakin terasa, mulai dari penulisan dan penelitian hingga pendampingan bagi mereka yang sedang berusaha menyelesaikan pekerjaan akademiknya. 

Saya kembali bertanya kepada diri sendiri: kalau pekerjaan formal berhenti, apa yang masih bisa saya kerjakan? Jawabannya adalah kemampuan yang ada di kepala saya. Saya mulai menulis lebih serius. Ada teman yang pernah mengatakan kepada saya, “Jangan hanya menerjemahkan tulisan orang. Coba tulis artikel sendiri.” Saya menerima tantangan itu. Saya mulai mencoba menulis tentang teknologi, sistem informasi, AI, Google, pendidikan, dan berbagai persoalan penelitian yang saya pahami.

Tulisan pertama saya tentu tidak sempurna. Tulisan berikutnya juga masih banyak kekurangan. Tetapi saya mulai belajar. Reviewer menjadi guru bagi saya. Penolakan jurnal menjadi latihan. Revisi menjadi ruang belajar. Saya belajar dari orang-orang yang saya dampingi, dari kesalahan saya sendiri, dari jurnal, dari berbagai bacaan, dan kemudian dari teknologi yang semakin berkembang. 

Saya mulai memahami bahwa kemampuan akademik tidak otomatis muncul hanya karena seseorang memiliki gelar. Kemampuan itu dibangun melalui proses panjang: membaca, mencoba, gagal, menerima kritik, memperbaiki, dan mencoba lagi.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa pendidikan tidak selesai ketika seseorang meninggalkan universitas. Universitas memberikan fondasi, tetapi kehidupan menguji apakah fondasi tersebut dapat digunakan. Tempat kerja dapat menjadi ruang belajar. 

Kegagalan dapat menjadi guru. Orang yang saya bantu dapat menjadi sumber pembelajaran. Teknologi dapat menjadi alat belajar. Bahkan kesulitan dapat memaksa saya menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari. Bagi saya, inilah makna lifelong learning: belajar bukan hanya ketika seseorang berada di bangku kuliah, tetapi ketika kehidupan menuntut kita untuk menjadi lebih baik.

Selama bertahun-tahun saya kemudian membantu banyak orang dalam berbagai bentuk pekerjaan akademik. Saya menerjemahkan, membaca, mengedit, mendiskusikan, mendampingi, dan membantu mengembangkan berbagai produk akademik. Saya bertemu dengan banyak orang dari berbagai tempat. 

Sebagian membutuhkan bantuan karena tidak memahami metodologi penelitian. Sebagian kesulitan menulis. Sebagian kesulitan menggunakan bahasa akademik. Sebagian hanya membutuhkan seseorang untuk membantu mereka keluar dari kebuntuan. Saya belajar bahwa banyak orang sebenarnya mempunyai gagasan dan kemampuan, tetapi mereka membutuhkan pendamping untuk membantu mengubah gagasan tersebut menjadi sesuatu yang lebih terstruktur.

Namun dari pengalaman itu saya juga melihat sebuah ironi. Saya dapat melakukan banyak pekerjaan intelektual tetapi tidak selalu terlihat sebagai pekerja intelektual. Dalam sistem yang sangat bergantung pada dokumen formal, posisi, afiliasi, dan nama yang tercantum pada produk akhir, kontribusi yang berlangsung di belakang layar mudah menjadi tidak terlihat. 

Ada pekerjaan yang saya lakukan dengan serius, tetapi nama saya tidak selalu muncul pada hasil akhirnya. Ada karya yang saya bantu prosesnya, tetapi pembaca hanya mengenal nama yang tercantum di halaman publikasi. Pada titik tertentu saya memahami bahwa kontribusi dan atribusi adalah dua hal yang berbeda.

Saya tidak mengatakan bahwa sistem formal tidak penting. Justru pengakuan formal tetap diperlukan. Namun saya mulai memahami bahwa kehidupan profesional modern mempunyai beberapa lapisan pengakuan. Ada pengakuan formal melalui jabatan, kontrak, SK, afiliasi, atau status kelembagaan. 

Ada pengakuan akademik melalui publikasi, sitasi, DOI, konferensi, dan rekam jejak ilmiah. Ada pula pengakuan sosial-profesional ketika orang mencari saya, mempercayai kemampuan saya, meminta bantuan, merekomendasikan saya, atau menghubungkan saya dengan bidang tertentu. Ketiga bentuk pengakuan tersebut tidak selalu berjalan bersamaan.

Pengalaman itu membuat saya memahami pentingnya jejak digital. Google, publikasi, repositori, DOI, profil akademik, konferensi, dan berbagai platform digital telah mengubah cara seseorang ditemukan. Dulu identitas profesional seseorang sangat bergantung pada kantor tempat ia bekerja. Sekarang, untuk pekerjaan yang berbasis pengetahuan, seseorang dapat ditemukan melalui apa yang ia hasilkan. Orang mungkin tidak menemukan saya secara fisik di sebuah kantor tertentu, tetapi ketika nama saya dicari melalui Google, mereka dapat menemukan tulisan, publikasi, kegiatan, dan berbagai jejak intelektual yang saya tinggalkan.

