Artikel · Potret Online

Ketika Hak Harus Dimulai dengan Kata Tolong

Penulis  Dayan Abdurrahman
Agustus 23, 2026
7 menit baca 16
IMG_2646
Foto / IlustrasiKetika Hak Harus Dimulai dengan Kata Tolong

Oleh Dayan Abdurrahman 

Ada satu kata sederhana yang sejak muda sering membuat saya bertanya-tanya: tolong.

Kata itu indah. Kita menggunakannya ketika membutuhkan orang lain. “Tolong ambilkan.” “Tolong bantu.” “Tolong temani.” Di dalamnya ada kesopanan, kerendahan hati, dan pengakuan bahwa manusia memang tidak bisa hidup sendiri.

Tetapi semakin dewasa, saya menemukan keadaan ketika kata tolong terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar kesopanan. Ia seperti kata sakti.

Urusan yang semestinya selesai karena seseorang telah memenuhi persyaratan tiba-tiba menjadi lebih mudah ketika ia berkata, “Tolong saya, Pak.” Orang yang datang tanpa kenalan, tanpa titipan, tanpa hubungan apa-apa, kadang harus berjalan mengikuti lorong prosedur yang panjang. Sementara orang lain yang membawa nama seseorang, rekomendasi, atau sekadar mengenal orang yang tepat, menemukan pintu yang lebih mudah terbuka.

Sejak muda saya tidak pernah merasa nyaman dengan keadaan seperti itu.

Saya pernah harus datang ke kantor-kantor pemerintah untuk mengurus berbagai keperluan. Saya datang bukan untuk mencari perhatian, bukan pula untuk meminta sesuatu yang bukan hak saya. Saya datang karena memang ada urusan yang harus diselesaikan. Ada persyaratan, ada prosedur, ada kewenangan, dan ada pegawai yang memang ditugaskan untuk melayani.

Namun kadang saya pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Saya merasa seperti baru saja datang ke rumah seseorang untuk meminta pertolongan, bukan datang ke kantor publik untuk memperoleh pelayanan.

Di situlah muncul pertanyaan yang sampai sekarang belum hilang dari kepala saya: mengapa saya harus meminta tolong untuk sesuatu yang memang merupakan tugasnya?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua pegawai pemerintah demikian. Banyak aparatur yang bekerja sungguh-sungguh, profesional, dan melayani masyarakat dengan baik. Tetapi pengalaman sosial tidak selalu dibentuk oleh apa yang seharusnya terjadi. Ia dibentuk oleh apa yang berulang kali kita lihat dan rasakan.

Yang mengganggu rasa keadilan saya sejak muda adalah ketika hubungan personal terasa lebih menentukan daripada prosedur. Ada orang yang cukup mengikuti aturan. Ada pula orang yang merasa perlu mencari kenalan, titipan, atau rekomendasi. Yang kedua kadang justru lebih mudah mendapatkan jalan.

Mungkin pengalaman belajar bahasa Inggris sejak muda ikut membuat saya lebih peka terhadap hal tersebut. Saya tidak mengatakan bahwa belajar bahasa Inggris otomatis membuat seseorang menjadi seperti orang Australia atau orang Barat. Itu terlalu sederhana. Tetapi bahasa bukan hanya kosakata. Ketika belajar bahasa, kita juga memasuki teks, percakapan, gagasan, dan cara pandang masyarakat lain.

Saya kemudian berkenalan dengan kata-kata seperti rights, responsibility, accountability, dan public service. Belakangan, melalui pengalaman belajar dan bekerja dalam lingkungan internasional, termasuk di Australia dan dunia NGO, saya memiliki pembanding yang membuat saya semakin jelas membedakan antara kewajiban profesional dan kebaikan personal.

Perbedaannya sederhana, tetapi penting.

Kalau saya menolong tetangga membawa barang, itu adalah kebaikan. Kalau seorang pegawai publik memproses dokumen warga sesuai kewenangannya, itu adalah kewajiban. Pertolongan adalah kemurahan hati. Pelayanan publik adalah tanggung jawab.

Keduanya sama-sama baik, tetapi tidak sama.

Masalah muncul ketika pelayanan yang merupakan kewajiban diperlakukan seperti pertolongan pribadi. Saat itulah warga mulai bertanya: “Kenal siapa di sana?” “Ada yang bisa dititipkan?” “Siapa yang bisa membantu?” “Harus lewat siapa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar biasa. Bahkan sering dianggap sebagai kecerdikan dalam menjalani kehidupan. Tetapi kalau kita berhenti sebentar, kita akan menemukan persoalan yang lebih dalam: mengapa orang harus mengenal seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang seharusnya diberikan berdasarkan aturan?

Mengapa seseorang yang sudah memenuhi persyaratan masih merasa perlu mencari “orang dalam”? Mengapa orang yang tidak mempunyai jaringan harus bekerja lebih keras hanya untuk memperoleh pelayanan yang sama? Dan mengapa kita kadang menganggap orang yang mempunyai hubungan sebagai orang yang “pandai mencari jalan”, sementara orang yang hanya mengandalkan prosedur dianggap terlalu polos?

Barangkali di sinilah salah satu persoalan sosial kita. Kita memiliki aturan formal yang semakin banyak, tetapi kehidupan sehari-hari masih sangat dipengaruhi hubungan informal. Kita mempunyai prosedur, tetapi kita juga mempunyai titipan. Kita mempunyai antrean, tetapi kita mengenal orang di dalam. Kita mempunyai hak, tetapi kita masih mencari orang yang bisa membantu mendapatkannya.

