Sumber Daya Alam Dihisap Ke Atas Limbah Mengendap Ke Bawah

Oleh Yani Andoko
Dari Sebuah Buku yang Mengguncang Dunia
Di sebuah kafe kecil di Meksiko, seorang pria kurus dengan kumis tipis mengetik tanpa henti selama sembilan puluh hari. Di depannya, segelas kopi hitam terus diisi ulang. Di sampingnya, tumpukan buku sejarah, laporan ekonomi, dan surat kabar usang. Ia menulis dengan kemarahan yang dingin bukan amarah spontan, tapi kemarahan yang telah dipendam selama bertahun-tahun menyaksikan ketidakadilan.
Pria itu bernama Eduardo Galeano. Dan buku yang ia tulis, The Open Veins of Latin America, menjadi salah satu karya paling berpengaruh di abad ke-20.
Galeano tidak menulis sebagai akademisi yang netral. Ia menulis sebagai anak dari benua yang dilukai. Ia menulis tentang emas dan perak yang mengalir dari Bolivia dan Meksiko ke istana-istana Spanyol. Ia menulis tentang getah karet Amazon yang memacu industri mobil Detroit, sementara suku-suku asli diusir dari tanah mereka. Ia menulis tentang kopi Kolombia yang dinikmati oleh kelas menengah Eropa, sementara petani setempat mati kelaparan.
Dan di tengah semua itu, ia menulis satu kalimat yang menjadi pemantik kesadaran bagi jutaan orang di seluruh dunia:
“Poverty isn’t an accident. It is the product of decisions made by those in power.”
Kemiskinan bukan kecelakaan. Ia adalah produk dari keputusan yang dibuat oleh mereka yang berkuasa.
Kalimat itu bukan tuduhan. Ia adalah undangan untuk bertanya: Siapa yang mengambil keputusan? Untuk kepentingan siapa? Dan dengan mengorbankan siapa?
Menggunakan Kaca Mata Galeano Untuk Membaca Negeri Sendiri
Kekayaan yang Mengalir, Tapi Tak Pernah Kembali
Di sebuah negeri yang kaya raya dengan hutan tropis terluas ketiga di dunia, cadangan nikel terbesar, batu bara yang melimpah, dan lautan yang menyimpan separuh hasil tangkapan ikan Asia Tenggara sebuah paradoks aneh terjadi.
Negeri ini miskin, meskipun kekayaannya melimpah.
Bukan miskin karena tak punya sumber daya. Bukan miskin karena rakyatnya malas. Bukan miskin karena alamnya tidak mendukung.
Miskin karena sistemnya dirancang untuk mengalirkan kekayaan ke atas, dan meninggalkan limbah di bawah.
Bayangkan ini: sebuah pulau di timur negeri ini menyimpan cadangan nikel yang membuat dunia terkesima. Investasi miliaran dolar masuk. Ribuan pekerja didatangkan. Smelter-smelter raksasa berdiri. Pemerintah pusat memuji kebijakan hilirisasi sebagai “terobosan besar”.
Tapi di sekitar tambang, air sungai berubah warna menjadi merah kecoklatan. Ikan-ikan mati. Tanah pertanian kehilangan kesuburannya. Anak-anak di desa sekitar harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan air bersih. Ibu-ibu hamil melahirkan bayi dengan cacat yang tidak diketahui namanya.
Inilah “urat nadi yang terbuka” versi baru.
Kekayaan mengalir ke atas: ke rekening perusahaan, ke kantong pemegang saham, ke kas negara yang kemudian dihabiskan untuk proyek-proyek prestise di ibu kota.
Limbah mengendap di bawah: di sungai, di tanah, di paru-paru buruh, dan di masa depan anak-anak yang lahir di sekitar tambang.
Galeano pernah menulis tentang “lingkaran setan” yang sempurna: “Utang luar negeri dan investasi asing mewajibkan kita untuk melipatgandakan ekspor yang kemudian mereka sendiri yang melahapnya.”
Di negeri ini, pola yang sama terjadi: kita diwajibkan menggali dan mengekspor kekayaan sendiri, sementara hasilnya mengalir ke kantong segelintir orang, dan para pekerja serta warga lokal dibiarkan terperangkap dalam kemiskinan.
Ketika “Pembangunan” Menjadi Topeng Eksploitasi
Ada satu kata yang selalu dipakai untuk membenarkan semua ini: Pembangunan.
