Guru Di Masa Itu

Oleh : Awalin Ridha, S. Pd
Beberapa tahun yang lalu, saya duduk bersama dengan junior saya di salah satu warung kopi di Banda Aceh. Jarang-jarang kami ngopi bareng karena kesibukan masing-masing.
Entah kenapa ketika itu, kami membahasa tentang guru di tahun 90’an ke atas. Dia menceritakan bagaimana Ayahnya bertahun-tahun menjadi guru honorer. Meskipun menjadi guru honorer, orangtuanya tetap semangat dalam mengajar. Ayahnya terus mengayuh sepeda menuju ke sekolah.
Memang uang honorernya tidak cukup, sampai ayahnya harus mencari tambahan untuk keluarga mereka. Mungkin yang menarik adalah, rasa hormat orangtua dan murid terhadap guru di masa itu. Banyak orangtua menaruh hormat kepada guru, karena mereka percaya bahwa guru adalah sesosok yang mulia yang mendidik anak mereka.
Cerita itu juga tidak terlepas dari seorang teman satu angkatan di kampus. Dia juga pernah bercerita, ketika gurunya lewat diantara persawahan. Banyak sekali para petani menyapa. Menyapa dengan hormat dengan sedikit menundukan kepala. Dan guru disana lebih terkenal daripada anggota dewan.
Di waktu televisi belum tergantikan oleh android. Ketika masih kecil, saya sering menonton film kartun. Ada sebuah film kartun tentang anak-anak yang ke sekolah, mereka tidak lupa membawakan sesuatu kepada gurunya, yaitu sebuah apel. Apel yang menjadi sebuah penghargaan dari orangtua si anak kepada gurunya yang sudah menjadi kultur bagi mereka.
Menghormati Guru adalah sebuah tradisi tak tertulis di kalangan masyarakat. Guru dihormati, disegani dan menjadi teladan di sekitarnya. Dari generasi ke generasi, kisah mereka diceritakan, menjadi kepingan ingatan yang tak bisa dipisahkan dari separuh nostalgia kehidupan kita.
Dengan sabar mengajarkan kita membaca, berhitung dan menulis. Kadang mendapatkan hukuman yang justru saat ini menjadi cerita yang sangat seru bagi kita. Terkadang kita tertawa jika mengingatnya lagi. Lalu, memotivasi kita untuk terus menggapai cita-cita kita. Nasehat-nasehat sering diucapkan sebagai pembentukan karakter kita.
Guru di masa itu, dengan kehidupan sederhananya, penuh kehangatan dan warna. Mereka dianggap bijak dengan pengetahuan dan dedikasinya dalam mendidik. Meskipun yang didapatkan tidak seberapa. Bukan berarti ke-ikhlasannya terus berkurang.
Banyak juga cerita dari beberapa guru yang sudah berusia senja yang saja jumpai, menceritakan tentang murid-murid mereka yang telah dididik. Nah, ketika beliau sakit, ada seorang dokter yang mengaku muridnya. Beliau sudah lupa, tidak ingat lagi. Tapi, dokter itu dengan sopan bersalaman dan mencium tangan beliau. Bahkan segala administrasi diurus oleh dokter itu.
Ada juga cerita seorang murid yang menjadi pengusaha, dia meng-umrahkan semua gurunya. Bahkan ada muridnya yang menjadi supir labi-labi (transportasi umum seperti angkot yang ada di Aceh, tapi sekarang hampir tidak ada lagi) menggratiskan ongkos setiap kali gurunya menaiki mobil labi-labinya. Masih banyak cerita bagaimana murid-murid mereka tak lupa oleh jasa-jasa guru mereka.
Inilah sebuah penghargaan yang luarbiasa bagi para Guru, yang mungkin tak pernah terlintas dipikiran mereka, bagaimana para mantan murid mereka membalas kebaikan dan jasa-jasa mereka.
Guru mungkin lupa kepada sebagian besar muridnya. Tetapi murid yang baik tidak akan mudah melupakan gurunya.
Sebab, ada orang-orang yang hanya hadir dalam satu fase kehidupan kita, tetapi pengaruhnya menetap jauh lebih lama daripada kehadirannya. Guru adalah salah satunya.












