Artikel · Potret Online

Bubble Kemewahan Etalase Digital

Penulis  Redaksi
September 5, 2026
6 menit baca 11
IMG_2694
Foto / IlustrasiBubble Kemewahan Etalase Digital

Oleh Hery Purnobasuki

Guru Besar FST Universitas Airlangga

Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga

Pernahkah kamu merasa cemas ataupun iri saat melihat teman-temanmu pamer liburan mewah, gadget terbaru, atau outfit branded di media sosial? Rasanya seperti hidupmu kurang seru, kurang keren, atau bahkan kurang berharga. Inilah yang disebut terjebak dalam bubble kemewahan media sosial, sebuah fenomena yang semakin mengkhawatirkan di kalangan Generasi Z. Generasi yang lahir di era digital ini memang tumbuh dengan gawai di tangan, tapi sayangnya, mereka juga tumbuh dengan tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan layar.

Ilusi Kehidupan Sempurna yang Menipu

Media sosial telah menjadi etalase raksasa di mana setiap orang memamerkan sisi terbaik hidupnya. Influencer, selebritas, bahkan teman sekelas sekalipun, dengan lihai mengurasi konten mereka sehingga terlihat seperti hidup tanpa masalah. Liburan ke Bali, makan di restoran mahal, belanja barang branded, semua tersaji rapi dalam feed Instagram atau video TikTok yang menarik. Tapi yang jarang ditampilkan adalah realita di balik layar: cicilan menumpuk, stres karena tuntutan kerja, atau perjuangan membayar tagihan.

Bagi Gen Z yang masih dalam proses pencarian identitas, paparan terus-menerus terhadap gaya hidup mewah ini menciptakan ilusi bahwa kesuksesan dan kebahagiaan bisa diukur dari apa yang dipamerkan di media sosial. Mereka mulai percaya bahwa hidup yang layak adalah hidup yang terlihat mewah di mata orang lain, bukan hidup yang benar-benar memuaskan secara personal. Inilah awal dari terjebak dalam bubble kemewahan yang sebenarnya rapuh dan penuh tekanan.

FOMO dan Siklus Konsumsi Tanpa Henti

Salah satu dampak paling nyata dari bubble kemewahan ini adalah munculnya FOMO atau Fear of Missing Out. Hampir 80 persen Gen Z di Indonesia mengalami FOMO secara rutin, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan. Mereka merasa harus ikut tren, harus punya barang yang sama, harus pergi ke tempat yang sama, kalau tidak, mereka merasa tertinggal dan tidak relevan.

FOMO ini kemudian memicu perilaku konsumtif yang tidak sehat. Gen Z rela menghabiskan uang tabungan, bahkan mengambil pinjaman online, demi membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Tujuannya hanya satu: agar bisa ikut flexing di media sosial dan mendapat validasi dari orang lain. Tapi masalahnya, siklus ini tidak pernah berakhir. Begitu satu tren berlalu, muncul tren baru yang lebih menarik, dan mereka kembali terjebak dalam keinginan untuk membeli lagi.

Yang lebih parah, banyak dari mereka yang tidak sadar bahwa mereka sedang terjebak dalam manipulasi algoritma media sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram dirancang untuk membuat pengguna terus-menerus merasa kurang, sehingga mereka terus scrolling, terus membeli, dan terus mencari validasi. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan bagi pemilik platform, tapi sangat merugikan bagi kesehatan mental dan finansial Gen Z.

Dampak Psikologis yang Menggerogoti

Terjebak dalam bubble kemewahan media sosial bukan hanya soal uang yang habis, tapi juga soal kesehatan mental yang terganggu. Penelitian menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap konten gaya hidup mewah di media sosial berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan penurunan harga diri di kalangan Gen Z. Mereka terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, dan hampir selalu merasa kalah.

Rasa insecure ini kemudian berkembang menjadi perasaan tidak pernah cukup. Tidak cukup kaya, tidak cukup keren, tidak cukup sukses. Padahal, apa yang mereka lihat di media sosial hanyalah ilusi. Tapi ilusi itu terasa begitu nyata, begitu menekan, sampai-sampai banyak Gen Z yang kehilangan jati diri dan pendirian mereka. Mereka hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk memenuhi ekspektasi orang lain di dunia maya.