“Apa pun yang terjadi, asal pembangunan jalan,” kata orang. “Kita harus mengejar pertumbuhan ekonomi,” kata yang lain. “Pengorbanan kecil untuk kemajuan besar,” kata mereka yang duduk di kursi empuk.
Tapi Galeano mengajarkan kita untuk bertanya: Pembangunan untuk siapa? Kemajuan bagi siapa?
Ketika sebuah proyek tambang mengklaim telah menciptakan puluhan ribu lapangan kerja, kita perlu bertanya: Berapa banyak dari pekerja itu yang berasal dari desa setempat? Dan berapa banyak yang justru menjadi pendatang yang kemudian hidup di barak-barak kumuh?
Ketika sebuah proyek makanan negara mengklaim akan menciptakan lumbung pangan nasional, kita perlu bertanya: Di atas tanah siapa proyek itu berdiri? Dan apa yang terjadi pada petani yang telah menggarap tanah itu turun-temurun?
Ketika sebuah kebijakan hilirisasi mengklaim telah meningkatkan nilai ekspor, kita perlu bertanya: Siapa yang menikmati keuntungan itu? Dan apa yang terjadi pada lingkungan dan masyarakat lokal?
Galeano menulis tentang “perkembangan yang terbelakang” (underdevelopment) istilah yang merujuk pada proses di mana negara-negara miskin justru menjadi semakin miskin karena hubungan ekonomi dengan negara-negara kaya. Mereka tidak “tertinggal”; mereka “dijadikan” miskin.
Di negeri ini, kita melihat proses yang sama tapi kali ini, para “pengambil keputusan” tidak lagi datang dari negara asing. Mereka adalah anak negeri sendiri yang duduk di istana, di parlemen, dan di ruang-ruang direksi. Mereka memakai jargon “pembangunan”, tetapi hasilnya sama: kekayaan mengalir ke atas, penderitaan mengendap di bawah.
“Bahaya Laten” yang Tak Disadari
Seorang pakar politik lingkungan pernah memperingatkan tentang “bahaya laten hijau” istilah yang merujuk pada bagaimana agenda transisi energi yang tampak progresif (energi terbarukan, kendaraan listrik, dll.) justru bisa menjadi legitimasi baru bagi eksploitasi alam.
Kita berbangga dengan transisi energi. Kita membangun smelter nikel untuk baterai mobil listrik. Kita menggali litium di tanah yang sebelumnya tak tersentuh. Kita membuang limbah elektronik ke negara-negara miskin.
Tapi pertanyaannya: Apakah transisi energi ini benar-benar membawa keadilan ekologis? Atau hanya mengubah bentuk eksploitasi dari yang kuno (batu bara dan minyak) ke yang modern (nikel, litium, dan kobalt)?
Galeano sudah meramalkan ini. Ia menulis tentang bagaimana “pembebasan” seringkali hanya menjadi “pergantian tuan”. Orang-orang yang dulu dijajah oleh Spanyol, kini dijajah oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Orang-orang yang dulu dieksploitasi untuk emas dan perak, kini dieksploitasi untuk nikel dan litium.
Polanya sama. Hanya wajahnya yang berganti.
Mengapa Pola Ini Terus Berulang?
Jika kita mundur selangkah, kita akan melihat bahwa pola ini bukanlah kesalahan sesaat, bukan kebodohan satu orang, dan bukan pula konspirasi sekelompok orang jahat. Ia adalah sistem sebuah mesin raksasa yang memiliki logikanya sendiri.
Logika sistem itu sederhana:
Akumulasi modal adalah tujuan utama. Segala sesuatu alam, manusia, budaya, masa depan harus dikorbankan untuk tujuan ini.
Pertumbuhan ekonomi adalah ukuran keberhasilan. Negara harus tumbuh, atau dianggap gagal.
Persaingan global memaksa setiap negara untuk memberi “insentif” pada investor. Jika tidak, investasi akan lari ke negara lain.
Kekuasaan mengikuti modal. Mereka yang memiliki uang juga memiliki akses ke pengambil keputusan, dan akan memastikan kebijakan berpihak pada mereka.
Inilah mengapa siapapun yang duduk di kursi kekuasaan, dengan sistem ini, akan cenderung mengambil keputusan yang sama. Bukan karena mereka jahat, tapi karena logika sistem memaksa mereka.