Bagi saya, ini bukan sekadar persoalan terkenal atau tidak terkenal. Ini adalah persoalan visibility. Saya tidak ingin memaksa diri menjadi terkenal. Saya hanya ingin memastikan bahwa pekerjaan yang benar-benar saya lakukan tidak hilang tanpa jejak. 

Saya ingin ada bukti yang dapat menjelaskan apa yang saya pelajari, apa yang saya kerjakan, dan apa yang saya kontribusikan. Jika suatu hari seseorang bertanya siapa Dayan Abdurrahman dalam bidang tertentu, saya berharap jawabannya tidak hanya berasal dari cerita orang lain. Karya saya sendiri harus mampu menjelaskan siapa saya dan apa yang saya kontribusikan.

Saya juga melihat bahwa dunia digital memberikan peluang yang sebelumnya sulit dibayangkan. Pekerjaan berbasis pengetahuan semakin memungkinkan dilakukan secara mobile. Saya tidak selalu membutuhkan kantor besar untuk bekerja. Dengan perangkat, listrik, koneksi internet, dan kemampuan, saya dapat bekerja dari rumah, warung kopi, perpustakaan, pinggir sawah, bahkan di bawah pohon pisang. Bagi saya, tempat kerja bukan lagi satu-satunya ukuran profesionalitas. Yang lebih penting adalah apakah pekerjaan itu menghasilkan nilai, dapat dipertanggungjawabkan, dan meninggalkan bukti.

Karena itu saya tidak ingin menjalani kehidupan sepenuhnya secara reaktif. Saya tidak ingin hanya menunggu menjadi pegawai negeri, menunggu diterima di kantor, menunggu ada proyek, atau menunggu seseorang mengajak saya. Negara tetap penting. 

Universitas tetap penting. Institusi tetap penting. Tetapi kehidupan pribadi tidak boleh sepenuhnya bergantung pada apakah sistem sedang membuka pintu atau tidak. Saya harus mempunyai inisiatif untuk membangun kemampuan, membaca kebutuhan, menawarkan solusi, dan menciptakan nilai.

Bagi saya, kemandirian bukan berarti bekerja sendirian. Saya justru percaya pada kolaborasi. Tetapi kolaborasi yang sehat bukan sekadar satu orang mengerjakan semuanya sementara orang lain menerima hasilnya. Kalau saya membantu seseorang menulis, saya ingin orang tersebut juga belajar. Kalau saya terlibat dalam sebuah proyek, kontribusi masing-masing harus jelas. 

Siapa melakukan apa, siapa menjadi penulis pertama, siapa menjadi penulis berikutnya, bagaimana pembayaran dilakukan, dan siapa bertanggung jawab terhadap isi karya harus dibicarakan secara terbuka. Dengan cara itu, hubungan berubah dari sekadar transaksi menjadi proses belajar bersama.

Saya ingin ke depan bekerja dengan cara yang lebih transparan. Jika kontribusi saya memang memenuhi syarat sebagai kontribusi akademik, maka kontribusi itu harus dicatat secara jujur. Jika orang lain mempunyai gagasan utama dan tanggung jawab utama, ia layak mendapatkan posisi yang sesuai. Saya tidak ingin pekerjaan intelektual menjadi sesuatu yang dimainkan secara tersembunyi. Saya ingin orang yang saya bantu menjadi semakin mampu, bukan semakin bergantung kepada saya.

Saya juga belajar bahwa survival tidak boleh menjadi alasan permanen untuk mengabaikan integritas. Saya mengakui bahwa kehidupan kadang memaksa manusia mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan. Saya pernah berada dalam keadaan ketika yang paling penting adalah bertahan dan menghidupi keluarga. 

Namun setelah seseorang memperoleh pengalaman dan pemahaman yang lebih baik, ia harus berusaha memperbaiki cara bekerja. Masa sulit dapat menjelaskan masa lalu, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankan kesalahan di masa depan.

Dari perjalanan itu saya menemukan satu pola yang sederhana: bertahan, belajar, menguasai, berkontribusi, mendokumentasikan, dan mewariskan. Saya bertahan karena kehidupan menuntut saya bertahan. Saya belajar karena saya tidak ingin berhenti pada keadaan yang ada. Saya berusaha menguasai kemampuan karena saya ingin pekerjaan saya semakin baik. 

Saya berkontribusi karena pengetahuan menurut saya seharusnya berguna bagi orang lain. Saya mendokumentasikan karena pekerjaan tanpa bukti mudah hilang dari sejarah. Dan saya ingin mewariskan karena pengalaman yang kita miliki seharusnya tidak berhenti pada diri sendiri.

Saya tidak menganggap pola tersebut sebagai teori besar. Ini adalah cara saya memahami perjalanan hidup saya sendiri. Namun saya percaya pengalaman semacam ini dapat berguna bagi orang lain yang merasa jalannya tidak ideal. Tidak semua orang lahir dari keluarga mapan. Tidak semua orang mempunyai kesempatan kuliah di tempat terbaik. 

