Donor Darah, Ibadah Medis dan Sosial

Oleh NA. Riya Ison
Donor darah bukan lomba jumlah kantong. Bukan soal “saya sudah 50 kali, kamu baru sekali”. Donor darah itu screening medis, transfusi kemanusiaan, dan aksi sosial. Tiga lapis ini tak bisa dipisah.
- Medis: Sehat Dulu, Baru Donor
PMI tegas: syarat donor adalah sehat. Hb minimal 12,5 g/dL dan maksimal 17
g/dL . Dan tekanan darah 900-160/60-100 mmHg, dengan denyut nadi 50-100x/menit, berat badan ≥45 kg, suhu tubuh 36,5-37,5° C. Tidak sedang batuk pilek, tidak konsumsi antibiotik, tidak habis cabut gigi, tidak tato dan tindik 6 bulan terakhir.
Ini bukan mempersulit. Ini patient safety. Darah dari pendonor anemia justru bahayakan resipien. Darah dari pendonor yang infeksinya masa window period bisa kirim HIV, Hepatitis B, C, Sifilis, Malaria. Karena itu tiap kantong di-screening 4 penyakit menular lewat IMLTD.
Jadi, lebih penting kamu sehat dan lolos screening daripada maksa donor tiap 2 bulan tapi Hb jeblok. Donor itu ibadah badan. Badan harus sah dulu.
- Transfusi: Satu Kantong, Nyawa Tersambung
Satu kantong Whole Blood 350 ml bisa dipisah jadi komponen: PRC untuk Thalasemia, TC untuk DBD, FFP untuk hemofilia, Cryoprecipitate untuk luka bakar. Anak-anak Thalasemia mayor butuh transfusi PRC tiap 2-4 minggu seumur hidup. Tanpa donor rutin, Hb mereka turun, hepatosplenomegali, tulang wajah berubah, jantung bengkak.
Di RSUDZA Banda Aceh, puluhan anak ini antre di sentra pelayanan onkologi. Mereka resipien tetap. Mereka butuh kita yang sehat, bukan kita yang sok kuat tapi habis donor malah pingsan.
- Sosial: Lawan hoaks “Darah Dijual”.
Ini alasan klasik yang klise. “Ngapain donor, darahnya dijual PMI’. Faktanya: yang dibayar bukan darahnya, tapi BPPD_ Biaya Pengganti Pengolahan Darah. Rp360 ribu/kantong itu untuk kantong steril, reagen IMLTD, uji cocok serasi crossmatch, listrik, alat aferesis, gaji petugas, distribusi cold chain. Darahmu betul gratis, tetapi prosesnya yang mahal.
Banyak yang pakai alasan “darah dijual” untuk menutupi trypanophobia – fobia jarum suntik, atau hemophobia – takut lihat darah. Tak apa takut. Tapi jujur. Jangan fitnah sistem yang sudah selamatkan jutaan nyawa. Kalau takut, mulai dari temani teman donor. Lihat prosesnya. Edukasi itu prapengadilan untuk hoaks.
Penutup: Donor = Investasi Sosial
Donor darah itu medical check up gratis priodik 2 bulan atau tiap 60 hari. Kamu tahu Hb, tensi, golongan darah, status infeksi. Donor rutin turunkan risiko hemochromatosis, kanker hati, jantung. Karena zat besi berlebih terbuang.
Jadi syaratnya tiga: Jika sehat, lolos medis. Lalu ikhlas, niat bentuk sesama bukan pamer jumlah. Dan Berilmu, lawan hoaks dengan data.
Jangan kita sudah anti donor karena fobia, tetapi suudzan dan menghalangi pihak lain sehingga urung menjadi pendonor.
Setetes darahmu, senyawa kehidupan untuk anak Thalasemia, ibu melahirkan, korban kecelakaan. Mereka tak tanya kamu sudah berapa kali donor. Mereka cuma tanya: “hari ini ada stok A+?”
Jawabnya ada di tanganmu. Jika sehat, jika diizinkan medis, maka jarum 5 menit itu adalah transfusi pahala seumur hidup.
Karena donor bukan tentang kita yang memberi. Tapi tentang mereka yang terus bertahan.Bayangkan pahala besar bagi yang menyingkirkan duri kecil di jalan padahal tidak membahayakan jiwa kalau pun tergores hanya menimbulkan setetes darah. Lalu 350 ml, mampu menyelamatkan seseorang. Kenapa kita tidak raih pahala dengan donor darah!
Penulis adalah Pegiat Donor Darah Sukarela tinggal di Aceh Besar













