Nikah Batin dan Runtuhnya Langit Moral

Oleh: Suko Wahyudi
Negeri ini kadang lebih percaya kepada sorban daripada akal sehat. Begitu seseorang memakai jubah putih, memegang tasbih sebesar gagang pintu, lalu suaranya bergetar ketika membaca doa, masyarakat segera menaruh hormat setinggi menara masjid. Seolah-olah langit sudah mengeluarkan sertifikat kesucian. Maka ketika kabar dari Jepara datang tentang seorang pengasuh pondok pesantren yang diduga mencabuli puluhan santriwati dengan modus “nikah batin”, rakyat tercekat seperti mendengar beduk subuh dipukul di tengah pemakaman. Ada yang marah. Ada yang malu. Ada pula yang diam sambil menggigit bibir karena terlalu pahit untuk dipercaya.
“Nikah batin” itu istilah yang bunyinya seperti campuran antara asap kemenyan dan akal yang tersesat. Dalam kitab fikih yang sehat, istilah itu tidak pernah lahir. Tetapi di negeri yang sebagian rakyatnya terlalu lama dididik untuk tunduk tanpa bertanya, istilah seaneh apa pun bisa berubah menjadi palu godam yang menghantam logika. Orang-orang miskin pengetahuan agama sering dipaksa percaya bahwa setiap ucapan kiai adalah jalan tol menuju surga. Padahal kadang jalan itu justru menuju jurang, lengkap dengan papan bertuliskan: “Masuklah dengan khusyuk.”
Yang membuat dada sesak ialah kenyataan bahwa para korban adalah santriwati—anak-anak muda yang datang membawa cita-cita, membawa mukena, membawa kitab, dan membawa kepercayaan penuh dari orang tua mereka. Ada ibu yang menjual gelang kawinnya agar anaknya bisa mondok. Ada bapak yang mengayuh hidup seperti sepeda tua demi membayar biaya pesantren. Mereka percaya pondok adalah taman akhlak. Tempat anak-anak dijauhkan dari lumpur dunia. Tetapi siapa sangka, di balik tembok yang dipenuhi suara mengaji itu, ada nafsu yang berkeliaran seperti tikus kelaparan di gudang beras.
Kejahatan seksual berkedok agama memang selalu memakai jubah kesalehan. Pelakunya jarang tampil seperti penjahat pasar malam. Mereka tampil lembut. Bicaranya halus seperti kapas dicelup madu. Ceramahnya membuat jamaah menangis sampai ingus bercampur air mata. Tetapi di balik itu semua, ada syahwat yang bekerja seperti mesin diesel tua: berisik, kotor, dan tak tahu malu. Ayat dipelintir seperti kabel jemuran. Doa dijadikan alat membius korban. Dan agama, yang seharusnya menjadi cahaya, malah dipakai sebagai lampu remang-remang untuk menyembunyikan dosa.
Masyarakat kita memang punya bakat luar biasa dalam mengultuskan manusia. Begitu seseorang dipanggil “kiai”, sebagian orang langsung kehilangan keberanian berpikir. Kiai dianggap makhluk setengah malaikat yang bayangannya saja bisa mendatangkan berkah. Padahal sejarah manusia penuh dengan cerita bahwa jubah tidak pernah otomatis membuat hawa nafsu pensiun. Umur 60 tahun pun ternyata tidak menjamin isi kepala menjadi teduh. Rambut boleh putih seperti kapas Lebaran, tetapi isi hati kadang masih bergolak seperti pasar sapi menjelang Iduladha.
Yang lebih menyedihkan lagi, setiap kasus seperti ini muncul, masyarakat sering sibuk menjaga nama lembaga ketimbang menyelamatkan korban. Kalimat yang pertama keluar biasanya bukan “bagaimana kondisi santriwati?”, melainkan “jangan sampai pesantrennya malu.” Astaga! Seolah papan nama pondok lebih penting daripada masa depan anak-anak perempuan. Korban diminta diam. Keluarga disuruh sabar. Dan publik diajak menelan semuanya seperti menelan pil pahit tanpa air. Dalam suasana seperti itu, predator tumbuh subur seperti jamur di musim hujan.
Padahal pesantren semestinya menjadi benteng terakhir moral bangsa. Tempat anak-anak desa belajar ilmu sekaligus belajar menjadi manusia. Tetapi jika benteng itu sendiri keropos dimakan rayap nafsu, rakyat mau berlindung ke mana lagi? Negeri ini sudah terlalu penuh dengan pencuri berdasi, koruptor bertopi safari, dan politisi bermulut gula tetapi berhati cuka. Kalau ruang agama pun ikut dipenuhi predator, maka lengkaplah sudah penderitaan rakyat kecil yang sejak lama hidup di bawah langit yang bocor.
Kasus semacam ini juga menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi peternakan kesewenang-wenangan. Di banyak tempat, pengasuh pondok kadang diperlakukan seperti raja kecil. Tidak boleh dibantah. Tidak boleh dipertanyakan. Bahkan tatapan matanya saja dianggap mengandung berkah tujuh turunan. Dalam suasana feodal seperti itu, kritik dianggap dosa, sedangkan kepatuhan dianggap tiket menuju surga. Maka jangan heran bila predator bisa bergerak leluasa sambil tetap dipuji sebagai wali.
Agama akhirnya dijadikan panggung sandiwara yang menyedihkan. Mimbar dipenuhi nasihat tentang akhlak, tetapi ruang belakang dipenuhi tipu daya. Tasbih berputar di tangan, tetapi syahwat berputar lebih cepat di kepala. Dan rakyat kecil, yang terlalu lama hidup dalam budaya hormat tanpa nalar, akhirnya mudah dijadikan mangsa. Mereka takut bertanya. Takut melawan. Takut dianggap durhaka kepada ulama. Padahal dalam banyak kasus, yang mereka hadapi bukan ulama, melainkan manusia yang sedang mabuk kuasa.
Mungkin inilah zaman ketika serigala tidak lagi datang dengan taring terbuka. Ia datang memakai peci putih, berbicara tentang surga dengan suara lembut, lalu perlahan mencuri masa depan anak-anak orang lain. Dan masyarakat yang terlalu silau oleh simbol kesalehan akhirnya baru sadar setelah langit moral runtuh berkeping-keping di atas kepala mereka sendiri.













