Bahaya Ketika Aceh Kehilangan Imajinasi tentang Masa Depan Anak-Anaknya
Oleh Dayan Abdurrahman
Suatu pagi, seorang anak Aceh berangkat ke sekolah. Ia mungkin melewati jalan kampung, persawahan, meunasah, atau masjid yang sejak kecil menjadi bagian dari kehidupannya. Di punggungnya ada tas, di tangannya ada buku, dan dalam dirinya tersimpan harapan orang tua yang percaya bahwa pendidikan dapat membawa anak mereka menuju kehidupan yang lebih baik. Namun ketika pulang, anak yang sama membuka telepon genggamnya. Dalam hitungan detik, ia memasuki dunia yang jauh lebih besar daripada kampung tempat ia tumbuh. Ia dapat menyaksikan kehidupan di negara lain, berinteraksi dengan kecerdasan buatan, menemukan pengetahuan, atau justru tersesat dalam banjir informasi yang tidak pernah berhenti.
Anak Aceh hari ini sesungguhnya sedang tumbuh di antara akar dan algoritma. Ia mewarisi sejarah, agama, adat, bahasa, dan identitas sebuah negeri yang memiliki perjalanan panjang. Pada saat yang sama, ia akan hidup di dunia yang bergerak dengan kecerdasan buatan, otomatisasi, perubahan pekerjaan, teknologi digital, dan persaingan global yang semakin sulit diprediksi. Karena itu, pertanyaan pendidikan tidak lagi cukup berhenti pada apakah anak-anak kita masuk sekolah, naik kelas, lulus ujian, dan memperoleh ijazah. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah kita benar-benar sedang menyiapkan mereka untuk dunia yang akan mereka masuki.
Pertanyaan itulah yang semakin sering mengganggu pikiran saya ketika melihat pendidikan Aceh. Kita tidak pernah kekurangan pembicaraan tentang pendidikan. Kita berbicara tentang sekolah, guru, kurikulum, anggaran, fasilitas, kualitas pembelajaran, karakter, dan berbagai program baru. Semua itu penting. Namun justru karena terlalu banyak hal yang harus dikelola, saya khawatir kita terlalu sibuk mengurus pendidikan hari ini sehingga lupa membayangkan pendidikan untuk masa depan. Bahaya terbesar pendidikan Aceh mungkin bukan semata-mata kekurangan sekolah, guru, anggaran, atau orang-orang yang peduli, melainkan ketika pendidikan terus berjalan sementara kemampuan kita membayangkan masa depan anak-anak semakin melemah.
Sekolah dibuka, murid datang, guru mengajar, ujian dilaksanakan, nilai diberikan, dan ijazah dibagikan. Secara administratif, semuanya dapat berjalan. Namun pendidikan yang berjalan belum tentu selalu pendidikan yang memiliki arah. Kita mungkin terlalu sering mengukur keberhasilan dari apa yang berhasil diselesaikan tahun ini, tetapi terlalu jarang bertanya apakah semua yang kita lakukan hari ini masih cukup relevan bagi anak-anak sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Kita menghitung program yang selesai, anggaran yang terserap, gedung yang dibangun, dan target yang tercapai. Tetapi siapa yang secara serius sedang membayangkan dunia yang akan dihadapi anak-anak Aceh?
Dunia, sesungguhnya, sedang melakukan pekerjaan itu. Finland, Singapura, Shanghai, dan berbagai sistem pendidikan yang sering memperoleh perhatian internasional tidak perlu kita tiru secara mentah. Kondisi sosial, sejarah, ekonomi, budaya, dan politik mereka berbeda dengan Aceh. Meniru tanpa memahami konteks justru dapat menjadi bentuk kemalasan intelektual. Namun kita juga tidak boleh menutup mata. Dunia menyediakan banyak pelajaran, dan pengalaman negara atau wilayah lain dapat menjadi cermin untuk melihat kelemahan serta kemungkinan yang belum kita pikirkan.
