Artikel · Potret Online

Dunia Jangan Lalai, Akhirat yang Sudah Pasti : Dalam Perspektif Tasawuf

8 menit baca 4

Oleh : Kaipal Wahyudi

Setiap manusia pasti akan sampai pada satu titik yang tidak bisa dihindari: kematian. Ketika kehidupan di dunia berakhir, harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan yang dimiliki tidak lagi dapat dibawa. Yang tersisa adalah amal yang pernah dilakukan dan kebaikan yang masih memberi manfaat bagi orang lain.

Dalam satu hadis, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya akan terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Sedekah jariyah adalah amal yang manfaatnya terus dirasakan orang lain. Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang diketahui, tetapi ilmu yang diajarkan, diamalkan, dan membawa kebaikan bagi sesama. Sementara doa anak saleh menjadi salah satu bentuk bakti kepada orang tua yang tetap dapat dilakukan setelah mereka meninggal dunia.

Hadis tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan selama hidup, tetapi juga tentang kebaikan apa yang masih dapat dirasakan setelah dirinya tidak lagi ada.

Manusia juga akan dimintai pertanggungjawaban atas umur, ilmu, harta, dan jasadnya. Umur akan ditanya untuk apa digunakan, terutama masa muda. Ilmu akan dipertanggungjawabkan sejauh mana dipahami dan diamalkan. Harta akan ditanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan. Begitu pula jasad merupakan amanah yang harus digunakan untuk kebaikan, beribadah, bekerja, dan membantu sesama, bukan untuk melakukan kemaksiatan.

Karena itu, hidup bukan hanya soal memperbanyak apa yang kita punya. Yang lebih penting adalah memastikan apa yang kita miliki, waktu yang kita gunakan, ilmu yang kita pelajari, harta yang kita peroleh, dan tenaga yang kita gunakan dapat menjadi bekal ketika kehidupan dunia ini berakhir.

Di Aceh, pesan tentang dunia dan akhirat bukan sesuatu yang asing. Ia hidup dalam pengajian di gampong, suara azan dari masjid dan meunasah, pendidikan dayah, majelis zikir, serta nasihat orang tua kepada anak-anaknya. Salah satu ungkapan sederhana yang mengandung peringatan mendalam adalah, “Dunia jangan lalai, akhirat yang sudah pasti.”

Ungkapan itu bukan berarti manusia harus meninggalkan dunia. Dalam perspektif tasawuf, dunia tetap merupakan bagian dari kehidupan yang harus dijalani. Manusia perlu bekerja, mencari nafkah, menuntut ilmu, membangun keluarga, mengembangkan usaha dan menjalankan tanggung jawab sosial. Semua itu tidak bertentangan dengan agama. Persoalannya muncul ketika dunia yang semestinya menjadi sarana berubah menjadi tujuan hidup.

Harta yang awalnya berada di tangan perlahan menguasai hati. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi kebanggaan. Popularitas dijadikan ukuran harga diri. Manusia terus mengejar lebih banyak, lebih tinggi dan lebih terkenal, tetapi tidak pernah benar-benar merasa cukup.

Tasawuf menyebut keadaan seperti ini sebagai ghaflah, yaitu kelalaian hati dari mengingat Allah. Seseorang bisa terlihat sukses, produktif dan sibuk, tetapi secara batin semakin jauh dari Tuhan. Azan terdengar, Al-Qur’an dibaca, nasihat agama disampaikan, tetapi hati tidak lagi peka. Kesibukan dunia akhirnya membuat manusia lupa bahwa dirinya sedang berjalan menuju kematian.

Dari kelalaian tersebut dapat tumbuh hubbud dunya, kecintaan berlebihan kepada dunia. Islam tidak melarang manusia memiliki harta, rumah, kendaraan, pekerjaan maupun jabatan. Yang menjadi persoalan adalah ketika semua itu membuat manusia takut kehilangan, selalu merasa kurang dan lupa bahwa setiap nikmat akan dipertanggungjawabkan.

