Artikel · Potret Online

Kota Madiun Dalam Goresan Lidi

September 1, 2026
5 menit baca 5
WhatsApp Image 2026-08-31 at 21.00.11
Foto / IlustrasiKota Madiun Dalam Goresan Lidi

Oleh Fileski W Tanjung 

Ada sesuatu yang ganjil sekaligus menggugah ketika seorang anak berusia tujuh tahun memilih lidi sebagai alat untuk melukis kotanya. Di tangan orang dewasa, lidi mungkin hanya benda kecil yang mudah patah, bagian dari sapu yang kehilangan makna ketika tercerai dari ikatannya. Namun di tangan Huiga Tanjung Ramadan, lidi berubah menjadi bahasa. Ia tidak sekadar menggantikan kuas; ia sedang mengajukan sebuah cara pandang: bahwa kota, seperti lukisan, tidak pernah lahir dari satu warna dan tidak pernah selesai oleh satu tangan.

Saya menyaksikan gagasan itu tumbuh dalam diri anak saya. Dalam lukisannya yang berjudul “Madiun Kotaku Tercinta”. Di atas kanvas, Huiga menggoreskan berbagai warna dengan lidi. Garis-garisnya tidak selalu patuh pada keteraturan. Ada yang berpotongan, berjarak, berimpit, bahkan mungkin tampak seperti kesalahan bagi mata yang terlalu terbiasa dengan kesempurnaan. Tetapi justru di sanalah saya menemukan sesuatu yang penting: sebuah kota yang hidup memang tidak pernah sepenuhnya rapi. Ia terdiri atas manusia dengan karakter, impian, kemampuan, latar belakang, dan kepentingan yang berbeda. Keindahan kota bukan terletak pada penghapusan perbedaan itu, melainkan pada kemampuan mempertemukannya menjadi komposisi.

Lidi karena itu dapat dibaca sebagai metafora persatuan. Sebatang lidi mudah dipatahkan, tetapi sekumpulan lidi yang diikat menjadi satu memperoleh daya yang berbeda. Filosofi semacam ini bahkan digunakan dalam materi pendidikan kewarganegaraan di Indonesia sebagai simbol persatuan.  Namun lukisan Huiga membawa metafora itu ke wilayah yang lebih jauh. Persatuan ternyata bukan hanya perkara menjadi kuat karena berkumpul. Persatuan juga membutuhkan arah, ruang, imajinasi, dan kemampuan mengolah perbedaan menjadi sesuatu yang bernilai.

Di sinilah seni menemukan hubungan diam-diamnya dengan kepemimpinan.

Sebuah kota tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar mampu memegang seluruh lidi dengan genggaman keras. Kota membutuhkan pemimpin yang mampu memahami bahwa setiap lidi memiliki arah geraknya sendiri. Tugas kepemimpinan bukan menyeragamkan garis, melainkan menciptakan kemungkinan agar garis-garis yang berbeda dapat bertemu tanpa kehilangan identitasnya.

Gagasan itu terasa relevan dengan perkembangan Kota Madiun belakangan ini. Dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-108, pemerintah kota menghadirkan berbagai ruang kebudayaan yang melibatkan masyarakat. Madiun Melukis memberi ruang kepada anak-anak untuk berkarya di ruang publik, sementara Madiun Menari pada 29 Agustus 2026 melibatkan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah Kota Madiun sendiri menyebut bahwa Madiun Menari bukan sekadar membuat acara, melainkan membangun gerakan budaya dan kebanggaan warga.

Menariknya, kalimat itu justru memperkuat filosofi lukisan Huiga. Kota yang besar bukan kota yang paling banyak memiliki acara, melainkan kota yang mampu membuat warganya merasa bahwa mereka adalah bagian dari cerita. Sebuah festival selesai dalam satu malam, tetapi rasa memiliki dapat tinggal jauh lebih lama.

