Ngopi Sehat Cak Imun dan Rupiah Tersungkur

Oleh Anies Septivirawan
Rupiah sedang sakit, terkapar, akibat tersungkur. Namun langit di kotaku tidak ikut bersedih. Langit tetap biru nan cerah, meskipun pagi itu harga gula naik lagi. Di grup WA para pedagang, notifikasi merah semua: “Rupiah anjlok”.
Tapi di pojok Jalan sebuah gang, lampu kuning Warung cak Imun tetap menyala pada jam 5.30.
Dia tidak mengganti harga. Secangkir kopinya masih berkisar Rp 4.000 hingga Rp5.000. Kopinya tetap tubruk, hitam dan kental, tidak pakai kompromi.
Meskipun situasi ekonomi yang sudah tidak memihak wong cilik (orang kecil), namun warung kopi itu tak pernah merubah takarannya. Dulu, takaran gula 2 sendok, sekarang bahkan menambahkan takaran. Dia bilang ke pelanggan,
”Saya tidak pernah mengurangi takaran gula. Biar kita sama-sama kuat dan bernutrisi,”
Jumlah pelanggan bertambah. Tukang ojek, satpam, teman- teman sekolahnya dulu, hingga para pensiunan, duduk di bangku kayu yang catnya sudah memudar. Tidak ada AC, cuma kipas angin yang berbunyi krek-krek. Namun obrolannya sangat hangat nan mengalir.
Waktu harga biji kopi impor naik 40%, cak Imun tidak berpindah ke kopi robusta murah. Dia balik ke seorang petani kopi yang dulu langganan leluhurnya. Menjemput sendiri, lalu membayar cash.
”Kalau kita saling menguatkan, rupiah mau jatuh kayak gimana pun, kita tidak bakal remuk,” katanya sambil menyaring kopi.
Warungnya tidak berkembang menjadi kafe estetik. Tidak ada QRIS, tidak ada WiFi kencang. Yang ada hanya catatan hutang di balik pintu: “Mas Sentot tiga kali ngopi. Lunasin pas gajian ya”. Dan Mas Sentot selalu lunas.
Rupiah bisa tersungkur. Namun, tempat yang bikin orang merasa “punya rumah kedua”, dan merasa nyaman di rasa, tidak akan bakal tumbang begitu saja.












