Jangan Hanya Membuka Fakultas Kedokteran, Bangunlah Warisannya

Oleh: Dayan Abdurrahman
Kelahiran Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry patut disambut sebagai sebuah kabar baik bagi Aceh. Namun, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang terlalu penting untuk sekadar dirayakan dengan ucapan selamat. Ia perlu diiringi harapan, perhatian, bahkan keberanian untuk memikirkan masa depannya sejak langkah pertama. Pendidikan dokter adalah salah satunya. Di ruang-ruang kuliah yang segera dibuka itu, kelak akan tumbuh orang-orang yang memegang tangan pasien, menghadapi kecemasan keluarga, mengambil keputusan dalam situasi genting, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada manusia.
Karena itu, harapan pimpinan UIN Ar-Raniry agar seluruh unsur akademik bekerja lebih maksimal untuk menyukseskan pendidikan kedokteran perdana ini patut diapresiasi. Pendidikan kedokteran tidak dapat dibangun dengan kerja setengah hati. Kesiapan dosen, mutu pembelajaran, kurikulum, fasilitas, budaya akademik, dan kerja sama berbagai pihak harus bergerak dalam satu arah. Namun, di tengah seluruh persiapan teknis tersebut, ada pertanyaan yang menurut saya layak dipikirkan sejak sekarang: ketika Fakultas Kedokteran ini kelak tumbuh besar, budaya apa yang akan dikenang dan diwariskannya?
Membuka sebuah fakultas dan membangun sebuah institusi adalah dua pekerjaan yang berbeda. Izin dapat diperoleh melalui prosedur. Gedung dapat didirikan. Laboratorium dapat dilengkapi. Mahasiswa dapat diterima. Tetapi kepercayaan tidak dapat dibeli, dan budaya tidak dapat dibangun melalui seremoni. Keduanya tumbuh perlahan melalui keputusan-keputusan kecil: bagaimana dosen mendidik, bagaimana mahasiswa diperlakukan, bagaimana kesalahan diperbaiki, dan bagaimana sebuah institusi bersedia belajar dari dirinya sendiri.
Saya bukan dokter dan tidak memiliki kompetensi untuk mengatur bagaimana anatomi, farmakologi, atau pendidikan klinis seharusnya dijalankan. Para dokter dan pakar pendidikan kedokteran tentu memiliki otoritas yang lebih kuat dalam wilayah itu. Namun, sebagai orang yang bergerak di bidang pendidikan, sebagai alumni, dan sebagai warga Aceh, saya merasa masyarakat pun berhak menitipkan harapan kepada sebuah institusi yang kelak akan menghasilkan dokter bagi masyarakatnya.
Mungkin inilah sedekah kecil yang dapat diberikan oleh seseorang yang tidak memiliki kekuasaan, jabatan, atau kekayaan besar: menyumbangkan pikiran dengan harapan ia menjadi manfaat bagi orang lain. Sebab tidak semua kontribusi harus berbentuk uang. Ada kalanya seseorang hanya memiliki pengalaman, kegelisahan, dan pikiran. Jika ketiganya disampaikan dengan niat baik, barangkali ia dapat menjadi bagian kecil dari ikhtiar bersama.
Dari situlah saya ingin menawarkan satu cara pandang: Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry jangan hanya mempersiapkan pembelajaran pertamanya, tetapi juga mulai memikirkan warisan yang ingin dibangunnya. Bukan warisan berupa bangunan, melainkan budaya. Dalam pandangan saya, setidaknya ada tiga warisan yang patut mulai dipikirkan sejak angkatan pertama: warisan belajar, warisan kemanusiaan, dan warisan Aceh.
Warisan pertama adalah kemampuan untuk belajar dari perjalanan sendiri.
Angkatan pertama memiliki posisi yang sangat istimewa. Mereka bukan hanya kelompok mahasiswa pertama yang masuk ke sebuah sistem baru. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali mengalami apakah rancangan yang baik di atas kertas benar-benar bekerja dalam kenyataan. Mereka akan merasakan apakah metode pembelajaran membantu mereka berkembang, apakah komunikasi akademik berjalan sehat, apakah beban belajar proporsional, dan persoalan apa yang mungkin tidak terlihat dari ruang rapat.
Karena itu, angkatan pertama tidak cukup hanya dididik. Institusi juga harus belajar dari mereka.
Sejak awal, Fakultas Kedokteran perlu menumbuhkan budaya mendengar. Mahasiswa harus memiliki ruang yang aman dan bermartabat untuk menyampaikan pengalaman akademiknya. Bukan karena mahasiswa selalu benar dan bukan pula karena mereka harus menentukan kebijakan, melainkan karena pengalaman mereka adalah data hidup tentang bagaimana sebuah sistem bekerja.
Setiap akhir semester seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi: apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, dan apa yang harus diperbaiki? Jika angkatan pertama menemukan kelemahan, angkatan kedua seharusnya tidak menerima kelemahan yang sama sebagai nasib. Jika sebuah metode terbukti baik, pengalaman itu harus menjadi kekuatan bagi generasi berikutnya.