Tidak semua orang mempunyai modal besar. Tidak semua orang mempunyai jabatan. Tidak semua orang mempunyai jaringan yang kuat. Tetapi hampir setiap orang mempunyai sesuatu yang dapat dikembangkan.

Kita dapat mulai dari kemampuan yang ada. Kita dapat membaca. Kita dapat belajar menulis. Kita dapat mempelajari teknologi. Kita dapat membantu satu orang. Kita dapat menyelesaikan satu masalah. Kemudian dari satu masalah kita belajar menyelesaikan masalah berikutnya. Begitulah kemampuan tumbuh.

Kemudian AI datang dan membuat peluang belajar semakin luas. Bagi saya, AI bukan pengganti manusia dan bukan jalan pintas untuk menjadi pintar. AI adalah pengungkit. Ia dapat membantu saya mencari informasi, membandingkan gagasan, memperbaiki tulisan, mengembangkan pertanyaan, mengeksplorasi kemungkinan, dan belajar lebih cepat. Tetapi saya tetap harus berpikir, memeriksa, memahami konteks, mempertanyakan jawaban, dan bertanggung jawab terhadap apa yang saya hasilkan. AI dapat membantu saya naik kelas, tetapi hanya kemauan untuk terus belajar yang membuat saya benar-benar berkembang.

Hari ini saya tidak lagi terlalu sibuk memikirkan siapa yang mengakui saya dan siapa yang tidak. Saya tidak ingin memaksa diri menjadi terkenal. Saya hanya ingin terus belajar, bekerja, membantu orang-orang yang memang membutuhkan saya, dan menjaga integritas sebisa mungkin. Saya ingin menjadi diri saya sendiri. Saya ingin pekerjaan saya berguna. Saya ingin orang yang saya bantu menjadi lebih mampu. Saya ingin kolaborasi berlangsung secara terbuka. Saya ingin kontribusi dicatat secara jujur.

Saya mungkin tidak tercatat dalam semua pekerjaan yang pernah saya bantu lahirkan. Itu bagian dari perjalanan yang sudah berlalu. Saya tidak perlu memusuhi masa lalu. Tetapi ke depan saya ingin bekerja dengan cara yang lebih baik. Jika saya berkontribusi, kontribusi itu harus dapat dijelaskan. Jika saya menjadi bagian dari sebuah karya, peran saya harus jelas. Jika saya membantu orang lain, saya juga ingin membantu mereka belajar. Dengan demikian, pekerjaan tidak berhenti sebagai transaksi, tetapi menjadi proses pertumbuhan bersama.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa saya tidak selalu dapat memilih dari mana saya memulai. Saya tidak memilih lahir dari keluarga yang mapan. Saya tidak memilih semua keadaan yang pernah datang dalam perjalanan hidup saya. Saya juga tidak memilih jalan akademik yang lurus. Tetapi saya dapat memilih bagaimana saya merespons keadaan tersebut.

Daripada hanya menunggu, saya memilih bergerak. Daripada hanya mengeluh, saya memilih belajar. Daripada mengejar pengakuan, saya memilih membangun kemampuan. Daripada hidup secara reaktif, saya memilih mengambil inisiatif. Daripada hanya bertahan hidup, saya ingin mengubah pengalaman menjadi nilai.

Saya pernah hanya ingin bertahan. Sekarang saya ingin terus belajar. Saya ingin bekerja. Saya ingin berguna. Saya ingin membantu. Saya ingin menjaga integritas. Dan jika suatu hari seseorang mencari nama saya melalui Google, saya tidak berharap mereka menemukan manusia yang sempurna. 

Saya hanya berharap mereka menemukan jejak seorang manusia yang pernah hidup dalam keterbatasan, tetapi tidak berhenti belajar; pernah bekerja dari balik layar, tetapi tetap berusaha menghasilkan nilai; pernah tidak selalu terlihat secara formal, tetapi tetap memilih untuk berkontribusi.

Saya tidak tahu apakah nama saya akan menjadi terkenal. Saya juga tidak lagi terlalu memikirkannya. Yang saya tahu, selama masih ada sesuatu yang dapat saya pelajari, masih ada orang yang dapat saya bantu, dan masih ada sesuatu yang berguna untuk saya tinggalkan, saya akan terus berjalan. Karena pada akhirnya, ukuran sederhana dari sebuah kehidupan bukan hanya seberapa tinggi kita berdiri di hadapan orang lain, tetapi apakah keberadaan kita pernah membuat kehidupan orang lain menjadi sedikit lebih baik.

Dari bertahan hidup, saya belajar. Dari belajar, saya bekerja. Dari bekerja, saya berkontribusi. Dari kontribusi, saya membangun jejak. Dan dari jejak itulah saya berharap sebagian kecil dari perjalanan ini dapat terus hidup, bahkan ketika saya sudah tidak lagi berada di sana.

— Dayan Abdurrahman

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...