Artikel · Potret Online

Hidup Bermasalah karena Cinta yang Salah:Refleksi Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Penulis Tgk. Mawardi, SH
Juli 4, 2026
3 menit baca 18
b7ed4957-c2fc-4630-b9a6-5c1bb20684c8
Foto / IlustrasiHidup Bermasalah karena Cinta yang Salah:Refleksi Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Oleh: Tgk. Mawardi, S.H.

Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka pada kalender. Ia adalah panggilan untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang, lalu bertanya kepada diri sendiri: ke mana sebenarnya arah hidup ini?

Tahun boleh berganti, tetapi satu kenyataan tidak pernah berubah: kehidupan di dunia memang dipenuhi berbagai ujian. Tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari masalah. Ada yang diuji dengan kekurangan harta, ada yang diuji dengan kelimpahan harta. Ada yang diuji dengan keluarga, kesehatan, jabatan, bahkan dengan dirinya sendiri. Allah Swt. telah mengingatkan:

“Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Namun, sering kali bukan masalah itu sendiri yang membuat seseorang menderita. Yang membuat masalah terasa begitu berat adalah karena hati telah salah menempatkan cinta.

Cinta adalah fitrah manusia. Allah menanamkan rasa cinta agar manusia memiliki semangat hidup, berkeluarga, bekerja, dan beribadah. Tetapi ketika cinta ditempatkan bukan pada tempatnya, di situlah berbagai persoalan bermula.

Ketika dunia dicintai melebihi akhirat, hati tidak pernah merasa cukup. Ketika manusia lebih dicintai daripada Allah, maka kehilangan seseorang dapat menghancurkan seluruh harapan hidup. Ketika pujian manusia lebih dicari daripada keridaan Allah, seseorang akan sibuk memakai topeng demi mendapatkan pengakuan.

Padahal Allah telah mengingatkan:
“Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan Allah.” (QS. At-Taubah: 24).

Karena itu, momentum Tahun Baru Islam sesungguhnya adalah momentum hijrah. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat sebagaimana hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perpindahan hati menuju ketaatan.

Hijrah dimulai dari cara berpikir. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan kendaraan menuju kehidupan yang kekal. Hijrah juga berarti memperbaiki ketaatan; meninggalkan yang haram, memperbanyak yang halal, dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ. Selanjutnya hijrah harus tampak dalam perilaku: lisan yang lebih terjaga, akhlak yang lebih baik, serta hati yang bersih dari iri, dengki, dan kesombongan.

Di tengah kehidupan modern, ada sebuah nasihat yang sering dikutip para ulama sebagai bahan muhasabah. Isinya mengingatkan bahwa manusia akan celaka ketika lebih mencintai dunia daripada akhirat, mencintai harta tetapi melupakan hisab, mencintai makhluk tetapi melupakan Sang Khalik, membangun rumah megah tetapi melupakan kubur, serta terus bergelimang dosa tanpa segera bertobat. Walaupun nasihat ini bukan hadis Nabi yang sahih, kandungannya selaras dengan banyak ayat Al-Qur’an yang mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh kehidupan dunia.

Bila kecenderungan itu dibiarkan, bukan hanya hati yang rusak. Kehidupan sosial pun ikut terganggu. Permusuhan tumbuh, musibah datang silih berganti, kezaliman merajalela, dan amanah hukum kehilangan keadilan. Semua itu berawal dari hati yang kehilangan orientasi kepada Allah.

Karena itu, awal Tahun Baru Islam 1448 Hijriah hendaknya menjadi momentum memperbaiki arah cinta.

Cintailah Allah di atas segala-galanya. Cintailah Rasulullah ﷺ dengan mengikuti sunnahnya. Cintailah keluarga karena Allah, bukan semata-mata karena kepentingan dunia. Dan cintailah dunia secukupnya, sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

Masalah hidup mungkin tidak akan pernah hilang. Namun ketika cinta telah berada pada tempat yang benar, hati akan menjadi lebih tenang. Sebab kita sadar bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari perjalanan menuju Allah Swt.

Semoga tahun baru ini menjadi awal hijrah terbaik bagi kita semua: hijrah hati, hijrah amal, dan hijrah menuju kehidupan yang lebih diridhai Allah.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Tgk. Mawardi, SH
Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Tanah Luas Kankemenag Aceh Utara
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...