Tekanan ini juga memengaruhi hubungan sosial mereka di dunia nyata. Banyak Gen Z yang lebih fokus pada citra digital mereka daripada membangun hubungan yang mendalam dengan orang-orang di sekitar mereka. Mereka lebih peduli pada jumlah likes dan komentar daripada kualitas pertemanan yang mereka miliki. Akibatnya, meski terlihat populer di media sosial, banyak dari mereka yang sebenarnya merasa kesepian dan terisolasi di kehidupan nyata.

Jebakan Finansial yang Mengancam Masa Depan

Dampak finansial dari bubble kemewahan ini juga tidak bisa diabaikan. Banyak Gen Z yang terjebak dalam utang karena gaya hidup konsumtif mereka. Mereka membeli barang-barang mewah dengan uang pinjaman, berharap bisa membayar nanti, tapi ternyata cicilan menumpuk dan mereka semakin terjerumus. Ini adalah krisis finansial yang sedang mengintai generasi muda Indonesia.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak dari mereka yang tidak memiliki literasi finansial yang memadai. Mereka tidak diajarkan tentang pentingnya menabung, berinvestasi, atau mengelola uang dengan bijak. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana cara menghabiskan uang untuk mengikuti tren. Akibatnya, masa depan finansial mereka menjadi sangat rentan. Saat tiba waktunya untuk membeli rumah, menikah, atau memulai bisnis, mereka malah terbebani dengan utang yang menumpuk.

Fenomena FOMO Spending ini juga mengubah cara Gen Z memandang uang. Uang bukan lagi alat untuk memenuhi kebutuhan atau investasi masa depan, tapi alat untuk membeli validasi sosial. Mereka rela menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting, asalkan bisa dipamerkan di media sosial. Ini adalah pola pikir yang sangat berbahaya, karena bisa menghancurkan stabilitas finansial mereka dalam jangka panjang.

Keluar dari Bubble: Membangun Ketahanan Digital

Lalu, bagaimana cara keluar dari bubble kemewahan ini? Pertama-tama, Gen Z perlu menyadari bahwa apa yang mereka lihat di media sosial bukanlah realita seutuhnya. Setiap orang hanya menampilkan sisi terbaik mereka, dan itu tidak berarti hidup mereka sempurna. Memahami hal ini adalah langkah pertama untuk membangun ketahanan digital.

Kedua, penting untuk memperkuat literasi digital dan finansial. Gen Z perlu diajarkan cara menggunakan media sosial dengan bijak, cara mengenali manipulasi algoritma, dan cara mengelola uang dengan bertanggung jawab. Tanpa pemahaman ini, mereka akan terus terjebak dalam siklus konsumsi yang merugikan.

Ketiga, membangun self-control dan kepercayaan diri adalah kunci. Gen Z perlu belajar untuk tidak terlalu bergantung pada validasi dari orang lain. Mereka perlu menemukan nilai diri mereka bukan dari apa yang mereka miliki, tapi dari siapa mereka sebenarnya. Ini bukan proses yang mudah, tapi sangat penting untuk kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.

Terakhir, penting untuk menciptakan komunitas yang mendukung gaya hidup sehat dan realistis. Gen Z perlu dikelilingi oleh orang-orang yang tidak terobsesi dengan kemewahan dan validasi sosial. Dengan begitu, mereka bisa saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain untuk hidup lebih autentik dan bermakna.

Menemukan Makna di Balik Layar

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa mewah apa yang kamu pamerkan di media sosial. Hidup adalah tentang menemukan makna, membangun hubungan yang bermakna, dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Gen Z memiliki potensi besar untuk mengubah narasi ini, untuk tidak terjebak dalam bubble kemewahan yang menipu, tapi untuk hidup dengan autentisitas dan tujuan yang jelas.

Media sosial bisa menjadi alat yang powerful jika digunakan dengan bijak. Tapi jika dibiarkan mengendalikan hidup, ia bisa menjadi penjara yang mengisolasi dan menghancurkan. Pilihan ada di tangan Gen Z: apakah mereka akan terus terjebak dalam bubble kemewahan, ataukah mereka akan keluar dan menemukan kehidupan yang sebenarnya?

Yang pasti, bubble kemewahan media sosial adalah ilusi yang rapuh. Di baliknya, ada realita yang jauh lebih kompleks, lebih menantang, tapi juga lebih bermakna. Dan hanya dengan berani menghadapi realita itu, Gen Z bisa benar-benar hidup, bukan sekadar terlihat hidup di mata orang lain.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...