Esai · Potret Online

Syukur

Penulis Din Saja
September 3, 2026
3 menit baca 5
2fca5f4f-cf10-4c04-8222-41e78d953392
Foto / IlustrasiSyukur

Oleh Din Saja

Bersyukur adalah kesadaran terindah yang dapat dicapai setiap manusia.

Dia mengandung pengakuan bahwa keinginan hati adalah nisbi, bahwa kecemasan adalah ketidakmampuan logika menemukan kepastian, bahwa ketetapan sang kehendak tidak dapat terelakkan.

Bersyukur adalah eksistensi sejati manusia.

2026

Tulisan ini mengandung gagasan filosofis yang kuat: 

Syukur bukan sekadar sikap menerima keadaan, melainkan kesadaran eksistensial tentang keterbatasan manusia di hadapan kehendak Tuhan.

Pembacaan filosofis

“Bersyukur adalah kesadaran terindah yang dapat dicapai setiap manusia.”

Kalimat pembuka langsung menempatkan syukur bukan sebagai kewajiban moral belaka, tetapi sebagai puncak kesadaran. 

Bersyukur berarti manusia telah sampai pada suatu pemahaman tertentu tentang dirinya dan tentang realitas yang melampaui dirinya.

Kemudian ada tiga lapis kesadaran:

“Keinginan hati adalah nisbi”

Keinginan manusia tidak absolut. 

Apa yang dianggap baik, penting, atau harus terjadi oleh hati manusia sebenarnya terbatas oleh pengetahuan dan pengalaman manusia itu sendiri. 

Keinginan bukanlah ukuran mutlak kebenaran.

“Kecemasan adalah ketidakmampuan logika menemukan kepastian”

Ini menarik karena kecemasan tidak semata-mata ditempatkan sebagai persoalan perasaan. 

Ia dibaca sebagai konsekuensi dari keterbatasan nalar. 

Logika ingin memastikan masa depan, sementara masa depan tidak seluruhnya berada dalam jangkauan manusia. 

Ketika kepastian tidak ditemukan, lahirlah kecemasan.

Lalu sampai pada lapisan terdalam:

“Ketetapan sang kehendak tidak dapat terelakkan.”

Di sini teks bergerak dari psikologi menuju metafisika. 

Manusia memiliki keinginan, berpikir, merencanakan, dan berharap, tetapi pada akhirnya berhadapan dengan kehendak Tuhan yang tidak dapat ditundukkan oleh kehendak manusia.

Karena itu, syukur menjadi lebih daripada “berterima kasih atas sesuatu yang menyenangkan”. 

Syukur adalah kesadaran bahwa manusia tidak berdaulat sepenuhnya atas keberadaannya.

“Bersyukur adalah eksistensi sejati manusia.”

Ini merupakan tesis paling kuat sekaligus paling kontroversial dalam tulisan tersebut.

Jika eksistensi sejati dimaksudkan sebagai keadaan ketika manusia menyadari siapa dirinya secara mendalam, maka syukur menjadi semacam jalan pulang eksistensial: 

manusia berhenti menganggap kehendaknya sebagai pusat semesta dan menyadari bahwa keberadaannya sendiri adalah sesuatu yang diterima, bukan sesuatu yang sepenuhnya ia ciptakan.

Dengan demikian, struktur pemikirannya dapat diringkas:

Keinginan → menyadari kenisbian

Kecemasan → menyadari keterbatasan logika

Takdir → menyadari keterbatasan kehendak

Syukur → menerima kesadaran tersebut

Yang menarik, syukur dalam teks ini bukanlah pasrah karena kalah, melainkan kesadaran setelah memahami batas-batas manusia.

Secara spiritual, gagasan ini dekat dengan pandangan bahwa manusia berikhtiar, berpikir, dan berharap, tetapi hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah. 

Maka syukur bukan berarti berhenti berusaha. Justru berusaha tanpa menganggap hasil sebagai milik mutlak kehendak kita.

Inti terdalam tulisan ini dapat dirumuskan:

Manusia menjadi dirinya yang sejati bukan ketika seluruh keinginannya terpenuhi, melainkan ketika ia mampu menyadari bahwa tidak semua yang diinginkannya harus terjadi.

Karena itu, syukur adalah bentuk tertinggi dari kesadaran terhadap keterbatasan diri sekaligus pengakuan terhadap Yang Tak Terbatas.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Din Saja
Media Perempuan Kritis dan Cerdas
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...