Tidak selalu ada uang dalam hubungan semacam itu. Tidak selalu ada korupsi. Kadang hanya ada rasa sungkan, hubungan pertemanan, balas jasa, atau keinginan membantu orang yang dikenal. Justru karena itu persoalannya menjadi lebih halus. Sebab menolong teman adalah perbuatan baik. Membantu saudara adalah perbuatan baik. Membukakan jalan bagi seseorang yang sedang kesulitan juga bisa menjadi perbuatan baik.

Tetapi ketika bantuan personal membuat orang lain kehilangan perlakuan yang semestinya sama, kita sudah memasuki persoalan keadilan.

Saya pernah mengalami hal yang membuat pertanyaan lama itu kembali muncul dalam dunia tulisan. Saya menulis beberapa artikel untuk orang lain. Ketika tulisan tersebut dikirim melalui jalur yang memiliki hubungan dengan redaksi sebuah media, tulisan itu memperoleh kesempatan dan diterbitkan. Ketika saya mengirim tulisan atas nama sendiri, saya telah berkali-kali mengirim tulisan yang saya kerjakan dengan serius, tetapi tidak memperoleh kesempatan yang sama.

Saya tentu tidak tahu seluruh alasan di balik keputusan redaksi. Bisa saja ada pertimbangan tema, momentum, ruang, atau kualitas tertentu. Saya tidak ingin menuduh siapa pun. Tetapi pengalaman itu mengembalikan saya pada kegelisahan lama: bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai siapa-siapa?

Ia tidak punya kenalan. Tidak punya titipan. Tidak tahu harus mengetuk pintu siapa. Yang ia miliki hanya dirinya sendiri, pekerjaannya, dan keyakinan bahwa kalau ia memenuhi aturan dan menghasilkan sesuatu yang baik, seharusnya ia mempunyai kesempatan.

Bukankah itu seharusnya cukup?

Pertanyaan itu sebenarnya tidak hanya berlaku untuk saya. Ia berlaku bagi banyak orang yang hidupnya tidak memiliki jaringan kuat: orang biasa, orang desa, anak muda yang baru memulai, mahasiswa yang tidak mengenal siapa-siapa, warga yang datang ke kantor pemerintah sendirian, atau orang yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki akses.

Mereka mungkin tidak pandai berkata tolong. Atau mungkin mereka bisa mengatakannya, tetapi tidak tahu kepada siapa.

Apakah karena itu mereka harus mendapatkan kesempatan yang lebih kecil?

Saya tidak ingin sebuah masyarakat menjadi masyarakat yang dingin, kaku, dan kehilangan budaya saling membantu. Indonesia memiliki gotong royong sebagai kekayaan sosial yang luar biasa. Kita membutuhkan hubungan antarmanusia. Kita membutuhkan kepedulian. Kita membutuhkan orang yang mau berkata, “Saya bantu.”

Tetapi ada tempat di mana kita membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada pertolongan personal.

Kita membutuhkan keadilan.

Di kantor publik, seseorang seharusnya tidak memperoleh pelayanan karena ia mempunyai kenalan. Di sekolah, seorang anak seharusnya tidak memperoleh kesempatan karena orang tuanya mengenal seseorang. Di kampus, seseorang seharusnya tidak memperoleh penghargaan karena kedekatan pribadi. Di media, sebuah tulisan seharusnya memperoleh kesempatan karena gagasannya layak dibaca, bukan semata-mata karena siapa yang mengantarkannya.

Dan dalam kehidupan bernegara, seseorang seharusnya tidak perlu mempunyai “orang dalam” untuk merasa menjadi warga negara yang utuh.

Mungkin ukuran keadilan sebenarnya sangat sederhana.

Bukan bagaimana kita memperlakukan orang yang kita kenal. Kita semua bisa baik kepada orang yang kita kenal. Kita bisa membantu teman. Kita bisa membela saudara. Kita bisa membuka pintu untuk orang yang dekat dengan kita.

Tetapi ukuran yang lebih sulit adalah: bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak mempunyai siapa-siapa?

Di situlah kualitas sebuah institusi diuji. Di situlah kualitas sebuah masyarakat terlihat.

Saya tetap percaya pada kata tolong. Saya tetap akan menggunakannya. Saya tetap akan meminta bantuan kepada manusia lain. Saya tetap percaya bahwa kehidupan akan menjadi miskin jika manusia berhenti saling menolong.

Tetapi saya berharap kita semakin mampu membedakan dua hal: meminta pertolongan karena kita membutuhkan manusia lain, dan meminta pertolongan untuk memperoleh hak yang seharusnya tidak bergantung pada hubungan personal.

Yang pertama adalah bagian dari kemanusiaan.

Yang kedua adalah tanda bahwa sistem kita masih membutuhkan perbaikan.

Sebab masyarakat yang adil bukan masyarakat yang membuat semua orang memiliki kenalan. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang membuat orang yang tidak mempunyai kenalan pun tetap mempunyai kesempatan yang sama.

Maka suatu hari nanti, ketika seseorang datang ke kantor publik, ia tidak perlu berkata dengan perasaan kecil, “Pak, tolong saya.”

Ia cukup berkata, “Saya sudah memenuhi persyaratan. Mohon dilayani sesuai ketentuan.”

Tidak ada titipan. Tidak ada orang dalam. Tidak ada rasa sungkan. Tidak ada keharusan membeli kedekatan. Hanya ada warga, aturan, dan institusi yang menjalankan tanggung jawabnya.

Sebab hak tidak seharusnya dimulai dengan kata “tolong”.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...