Inilah warisan belajar: sebuah institusi yang tidak merasa sempurna, tetapi cukup dewasa untuk belajar.
Fakultas besar bukan fakultas yang tidak pernah menghadapi masalah. Fakultas besar adalah fakultas yang tidak membiarkan masalah yang sama diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Kemampuan belajar seperti ini mungkin tidak terlihat dalam foto peresmian, tetapi justru akan menentukan kualitas institusi dalam jangka panjang.
Warisan kedua adalah kemanusiaan.
Pendidikan kedokteran memang menuntut standar tinggi. Ketelitian, disiplin, ketahanan mental, tanggung jawab, dan profesionalisme tidak dapat ditawar. Tidak ada masyarakat yang ingin dilayani oleh dokter yang dibentuk melalui pendidikan yang serampangan. Namun, standar tinggi tidak harus melahirkan budaya ketakutan. Disiplin tidak membutuhkan penghinaan. Keunggulan tidak memerlukan perendahan martabat manusia.
Pengalaman di berbagai tempat telah mengingatkan kita tentang bahaya ketika senioritas dan relasi kuasa dibiarkan tumbuh tanpa koreksi. Tidak adil untuk menyamaratakan seluruh pendidikan kedokteran dengan pengalaman buruk tersebut. Namun, setiap masalah yang pernah terjadi di tempat lain seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi institusi yang sedang memulai.
Justru karena masih berada pada babak awal, Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry memiliki kesempatan untuk membangun pagar sebelum budaya yang tidak sehat menemukan ruang untuk tumbuh.
Mahasiswa harus belajar menghormati dosen dan senior, tetapi penghormatan tidak boleh berarti kehilangan keberanian untuk bertanya. Mereka harus menerima koreksi, tetapi tidak harus dipermalukan. Mereka harus dilatih menghadapi tekanan profesional, tetapi tidak perlu dilukai untuk membuktikan ketahanan mentalnya.
Sebab pendidikan dokter, pada akhirnya, adalah pendidikan tentang manusia.
Seorang mahasiswa yang setiap hari belajar tentang tubuh manusia kelak akan berhadapan dengan manusia yang sedang sakit, takut, miskin, lemah, dan berharap. Cara calon dokter diperlakukan selama masa pendidikannya dapat menjadi pelajaran diam-diam tentang bagaimana ia kelak memperlakukan pasien.
Di sinilah identitas UIN Ar-Raniry dapat memiliki arti yang lebih substantif.
Nilai Islam tidak seharusnya berhenti pada nama universitas atau sekadar tambahan mata kuliah. Nilai itu harus diterjemahkan menjadi perilaku profesional. Amanah berarti jujur terhadap ilmu dan bertanggung jawab terhadap setiap keputusan. Rahmah berarti mampu melihat pasien bukan sekadar sebagai kasus, tetapi sebagai manusia. Keadilan berarti menyadari bahwa hak atas kesehatan tidak boleh hanya mudah dijangkau oleh mereka yang kuat secara ekonomi dan tinggal dekat dengan fasilitas pelayanan.
Jika nilai-nilai itu hidup dalam kehidupan akademik sehari-hari, Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry tidak hanya akan melahirkan dokter yang menguasai ilmu, tetapi juga manusia profesional yang memahami untuk siapa ilmu itu digunakan.
Warisan ketiga adalah warisan Aceh.
Aceh tidak seharusnya hanya menjadi alamat tempat fakultas ini berdiri. Aceh dapat menjadi ruang pembelajaran dan sumber kekuatan intelektual.
Daerah ini memiliki sejarah panjang tentang bencana, penderitaan, konflik, perdamaian, ketangguhan, dan kebangkitan. Kita mengetahui bagaimana tsunami meninggalkan bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga trauma dan kehilangan yang berlangsung jauh melampaui masa tanggap darurat. Kita hidup di tengah masyarakat pesisir, pedalaman, perkotaan, dan wilayah-wilayah dengan tantangan akses kesehatan yang berbeda.
Semua itu bukan hanya cerita tentang Aceh.
Ia adalah sumber pembelajaran.
Bayangkan apabila mahasiswa, melalui rancangan akademik yang sesuai dengan standar pendidikan kedokteran, secara bertahap diperkenalkan kepada realitas masyarakat. Mereka tidak hanya belajar tentang penyakit di ruang kuliah, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat di wilayah yang menghadapi risiko bencana, daerah pesisir, kawasan terpencil, atau tempat-tempat dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan.
Tujuannya bukan sekadar membawa mahasiswa keluar dari kampus.
Tujuannya adalah membawa ilmu bertemu kehidupan.
Di sana mereka dapat melihat bahwa penyakit tidak selalu berdiri sendiri. Kesehatan berkaitan dengan lingkungan, ekonomi, pendidikan, pola hidup, dan akses pelayanan. Bencana dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak selalu terlihat. Jarak geografis dapat menentukan apakah seseorang memperoleh pertolongan tepat waktu atau terlambat.
