Esai

Rakyat Hanya Sebagai Alat Kekuasaan Saja

23 Agustus 2026
Oleh: Yani Andoko


Oleh Yani Andoko 

Saat Kita Hanya Angka Di Layar

Pernahkah kamu merasa seperti bidak catur? Digerakkan ke sana-sini, dikorbankan saat tak berguna, dan tak pernah diajak bicara soal strategi. Kita bekerja, membayar pajak, memilih dalam pemilu, lalu kembali bekerja dan siklus itu terus berulang. Tapi pernahkah kita bertanya: Apakah kita dianggap sebagai manusia, atau hanya sebagai alat?

Sekitar lima dekade lalu, Remy Sylado menjawab pertanyaan itu dengan puisi yang mengguncang: “Lebih Baik Mati Muda.” Bukan tentang bunuh diri. Ini tentang pilihan untuk tidak menjadi alat di tengah sistem yang memperlakukan manusia sebagai komoditas.

Puisi itu lahir dari keprihatinan melihat negeri hancur oleh penindasan, korupsi, dan ketidakadilan. Tapi yang membuatnya abadi adalah kesadarannya: ketimpangan paling dasar bukanlah ekonomi, melainkan eksistensial. Siapa yang berhak bicara? Siapa yang didengar? Dan siapa yang masih dianggap manusia?

Ketika “Sumber Daya Manusia” Bukan Sekadar Istilah

Yang Berkuasa, Yang Bicara

Di era Orde Baru, hanya elite yang punya hak bicara. Rakyat hanya boleh mendengar. Remy melanggar aturan ini dengan menulis puisi dalam bahasa yang kasar dan lugas bahasa yang bisa dimengerti siapa saja. Ini bukan sekadar gaya, ini perebutan ruang: dia memilih berbicara dengan bahasa rakyat, untuk rakyat, dan tentang rakyat.

Bayangkan hari ini. Media sosial memberi kita “hak bicara.” Tapi benarkah kita didengar? Algoritma memilih apa yang viral. Buzzer (individu atau kelompok yang menyebarkan opini tertentu) membanjiri linimasa. Suara rakyat kecil sering tenggelam dalam gempuran konten hiburan dan propaganda. Kita punya panggung, tapi penontonnya sudah diatur.

Yang Didengar, Yang Dianggap Penting

Remy menulis dengan risiko. Ia tahu puisinya mungkin hanya dibaca segelintir orang. Tapi baginya, yang penting adalah bersuara, bukan sekadar didengar. Ini pelajaran penting: keberanian bersuara tidak diukur dari jumlah pendengar, tapi dari kesungguhan hati.

Di era sekarang, kita sering mengukur dampak dari “like” dan “share.” Padahal, perubahan sejati sering dimulai dari suara-suara kecil yang konsisten. Aktivis lingkungan yang terus menulis, guru di pelosok yang mengajar dengan hati, pegawai negeri yang menolak pungli mereka mungkin tak pernah jadi trending topic, tapi mereka adalah bukti bahwa rakyat bukan sekadar alat.

Yang Dianggap Manusia, Yang Berhak Hidup Bermartabat

Inilah inti paling menyakitkan dari puisi Remy. Ia melihat bahwa di mata kekuasaan, rakyat bukanlah manusia dengan perasaan, mimpi, dan martabat. Rakyat adalah objek eksploitasi: sumber pajak, tenaga kerja, dan suara politik.

Lihatlah realitas hari ini:

Di ekonomi: Pekerja disebut “sumber daya manusia.” Kata “sumber daya” sama dengan “sumber batu bara” nilainya diukur dari produktivitas. Saat PHK massal terjadi, yang diberitakan adalah dampak pada pasar saham, bukan air mata para pekerja yang kehilangan mata pencaharian.

Di politik: Rakyat menjadi “tameng penderitaan.” Saat harga BBM naik, pejabat naik mobil dinas sementara ojek online dan buruh pabrik merasakan langsung dampaknya. Kebijakan dibuat di ruang ber-AC, tanpa pernah mendengar keluhan dari pinggiran.

Di birokrasi: Urusan administrasi yang berbelit-belit membuat rakyat kecil berputar-putar bukan untuk dilayani, tapi untuk di”atur” dan di”kendalikan.”

Remy menyaksikan pola yang sama. Ia merespons dengan satu sikap: “Lebih baik mati muda daripada menjadi bagian dari mesiMn yang memperlakukan manusia sebagai alat.”

