Artikel · Potret Online

Ketika Anak Patuh karena Takut

Penulis  Novita Sari Yahya
Agustus 23, 2026
5 menit baca 6
IMG_2650
Foto / IlustrasiKetika Anak Patuh karena Takut
Disunting Oleh

Disiplin, Kejujuran, dan Kebebasan Generasi

Oleh Novita Sari Yahya

“The child who obeys you out of fear will one day lie to you for freedom.”

Kalimat tersebut menarik perhatian saya sebagai seorang ibu dari dua putra dan satu putri. Kutipan ini sering dikaitkan dengan Niccolò Machiavelli, meskipun atribusinya tidak dapat dipastikan sebagai kutipan asli dari karya Machiavelli. Karena itu, saya lebih tertarik membahas gagasannya daripada memperdebatkan siapa yang mengucapkannya.

Bagi saya, kalimat itu mengandung pertanyaan penting: apakah anak yang patuh karena takut benar-benar belajar menjadi anak yang jujur dan bertanggung jawab?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa disiplin adalah sesuatu yang buruk. Justru saya percaya anak membutuhkan batasan. Saya dibesarkan dalam keluarga yang memberikan batasan cukup tegas. Ketika melakukan kesalahan, kami dituntut untuk mengakuinya. Kejujuran dihargai, sementara alasan yang dibuat untuk menghindari kesalahan tidak selalu diterima.

Nilai tersebut kemudian memengaruhi cara saya mendidik anak.

Saya juga pernah melihat persoalan ini dari sisi pendidikan. Pada 2013–2015, saya pernah menjadi guru honorer di SMK kesehatan dan dalam satu minggu berhadapan dengan sekitar 600 siswa serta berbagai mata pelajaran. Saya juga pernah mengajar di akademi kebidanan. Pengalaman tersebut mempertemukan saya dengan banyak karakter, latar belakang keluarga, dan cara berpikir anak muda.

Dari pengalaman sebagai ibu dan pendidik, saya terkadang melihat anak-anak yang sangat cepat memahami informasi, tetapi belum tentu sama cepatnya dalam menghadapi tanggung jawab. Ada yang ketika melakukan kesalahan lebih banyak memberikan alasan daripada mengatakan secara sederhana, “Saya salah.”

Namun, saya menyadari bahwa pengamatan tersebut tidak boleh digunakan untuk menghakimi seluruh Generasi Milenial, Generasi Z, atau Generasi Alfa. Setiap generasi memiliki keragaman yang besar, dan pengalaman saya bukan penelitian yang dapat mewakili mereka semua.

Yang saya lihat justru menjadi bahan untuk melakukan introspeksi.

Generasi sekarang tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi saya. Mereka memiliki akses informasi yang luas, teknologi yang berkembang pesat, serta kesempatan untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang jauh lebih terbuka. Banyak di antara mereka sangat kreatif, kritis, mandiri, dan mampu beradaptasi.

Tetapi kemampuan memperoleh informasi tidak otomatis berarti seseorang sudah matang dalam mengelola tanggung jawab.

Di sinilah parenting menjadi penting.

Penelitian Diana Baumrind memperkenalkan perbedaan antara pola pengasuhan authoritarian, authoritative, dan permissive. Dalam pola authoritative, orang tua tetap memberikan aturan dan batasan, tetapi disertai komunikasi, kehangatan, dan penghargaan terhadap kemandirian anak.

Penelitian yang lebih luas juga mendukung gagasan tersebut. Meta-analisis Pinquart dan Kauser terhadap 428 studi menemukan bahwa authoritative parenting berkaitan dengan setidaknya satu hasil positif pada anak di berbagai wilayah dunia, meskipun terdapat variasi berdasarkan konteks budaya.

Karena itu, menurut saya, persoalannya bukan apakah orang tua harus tegas atau memberikan kebebasan. Anak membutuhkan keduanya.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ketegasan itu diberikan.

Ketegasan yang disertai penghinaan, ancaman, atau kontrol psikologis berlebihan dapat menjadi masalah. Penelitian longitudinal Hare dan koleganya menunjukkan bahwa persepsi remaja terhadap kontrol psikologis ibu berkaitan dengan perkembangan kemampuan mereka mengekspresikan otonomi.

Penelitian tentang keterbukaan remaja kepada orang tua juga menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap ketidaksetujuan orang tua dapat berhubungan dengan pengungkapan informasi yang lebih rendah dan, dalam kondisi tertentu, lebih banyak kebohongan. Sebaliknya, keterbukaan berkaitan dengan hubungan orang tua-anak yang lebih baik.

Hal tersebut membuat saya melihat disiplin dari sudut yang sedikit berbeda.

Saya tetap ingin anak-anak memahami bahwa setiap tindakan mempunyai konsekuensi. Tetapi saya tidak ingin mereka takut kepada saya sampai merasa harus menyembunyikan kesalahan.

Saya ingin mereka dapat mengatakan, “Saya salah.”

Saya ingin mereka dapat berkata, “Saya tidak setuju,” tanpa kehilangan rasa hormat.

Saya ingin mereka mampu menjelaskan alasan tanpa menjadikan alasan sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab.

Bagi saya, itulah perbedaan antara kepatuhan dan kedewasaan.

Anak yang selalu mengatakan “iya” belum tentu memahami apa yang dilakukannya. Sebaliknya, anak yang mampu berdiskusi, mempertanyakan aturan secara sopan, menerima konsekuensi, kemudian memperbaiki kesalahan justru sedang belajar menjadi pribadi mandiri.

Karena itu, saya tidak ingin membandingkan generasi saya dengan generasi sekarang hanya untuk menentukan siapa yang lebih baik.

Dari generasi saya, ada nilai yang menurut saya tetap penting: disiplin, ketekunan, rasa hormat, kesederhanaan, dan keberanian mengakui kesalahan.

Dari generasi sekarang, kita dapat belajar tentang kreativitas, keberanian berpikir kritis, keterbukaan terhadap informasi, kemampuan teknologi, dan adaptasi terhadap perubahan.

Mungkin parenting yang baik bukan memilih salah satu dan menolak yang lain.

Kita membutuhkan disiplin tanpa ketakutan, kebebasan tanpa kehilangan tanggung jawab, serta komunikasi tanpa menghilangkan rasa hormat.

Sebagai ibu, saya tidak ingin anak-anak saya hanya menjadi anak yang patuh ketika saya melihat mereka.

Saya ingin mereka menjadi manusia yang tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi, mampu mengakui kesalahan ketika tidak ada yang memaksa, dan mampu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan konsekuensinya.

Pada akhirnya, tugas orang tua bukan mempertahankan anak selamanya berada di bawah kendali kita.

Tugas kita adalah mempersiapkan mereka agar suatu hari mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Sebab disiplin yang baik bukan menghasilkan anak yang takut kepada orang tuanya, melainkan manusia yang mampu bertanggung jawab bahkan ketika orang tuanya sudah tidak berada di sampingnya.

Referensi

– Baumrind, D. (1966). Effects of authoritative parental control on child behavior. Child Development, 37(4), 887–907. https://doi.org/10.2307/1126611

– Hare, A. L., Szwedo, D. E., Schad, M. M., & Allen, J. P. (2015). Undermining adolescent autonomy with parents and peers: The enduring implications of psychologically controlling parenting. Journal of Research on Adolescence, 25(4), 739–752. https://doi.org/10.1111/jora.12167

– Pinquart, M., & Kauser, R. (2018). Do the associations of parenting styles with behavior problems and academic achievement vary by culture? Results from a meta-analysis. Cultural Diversity and Ethnic Minority Psychology, 24(1), 75–100. https://doi.org/10.1037/cdp0000149

– Smetana, J. G., & Campione-Barr, N. (2009). Early and middle adolescents’ disclosure to parents about activities in different domains. Journal of Adolescence, 32(3), 693–707. https://doi.org/10.1016/j.adolescence.2008.06.010

– Pinquart, M., & Gerke, D.-C. (2019). Associations of parenting styles with anxiety in children and adolescents: A meta-analysis. Journal of Child and Family Studies, 28(8), 2015–2031. doi.org

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...