Karena itu, dunia dalam tradisi Islam dapat dipahami sebagai mazra’atul akhirah, ladang bagi kehidupan akhirat. Dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat tempat menuai. Bekerja, berdagang, belajar, membangun keluarga dan mengembangkan usaha dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, melalui jalan yang halal dan membawa manfaat bagi orang lain.

Tasawuf kemudian mengajarkan yaqzhah, yaitu kesadaran untuk terbangun dari kelalaian. Manusia perlu berhenti sejenak dari kesibukan dan bertanya kepada dirinya sendiri: ke mana sebenarnya hidup ini diarahkan? Kesadaran tersebut diperkuat dengan muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah mengetahui dan mengawasi setiap perbuatan manusia. Dari muraqabah lahir kejujuran yang tidak bergantung pada ada atau tidaknya manusia yang melihat.

Pada titik ini, makna zuhud juga perlu dipahami secara benar. Zuhud bukan berarti miskin, meninggalkan pekerjaan atau menjauh dari kehidupan sosial. Zuhud adalah kemampuan menempatkan dunia secara proporsional. Dunia boleh berada di tangan, tetapi tidak menguasai hati. Kekayaan boleh dimiliki selama tidak melahirkan kesombongan. Jabatan boleh diterima selama dijalankan sebagai amanah. Teknologi boleh digunakan selama tidak membuat manusia kehilangan waktu untuk mengingat Allah.

Teladan keseimbangan tersebut terlihat dalam kehidupan para nabi. Kisah Nabi Adam AS dan syajaratul khuld menggambarkan bagaimana keinginan dapat menjadi ujian manusia. Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa kecintaan kepada keluarga tidak boleh mengalahkan ketundukan kepada Allah. Nabi Muhammad SAW sendiri memperlihatkan bahwa kedalaman spiritual bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia. Beliau berdagang, berkeluarga, memimpin masyarakat dan menghadapi berbagai persoalan sosial.

Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW melakukan perenungan di Gua Hira. Setelah menerima wahyu, beliau kembali ke tengah masyarakat. Gua Hira menjadi ruang pembentukan batin, sementara masyarakat menjadi ruang pengamalan nilai-nilai wahyu. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas bukan pelarian dari kehidupan, melainkan kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih benar.

Para ulama dan sufi kemudian mengembangkan gagasan tersebut. Hasan al-Basri mengingatkan tentang kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan akhirat. Rabi’ah al-Adawiyah menekankan mahabbah, cinta kepada Allah, sebagai kekuatan perjalanan spiritual. Imam al-Ghazali melalui Ihya’ Ulum al-Din membahas hubungan manusia dengan harta, nafsu dan dunia. Ibn Athaillah al-Iskandari dalam Al-Hikam mengingatkan agar hati tidak menggantungkan diri secara berlebihan kepada selain Allah.

Gagasan itu tetap relevan dalam kehidupan modern. Said Nursi mengingatkan tentang dunia yang terus berubah dan berlalu. Buya Hamka melalui Tasawuf Modern menunjukkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak mengharuskan manusia meninggalkan kehidupan dunia. Seyyed Hossein Nasr mengkritik modernitas yang terlalu menekankan materialisme dan teknologi sehingga dimensi sakral kehidupan semakin tersisihkan.

Hari ini, godaan dunia hadir dalam bentuk yang semakin beragam. Manusia tidak hanya mengejar harta dan jabatan, tetapi juga pengikut media sosial, tanda suka, komentar dan popularitas. Flexing membuat keberhasilan sering diukur dari apa yang dapat dipamerkan. Sementara FOMO membuat seseorang takut tertinggal dari tren dan gaya hidup orang lain.

Ironisnya, manusia bisa begitu takut tertinggal dalam urusan dunia, tetapi tidak terlalu khawatir ketika tertinggal dalam urusan akhirat.