John Dewey, filsuf Amerika yang banyak memikirkan hubungan seni dan kehidupan, menulis dalam Art as Experience bahwa seni memungkinkan manusia berbagi makna dan menciptakan partisipasi; seni bukan sekadar pengumuman dari seorang pencipta kepada penonton, melainkan proses menjadikan sesuatu yang semula terpisah menjadi pengalaman bersama.  Dalam pengertian Dewey, lukisan Huiga tidak berhenti sebagai objek estetis. Ia menjadi pengalaman sosial. Lidi, warna, kanvas, anak-anak, guru, orang tua, dan kota bertemu dalam satu peristiwa kebudayaan.

Barangkali inilah yang sering dilupakan oleh pembangunan kota modern. Kita terlalu mudah mengukur kemajuan dengan beton, jalan, gedung, angka investasi, jumlah penghargaan, atau statistik kunjungan. Padahal kota juga membutuhkan sesuatu yang tidak mudah dihitung: imajinasi warganya. Kota yang kehilangan imajinasi mungkin tetap tumbuh secara fisik, tetapi perlahan kehilangan jiwanya.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan, “Kita harus menjadi perubahan yang ingin kita lihat dari dunia.”  Huiga, dengan caranya sendiri yang masih kanak-kanak, telah melakukan hal itu. Ia tidak menunggu menjadi dewasa untuk berbicara tentang kotanya. Ia mengambil sebuah lidi, mencelupkannya ke dalam warna, lalu menggoreskan gagasannya ke atas kanvas. Barangkali perubahan memang sering dimulai bukan dari pidato besar, melainkan dari keberanian seseorang melakukan sesuatu yang sederhana dengan cara yang berbeda.

Karena itu, saya tidak melihat lukisan ini semata-mata sebagai karya seorang pelukis cilik. Saya melihatnya sebagai sebuah pertanyaan kecil yang diam-diam ditujukan kepada orang dewasa: apakah kita masih mampu melihat benda sederhana sebagai sumber gagasan besar?

Lukisan ini lahir dari bimbingan Dwi Kartika Rahayu sebagai guru Huiga, dari keberanian Huiga memilih medium yang tidak lazim, dan dari dukungan saya sebagai ayah yang percaya bahwa gagasan anak tidak selalu harus menunggu usia dewasa untuk dianggap penting. Dalam konteks yang lebih luas, karya ini juga memperoleh makna dari iklim kebudayaan Kota Madiun yang sedang membuka ruang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan kreativitas anak-anak.

Di hadapan ulang tahun kotanya yang ke-108, Madiun akhirnya seperti sebuah kanvas besar. Ada lidi-lidi yang bergerak dari berbagai arah. Ada warna yang berbeda. Ada garis yang belum selesai. Ada tangan-tangan kecil dan tangan-tangan dewasa. Semuanya mungkin tidak menghasilkan kesempurnaan, tetapi justru dari ketidaksempurnaan itulah kehidupan memperoleh kejujurannya.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: bukankah manusia pun demikian? Kita masing-masing hanyalah sebatang lidi yang rapuh jika berdiri sendirian. Tetapi apakah persatuan berarti kita harus menjadi sama? Ataukah persatuan justru berarti kita mampu tetap berbeda, lalu menemukan sebuah ikatan yang membuat perbedaan itu menjadi kekuatan?

Dan jika sebuah kota dapat dilukis oleh seorang anak dengan lidi, mungkin pertanyaan yang lebih besar harus kita ajukan kepada diri sendiri: kota seperti apakah yang sedang kita bangun bersama? Apakah kita sedang menciptakan kota yang hanya indah untuk dipandang, atau kota yang membuat setiap warganya merasa memiliki warna di dalamnya?

Sebab pada akhirnya, kota bukanlah beton yang berdiri di atas tanah. Kota adalah manusia yang saling menghidupkan. Dan mungkin, pada usia tujuh tahun, Huiga telah mengingatkan kita pada sesuatu yang kerap dilupakan orang dewasa: keindahan tidak selalu lahir dari satu tangan yang paling mahir, melainkan dari banyak tangan yang bersedia bekerja bersama.

Barangkali itulah hadiah paling sederhana untuk Madiun pada usia 108 tahun: bukan sekadar sebuah lukisan tentang kota, melainkan sebuah gagasan tentang bagaimana sebuah kota semestinya dilukis.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...