Artikel · Potret Online

Kapan Harus Bicara, Kapan Harus Diam

Penulis Drs.Saiful Bahri
September 5, 2026
3 menit baca 14
IMG_2824
Foto / IlustrasiKapan Harus Bicara, Kapan Harus Diam

Oleh: Drs. Saiful Bahri, CHRM

Daripada berbicara menyakiti orang lain, lebih baik diam.

Daripada berbicara tentang diri sendiri yang tanpa kita sadari menyinggung orang lain, lebih baik diam.

Allah menciptakan dua telinga untuk kita dan satu mulut. Artinya apa?

Kita disuruh untuk lebih banyak diam daripada berbicara. Mendengar dan memperhatikan lawan bicara justru lebih bijak daripada “ngoceh” terus-menerus.

Orang bijak lebih banyak diam daripada berbicara yang kurang bermanfaat. Karena kita sadar, saking asyiknya berbicara akan terjadi “ghibah” yang menyebabkan dosa.

Orang bijak tahu kapan dia harus berbicara dan kapan mesti diam.

*Alkisah…*

Ada dua orang pengusaha kuda yang sama-sama gemar bepergian.

Suatu ketika, pengusaha kuda pertama merasa lelah. Dia dan kudanya beristirahat di bawah pohon rindang di pinggir jalan sebuah kampung. Dia memarkir kudanya sambil menyiapkan air minum untuk kuda kesayangannya.

Tiba-tiba datang pengusaha kuda kedua. Dia pun ikut istirahat dan memarkir kudanya dekat kuda pertama.

Pemilik kuda pertama pun berkata kepada pemilik kuda yang baru datang:

“Pak, jangan parkir kudanya dekat kuda saya. Nanti ditendang oleh kuda saya, bisa patah kaki kuda bapak.”

Namun pemilik kuda kedua tidak menghiraukan. Dia tetap memarkir kudanya di dekat kuda itu.

Benar saja, tak lama kemudian kuda pertama menendang kuda itu hingga patah kakinya.

Sang pemilik kuda kedua tidak terima. Dia menuntut ganti rugi kepada pemilik kuda pertama.

Pemilik kuda pertama diam saja. Pemilik kuda kedua marah dan tetap tidak terima. Akhirnya dia membawa kasus ini ke pengadilan.

Di pengadilan, pemilik kuda kedua menceritakan kronologi patahnya kaki kudanya karena ditendang kuda pertama.

Pak Hakim lalu bertanya konfirmasi kepada terdakwa, pemilik kuda pertama:

“Apa benar seperti yang disampaikan bapak itu?” tanya Hakim.

Pemilik kuda pertama diam saja dan tidak menjawab pertanyaan pak hakim.

Pak Hakim heran. “Kok diam saja?” kata Pak Hakim kepada pemilik kuda kedua yang mengadukan perkara itu.

“Apa bisu bapak itu, kok tidak bisa bicara dan diam?” tanya Pak Hakim heran.

Bapak yang mengajukan perkara itu menjawab:

“Tidak, Yang Mulia. Tadi dia bisa bicara dengan saya.”

“Oh ya? Apa dia bilang tadi?” tanya Pak Hakim.

“Dia bilang: ‘Jangan parkir kuda dekat dengan kuda dia, nanti ditendang oleh kudanya dan bisa patah kaki kuda saya'” jawab pemilik kuda kedua dengan polos.

“Aooo begitu…” jawab Pak Hakim.

Lalu langsung mengetuk palu bahwa yang salah adalah pemilik kuda kedua.

Pak Hakim berkata: “Masalah ini sudah selesai. Silakan pulang.”

Pemilik kuda pertama yang cerdas tidak perlu mengeluarkan jawaban apa-apa. Hanya dengan diam saja, masalah bisa terselesaikan.

*Begitulah, kalau orang cerdas tahu kapan dan dengan siapa dia harus berbicara.*

Sering dalam kehidupan kita bersinggungan dengan orang yang tidak mengerti masalah. Yang penting mengumbar suara besar saja tapi kurang berisi. Dalam hal seperti itu, lebih baik diam.

Pepatah mengatakan: _”Diam itu emas”_.

Biarlah waktu yang berbicara dengan tepat.

Sia-sia membuang-buang energi berdebat dengan orang yang maunya menang sendiri dan tidak mau mendengar lawan bicara dengan baik.

Dalam komunikasi, *”mendengar adalah cara terbaik untuk mendapatkan sebuah informasi”*.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Drs.Saiful Bahri
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...