Firaun Nyasar ke Gunung Salak, Mesir Kuno Buka Cabang?

Oleh Rosadi Jamani
Pagi tadi saya membahas Homo Manadonensis atau abang yang ketiduran di etalase museum di Sulawesi Utara. Sekarang kita bergeser di Jawa Barat. Di sana ditemukan patung Firaun, katanya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Gunung Salak mendadak berubah suasana. Biasanya dicari orang di sana adalah udara sejuk, pemandangan, atau kalau sedang apes, sinyal. Namun pada 7 Agustus 2026, seorang pria sedang mencari rumput justru menemukan sesuatu yang membuat sejarah Nusantara hampir tersedak, dua patung batu mirip Firaun Mesir Kuno!
Pria itu bernama Cakra Panorama, seorang YouTuber. Temuan tersebut direkam, diunggah ke YouTube, lalu dipopulerkan akun Instagram @aktual24id.
Internet langsung kesurupan. Belum ada arkeolog datang, netizen sudah datang membawa kesimpulan. Belum ada ekskavasi, teori konspirasi sudah menggali sampai Afrika.
Lebih gawat lagi, disebut bukan cuma dua patung. Ada puluhan patung bergaya Mesir Kuno, tangga, pilar-pilar tinggi, serta bangunan yang sebagian sudah miring dan ditelan rumput liar. Lokasinya berada di kawasan hutan lindung Gunung Salak, habitat macan tutul dan berbagai burung langka.
Maka lahirlah dua aliran pemikiran. Kubu Firaun, “Ini bukti Mesir Kuno pernah ke Nusantara!” Sebagian mengarang skenario, Firaun sebenarnya keturunan Kerajaan Sunda berlayar ke Afrika, lalu mendirikan peradaban Mesir.
Kalau teori ini benar, berarti sejarah dunia harus dicetak ulang. Buku pelajaran tinggal dibakar, lalu guru sejarah diganti pemandu wisata.
Kubu waras, “Tenang, Bos. Bisa jadi properti wisata, bekas lokasi syuting film, atau karya modern yang ditinggalkan.”
Nah, ini lebih masuk akal. Sebab membawa Firaun dari Mesir ke Gunung Salak tanpa bukti arkeologis sama seperti menemukan patung Elvis di warung pecel lalu menyimpulkan Elvis pernah nyasar cari sambal.
Sampai sekarang, belum ada konfirmasi resmi mengenai asal-usul patung tersebut dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, maupun instansi terkait.
Artinya, Firaun masih misterius. Jangan dulu dibuatkan KTP Bogor. Secara historis, naskah sumber menegaskan belum ada bukti pengaruh Mesir Kuno di Nusantara. Peradaban Mesir memiliki arsitektur, sistem kepercayaan, dan perkembangan budaya yang berbeda dengan Nusantara.
Lantas mengapa Jawa Barat memang relatif miskin bangunan batu monumental dibanding Jawa Tengah dan Jawa Timur? Ini justru menarik.
Masyarakat Sunda kuno dikenal dengan tradisi huma dan kehidupan lebih dinamis. Kayu dan bambu lebih cocok digunakan dari membangun candi batu raksasa. Jadi bukan berarti orang Sunda kuno tidak mampu membangun monumen. Mereka punya pola hidup dan kebutuhan berbeda.
Struktur kekuasaan Kerajaan Sunda juga tidak sepenuhnya terpusat. Konsep politik yang dalam naskah disebut “trias politika Sunda” membagi kehidupan antara kampung adat, kampung nagara, dan kampung luar. Raja tidak bisa seenaknya berkata, “Besok kita bikin piramida!”
Masyarakat juga memiliki tradisi kepercayaan Sunda Wiwitan, dengan konsep Sang Hyang Jati Tunggal atau Sang Hyang Jatiniskala. Tempat-tempat keramat seperti gunung, hutan, dan mata air lebih penting dari membangun gedung batu setinggi gunung.
Belum lagi alam Jawa Barat. Hujan deras, hutan tropis, batuan vulkanik muda, semuanya seperti pasukan khusus penghancur bangunan.
Kalau benar ada patung Firaun di Gunung Salak, kemungkinan paling realistis, properti wisata, bekas lokasi syuting, atau karya modern. Bukan karena Firaun datang naik kapal dari Mesir.
Akang bayangkan saja kalau Firaun benar-benar sampai Gunung Salak. Setelah turun dari kapal, dia mungkin bertanya, “Where is Nile?” Orang Sunda menjawab, “Nil mah teu aya, Kang. Ieu mah Ciliwung.” Firaun langsung balik lagi.
Kesimpulannya sederhana. Misteri boleh viral, teori boleh liar, tetapi sejarah jangan diseret pakai sandal jepit. Tunggu penelitian resmi.
Sebab kalau setiap patung berjubah langsung dianggap peninggalan Firaun, besok patung gorila di depan minimarket bisa ditetapkan sebagai Raja Afrika yang pernah kuliah di Depok. Firaun boleh nyasar ke Gunung Salak. Kita jangan ikut-ikutan nyasar dari fakta.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