Galeano menyebut ini sebagai “lingkaran setan” yang sulit dipecahkan. Tapi ia juga percaya bahwa lingkaran setan itu bisa dipecahkan jika kita mau melihatnya dengan mata telanjang, tanpa topeng retorika pembangunan.
Pelajaran, Nilai, dan Gagasan: Membangun Kesadaran Kritis
Pelajaran: Kemiskinan Bukan Takdir
Pelajaran paling mendasar dari Galeano adalah: jangan pernah menerima kemiskinan sebagai takdir.
Kemiskinan bukan kehendak Tuhan. Bukan karma. Bukan nasib buruk. Kemiskinan adalah keputusan politik yang diulang-ulang. Ketika kita memahami ini, kita berubah dari korban yang pasrah menjadi aktor yang sadar.
Nilai: Keadilan Dan Solidaritas
Dari narasi Galeano, dua nilai menjadi fondasi:
Keadilan ekologis: Alam bukan komoditas yang bisa dieksploitasi untuk keuntungan segelintir orang. Bumi adalah ruang hidup bersama.
Solidaritas antarmanusia: Penderitaan seorang petani di Kalimantan terhubung dengan kemewahan seorang konglomerat di Jakarta. Kita tidak bisa memisahkan keduanya.
Gagasan: Alternatif Di Luar Logika Ekstraktif
Apa yang bisa kita tawarkan sebagai alternatif? Beberapa gagasan sederhana tapi berani:
Moratorium izin tambang dan sawit baru, serta program pemulihan lahan rusak.
Reformasi perpajakan progresif, termasuk pajak kekayaan (wealth tax) dan pajak karbon.
Pengakuan hak masyarakat adat atas tanah dan sumber daya yang telah mereka kelola turun-temurun.
Pendidikan kritis yang mengajarkan sejarah perlawanan dan kritik sosial.
Organisasi rakyat yang kuat serikat buruh, komunitas petani, nelayan, dan warga kota yang sadar.
Antara Putus Asa dan Terus Melangkah
Galeano mengakui bahwa bukunya The Open Veins of Latin America “terlalu kaku” dan ia “malu” membacanya ulang di akhir hayatnya. Tapi ia tidak pernah menarik kembali premis utamanya: bahwa keterbelakangan dan kemiskinan adalah produk dari sistem yang sengaja didesain untuk menguntungkan segelintir pihak dengan mengorbankan mayoritas.
Ia juga tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa perubahan itu mungkin.
“Utopia ada di cakrawala. Aku melangkah dua langkah mendekat, ia menjauh dua langkah. Aku melangkah sepuluh langkah, cakrawala berlari sepuluh langkah. Aku melangkah sejauh mungkin, ia tetap di sana. Lalu untuk apa utopia? Fungsinya: untuk terus melangkah.”
Narasi Galeano adalah pemantik ia menyalakan api kesadaran agar kita tidak diam saja. Ia mengingatkan kita bahwa kesengsaraan bukan takdir. Ia adalah pilihan yang terus diulang oleh kekuasaan yang lalim dalam sistem yang memaksa kelaliman itu untuk terus berulang.
Tapi jika kita memahami bahwa ia adalah pilihan, maka kita juga bisa memilih untuk menghentikan pengulangan itu. Bukan dengan mengganti satu nama dengan nama lain, tapi dengan mengubah sistem yang membuat nama-nama itu terus mengulang pola yang sama.
Dan perubahan sistem dimulai dari kesadaran kritis kesadaran yang lahir dari membaca realitas dengan mata telanjang, tanpa topeng, tanpa retorika, tanpa harapan palsu pada “pemimpin penyelamat”.
Kesadaran seperti itu, sayangnya, tidak bisa dibeli di supermarket. Ia harus ditempa sendiri dari kegelisahan, dari pertanyaan-pertanyaan gelisah, dan dari keberanian untuk tidak diam.
Selamat terus bertanya. Selamat terus gelisah. Selamat terus melangkah.
Pertanyaan untuk direnungkan:
Jika kemiskinan adalah produk keputusan lalu siapa yang membuat keputusan itu? Untuk siapa? Dan dengan mengorbankan siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu, seperti kata Galeano, tidak akan pernah usai. Tapi justru di situlah letak harapan: selama kita terus bertanya, kita belum kalah.
Batu, 9 Juli 2026
Yani Andoko












