Esai · Potret Online

‎Ngopi Sehat Cak Imun dan Rupiah Tersungkur

Penulis  Anies Septivirawan
Juni 13, 2026
2 menit baca 84
5a95f8d4-5881-4c44-a041-59e780d6760a
Foto / Ilustrasi‎Ngopi Sehat Cak Imun dan Rupiah Tersungkur

Oleh Anies Septivirawan

‎Rupiah sedang sakit, terkapar, akibat tersungkur. Namun langit di kotaku tidak ikut bersedih. Langit tetap biru nan cerah,  meskipun pagi itu harga gula naik lagi. Di grup WA para pedagang, notifikasi merah semua: “Rupiah anjlok”.

‎Tapi di pojok Jalan sebuah gang,  lampu kuning Warung cak Imun tetap menyala pada jam 5.30.

‎Dia tidak mengganti harga. Secangkir kopinya masih berkisar Rp 4.000 hingga Rp5.000. Kopinya tetap tubruk, hitam dan kental, tidak pakai kompromi.

‎Meskipun situasi ekonomi yang sudah tidak memihak wong cilik (orang kecil), namun warung kopi itu tak pernah merubah takarannya. Dulu, takaran gula 2 sendok, sekarang bahkan menambahkan takaran. Dia bilang ke pelanggan,

‎”Saya tidak pernah mengurangi takaran gula. Biar kita sama-sama kuat dan bernutrisi,”

‎Jumlah pelanggan bertambah. Tukang ojek, satpam, teman- teman sekolahnya dulu, hingga para pensiunan, duduk di bangku kayu yang catnya sudah memudar.  Tidak ada AC, cuma kipas angin yang berbunyi krek-krek. Namun obrolannya sangat hangat nan mengalir.

‎Waktu harga biji kopi impor naik 40%, cak Imun tidak berpindah ke kopi robusta murah. Dia balik ke seorang petani kopi yang dulu langganan leluhurnya. Menjemput sendiri, lalu membayar cash.

‎”Kalau kita saling menguatkan, rupiah mau jatuh kayak gimana pun, kita tidak bakal remuk,” katanya sambil menyaring kopi.

‎Warungnya tidak berkembang menjadi kafe estetik. Tidak ada QRIS, tidak ada WiFi kencang. Yang ada hanya catatan hutang di balik pintu: “Mas Sentot tiga kali ngopi. Lunasin pas gajian ya”. Dan Mas Sentot selalu lunas.

‎Rupiah bisa tersungkur. Namun, tempat yang bikin orang merasa “punya rumah kedua”, dan merasa nyaman di rasa,  tidak akan bakal tumbang begitu saja.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...