Lisong Itu Masih Menyala

Oleh Yani Andoko
Dari Gerbong Kereta Ke Meja Makan Kita
Tahun 1977. Di sebuah gerbong kereta kelas ekonomi jurusan Yogyakarta-Bandung, W.S. Rendra menyalakan sebatang lisong cerutu murah berbau pekat yang jadi teman setia rakyat kecil.
Di luar jendela, ia melihat hamparan sawah yang ditanami petani-petani kurus. Dari kepulan asap itulah lahir “Sajak Sebatang Lisong”, puisi yang kelak akan dibacakan di hadapan mahasiswa ITB sebelum Rendra dilarang tampil hampir satu dekade .
Hampir lima puluh tahun kemudian, asap lisong itu belum juga padam. Bahkan, baunya semakin menyengat di hidung kita.
Bukan karena Rendra peramal ulung, tapi karena masalah yang ia sajikan bukanlah episode melainkan sistem. Dan sistem, seperti kita tahu, sangat ahli dalam mempertahankan dirinya sendiri.
Rantai Yang Dirangkai Dengan Sengaja
Cukong Mengangkang: Elit Dan Kesewenang-wenangan Yang Abadi
“Sajak Sebatang Lisong” dibuka dengan gambaran yang tak asing: “dua tiga cukong mengangkang, berak di atas kepala mereka”. Ini bukan sekadar bahasa kasar. Ini adalah keputusan semiotis Rendra memilih lisong karena itu identik dengan rakyat kecil, berseberangan dengan cerutu mahal para pejabat Orde Baru .
Zaman berganti, rezim berubah, tapi “cukong” tak pernah kehabisan bentuk. Di 2026, mereka tak lagi sekadar mengangkang mereka bersarang di kursi DPR, di ruang direksi BUMN, di meja proyek infrastruktur yang digerogoti. Ironi di Pekan Pancasila 2026 menjadi bukti: saat sila kelima dirayakan, KPK masih melakukan OTT, dan rupiah terus melemah .
Valentinus Resa, pembaca berita yang viral dengan gaya satirnya, pernah melontarkan sindiran yang mengena: “Kalau rumah mahal, ya jangan punya rumah. Sekolah mahal? Ya jangan sekolah. Obat mahal? Ya jangan sakit. Protes? Jangan didengar” . Di balik tawa, ada kepahitan karena saran “solusi” para elite seringkali tak ubahnya menyuruh rakyat untuk tidak menjadi rakyat.
Delapan Juta Kanak-kanak Tanpa Pendidikan: Dari Angka ke Realita
Rendra menggambarkan “delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan”. Kini, angka putus sekolah mungkin menurun, tapi krisis bergeser: dari akses ke kualitas.
Data BPS 2025 menunjukkan, pengangguran lulusan SMA kejuruan mencapai 8,63 persen, sementara lulusan universitas 5,39 persen . Lebih dari 1,01 juta pemegang gelar universitas menganggur di awal 2025 . Ini bukan karena mereka malas. Ini karena sistem pendidikan kita masih “supply-driven” berorientasi pada kapasitas dosen, bukan kebutuhan pasar .
Kajian menunjukkan, ketidakcocokan vertikal (vertical mismatch) di Indonesia mencapai 53,33 persen artinya lebih dari separuh sarjana bekerja di posisi yang seharusnya tak perlu gelar S1. Sedangkan ketidakcocokan horizontal (horizontal mismatch) menyentuh 60,52 persen mayoritas bekerja di bidang yang berseberangan dengan ilmu mereka .
Inilah ironi yang dibayar mahal: orang tua menguras tabungan demi ijazah anak, tapi ijazah itu hanya menjadi kertas yang menggantung di dinding sementara anaknya menjadi ojek online atau kasir minimarket. Rendra menyebut mereka “sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya”. Di 2026, kita bisa menambahkan: “…dan mematikan mesin motor di lampu merah sambil memikirkan cicilan”.
Ketergantungan Asing: Rumus yang Tak Pernah Kita Miliki
“Berhenti membeli rumus-rumus asing”, seru Rendra. Tapi hingga 2026, kita justru semakin terperangkap.
Data BPS 2025 menunjukkan, impor nonmigas Indonesia dari China mencapai 86,99 miliar dolar AS melonjak 21,4 persen dari tahun sebelumnya. Pangsa pasar China dalam impor nonmigas RI menguat drastis dari 36,29 persen menjadi 41,60 persen .
Defisit dagang RI dengan China membengkak hampir dua kali lipat, menembus US$22,17 miliar .
