Filsafat Manusia Merdeka Dalam Goresan Nasirun

Oleh Yani Andoko
“Saya tidak mau terpenjara oleh hal semacam itu.”
Kalimat itu keluar dari mulut Nasirun dengan nada santai, tanpa beban. Yang ia maksud adalah gawai benda mungil yang bagi kebanyakan dari kita menjelma kebutuhan primer, bahkan napas kedua.
Sementara kita sibuk mengejar notifikasi, algoritma, dan validasi daring, Nasirun justru memilih jalan sunyi: hidup tanpa telepon genggam sejak tahun 2000 . Bukan karena ketinggalan zaman, melainkan karena keputusan sadar seorang perupa yang tak ingin “dikejar-kejar penagih utang” oleh dering telepon yang mengganggu konsentrasi kreatifnya .
Di era ketika setiap orang berlomba menjadi influencer, Nasirun justru menjadi outlier yang membuktikan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan mengakses segalanya, melainkan kebebasan untuk tidak digerakkan oleh tuntutan apa pun termasuk tuntutan untuk viral.
Ketika Kemerdekaan Berwujud Sarung Dan Kuas
Nasirun, pelukis kelahiran Cilacap 1 Oktober 1965 yang berpulang pada 1 Agustus 2026 di usia 60 tahun , bukan sekadar maestro seni rupa. Ia adalah sebuah pertanyaan hidup: Bagaimana menjadi manusia merdeka di zaman yang paling tidak merdeka?
Jawabannya ia praktikkan sehari-hari: melukis di atas kanvas, menyapu halaman rumah, memelihara tiga puluh ekor kucing, dan menampung siapa pun yang datang ke studionya di Wates, Bantul, tanpa perlu janji via WhatsApp . Ia tidak memiliki media sosial, tidak membaca media cetak atau daring, tapi diksi-diksi yang keluar dari mulutnya menyiratkan intelektualitas tinggi .
Ini ironi yang indah: seorang yang “buta” teknologi justru memiliki visi yang lebih jernih tentang kehidupan daripada mereka yang tenggelam dalam lautan informasi.
Menafsir Ulang Kemerdekaan
“Seniman Gorengan”: Ketika Julukan Menjadi Mahkota
Tahun 1997 adalah titik balik. Dalam sebuah pameran tunggal, seluruh karya Nasirun ludes terjual hanya dalam delapan jam. Ia pun dijuluki “seniman gorengan” . Alih-alih tersinggung, Nasirun justru menerima label itu dengan tawa dan kerendahan hati:
“Di tahun 1997, saya termasuk yang dibilang seniman gorengan. Sekarang saya merasa keberhasilan itu salah satu yang membuat laku dan sekarang saya merasa berbalik 100 persen.”
Ada pelajaran besar di sini. Di tengah budaya yang gemar memberi label baik untuk meninggikan maupun merendahkan Nasirun mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kita tidak lagi digerakkan oleh penilaian orang lain. Label “gorengan” yang awalnya sindiran ia ubah menjadi identitas kebanggaan: gorengan itu laris, dekat dengan rakyat, dan hangat. Ia tidak butuh gelar “maestro” untuk merasa berharga. Ia cukup menjadi dirinya sendiri.
Merdeka dari Gawai: Melawan Arus Digital
Keputusan Nasirun untuk hidup tanpa HP bukanlah sikap anti-teknologi. Ini adalah kritik sosial terhadap kecanduan modern yang membuat manusia kehilangan kapasitas untuk merenung . Seperti yang diungkapkan sahabatnya, Marzuki Muhammad: “Pak Nasirun tidak mau terpenjara dengan hal semacam itu, dan karya-karyanya pun tetap kontekstual meskipun dia tidak terpenjara dengan tuntutan algoritma media sosial.”
Bayangkan: di era ketika seniman muda mempertimbangkan algoritma agar karyanya viral , Nasirun justru menunjukkan bahwa karya besar lahir dari kebebasan berekspresi, bukan dari tekanan tren digital. Ia adalah bukti hidup bahwa relevansi tidak diukur dari jumlah like atau follower, melainkan dari kedalaman makna yang dihadirkan.
Budayawan Sindhunata menambahkan: “Dia memang orang bebas, tidak mau terikat oleh apapun. Menandakan bahwa dia tidak tergantung apapun, juga dengan kemajuan, dengan fasilitas. Menghayati kreativitasnya dengan sendirinya.”
“Gudang Peradaban”: Merawat Ingatan Kolektif
Di balik sikapnya yang tampak “kuno”, Nasirun memiliki kesadaran sejarah yang luar biasa. Ia mengoleksi karya-karya seniman lain di museum pribadinya di Wates bukan untuk investasi, tapi untuk menyelamatkan ingatan. “Saya takut mereka (seniman lain) dilupakan oleh generasi sekarang. Karena sebenarnya dari merekalah saya betul-betul ada prosesnya,” tuturnya .
Ia menyimpan sketsa Raden Saleh yang diberikan Werner Krauss secara cuma-cuma, serta ratusan karya dari perupa Sanggar Bambu era 1940-an hingga 1950-an . “Ini bukan soal uang tapi soal riset. Siapapun boleh meriset karya di sini,” tegasnya .
Inilah bentuk zakat kebudayaan yang ia jalankan sebuah gagasan bahwa seni adalah warisan bersama yang harus dirawat, bukan komoditas yang diperebutkan. Di tengah masyarakat yang mudah melupakan, Nasirun menjadi penjaga ingatan.
Melukis di Peti Mati Dan Kandang Ayam: Kritik Sosial dalam Rupa
Keberanian Nasirun dalam memilih medium berkarya menunjukkan kedalaman pemikirannya. Ia pernah melukis di atas peti mati sebagai simbol “kematian seni rupa” sindiran terhadap opini yang mengkritik pelukis Widayat karena banyak menjual karyanya ke kolektor . Ia juga melukis di atas karpet setelah terinspirasi berita tentang nasib pekerja migran Indonesia yang akan dihukum pancung di Arab Saudi .
Yang lebih mencengangkan: belum lama ini ia menyatakan keinginan untuk menggelar pameran di kandang ayam milik sahabatnya . Prinsipnya sederhana: “Undangan itu wajib dituntaskan,” tanpa pilih-pilih tempat. Ini adalah kritik halus terhadap elitisme seni yang menganggap pameran hanya layak di galeri ber-AC.
Warisan Manusia Merdeka
Nasirun pergi pada 1 Agustus 2026 , meninggalkan duka dan tiga rekor MURI . Tapi warisan terbesarnya bukanlah rekor atau kanvas-kanvas mahal. Warisan terbesarnya adalah contoh nyata bahwa di zaman paling bising sekalipun, kita masih punya pilihan untuk menjadi merdeka.
“Melukis itu ibarat jiwanya saya,” katanya . Dan jiwa itu, seperti ia tunjukkan, tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksa mengikuti tren, dan tidak bisa direduksi menjadi sekadar konten.
Kemerdekaan ala Nasirun bukanlah tentang memiliki banyak pilihan, melainkan tentang keberanian untuk memilih tidak tidak memiliki HP, tidak mengejar pasar, tidak peduli label, tidak terjebak algoritma.
Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati dimulai ketika kita berhenti berlari mengejar pengakuan, dan mulai duduk, merenung, merasakan, lalu menciptakan sesuatu yang benar-benar berasal dari jiwa.
Selamat jalan, Nasirun. Kau telah melukis kemerdekaan dengan warna-warna yang tak akan pudar.
Batu, 1 Agustus 2026












