Esai · Potret Online

Jangan Lupa Daratan

Penulis Saiful Bahri
Juni 3, 2026
2 menit baca 9
9d96e58e-d637-41dd-a474-0f472d6db677
Foto / IlustrasiJangan Lupa Daratan
Disunting Oleh

Oleh Saiful Bahri

Bermimpi Setinggi Langit, Berpijak Sejujur Tanah

Dunia sekarang lagi demam “meroket”. Semua orang mau cepat naik. Cepat kaya. Cepat viral. Cepat terkenal. Pokoknya serba instan.

Boleh. Silahkan bermimpi setinggi langit. Allah sendiri menyuruh kita minta surga Firdaus. Tidak ada yang salah pada ambisi. Ambisi itu bagus, asal positif: ambisi membangun diri, membangun keluarga, dan membangun negeri.

Tapi masalahnya… banyak orang setelah sampai ke langit, dia lupa daratan. Lupa asal-usulnya. Lupa jasa-jasa orang lain. Dan yang paling parah: lupa pada kedua orang tua. Na’udzubillahiminzalik.

Dia lupa tanah becek yang dulu dia lewati tiap berangkat sekolah. Lupa tangan yang dulu menyuapi nasi walau lauknya cuma garam. Lupa doa ibu yang tiap malam pecah di sajadah demi namanya disebut.

*Langit tanpa daratan itu ibarat layangan putus.*

Indah di atas, tapi tidak punya arah. Angin kencang sedikit, benangnya putus, jatuh ke got atau semak belukar. Sombong sebentar, hancur selamanya.

9 Dosa Penghambat Rezeki, nomor 2: 

Durhaka. Durhaka itu bukan cuma bentak ibu. Durhaka itu “lupa daratan”. Sukses tapi nggak pulang ke kampung halaman. Kaya tapi pelit zakat. Jabatan tinggi tapi malu ngaku anak petani. Malu diketahui asal-usulnya.

Padahal rezeki itu ngalirnya lewat daratan. Lewat doa guru SD yang dulu ngajarin membaca. Lewat ridho bapak yang dulu banting tulang siang malam demi SPP anaknya. Kita lupa bagaimana keringat ayah jadi nasi di piring kita. 

Kita lupa: Ridho orang tua = Ridho Ilahi.

*Jadi bagaimana caranya? Kaki di tanah, kepala di langit, hati di Arsy.*

Mimpi setinggi bintang? Silahkan. Tapi tiap malam sujud, cium tanah. Itu tanda terima kasih. 

Gaji sudah puluhan juta per bulan? Alhamdulillah. Tapi tiap bulan kirim ke kampung. Itu namanya “mengaliri rezeki balik ke sumbernya”.

Nama sudah terkenal? MasyaAllah. Tapi tiap bertemu orang tua di kampung, tetap salim + nunduk. Itu namanya “mahkota tidak membuat kepala mendongak”.

Ingat… orang yang lupa daratan, biasanya akan dilupakan langit.

Langit itu adil. Dia  mau menurunkan hujan ke tanah agar tanah jadi  subur. Tanah yang subur itu tanah yang tahu diri. Tanah yang tahu dia dulu cuma lumpur, ditetesi air mata ibu, baru jadi tempat kita berpijak.

Jadi terbanglah setinggi-tingginya. Tapi jangan sampai benang adab ke orang tua, ke kampung, ke asal-usul itu putus. 

Karena secepat-cepatnya roket ke langit… jatuhnya lebih cepat kalau tidak ada daratan buat mendarat.

Seperti kata peribahasa lama : _”Setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya ke tanah juga dia turun.”_

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...