Buku dapat mengajarkan tentang penyakit. Laboratorium membantu memahami tubuh. Teknologi memperluas kemampuan diagnosis.
Tetapi kehidupan nyata mengajarkan konteks.
Inilah yang dapat menjadi kekuatan Aceh dalam membangun pendidikan kedokteran. Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry tentu harus memenuhi standar nasional dan berani menatap dunia. Lulusannya harus mampu bekerja di mana pun dan bersaing dengan perkembangan ilmu kedokteran global.
Namun, menjadi global tidak berarti harus kehilangan akar.
Justru institusi yang memiliki pemahaman mendalam terhadap persoalan lokal sering kali memiliki sesuatu yang lebih bermakna untuk disumbangkan kepada dunia. Dunia tidak selalu membutuhkan kita untuk menjadi salinan dari institusi lain. Dunia membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang lahir dari tempat yang berbeda.
Di sinilah Aceh dapat menjadi kekuatan, bukan keterbatasan.
Pengalaman menghadapi bencana, kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman, tantangan akses kesehatan, serta kekayaan nilai sosial dan keagamaan dapat menjadi sumber pertanyaan, penelitian, inovasi, dan pembelajaran. Dari persoalan lokal dapat lahir pengetahuan yang relevan secara nasional. Dari pengalaman Aceh dapat lahir gagasan yang memberikan kontribusi bagi masyarakat yang lebih luas.
Dengan demikian, akar lokal dan wawasan global bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Semakin kuat sebuah institusi memahami tempat ia berdiri, semakin besar kemungkinan ia memiliki sesuatu yang berbeda untuk ditawarkan kepada dunia.
Tiga warisan ini—belajar, kemanusiaan, dan Aceh—tentu bukan resep yang harus diterima begitu saja. Ini bukan kebijakan dan bukan pula petunjuk teknis pendidikan kedokteran. Ini adalah ajakan untuk memikirkan sesuatu yang sering terlupakan ketika sebuah institusi sedang sibuk mempersiapkan kelahirannya: budaya seperti apa yang sedang kita tanam hari ini?
Sebab kebiasaan kecil akan menjadi tradisi. Tradisi akan membentuk budaya. Dan budaya, pada akhirnya, akan menentukan reputasi.
Para pimpinan akan berganti. Dosen akan datang dan pergi. Mahasiswa angkatan pertama akan menjadi dokter, kemudian generasi berikutnya akan mengambil tempat mereka. Tetapi budaya yang ditanam dengan benar dapat bertahan jauh melampaui orang-orang yang memulainya.
Itulah sebabnya pembukaan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry, bagi saya, bukan hanya tentang menerima mahasiswa baru. Ini adalah tentang memulai perjalanan panjang dan menentukan arah moral perjalanan tersebut.
Sebagai masyarakat, kita tentu tidak perlu memasuki wilayah teknis yang menjadi kewenangan para dokter dan pakar. Tetapi kita boleh berharap. Kita boleh mendukung. Kita boleh menyumbangkan pikiran.
Barangkali suatu hari anak-anak Aceh akan belajar di sana. Barangkali keluarga kita akan mendapatkan pertolongan dari dokter yang lahir dari sana. Barangkali seorang anak dari sebuah kampung yang jauh akan memperoleh kesempatan belajar, menjadi dokter, lalu kembali mengabdi kepada masyarakatnya.
Karena itu, keberhasilan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry tidak seharusnya hanya diukur dari berapa banyak mahasiswa yang diterima atau berapa banyak lulusan yang dihasilkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Manusia seperti apa yang sedang kita lahirkan?
Izin dapat diterbitkan melalui keputusan administratif. Gedung dapat dibangun dalam beberapa tahun. Kurikulum dapat diperbarui mengikuti perkembangan ilmu.
Tetapi membangun warisan membutuhkan waktu.
Ia dibangun ketika dosen memilih mendidik daripada merendahkan. Ketika mahasiswa berani bertanya tanpa kehilangan adab. Ketika kesalahan tidak ditutupi, tetapi diubah menjadi pelajaran. Ketika ilmu berjalan bersama amanah. Ketika kecerdasan bertemu rahmah. Dan ketika pendidikan kedokteran tidak pernah menjauh dari masyarakat yang menjadi alasan utama ilmu itu dipelajari.
Suatu hari, masyarakat mungkin tidak lagi mengingat tanggal ketika Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry pertama kali membuka perkuliahan.
Namun, masyarakat akan merasakan apa yang ditinggalkannya melalui dokter-dokter yang dilahirkannya.
Jika mereka membawa ilmu yang kuat, integritas yang teguh, keberanian berpikir, kepedulian terhadap masyarakat, dan penghormatan terhadap martabat manusia, maka pada saat itulah kita dapat mengatakan: UIN Ar-Raniry tidak hanya berhasil membuka Fakultas Kedokteran. Ia telah berhasil membangun warisannya.