Sintesis: Antara Puisi dan Pengalaman Sehari-hari

Apa artinya “menjadi alat” dalam keseharian kita?

Coba bayangkan ini. Kamu bekerja di perusahaan yang meminta lembur tanpa bayaran, tapi takut protes karena bisa di-PHK. Atau kamu jadi pegawai negeri yang tahu ada proyek fiktif, tapi bungkam karena takut dimutasi. Atau kamu mahasiswa yang melihat kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa miskin, tapi memilih diam karena takut nilai jelek. Inilah bentuk-bentuk modern “menjadi alat”: kita disuruh berfungsi, tapi tak pernah dihargai sebagai manusia utuh.

Remy mengajarkan bahwa perlawanan dimulai dari keberanian melihat kenyataan. Seperti membuka jendela lebar-lebar, melihat apa yang terjadi di luar rumah, dan berkata jujur: “Ini tidak benar.”

Tentu, tidak semua orang bisa “mati muda” seperti Remy. Tapi kita bisa mulai dari hal kecil:

Berani menolak pekerjaan yang melanggar etika.

Berani bersuara saat melihat ketidakadilan di lingkungan sekitar.

Berani mendengarkan mereka yang sering dibungkam buruh, petani, nelayan, orang miskin kota.

Perlawanan sejati tidak harus spektakuler. Kadang, itu adalah keberanian untuk tetap manusia di tengah sistem yang mencoba membuat kita menjadi robot.

Pesan Dan Idealisme: Mengapa Ini Penting?

Puisi Remy bukan sekadar dokumen sejarah. Ia adalah cermin yang terus relevan. Di era digital, ketimpangan antara elite dan rakyat justru semakin terasa. Kekuasaan ekonomi dan politik masih mengontrol siapa yang bicara, siapa yang didengar, dan siapa yang dianggap manusia.

Tapi ada kabar baik. Semakin banyak orang yang sadar. Gerakan-gerakan kecil bermunculan: koperasi pekerja, media alternatif, komunitas literasi, aktivisme lingkungan yang berbasis akar rumput. Mereka semua mewarisi semangat Remy: menolak menjadi alat, memilih menjadi subjek.

Nilai utama yang ditawarkan Remy adalah integritas. Bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi manusia seutuhnya. Dan harga itu, bagi Remy, adalah kesiapan untuk “mati muda” secara simbolis, artinya siap kehilangan kenyamanan, popularitas, bahkan keselamatan demi kebenaran.

Buka Jendela, Mulai dari Sekarang

Remy Sylado menulis di zaman yang berbeda, tapi pesannya terdengar jelas hingga hari ini: jangan pernah membiarkan dirimu menjadi alat. Jangan biarkan kekuasaan memandangmu sebagai objek. Jadilah subjek yang melihat, berpikir, dan bersuara.

Puisi ini mengajak kita untuk membuka jendela melihat kenyataan dengan jujur, meskipun pahit. Dan saat kita melihat ketidakadilan, kita tidak tinggal diam. Kita memilih untuk menjadi manusia yang utuh, bukan alat yang patuh.

Seperti kata Remy: lebih baik mati muda daripada hidup panjang sebagai alat kekuasaan. Namun, sebelum itu, mari kita hidup dengan keberanian dan kejujuran. Sebab, mungkin itulah satu-satunya cara agar kita tidak pernah menjadi alat siapa pun.

                    Batu, 21 Mei 2026

                          Yani Andoko

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Yani Andoko Penulis | Mantan Anggota DPRD Kota Batu (2004–2014) | Sekretaris Satupena Jawa Timur Lahir di Batu, 1 Maret 1968 Menulis sejak 1980-an di Anita Cemerlang, Aneka, Nona, Gadis, Mode, Surya, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat dan lain-lain Pimpinan redaksi & jurnalis Kopindo Jakarta,(Surya Kompas Group, Tabloid Sinergi Kopindo, Jatim News) Ketua FORWAL (Forum Lingkungan Hidup) Kota Batu (1999–2003) Anggota DPRD Kota Batu 2 periode Mengikuti Seminar Nasional Anti Korupsi di Lemhannas RI (2005) & Kursus Lemhannas RI Angkatan XVIII (2008) S1 Ilmu Hukum, Universitas Wisnu Wardhana (2007) Sekretaris Satupena Jawa Timur (2023–sekarang) Hobi: membaca, fotografi, traveling Menulis adalah caraku berbicara kepada dunia.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir