Antologi Puisi

Tubuh yang Berjalan, Pikiran yang Tertinggal: Catatan atas Selama Sunyi Masih Menyala

12 Agustus 2026
Oleh: Fitria Panjang

Oleh : Fitria Panjang

Dering notifikasi nyaris tak pernah benar-benar berhenti. Linimasa bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita memahami hidup. Kita terus mengejar sesuatu, tetapi sering lupa menanyakan: kapan terakhir kali benar-benar mendengar diri sendiri? 

Kita dituntut untuk selalu hadir, selalu produktif, selalu tampak baik-baik saja. Ironisnya, di tengah dunia yang terasa semakin terhubung, banyak orang justru diam-diam memikul kesepian yang tak sempat diberi nama.

Di tengah situasi semacam itu, membaca puisi sering dianggap sebagai kemewahan yang tak lagi relevan. Terlalu lambat, terlalu sunyi, terlalu jauh dari ritme zaman. Ketika dunia bergerak serba cepat, puisi menawarkan sesuatu yang semakin langka: kesempatan untuk berhenti. 

Berhenti mendengarkan dunia, lalu mendengar diri sendiri. Kesan itulah yang saya bawa setelah menamatkan Selama Sunyi Masih Menyala, kumpulan puisi karya Robi Aulia Abdi (Obelia, 2025). Buku ini tidak datang dengan janji-janji optimisme murahan. Ia juga tidak sibuk menggurui pembacanya tentang cara menghadapi hidup. 

Yang ditawarkan jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit: tinggal sejenak di dalam sunyi.

Robi tidak membawa pembaca menuju cahaya. Ia justru mengajak kita memasuki lorong-lorong sunyi, tempat ingatan, kehilangan, relasi yang retak, dan bayang-bayang kematian saling bersandar tanpa banyak suara.

Semua itu disusun tanpa ledakan dramatis yang berlebihan. Sunyi di tangan Robi bukan sekadar ketiadaan bunyi, melainkan makhluk yang hidup, kadang menghangatkan, kadang membakar, dan sesekali menghanguskan siapa pun yang terlalu lama tinggal di dalamnya. Ada semacam paradoks yang terus dipelihara: kesunyian tidak selalu berarti kehancuran, sebagaimana keramaian tidak selalu menjanjikan kehidupan.

Kesepian tentu bukan tema baru dalam puisi Indonesia. Namun di tangan Robi, ia menjelma dengan wajah yang berbeda. Yang membedakan adalah cara Robi membangun ruang puisinya. Ia tidak mengurung pembaca di ruang kontemplasi yang asing, melainkan menghadirkan kesunyian melalui benda-benda yang sangat akrab dengan kehidupan hari ini: lampu sen, prakiraan cuaca, media digital, hingga istilah psikologi yang belakangan sering berseliweran di linimasa. 

Sunyi ternyata tidak selalu kosong. Ketika segala sesuatu berhenti berbunyi, kita mulai mendengar percakapan yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia.

Sebagai pembaca sastra, bagian yang paling memantik perhatian saya adalah strategi estetik yang dipilih penyair. Robi memadukan lirik yang puitis dengan referensi budaya populer tanpa membuat keduanya saling meniadakan. 

Judul-judul seperti Seperti Menatap Lampu Sen Kiri atau Prakiraan Cuaca Today memperlihatkan keberaniannya membawa bahasa keseharian ke dalam wilayah puisi. Alih-alih terdengar banal, pilihan tersebut justru memperluas kemungkinan makna. Rujukan kepada Roberto Benigni atau The Banshees of Inisherin tidak pernah terasa sebagai pamer bacaan. 

Semua hadir seperti pintu kecil yang membawa pembaca melihat bahwa luka manusia, di mana pun tempatnya, memiliki gema yang serupa. Rujukan-rujukan itu memperlihatkan bahwa Robi tidak memandang sastra sebagai ruang yang tertutup. Puisinya berdialog dengan film, psikologi, dan budaya populer tanpa kehilangan suara liriknya. 

Yang semula berpotensi menjadi pamer referensi justru berubah menjadi jembatan yang menghubungkan kegelisahan penyair dengan pengalaman pembacanya.

Hal lain yang cukup mencuri perhatian ialah sosok lirik “aku”. Ia hadir dengan kerapuhan yang nyaris tanpa tameng. Tidak ada upaya untuk tampil heroik atau bijaksana. Yang ada justru pengakuan-pengakuan kecil yang terasa sangat manusiawi. Dominasi sudut pandang orang pertama membuat pembaca seolah sedang membuka halaman-halaman buku harian seseorang. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk ikut merasakan denyut emosinya. 

Kesan tersebut semakin kuat karena struktur puisinya cukup beragam. Ada sajak-sajak yang dibangun melalui larik-larik pendek, seolah napas penyair terputus-putus ketika berusaha mengucapkan sesuatu yang sulit diterima. 

Di sisi lain, terdapat puisi yang bergerak lebih prosaik dan naratif seperti Mimpi yang Amat Salehatau Sebuah Tanbihat bagi yang Menganggap Hidup Ini Benar-Benar Indah. Variasi bentuk itu membuat pembacaan tidak kehilangan ritme. 

Variasi itu menunjukkan bahwa Robi tidak mengejar keseragaman bentuk, melainkan memilih bentuk yang paling sesuai bagi pengalaman batin setiap puisi.

Saya juga menangkap bahwa kekuatan utama kumpulan puisi ini tidak terletak pada kemewahan metafora, melainkan pada bahasa. Robi tidak banyak menghamburkan kata. Ia memilih diksi-diksi yang sederhana, tetapi menyimpan gema emosional yang panjang. 

Ada larik-larik yang selesai dibaca dalam hitungan detik, tetapi terus berputar di kepala berjam-jam setelah buku ditutup. Barangkali di situlah letak keberhasilan sebuah puisi: bukan ketika ia memamerkan kerumitan bahasa, melainkan ketika ia berhasil menetap dalam ingatan pembacanya.

Di luar aspek estetik, kumpulan puisi ini terasa sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Robi menangkap paradoks manusia modern: semakin terhubung dengan banyak orang, semakin sulit pula berdamai dengan kesepian yang dipikulnya sendiri. Salah satu contoh yang paling kuat hadir dalam puisi Anhedonia(hlm. 52):

tak ada cahaya bagi sepotong wajah di cermin ini, 
yang ada hanyalah sesal, dan angan-angan 
yang tak pernah masuk akal.

Jika dari satu pelik ke pelik yang lain kesedihan 
begitu menyayat-nyayat hati, dan kesintingan ini
semakin menjalar-jalar sampai ke sekujur diri, 
sungguh tiada satu atau seorang pun 
yang akan percaya bahwa kematian dan luka
hanyalah jenis lain dari wujud bahagia.

Bahkan sejak membaca judulnya, pembaca sudah dibawa pada sebuah kondisi psikologis: hilangnya kemampuan untuk merasakan kesenangan. Namun Robi tidak berhenti pada definisi. Ia mengubah istilah itu menjadi pengalaman yang sangat manusiawi. 

Pada bagian lain puisi, kopi yang kehilangan kehangatan, lagu yang diputar tanpa benar-benar didengar, hingga tubuh yang terasa seperti barang pinjaman merupakan rangkaian citraan yang memperlihatkan bagaimana seseorang dapat tetap menjalani rutinitas tanpa benar-benar hidup.Pengalaman semacam itu kiranya tidak asing bagi banyak pembaca.

Robi tidak menjadikan tokoh lirik sebagai sosok yang dramatis. Ia hanya duduk, menunggu, dan perlahan menyadari bahwa ada sesuatu yang telah hilang dari dirinya. Dalam puisi Hari-hari Depan adalah Petaka(hlm. 34), Robi menulis:

Seberapa pun pahitnya itu, bu
tetap saja, tiada seorang pun dari kita
yang bisa menghindari
kesunyiaannya masing-masing.

Lewat sapaan “bu” yang intim namun getir, Robi menegaskan bahwa kesunyian adalah pengalaman yang tidak dapat diwariskan ataupun dipikul bersama. Setiap orang, pada akhirnya, harus berhadapan dengan kesunyiannya masing-masing. Gagasan itu terasa dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, ketika hubungan antarmanusia semakin terbuka, tetapi pengalaman batin tetap menjadi ruang yang paling sunyi.

Larik-larik itu mengingatkan saya bahwa tidak semua luka hadir dalam bentuk yang kasatmata. Ada kesepian yang tetap tinggal meski seseorang tampak menjalani hidup seperti biasa. Di situlah puisi-puisi Robi menemukan relevansinya: ia berbicara tentang pengalaman batin yang sering luput dari perhatian, tetapi diam-diam akrab dengan kehidupan banyak orang.

Buku ini mengajak saya mempertanyakan satu hal yang mungkin jarang kita renungkan: benarkah sunyi selalu harus dilawan? Selama ini kita diajarkan bahwa kesepian adalah sesuatu yang harus segera diatasi. Kita mengusirnya dengan bekerja lebih keras, membuka media sosial tanpa henti, atau memenuhi hari dengan berbagai aktivitas. 

Padahal, buku puisi ini justru menawarkan kemungkinan lain. Barangkali sunyi bukan musuh, melainkan ruang yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam kesunyian itulah seseorang belajar mengenali luka, menerima kehilangan, dan perlahan menemukan cara untuk bertahan.

Refleksi semacam itu membuat pengalaman membaca kumpulan puisi ini terasa personal. Bukan karena saya mengalami semua yang dituliskan Robi, melainkan karena puisinya memberi ruang untuk mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang selama ini dibiarkan mengendap. Ada hubungan yang berakhir tanpa penjelasan. Ada kegagalan yang belum benar-benar diterima. Ada hari-hari ketika tubuh terus bergerak sementara pikiran tertinggal jauh di belakang. Puisi-puisi Robi seolah menjadi cermin yang memantulkan kembali pengalaman-pengalaman tersebut tanpa pernah memaksa pembacanya memberikan jawaban.

Kekuatan lain yang patut diapresiasi adalah kejujuran emosional penyair. Ia tidak tergoda mengubah puisi menjadi ceramah motivasi. Tidak ada kalimat yang memaksa pembaca untuk “tetap semangat” atau percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Sebaliknya, Robi memilih jalan yang lebih sulit: mengakui bahwa hidup memang sering kali tidak baik-baik saja. Pilihan estetik semacam ini membuat puisinya terasa lebih jujur, sekaligus lebih manusiawi.

Selain itu, dominasi nuansa melankolis dari awal hingga akhir membuat intensitas emosional buku ini cenderung bergerak pada spektrum yang sama. Kesedihan, kehilangan, dan kematian menjadi warna yang terus berulang. Bagi sebagian pembaca, terutama yang membaca kumpulan puisi ini dalam sekali duduk, suasana tersebut mungkin menimbulkan kelelahan emosional. 

Akan tetapi, saya melihat pilihan itu lebih sebagai konsekuensi artistik daripada kelemahan. Di sisi lain, intertekstualitas yang menjadi kekuatan kumpulan puisiini juga menuntut pembaca memiliki modal kultural tertentu. Rujukan kepada film, tokoh, atau istilah psikologi memang memperkaya pembacaan, tetapi sebagian lapisan maknanya mungkin tidak segera terbuka bagi pembaca yang tidak akrab dengan referensi tersebut.

Pada akhirnya, Selama Sunyi Masih Menyala tidak sedang mengajarkan cara mengalahkan kesepian. Mungkin, di zaman yang terlalu bising ini, bukan jawaban yang paling kita perlukan, melainkan seseorang atau sebuah buku yang bersedia tinggal bersama sunyi.

(Penulis adalah dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Gunung Leuser)

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Tentang Penulis
Fitria Panjang
Media Perempuan Kritis dan Cerdas

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir