Artikel · Potret Online

Relasi Hamba dan Tuhan Dilihat dari Perspektif Antropologis

8 menit baca 4
93b709d8-de74-4c6c-a43c-1cd94a6880c9
Foto / IlustrasiRelasi Hamba dan Tuhan Dilihat dari Perspektif Antropologis

Oleh : Kaipal Wahyudi

Pada Agustus 2026, publik kembali disuguhi perbincangan mengenai Indeks Kesalehan Sosial Umat Beragama (IKSUB) 2025. Rilis infografis tersebut menjadi perhatian di media sosial dan ruang publik, terutama karena Aceh tidak masuk dalam daftar 10 besar provinsi dengan tingkat kesalehan sosial tertinggi di Indonesia. Maluku Utara berada di posisi pertama, disusul Sumatera Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

Bagi masyarakat Aceh, informasi ini tentu mengundang pertanyaan. Aceh dikenal sebagai daerah dengan identitas keislaman yang kuat. Syariat Islam diterapkan secara formal, masjid dan meunasah hadir dalam kehidupan masyarakat, tradisi pengajian dan dayah tetap hidup, sementara simbol-simbol keagamaan begitu mudah ditemukan. Lalu, ketika Aceh tidak masuk dalam sepuluh besar kesalehan sosial, apakah masyarakat Aceh berarti kurang saleh?

Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dengan melihat angka. IKSUB bukan alat untuk menentukan kadar iman seseorang atau mengukur siapa yang paling dekat dengan Allah. Statistik tidak dapat menggantikan penilaian teologis tentang hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Yang lebih penting untuk direnungkan adalah bagaimana nilai agama diterjemahkan ke dalam kehidupan sosial.

Di sinilah kesalehan ritual dan kesalehan sosial perlu dipahami secara bersamaan. Kesalehan ritual berkaitan dengan hubungan personal manusia dengan Allah melalui salat, puasa, membaca Al-Qur’an, zikir, pengajian dan ibadah lainnya. Kesalehan sosial terlihat ketika nilai-nilai tersebut hadir dalam perilaku sehari-hari. Apakah seseorang jujur dalam berdagang? Apakah ia menjaga amanah? Apakah ia peduli kepada orang miskin dan korban bencana? Apakah ia menghormati orang yang berbeda pandangan? Apakah ia menjaga lingkungan dan mampu menahan diri dari fitnah, kebencian serta berita palsu di media sosial?

Pertanyaan semacam ini membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana memahami relasi antara hamba dan Tuhan. Dalam perspektif antropologis, hubungan tersebut tidak hanya dilihat sebagai doktrin teologis, tetapi juga sebagai pengalaman manusia yang membentuk kebudayaan, perilaku dan kehidupan sosial. Antropologi agama tidak bertugas menentukan benar atau salahnya keyakinan seseorang kepada Tuhan. Perhatiannya adalah bagaimana manusia memahami Yang Transenden, menghayatinya melalui keyakinan dan ritual, kemudian menerjemahkan keyakinan tersebut dalam kehidupan.

Manusia pada dasarnya menyadari keterbatasan dirinya. Ia dapat membuat rencana, tetapi tidak selalu mampu menentukan hasil. Kematian, kehilangan, penyakit, bencana dan ketidakpastian kehidupan sering membawa manusia kepada pertanyaan tentang makna. Dalam keadaan demikian, agama memberikan kerangka untuk memahami kehidupan dan menempatkan pengalaman manusia dalam hubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya. Karena itu, berbicara tentang Tuhan dalam perspektif antropologi sekaligus berarti berbicara tentang manusia, tentang ketakutan, harapan, penderitaan, cinta, pencarian makna dan keinginan untuk memahami keberadaannya di tengah alam semesta.

Dalam Islam, manusia disebut ‘abd, yaitu hamba, sedangkan Allah adalah Khaliq, Sang Pencipta. Kehambaan menunjukkan bahwa manusia tidak berdiri sendiri dan memiliki ketergantungan mendasar kepada Allah. Namun, hubungan tersebut tidak hanya dibangun atas rasa takut. Dalam tradisi tasawuf terdapat khauf atau rasa takut, raja’ atau harapan, dan mahabbah atau cinta kepada Allah. Ketiganya membentuk perjalanan batin manusia menuju kehidupan yang lebih baik.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menempatkan penyucian jiwa atau tazkiyatun nafs sebagai bagian penting dari perjalanan spiritual. Ibadah tidak cukup dilakukan secara lahiriah jika hati masih dipenuhi kesombongan, iri hati, cinta dunia yang berlebihan dan penyakit batin lainnya. Rasa takut kepada Allah seharusnya mendorong manusia memperbaiki diri, sedangkan harapan kepada-Nya melahirkan semangat untuk berbuat baik. Dengan demikian, hubungan vertikal dengan Allah semestinya terlihat dalam perubahan karakter.

Ibnu Atha’illah as-Sakandari melalui Al-Hikam berbicara tentang al-iftiqar, kesadaran bahwa manusia pada hakikatnya selalu membutuhkan Allah. Dari kesadaran tersebut lahir tawakkal. Tawakkal bukan berarti berhenti berusaha dan menyerahkan kehidupan tanpa ikhtiar. Manusia tetap bekerja dan menjalankan tanggung jawab, tetapi menyadari bahwa kemampuan dirinya terbatas. Kesadaran ini dapat menjadi kekuatan batin ketika manusia menghadapi perubahan dan ketidakpastian.

Ibnu ‘Arabi melalui Fushush al-Hikam membawa pembahasan hubungan manusia dan Tuhan ke wilayah metafisik. Konsep Wahdat al-Wujud dan Insan Kamil menempatkan manusia sebagai tempat manifestasi nama dan sifat-sifat Ilahi. Manusia dipandang sebagai mikrokosmos yang berhubungan dengan makrokosmos. Pemikiran tersebut tidak berarti zat Tuhan menyatu secara fisik dengan manusia, tetapi menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memantulkan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan. Karena itu, kedekatan kepada Allah semestinya melahirkan keindahan akhlak.

Gagasan perjalanan spiritual juga terlihat dalam Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Kehidupan beragama tidak berhenti pada rutinitas ibadah, tetapi harus membentuk adab, kepribadian dan perilaku. Sementara itu, Ibnu Khaldun melalui Muqaddimah menunjukkan dimensi sosial agama. Keyakinan bersama kepada Tuhan dapat membangun solidaritas dan kohesi masyarakat. Agama, dengan demikian, bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga dapat menjadi kekuatan yang memengaruhi kehidupan sosial dan peradaban.

Ketika Islam berkembang di Nusantara, hubungan manusia dengan Tuhan kemudian menemukan bentuk yang beragam karena bertemu dengan adat, tradisi, sejarah dan pengalaman masyarakat setempat. Suluk, pengajian, sedekah, kenduri dan berbagai praktik keagamaan menunjukkan bagaimana nilai transendental diterjemahkan menjadi kebudayaan. Di sini agama tidak hadir sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi tumbuh bersama masyarakat.

Relasi dengan Tuhan juga seharusnya tercermin dalam hubungan manusia dengan alam. Gagasan ekosufisme memandang manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan. Jika alam merupakan ciptaan Allah, maka merusaknya bukan sekadar persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral. Sungai, hutan, tanah, laut, tumbuhan dan hewan tidak semestinya diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi. Kesadaran kepada Tuhan seharusnya melahirkan tanggung jawab untuk merawat bumi.

Dalam antropologi agama, Clifford Geertz melihat agama sebagai sistem simbol yang membentuk suasana hati dan motivasi manusia. Doa, zikir, salat, puasa, masjid, kitab suci, pakaian keagamaan dan berbagai ritual memiliki makna yang membantu manusia memahami dunia dan menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan sesuatu yang dianggap suci. Namun, Talal Asad mengingatkan bahwa agama tidak cukup dipahami hanya sebagai sistem simbol. Agama juga berkaitan dengan disiplin tubuh, sejarah, kekuasaan dan pembentukan diri. Salat dan puasa, misalnya, merupakan praktik yang dilakukan berulang-ulang sehingga turut membentuk kebiasaan dan karakter seseorang.

Dalam perkembangan pemikiran Islam Indonesia, Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Nasaruddin Umar turut memperluas pembahasan mengenai keberagamaan dalam masyarakat modern. Ketundukan kepada Allah tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan manusia lain. Justru karena manusia hanya tunduk secara mutlak kepada Tuhan, ia semestinya terbebas dari penghambaan kepada kesombongan, kekuasaan, materi dan kepentingan duniawi. Keberagamaan dengan demikian memiliki hubungan erat dengan kesetaraan, kemanusiaan, penghormatan terhadap perbedaan dan kehidupan masyarakat yang beradab. Gus Dur secara khusus banyak menekankan bahwa agama harus memiliki dampak nyata bagi kemanusiaan.

Pemikiran Seyyed Hossein Nasr mengenai Homo Religiosus dan Philosophia Perennis juga mengingatkan bahwa manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai makhluk biologis, ekonomi atau politik. Ada dimensi spiritual yang melekat dalam diri manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi tidak otomatis menghilangkan kesepian, kecemasan, alienasi dan kekosongan makna. Karena itu, pencarian manusia terhadap Tuhan dan makna kehidupan tetap relevan di tengah modernitas.

Jika perjalanan pemikiran tersebut dilihat secara keseluruhan, perhatian terhadap relasi hamba dan Tuhan terus berkembang. Pada masa klasik, perhatian besar diberikan kepada penyucian jiwa dan pengendalian hawa nafsu. Pada masa pertengahan, pembahasannya meluas kepada hakikat manusia, hukum, teologi, Insan Kamil dan tatanan sosial. Pada era kontemporer, hubungan tersebut semakin dikaitkan dengan kemanusiaan, lingkungan, krisis makna dan tantangan kehidupan modern.

Karena itu, kedekatan manusia dengan Tuhan tidak semestinya berhenti pada identitas agama atau simbol yang tampak dari luar. Yang lebih penting adalah perubahan yang lahir setelah seseorang beribadah. Apakah ia menjadi lebih jujur, rendah hati dan penyayang? Apakah ia peduli kepada masyarakat miskin? Apakah ia menjaga lisannya? Apakah ia menghormati orang lain? Apakah ia menjaga alam? Apakah ia mampu menolak korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan tindakan yang merugikan sesama?

Pertanyaan tersebut penting bagi Aceh pada Agustus 2026 ketika masyarakat membicarakan IKSUB 2025. Hasil indeks itu tidak semestinya dipandang sebagai angka yang memalukan atau alasan untuk menyalahkan pihak tertentu. Sebaliknya, ia dapat menjadi cermin untuk melihat kembali apakah nilai-nilai Islam yang selama ini kuat dalam identitas Aceh benar-benar telah diterjemahkan ke dalam perilaku sosial.

Aceh memiliki modal keagamaan yang besar. Syariat Islam, dayah, masjid, meunasah, pengajian dan berbagai tradisi keislaman telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat. Namun, kuatnya identitas agama dan banyaknya simbol keagamaan tidak otomatis menjamin seluruh nilai agama telah menjadi karakter sosial. Kesalehan ritual harus berjalan bersama kesalehan sosial.

Tidak cukup seseorang rajin beribadah apabila dalam kehidupan sehari-hari masih mudah merendahkan orang lain, tidak jujur, menyebarkan fitnah, merusak lingkungan, mengambil hak orang lain, menyalahgunakan kekuasaan atau tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Hubungan dengan Allah semestinya memperbaiki hubungan dengan manusia. Hablum minallah dan hablum minannas bukan dua jalan yang terpisah, melainkan dua dimensi moral yang saling melengkapi.

Pada akhirnya, menjadi hamba Allah bukan berarti kehilangan martabat sebagai manusia. Sebaliknya, kehambaan kepada Tuhan dapat membebaskan manusia dari kesombongan, egoisme, keserakahan dan penghambaan kepada kepentingan duniawi. Orang yang sadar dirinya sebagai hamba memahami bahwa dirinya bukan pusat dari segala sesuatu. Ada Tuhan yang menjadi tempat bergantung, ada manusia lain yang harus dihormati dan ada alam yang harus dijaga.

Dari perspektif antropologis, relasi hamba dan Tuhan akhirnya bukan hanya persoalan antara manusia dan langit. Ia menentukan bagaimana manusia hidup di bumi. Cara manusia memahami Tuhan akan memengaruhi cara ia memperlakukan sesama, alam, harta, kekuasaan dan dirinya sendiri.

Maka, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa yang paling sering berbicara tentang agama, siapa yang paling banyak menampilkan simbol keagamaan atau siapa yang terlihat paling religius. Pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah kedekatan seseorang kepada Tuhan membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik?

Sebab, relasi dengan Tuhan yang benar-benar hidup tidak hanya melahirkan manusia yang rajin beribadah. Ia semestinya melahirkan manusia yang jujur dalam kehidupan, lembut kepada sesama, adil dalam mengambil keputusan, peduli terhadap lingkungan, mampu menahan diri dari keserakahan dan hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Di situlah kehambaan menemukan maknanya, dan di situlah kesalehan tidak hanya terlihat di tempat ibadah, tetapi terasa dalam kehidupan manusia.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...