Karena itu, muhasabah menjadi penting. Manusia perlu bertanya: apa sebenarnya yang sedang dikejar? Untuk apa harta dikumpulkan? Dari mana harta diperoleh? Ke mana waktu dihabiskan? Apa manfaat ilmu yang dimiliki? Apakah kesibukan selama ini semakin mendekatkan hati kepada Allah atau justru menjauhkannya?

Kemajuan material tetap penting. Rumah yang layak, pendidikan yang baik, ekonomi yang kuat, pekerjaan yang halal dan perkembangan teknologi merupakan bagian dari ikhtiar manusia. Namun, semua itu tidak otomatis memberikan makna hidup dan ketenangan batin. Seseorang bisa memiliki banyak hal tetapi tetap merasa kosong.

Tasawuf tidak memusuhi pembangunan dan kemajuan. Ia justru mengajarkan manusia menggunakan dunia tanpa diperbudak olehnya. Zikir, doa, muraqabah, muhasabah dan tazkiyatun nafs menjadi jalan untuk menjaga hati agar tidak hanyut dalam arus kehidupan.

Kesadaran terhadap akhirat seharusnya membuat manusia semakin bertanggung jawab dalam menjalani dunia. Ia bekerja dengan jujur, memimpin dengan amanah, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan memperlakukan orang lain dengan baik karena sadar bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.

Kematian adalah kepastian yang tidak mengenal jabatan, kekayaan maupun popularitas. Orang kaya dan miskin akan menghadapinya. Pejabat dan rakyat biasa akan menghadapinya. Tidak ada harta yang mampu membeli tambahan umur dan tidak ada kekuasaan yang dapat menahan datangnya ajal.

Maka keberhasilan hidup tidak cukup diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari untuk apa semuanya digunakan. Harta yang digunakan untuk membantu orang lain memiliki nilai yang lebih berarti daripada harta yang hanya menumbuhkan kesombongan. Jabatan yang digunakan untuk melayani masyarakat berbeda dengan jabatan yang dipakai untuk kepentingan diri sendiri. Ilmu yang diamalkan jauh lebih bermakna daripada ilmu yang hanya menjadi kebanggaan.

Pesan ini sangat relevan bagi masyarakat Aceh yang memiliki tradisi keislaman kuat. Dayah, masjid, meunasah, pengajian dan majelis ilmu sejak lama menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak kekal. Kesadaran terhadap akhirat bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia. Sebaliknya, ia seharusnya melahirkan manusia yang lebih jujur, amanah, sederhana dan peduli terhadap sesama.

Pada akhirnya, dunia tidak pernah benar-benar selesai untuk dikejar. Ketika satu keinginan tercapai, keinginan lain muncul. Rumah yang dibangun akan ditinggalkan, harta yang dikumpulkan akan berpindah tangan, jabatan akan berakhir dan popularitas akan dilupakan. Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali.

Maka, “dunia jangan lalai, akhirat yang sudah pasti” bukan ajakan untuk meninggalkan dunia. Ia adalah ajakan untuk menempatkan dunia pada tempat yang semestinya. Genggamlah dunia secukupnya, manfaatkan sebaik-baiknya, tetapi jangan biarkan dunia mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah di dalam hati.

Tidak perlu menunggu tua untuk memperbaiki arah hidup. Tidak perlu menunggu seluruh urusan dunia selesai, karena urusan dunia memang tidak akan pernah benar-benar selesai. Selama masih diberi kesempatan bernapas, manusia masih memiliki ruang untuk bertobat, memperbaiki diri, membersihkan hati dan menata kembali tujuan hidup.

Sebab dunia adalah tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat menuai. Kita tidak pernah tahu kapan waktu menanam itu berakhir. Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, yang perlu kita persiapkan adalah bekal untuk menuai di hari akhirat, sementara dunia hanyalah tempat persinggahan.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...