Tiga barang utama yang kita impor dari China? Mesin/peralatan mekanis, mesin perlengkapan elektrik, dan kendaraan . Ini bukan sekadar “beli barang” ini adalah ketergantungan struktural. Kita bukan cuma konsumen, tapi rantai pasok kita digenggam oleh satu negara.
Bahkan kebutuhan energi kita pun bergantung pada impor: bensin 59 persen, LPG 83,97 persen . Kita membeli “rumus” asing dalam bentuk bahan bakar, sementara kekayaan bumi kita sendiri dikeruk, diolah di luar negeri, dan dijual kembali kepada kita dengan harga berkali-kali lipat.
Kesenian yang Mati Rasa: Saat Seni Jadi Hiburan Instan
Rendra mengkritik “penyair-penyair salon… bersajak tentang anggur dan rembulan”. Kini, “penyair salon” berevolusi menjadi konten kreator yang sibuk dengan estetika semu, jauh dari penderitaan rakyat.
Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, muncul juga seniman dengan gaya baru yang tetap kritis. Valentinus Resa, misalnya, menjadi fenomena karena ia berani menyindir elite dengan gaya santai nan jenaka. Videonya viral bukan karena konten biasa, tapi karena rakyat rindu kritik yang jujur yang tidak dibungkus basa-basi .
Ini adalah bentuk perlawanan baru: kritik sosial yang dikemas dalam tawa, karena di zaman di mana kemarahan dibungkam, ironi menjadi senjata terakhir.
Mentalitas Bertahan Hidup: Jeratan Paling Kejam
Inilah mata rantai yang paling sulit diputus. Ketika perut lapar dan pikiran penuh cicilan, tak ada energi tersisa untuk berpikir kritis. Franz Magnis-Suseno, dalam Etika Jawa, membedakan antara nerimo yang bermartabat kelapangan hati setelah upaya maksimal dengan kepatuhan yang lahir dari struktur yang tak memberi ruang bergerak .
Rendra sendiri sudah membedakannya: nerimo bukan berarti diam. Di akhir sajaknya, ia berseru: “kita harus menyanyikan lagu perlawanan, kita harus turun ke jalan, sebab bila kita diam, artinya kita ikut memelihara penindasan” .
Tapi bagaimana mungkin turun ke jalan kalau hari ini belum dapat ongkos naik angkot?
Sintesis: Ketika Bertahan Bisa Berubah Menjadi Melawan
Di sinilah Rendra memberikan pelajaran terbesarnya: bertahan dan melawan bukanlah dua hal yang berlawanan. Melawan adalah bertahan yang sadar.
Perlawanan tak selalu berarti turun ke jalan dengan spanduk. Bisa juga:
Guru honorer yang tetap mengajar dengan metode kritis meski gaji tak layak.
Ibu rumah tangga yang menolak produk plastik sekali pakai perlawanan terhadap konsumerisme dan ketergantungan impor.
Mahasiswa yang membuka ruang baca gratis di desa kritik terhadap pendidikan eksklusif.
Kamu, yang di tengah kepenatan, masih menyempatkan diri membaca sajak Rendra dan merenung itu adalah tindakan subversif terhadap budaya hiburan instan.
Rendra menulis dengan simpati tentang “yang tinggal di dalam selokan, yang kalah dalam pergelutan, yang di ledek oleh impian” . Ia tidak meminta mereka menjadi pahlawan. Ia meminta mereka untuk tidak menjadi penonton atas kehidupannya sendiri.
Lisong Itu Masih Menyala
“Sajak Sebatang Lisong” lahir dari kepulan asap cerutu murah di gerbong kereta. Dan sampai hari ini, asapnya belum juga padam .
Pertanyaan Rendra di akhir sajaknya terasa begitu dekat: “Ke mana sajak ini akan kubawa, ke mana pikiran-pikiran ini akan kuarahkan, bila di sekitarku hanya ada tembok-tembok bisu dan koran-koran telah dibungkam?”
Kita hidup di era di mana tembok bisu itu bernama algoritma dan ekonomi perhatian. Koran-koran tak perlu dibungkam negara cukup dengan membuat kita sibuk mengonsumsi hiburan 15 detik, kita sudah lupa membaca berita.
Tapi di celah-celah kesibukan itu, ada ruang kecil untuk memilih: menjadi penonton atau menjadi pelaku sejarah kecil-kecilan.
Rendra sudah memberi tahu kita sejak 1977. Kini tinggal kita yang memilih: membiarkan asap lisong itu hilang tertiup angin, atau menghirupnya dalam-dalam dan menyadari kita masih punya paru-paru untuk berteriak.
Batu, 12 Mei 2026
Yani Andoko