OECD melalui berbagai kajiannya, termasuk PISA dan agenda pendidikan masa depan, telah mendorong negara-negara untuk tidak hanya melihat capaian belajar hari ini, tetapi juga kompetensi yang diperlukan generasi mendatang. UNESCO melalui gagasan Futures of Education mengajak dunia untuk memikirkan kembali tujuan pendidikan dalam menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan lingkungan. Pesan dari berbagai percakapan global tersebut sesungguhnya sederhana: dunia sedang serius membayangkan pendidikan masa depannya. Pertanyaan bagi Aceh bukanlah mengapa kita belum menjadi Finland, Singapura, atau Shanghai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah Aceh sendiri sedang cukup serius membayangkan masa depan pendidikannya?
Di sinilah saya melihat apa yang dapat disebut sebagai defisit imajinasi intelektual Aceh. Defisit ini bukan berarti Aceh kekurangan orang pintar. Kita memiliki guru yang memahami persoalan di ruang kelas, akademisi yang melakukan penelitian, ulama dan dayah yang memiliki pengalaman panjang dalam membentuk manusia, birokrat yang memahami sistem, serta orang tua dan generasi muda yang mengalami perubahan zaman dari kehidupan sehari-hari. Masalahnya mungkin bukan kekurangan kecerdasan, melainkan apakah seluruh kecerdasan yang tersebar itu pernah benar-benar dipertemukan untuk membayangkan Aceh dua puluh tahun dari sekarang.
Guru mengetahui persoalan murid, tetapi pengalamannya belum tentu sampai kepada pengambil kebijakan. Perguruan tinggi menghasilkan penelitian, tetapi penelitian tidak selalu menjadi dasar perubahan. Orang tua menghadapi persoalan pendidikan anak-anak setiap hari, tetapi suara mereka belum tentu masuk secara serius dalam perencanaan. Generasi muda hidup di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, tetapi terlalu sering masa depan mereka dirancang tanpa cukup mendengarkan mereka. Kita memiliki banyak kecerdasan, tetapi belum tentu memiliki cukup imajinasi kolektif untuk menghubungkan seluruh kecerdasan itu menjadi sebuah arah bersama.
Di sisi lain, kita sering berbicara tentang disparitas pendidikan. Kita membicarakan perbedaan antara kota dan desa, sekolah yang memiliki fasilitas dengan sekolah yang kekurangan fasilitas, akses teknologi, kualitas guru, dan kesempatan belajar. Semua itu nyata dan penting. Namun mungkin terdapat disparitas lain yang lebih sunyi dan belum cukup kita bicarakan, yaitu disparitas imajinasi. Ada anak-anak yang tumbuh di lingkungan pendidikan yang memperkenalkan mereka kepada dunia, mendorong mereka bertanya, membaca, menciptakan, menggunakan teknologi, berbahasa, membangun gagasan, dan membayangkan masa depan.
Namun, ada pula anak-anak yang lingkungan pendidikannya mungkin masih terlalu sempit. Mereka lebih banyak diperkenalkan kepada ujian daripada penemuan, kepada hafalan daripada pertanyaan, kepada nilai daripada gagasan, dan kepada kelulusan daripada kemungkinan. Padahal masa depan tidak hanya akan membutuhkan manusia yang mampu menjawab pertanyaan. Dunia yang semakin kompleks justru membutuhkan manusia yang mampu mengajukan pertanyaan baru, memahami persoalan yang belum pernah ada, dan menemukan solusi yang belum pernah dicoba sebelumnya. Karena itu, disparitas pendidikan tidak cukup hanya diukur dari jumlah gedung, komputer, guru, atau akses internet. Kita juga harus bertanya apakah semua anak Aceh memperoleh kesempatan yang relatif adil untuk membayangkan dirinya menjadi bagian dari masa depan dunia.
