Bank Dunia Mungkin Salah Hitung, Masa Indonesia Peringkat Empat Termiskin?

Oleh Rosadi Jamani
Ente kalau lihat data BPS, pasti senyum. Angka kemiskinan turun, ekonomi naik. Pokoknya aman, tenteram, sentosa. Tak ada yang perlu diributkan. Coba lihat data Bank Dunia. Jomplang! Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Bayangkan nuan lagi nyeruput Koptagul hangat di pinggir jalan. Harga cuma lima ribu. Perut kenyang, hati senang. Tiba-tiba Bank Dunia muncul dari balik gerobak sambil membawa kalkulator tua. “Maaf, sampeyan ini miskin.”
Bukan cuma akang. Sekitar 193,5 juta orang Indonesia lainnya juga masuk kategori miskin versi mereka. Artinya, hampir tujuh dari 10 orang Indonesia yang temui di warung, mal, lampu merah, sampai yang sibuk cari parkiran, masuk daftar kemiskinan.
Indonesia pun menempati peringkat keempat dari 11 negara yang dibandingkan. Di atas kita ada Timor-Leste 71,7 persen, India 70,7 persen, dan Laos 68,6 persen. Sementara Vietnam cuma 17,9 persen, Thailand 10,1 persen, dan Malaysia yang dari tadi gaya hidupnya sok kaya itu cuma 1 persen.
Satu persen, wak! Kok bisa? Nah, di sinilah kalkulator mulai menarik perhatian. Sejak Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas pada 2023, Bank Dunia menaikkan standar kemiskinan menjadi US$8,30 per hari.
Kalau dirupiahkan, sekitar Rp1,5 juta per orang per bulan. Satu setengah juta! Itu duit buat langganan Netflix, Spotify, ngopi kekinian, makan ayam geprek, lalu masih bisa menyisakan uang buat gorengan kalau sedang beruntung.
Sementara garis kemiskinan BPS sekitar Rp595.000 per orang per bulan. Selisihnya hampir tiga kali lipat. Ini seperti bilang orang gemuk karena berat badannya di atas 50 kilogram, padahal standar normalnya 70 kilogram.
Yang satu bilang gemuk. Yang satu bilang sehat. Timbangan sampai bingung sendiri.
Bank Dunia sebenarnya punya beberapa standar. Pada garis US$3 per hari, kemiskinan ekstrem Indonesia sekitar 3,6 persen. Pada garis US$4,20, sekitar 15,4 persen. Namun karena Indonesia sudah “naik kelas”, yang dipakai adalah standar US$8,30.
Akibatnya? Angka kemiskinan langsung salto. Ini seperti guru berkata, “Nilai kamu 80. Bagus.” Besok standar dinaikkan menjadi 90. “Maaf, panjenengan gagal.” “Lah, Pak, kemarin saya pintar?” “Sekarang standar sudah naik.” Ente cuma bisa menatap papan tulis sambil bertanya-tanya, ini sekolah atau bursa saham?
Belum lagi Bank Dunia menyoroti sekitar 60 persen pekerja Indonesia berada di sektor informal, seperti tukang ojek, pedagang gorengan, buruh bangunan, dan pekerja lainnya. Coba tanya tukang ojek, “Bang, menurut Bank Dunia loe miskin.” Dia mungkin menjawab, “Miskin sih miskin. Tapi saya masih bisa beli rokok sambil nonton Persija. Motor memang masih kredit, tapi santai, wak!”
Nah, yang bikin tambah heboh, data yang beredar di flyer WA itu ternyata bukan hoaks. Angkanya memang berasal dari laporan resmi Bank Dunia. Tetapi jangan pula dianggap sebagai angka kemiskinan resmi Indonesia. Ini standar global, bukan angka BPS.
Masalahnya, standar daya beli global memang bisa menghasilkan gambaran yang sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Harga dan biaya hidup orang Indonesia jelas tidak sama antara Jakarta, desa di Kalimantan, Papua, Jawa, dan daerah lainnya.
Namun di media sosial, angka 64,2 persen tentu lebih menggigit daripada penjelasan panjang soal metodologi. Judulnya bikin orang langsung teriak, “Hah? Indonesia termiskin keempat?”
Padahal ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen, sumber daya alam melimpah, kelas menengah mencapai puluhan juta, dan angka kemiskinan nasional berdasarkan ukuran BPS terus menurun.
Lalu muncullah teori konspirasi. Jangan-jangan kita sengaja dibuat terlihat miskin supaya terus merasa membutuhkan pinjaman, bantuan, dan nasihat negara maju.
Entah benar atau cuma teori warung kopi. Yang jelas, kalau besok Bank Dunia menaikkan lagi garis kemiskinan, bisa-bisa uda-uni yang sedang makan nasi padang sambil pegang iPhone ditegur, “Uda, orang miskin.” Ente jawab, “Tidak apa-apa, uni. Yang penting nasi padang saya masih ada.”
Seruput Koptagul. Tersenyum. Lalu berkata, “Kalau menurut kalkulator kalian kami miskin, biarlah. Yang penting jangan miskinkan selera kami buat ketawa.”
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM












