Artikel · Potret Online

Bahasa Aceh di Ujung Sunyi: Ketika Generasi Z Mulai Kehilangan Identitasnya

Penulis Juni Ahyar
Mei 28, 2026
6 menit baca 93
25be40f3-d1dc-48a3-a3f8-4f73f4da6044
Foto / IlustrasiBahasa Aceh di Ujung Sunyi: Ketika Generasi Z Mulai Kehilangan Identitasnya

Oleh Juni Ahyar 

Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa

Di sudut-sudut kafe modern Banda Aceh, di ruang kelas kampus, hingga di lini masa media sosial, Bahasa Aceh kini semakin jarang terdengar dari mulut generasi mudanya sendiri. Bahasa yang dahulu menjadi simbol kehormatan, alat pemersatu, sekaligus identitas masyarakat Aceh perlahan mulai tergeser oleh dominasi bahasa Indonesia, bahasa gaul digital, dan campuran istilah asing yang dianggap lebih modern.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya komunikasi biasa, melainkan alarm budaya yang patut mendapat perhatian serius. Sebab, hilangnya penggunaan bahasa daerah tidak hanya berarti hilangnya alat komunikasi, tetapi juga memudarnya identitas, nilai budaya, dan ingatan kolektif suatu masyarakat.

Bahasa Aceh selama ini hidup dalam berbagai ruang sosial masyarakat: di rumah, di meunasah, di pasar, di sawah, dalam tradisi adat, hingga dalam petuah orang tua kepada anak-anaknya. 

Namun, ruang-ruang tersebut kini mulai mengalami perubahan. Generasi Z Aceh lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, bahkan di lingkungan keluarga sendiri.

Tidak sedikit anak muda Aceh hari ini memahami Bahasa Aceh, tetapi tidak percaya diri untuk menggunakannya. 

Sebagian hanya mampu memahami percakapan, tetapi kesulitan merespons dalam Bahasa Aceh. Bahkan ada pula yang sama sekali tidak mampu berbicara menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Kondisi ini menunjukkan bahwa Bahasa Aceh sedang mengalami pergeseran fungsi sosial di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

Padahal, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah identitas budaya. Di dalam Bahasa Aceh tersimpan sejarah perjuangan, nilai adat, ungkapan kebijaksanaan, humor masyarakat, hingga cara orang Aceh memandang kehidupan. Ketika bahasa mulai hilang, maka sebagian jati diri masyarakat Aceh juga ikut memudar.

UNESCO sejak lama mengingatkan bahwa banyak bahasa daerah di dunia terancam punah karena tidak lagi diwariskan kepada generasi muda. Indonesia sendiri memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, tetapi sebagian mulai mengalami penurunan jumlah penutur aktif. 

Kepunahan bahasa tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dimulai ketika generasi mudanya merasa malu menggunakan bahasa ibu mereka sendiri.

Fenomena tersebut kini mulai tampak pada generasi Z Aceh. Banyak mahasiswa dan pelajar menganggap Bahasa Aceh sebagai bahasa yang “kuno”, “kampungan”, dan kurang relevan dengan kehidupan modern. 

Akibatnya, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa campuran dalam pergaulan sehari-hari.

Ironisnya, kondisi ini juga diperkuat oleh perubahan pola komunikasi dalam keluarga. Banyak orang tua muda di Aceh kini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka dengan alasan agar lebih mudah mengikuti pendidikan formal dan terlihat modern. Tanpa disadari, kebiasaan ini justru memutus rantai pewarisan Bahasa Aceh sejak usia dini.

Dalam kajian linguistik, teori behaviorisme menjelaskan bahwa bahasa pertama anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Anak belajar bahasa dari apa yang didengar dan digunakan setiap hari. Jika sejak kecil anak tidak dibiasakan mendengar dan menggunakan Bahasa Aceh, maka kemampuan berbahasa daerah akan melemah secara alami. 

Rumah yang dahulu menjadi pusat pembelajaran Bahasa Aceh kini perlahan berubah menjadi ruang dominasi bahasa Indonesia dan budaya digital global.

Kondisi ini semakin diperparah oleh perkembangan media sosial. Generasi muda Aceh kini lebih akrab dengan bahasa viral media digital dibandingkan ungkapan adat Aceh yang sarat makna budaya. 