Anak-anak bukan sekadar angka dalam statistik atau peserta didik dalam laporan. Mereka adalah manusia yang akan menjalani akibat dari setiap keputusan pendidikan yang kita ambil hari ini. Ketika kita terlambat membaca perubahan, merekalah yang akan memasuki dunia yang belum kita persiapkan. Ketika pendidikan gagal beradaptasi, merekalah yang akan menanggung akibatnya paling lama. Karena itu, persoalan pendidikan bukan hanya persoalan sekolah. Ini adalah persoalan peradaban. Pendidikan menentukan apakah sebuah masyarakat mampu memahami perubahan dan ikut menentukan masa depannya sendiri, atau hanya menjadi penonton terhadap perubahan yang dirancang oleh orang lain.
Jika anak-anak Aceh hanya dipersiapkan untuk menyesuaikan diri dengan dunia yang dibangun orang lain, tanpa kemampuan untuk menciptakan pengetahuan, teknologi, gagasan, dan solusi mereka sendiri, maka kita sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kualitas pendidikan. Kita sedang mempertaruhkan kemampuan Aceh untuk menentukan arah masa depannya sendiri. Aceh memiliki sejarah panjang yang seharusnya memberi kita kepercayaan diri. Negeri ini pernah menjadi bagian dari jalur perdagangan, keilmuan, dan peradaban dunia. Kita memiliki tradisi ulama, dayah, pendidikan, dan keterbukaan terhadap dunia luar. Namun sejarah yang besar tidak otomatis menciptakan masa depan yang besar.
Sebuah negeri tidak dapat hidup hanya dengan mengulang cerita tentang kejayaannya. Nostalgia dapat memberikan kebanggaan, tetapi tidak selalu memberikan arah. Masa depan tidak diwariskan secara otomatis oleh sejarah, melainkan harus dibangun melalui kemampuan membaca perubahan dan keberanian membayangkan sesuatu yang belum pernah ada. Karena itu, kita tidak perlu menjadi Finland, tidak perlu menjadi Singapura, dan tidak harus menjadi Shanghai. Aceh harus menjadi Aceh yang mampu belajar dari dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri. Kita dapat belajar dari berbagai praktik internasional tentang pentingnya mutu guru, keseriusan membangun sistem, perhatian terhadap kualitas pembelajaran, dan kemampuan memikirkan masa depan, tetapi pertanyaan akhirnya tetap harus kita jawab sendiri: apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak Aceh?
Tidak ada negara lain yang dapat menjawab pertanyaan itu lebih baik daripada kita. Karena itu, Aceh membutuhkan keberanian untuk membangun Peta Masa Depan Anak Aceh, bukan sebagai dokumen administratif yang selesai setelah dicetak dan diluncurkan, melainkan sebagai pembacaan bersama yang terus diperbarui mengenai dunia yang sedang dihadapi generasi muda. Keterampilan apa yang akan dibutuhkan? Pekerjaan apa yang akan berubah? Bagaimana kecerdasan buatan memengaruhi pembelajaran? Wilayah mana yang berisiko tertinggal? Bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan sosial anak-anak? Bagaimana pendidikan menjaga nilai agama, budaya, bahasa, dan identitas Aceh dalam dunia yang semakin terbuka?
Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab oleh satu lembaga. Guru harus didengar, orang tua harus dilibatkan, perguruan tinggi harus menggunakan pengetahuannya, dayah harus menjadi bagian dari percakapan, dunia usaha perlu menjelaskan perubahan yang mereka lihat, dan generasi muda harus diberikan ruang untuk berbicara. Pemerintah, pada akhirnya, perlu memiliki keberanian untuk mempertemukan seluruh kecerdasan tersebut. Kita tidak perlu mampu meramalkan masa depan secara sempurna karena tidak ada masyarakat yang dapat melakukannya. Namun kita dapat memilih untuk tidak memasuki masa depan dengan mata tertutup.