Konten-konten berbahasa Aceh masih kalah populera dibandingkan hiburan modern berbahasa Indonesia atauasing. Akibatnya, Bahasa Aceh semakin kehilangan ruang dalamkehidupan generasi muda.

Fenomena memudarnya penggunaan Bahasa Aceh semakin terlihat pada momentum hari besar Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Dahulu, suasana meugang, takbiran, hingga tradisi silaturahmi lebaran di Aceh identik dengan percakapan hangat menggunakan Bahasa Aceh. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbicara dalam bahasa daerah dengan penuh keakraban.

Namun kini, suasana tersebut mulai berubah. Dalam banyak keluarga perkotaan di Aceh, generasi muda lebih sering menggunakan bahasa Indonesia saat berkumpul bersama keluarga besar ketika lebaran. Tidak sedikit anak muda yang terlihat canggung ketika diajak berbicara menggunakan Bahasa Aceh oleh nenek atau kerabat yang lebih tua. 

Mereka memahami percakapan, tetapi kesulitan menjawab dalam Bahasa Aceh secara lancar. Akhirnya komunikasi berubah menjadi bahasa Indonesia campuran.

Fenomena ini tampak jelas saat tradisi “jak u rumoh agam” atau kunjungan silaturahmi keluarga pada Hari Raya Idul Adha. Generasi tua masih mempertahankan Bahasa Aceh sebagai bahasa utama percakapan, sedangkan generasi Z lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia dan istilah populer media sosial. 

Dalam beberapa situasi, anak muda bahkan memilih diam atau hanya tersenyum karena takut salah berbicara menggunakan bahasa Aceh.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bahasa Aceh mulai kehilangan fungsi sosialnya di ruang keluarga. Padahal, hari-hari besar keagamaan merupakan ruang paling penting untuk mempertahankan bahasa daerah karena menjadi momentum pertemuan antar generasi dan pewarisan nilai budaya.

Meski demikian, harapan untuk mempertahankan Bahasa Aceh sebenarnya masih terbuka. Di tengah perkembangan media digital, mulai muncul kreator muda Aceh yang menggunakan bahasa Aceh dalam konten TikTok, podcast, vlog meugang, video humor, hingga ucapan lebaran. 

Konten-konten tersebut mendapat respons positif karena dianggap lebih dekat, lucu, dan autentik oleh masyarakat.

Fenomena ini membuktikan bahwa generasi Z sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan Bahasa Aceh. Mereka hanya membutuhkan ruang baru yang membuat bahasa daerah terasa relevan, modern, dan sesuai dengan kehidupan mereka hari ini.

Karena itu, pelestarian Bahasa Aceh tidak cukup hanya melalui seminar budaya atau slogan mencintai bahasa daerah. Dibutuhkan langkah nyata dan berkelanjutan dari berbagai pihak.

Pertama, keluarga harus kembali menjadi benteng utama pelestarian Bahasa Aceh. Orang tua perlu membiasakan komunikasi berbahasa Aceh sejak anak usia dini karena bahasa ibu diwariskan melalui kebiasaan, bukan sekadar teori.

Kedua, sekolah dan kampus perlu memperkuat pembelajaran bahasa Aceh melalui muatan lokal yang lebih kreatif dan relevan dengan dunia generasi digital. Pembelajaran Bahasa Aceh tidak boleh hanya menjadi formalitas administratif, tetapi harus mampu membangun kebanggaan budaya.

Ketiga, pemerintah daerah perlu menghadirkan kebijakan yang mendukung pelestarian bahasa daerah, seperti program “Hari Berbahasa Aceh”, festival konten digital berbahasa Aceh, hingga dukungan terhadap kreator muda yang mengangkat budaya Aceh di media sosial.

Keempat, generasi muda Aceh sendiri harus berhenti menganggap Bahasa Aceh sebagai simbol keterbelakangan. Justru di era globalisasi, kemampuan menjaga identitas lokal merupakan tanda masyarakat yang berbudaya dan berkarakter kuat.

Bangsa besar bukan bangsa yang meninggalkan bahasa ibunya demi terlihat modern. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Bahasa Aceh bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah suara identitas, harga diri, dan jati diri masyarakat Aceh. Jika generasi Z kehilangan Bahasa Aceh, maka yang hilang bukan hanya kata-kata, tetapi juga sebagian jiwa Aceh itu sendiri.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Juni Ahyar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...