Sebab anak-anak tidak menunggu. Mereka tumbuh setiap hari. Ketika kita masih memperdebatkan metode lama, mereka mungkin telah menemukan cara baru untuk belajar. Ketika kita masih membangun sistem untuk menjawab persoalan hari ini, dunia mungkin telah berubah lagi. Karena itu, pendidikan membutuhkan keberanian baru: keberanian untuk mendengar, belajar, mengakui bahwa tidak semua cara lama masih cukup, menggunakan teknologi tanpa menjadi budaknya, dan membayangkan masa depan sebelum masa depan itu datang tanpa persiapan.
Saya tidak menulis ini dengan pesimisme. Saya menulis karena percaya bahwa Aceh memiliki kemampuan untuk bangkit, belajar, dan membangun kembali dirinya. Aceh pernah melewati masa-masa sulit dan tetap memiliki kekuatan untuk berdiri. Karena itu, tidak ada alasan untuk percaya bahwa Aceh tidak mampu membangun keberanian intelektual yang diperlukan untuk mempersiapkan anak-anaknya menghadapi masa depan. Namun harapan tidak boleh hanya menjadi kata. Harapan harus menjadi pekerjaan.
Aceh tidak boleh hanya membesarkan anak-anak untuk mengenang kejayaan masa lalu. Kita harus membesarkan mereka untuk menciptakan kejayaan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Mereka harus mampu berdiri di panggung dunia tanpa kehilangan kemampuan untuk pulang kepada nilai-nilai yang membentuk mereka. Mungkin itulah makna pendidikan yang sesungguhnya: bukan hanya mempersiapkan manusia untuk mencari tempat di dunia, tetapi mempersiapkan manusia untuk ikut menentukan dunia seperti apa yang ingin mereka bangun.
Dan akhirnya, saya kembali kepada anak yang pada pagi hari berangkat ke sekolah. Anak yang membawa tas di punggungnya, melewati jalan kampung, persawahan, meunasah, atau masjid, lalu pulang dan membuka pintu menuju dunia melalui layar kecil di tangannya. Ia mungkin belum mengetahui seperti apa dunia yang sedang menunggunya. Namun kita tidak memiliki alasan untuk tidak mulai memikirkannya. Sebab pendidikan bukan semata-mata tentang gedung yang kita bangun, anggaran yang kita habiskan, program yang kita laksanakan, atau laporan yang kita selesaikan. Pendidikan adalah tentang seorang anak yang hari ini berjalan menuju sekolah sambil membawa masa depan yang belum ia ketahui.
Suatu hari nanti, anak-anak Aceh yang hari ini duduk di bangku sekolah akan hidup dengan akibat dari keputusan yang kita ambil sekarang. Mereka mungkin tidak akan mengingat berapa banyak rapat yang pernah kita lakukan atau berapa banyak program yang pernah kita luncurkan. Namun, mereka akan merasakan akibat dari cara kita memikirkan—atau gagal memikirkan—masa depan mereka. Dan mungkin suatu hari nanti mereka akan bertanya kepada generasi kita: ketika kami sedang tumbuh, apakah kalian benar-benar membayangkan dunia yang sedang menunggu kami?
Pertanyaan itu seharusnya cukup untuk membuat kita berhenti sejenak dan mulai berpikir bersama. Sebab bahaya terbesar bukan ketika Aceh menghadapi perubahan, karena perubahan adalah sesuatu yang tidak mungkin kita hentikan. Bahaya yang sebenarnya adalah ketika perubahan datang, sementara Aceh kehilangan keberanian untuk membayangkan masa depan anak-anaknya. Aceh pernah menjadi bagian dari percakapan dunia. Karena itu, Aceh tidak seharusnya menjadi penonton dunia. Semuanya mungkin harus dimulai dari satu kesadaran sederhana, tetapi mendesak: jangan biarkan pendidikan Aceh terus berjalan, sementara imajinasi kita tentang masa depan anak-anaknya berhenti.










